
*┈━❅❀❦ 🦋 Mutiara Hikmah 🦋❦❀❅━┈*
Jika dirimu ingin meluluhkan hati seseorang maka luluhkanlah dia dengan doa. Perjuangkan dia disepertiga malammu. Ingatlah Allah mampu menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Jadi bukan sesuatu yang sulit bagi Allah untuk meluluhkan hatinya untukmu.
Dekatilah Allah dulu, dan rayulah Dia. Buatlah Allah jatuh hati padamu dengan kesungguhan doa-doamu. Maka Allah pun akan membuat dia jatuh hati padamu.
So Cintai dulu Sang penciptanya, barulah Ciptaannya. Maka kamu akan mendapatkan dua Hati. Yaitu hati penciptanya dan hati ciptaan-Nya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈*
Afnan terlihat begitu cemas saat ia melihat istrinya yang tak sadarkan diri. Hingga akhirnya ia membawa Syafiqah kerumah sakit. Karena saking cemasnya ia sampai melupakan pesannya Wijaya. Yang tak mengizinkan membawa Syafiqah kerumah sakit. Karena ia sudah memiliki dokter pribadi yang begitu handal. Wijaya juga menjaga kemungkinan hal yang tidak diinginkan, bila membiarkan Syafiqah dirawat di rumah sakit. Karena mengingat cucunya itu pernah menjadi korban percobaan pembunuhan. Jadi wajar saja kekhawatiran Wijaya jadi sedikit berlebihan.
"Afnan, kenapa kamu membawa Fiqah ke sini Nak? Bukankah dirumah kita sudah ada Dokter yang handal, Nak," tanya Wijaya yang nampaknya ia baru saja datang. Setelah ia mendapatkan laporan dari salah satu Anak buahnya. yang ia tugaskan untuk mengikuti Afnan dan Syafiqah.
Afnan terlihat sedikit terkejut, karena melihat Wijaya yang masuk keruang rawat Syafiqah secara tiba-tiba itu, "Eh Kakek! Maaf Kek, karena panik Anan lupa," balas Afnan, apa adanya, seraya ia kembali menatap wajah istrinya yang terlihat masih belum sadarkan diri.
Wijaya yang melihat wajah kecemas Afnan, ia pun menghelakan nafasnya. Dan menyadari sesuatu yang sempat ia lupakan karena ia terlalu khawatir pada cucunya itu
__ADS_1
"Huft..ya sudahlah kalau begitu, sudah terlanjur juga, mau dibilang apa lagi. Lagian kamukan suaminya Fiqah, jadi sudah menjadi hak kamu sebagai suaminya. Jadi kamu bebas bila membawa Fiqah kemanapun itu. Dan Kakek juga percaya, kamu pasti bisa menjaga Fiqah seperti kamu menjaga diri kamu Nak," ujar Wijaya seraya ia menepuk pundak cucu mantunya itu Disaat bersamaan..
"Apa yang Kakek katakan tadi? Suaminya Fiqah? Dia suaminya Fiqah?"
Mendengar pertanyaan seorang wanita, dengan spontan Afnan dan Wijaya langsung mengalihkan pandangan mereka ke ranjang, tempat Syafiqah sedang dirawat. Dan seketika mata keduanya tampak terbelalak. Ketika melihat Syafiqah, dengan tatapan penasarannya mengarah ke mereka berdua.
"Syafiqah? kamu sudah sadar Nak?" tanya Wijaya, seraya ia mendekati tempat tidurnya Syafiqah. terlihat sekali ia seperti ingin mengalihkan pembicaraannya.
''Jangan mengalihkan pembicaraan kek! Katakan kek! Apa maksud perkataan kakek tadi?'' tanya Syafiqah, seraya ia menduduki tubuhnya. Lalu ia kembali menatap wajah sang kakek kembali.
''Nak, saat ini kamu masih membutuhkan istirahat jadi..." kata Wijaya yang terlihat ia masih ingin mengalihkan pembicaraan. Namun dengan cepat Syafiqah langsung menyanggahnya.
''Katakan sejujurnya kek! Berhentilah mencari-cari alasan kek! Karena Fiqah sudah mendengarnya!" ujar Syafiqah, dengan nada suara tinggi serta menatap tajam kearah Wijaya. Afnan yang melihat itu pun akhirnya buka suara.
"A-apa! Se-sejak kapan?!" tanya Syafiqah, terlihat gugup.
"Sejak kamu pertama kali bertemu dengannya Nak. Waktu itu Kakek begitu takut, waktu Fariz kembali muncul ketika kamu baru saja sadar dari koma kamu! Jadi Kakek memohon-mohon pada Nak, Afnan hari dia mau menikahi kamu. Agar Fariz tidak memiliki kesempatan lagi untuk mendekati kamu Nak," timpal Wijaya yang akhirnya ia pun menjelaskan semuanya pada Syafiqah.
Setelah mendengar penjelasan dari sang kakek. Syafiqah pun terdiam sejenak, dengan pandangan masih menatap wajah sang Kakek, dengan tatapan yang tak bisa diartikan oleh siapapun. Dan tak berapa ia pun kembali membuka suaranya.
__ADS_1
"Kenapa sih Kek? Kenapa Kakek selalu melakukan sesuatu tanpa meminta persetujuan dari Fiqah sih? Apakah pendapat Fiqa tiada artinyakah? Kalau diingat lagi, sedari Fiqah Kakek selalu memperlakukan Fiqah seperti itu dan Kakek selalu ikut campur urusan Fiqah. Tapi kenapa sama Rizka Kakek tidak melakukan hal yang sama? Padahal Fiqah dan Dia sama, sama-sama cucu Kakek kan? Tapi kenapa dia selalu Kakek berikan kebebasan dalam segala hal. Sementara sama Fiqah Kekek selalu mengekang Fiqah! Kenapa kek? Apakah karena orang tua Fiqah sudah meninggal, makanya Kakek tak menyayangi Fiqah lagi?"
Wijaya begitu terkejut, ketika ia mendengar pertanya-pertanyaan yang dilontarkan Syafiqah pada dirinya. Dan seketika itu juga mimik wajahnya langsung berubah. Seperti ada kekecewaan yang tergambar di raut wajah tuanya itu.
"Itukah penilaian kamu terhadap Kakek Nak? Jadi kamu ingin seperti Rizka? Oke kalau begitu mulai sekarang, Kakek tidak akan ikut campur lagi dalam kehidupan kamu Nak," ujar Wijaya, lalu ia pun langsung melangkah pergi.
Namun sebelum Wijaya benar-benar pergi ia menyempatkan diri menepuk pundaknya Afnan. Dengan mata yang menatap matanya Afnan, seperti sedang memberi isyarat pada Afnan seolah ia sedang berkata, "Kakek percayakan Fiqah pada Kamu Nak." Dan Afnan yang seakan memahami isyarat dari sang Kakek, ia pun memejamkan sejenak kedua matanya, seolah ia sedang berkata "Iya" pada Wijaya. setelah mendapatkan jawaban isyaratnya Wijaya pun langsung beranjak meninggalkan ruang rawat Syafiqah.
Sedangkan Syafiqah langsung menangis. Ketika melihat kakeknya yang pergi begitu saja tanpa memberi kejelasan terlebih dahulu, padanya. Hatinya terasa begitu sakit, tatkala ia melihat wajah Sang Kakek yang terlihat sedih. Padahal ia tak bermaksud menyakiti hati Sang Kakek. Karena sebenarnya ia hanya meminta kejelasannya saja.
"Heu-heu-heu.. hiks.. Kakeeek! Hiks..hiks..kenapa malah pergi! Hiks.. Fiqah hanya ingin mendengar penjelasan dari kakek.. hiks..hiks..apa kakek nggak sayang lagi sama Fiqah..hiks..hiks.. Apa sekarang kakek sudah membenci Fiqah? Hiks..hiks.. Kakeeek!! Hiks.." teriak Syafiqah, dengan terisak-isak, ia memanggil-manggil Wijaya. Namun sang kakek tak kunjung kembali, membuat Syafiqah tangis Syafiqah semakin pecah.
Afnan yang melihat itu hatinya terasa sakit, dan ia pun langsung mendekati Syafiqah, dan langsung memeluknya, "Fiqah, tenanglah, Kakek tidak mungkin membenci kamu. Justru karena saking sayangnya dia sama kamu. Makanya dia melakukan ini pada kamu. karena dia ingin memberikan yang terbaik buat kamu. Bahkan ketika kamu koma, Dokter di rumah sakit ini, telah mengatakan kamu sudah tidak memiliki harapan. Tapi lihat dia pernah berputus asa, Karena dia begitu yakin kalau kamu bisa sembuh. Makanya ia selalu berusaha untuk meberikan yang terbaik untuk kamu, Fiqah," jelas Afnan, seraya ia mengelus kepala serta punggung Syafiqah dengan lembut dan juga dengan kasih sayangnya.
"Jadi jangan pernah mengatakan kalau kakek tidak menyayangi kamu Fiqah, Dia sangat amat menyayangi kamu," lanjut Afnan lagi, membuat perasaan Syafiqah semakin nggak menentu, perasaan bersalah menyeruak dihatinya. Namun ia tak mampu berkata-kata lagi, yang bisa ia lakukan hanyallah menangis dipelukannya Afnan.
...┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈...
Hayooo.. tinggal berapa hari lagi yaa tanggal 5.
__ADS_1
Yuk akh Semangat-semangat, menjadi top fans teratas. Karena ada hadiah yang menanti bagi yang bersemangat memberikan dukungan pada Novel ini..Yuk akh cus kasih terus dukung kalian yaa.. Semangat..