CINTA MU Membawaku To Jannah

CINTA MU Membawaku To Jannah
PERGI BERBULAN MADU.


__ADS_3

─⊱◈◈◈⊰🦋 Kalam Hadits 🦋⊱◈◈◈⊰─


Pelangi kan terlihat indah setelah hujan..


Laut kan tenang bak cermin selepas badai..


Emas kan elok setelah disepuh. Gaharu kan harum setelah di bakar. Permata kan bernilai setelah di dulang..


Semua kenikmatan dan keindahan melalui proses. Siapa yang tak sudi ikuti proses..


Tak kan pernah merasakan keindahan dan kelezatan. Proses itu berat, melelahkan dan menyakitkan. Tak semua sanggup menjalaninya.


Mutiara menjadi berharga setelah lokan menyakiti diri bertahun-tahun, mengeluarkan zat nacre untuk melapisi pasir menjadi mutiara. Tiada yang lebih indah. Setelah melihat wajah Allah- dari surga firdaus. Mahalnya surga tak pernah di dapat dengan berleha-leha. Ia ditebus dengan kerja keras, penderitaan, darah dan air mata.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


*┈┈┈┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈┈┈┈*


Satu Minggu sudah Afnan berada di rumah orang tuanya setelah ia pulang dari rumah sakit. Dan kini kesehatannya juga sudah semakin pulih. Bahkan ia juga sudah mulai mengisi program untuk para santri dan santriwatinya. Namun setelah itu ia malah justru mendapatkan teguran dari Umi Salamah, maupun Kyai Abdur Rahim.


"Nak-nak! Baru juga sembuh kok sudah mikirin para Santri sih? Sampai mempalari mengisi program gitu! Dengar Nak, Abi sengaja menambah beberapa Ustadz dan Ustadzah itu, biar kamu bisa fokus dengan kesehatan kamu dulu! Eh ini kok malah sempat-sempatnya keluar lagi dari kamarnya," tegur Kyai Abdur Rahim, saat ia melihat Afnan yang baru pulang dari mengisi program untuk pada santrinya.


"Tau nih! Bikin Umi khawatir saja sih Nak! Umi kaget banget, Umi pikir kamu ngikut istri kamu ke kantornya. Sampai Umi mau negur Fiqah tadi, untung saja tadi Indah bilang kalau kamu lagi memberikan program untuk santri jadi Umi nggak jadi deh telpon Nak Fiqah," sambung Umi Salamah, ikut menegur Afnan.

__ADS_1


"Maaf Bi, Mi, Anan cuma jenuh saja dikamar sendirian! Lagian Anan sudah sehat kok Mi, Bi, jadi tidak usah khawatir lagi dong," balas Afnan dengan lembut. Ia memahami akan kekhawatiran orang tuanya.


"Apaan sudah sehat, jalan aja masih suka meringis jugaan Umi lihat!" ujar Umi Salamah, yang ternyata ia pernah memergoki Afnan saat rasa sakitnya yang tiba-tiba suka muncul secara tiba-tiba.


"Ya Ampun Mi, itukan tiga hari yang lalu. Itu pun karena tersenggol oleh umi jugakan? Jadi kalau sekarang sudah sembuh kok Mi," jelas Afnan.


"Sudahlah Mi sudah! Anak kamu ini memang seperti itukan? Jadi tidak usah di bahas lagi deh! Dab kalau Anak ini masih disini, mau seperti apa juga sakitnya, kalau masih disini Dia tetap bakalan, mengutamakan para Santrinya. Jadi kalau Umi benar-benar ingin melihat dia Istirahat, ya suruh aja Ikhsan mengantarkan dia ke Villanya yang ada di kok B, pasti dia bakalan istirahat tuh," tutur Kyai, mengingatkan Umi Salamah.


"Aah, benar juga ya Bi! Lagiankan Fiqah dan Anan belum pernah berbulan madu. Jadikan bisa sekalian tuh mereka berbulan madu," sambung Umi Salamah, dengan mata yang terlihat menanar senang mendengar idenya Kyai Abdur Rahim.


"Eh, apaan sih Mi, Bi? Kota B kan jauh, kasian Fiqah kalau ke kantornya dari sana," protes Afnan. Yang sepertinya ia mengkhawatirkan istrinya.


"Anak Bodoh! Ya dia harus cuti dulu dong! Masa iya bulan madu, pakai acara mikirin pekerjaan sih!' balas Umi Salamah dan saat bersamaan.


"Benar kata Nyai! Memang sudah saatnya mereka harus pergi berbulan madu! Mau sampai kapan, kita yang tua ini harus menunggu kehadiran cucu dari mereka, iyakan Nyai?" ujar seorang pria yang terlihat ia baru saja masuk bersama seorang Wanita, "Aah.. sampai lupa ngucapin salam! Assalamu'alaikum, Kyai, Nyai, maaf saya ikut menyela," lanjut pria tua tersebut.


"Eh, Pak Wijaya! Tidak apa-apa kok Pak Wijaya, ayo silahkan masuk," kata Kyai lagi, "Loh kok bisa barengan nih sama Nak Fiqah," tanya Kyai Abdur Rahim lagi, tatkala ia juga melihat wajah wanita yang berada di sampingnya Wijaya.


"Assalamu'alaikum Umi, Abi, Mas Anan," sambung Fiqah seraya ia menyalami satu persatu tangan kedua mertuanya dan juga Suaminya.


"Iya pak Yai, tadi Saya memang singgah ke kantor cucu saya. Dan saya juga sudah menyuruh dia untuk fokus merawat suaminya! Makanya Saya langsung antar kemari Pak Yai," kata Wijaya membalas pertanyaan Kyai Abdur Rahim tadi,


"Dan sampai ini pas banget sedang membicarakan bulan madukan? Jadi cocok sekali tuh! Kalau bisa hari ini juga mereka berangkatnya ke kota B. Bila perlu Toni saja yang mengantarkan mereka, Biar secepatnya mereka memberikan kita cucu! Gimana Pak Yai, apa Anda setuju?" lanjut Wijaya, membuat Syafiqah maupun Afnan saling berpandangan. Tampak sekali Syafiqah jadi sedikit malu.

__ADS_1


"Eh! Iiikh apaan sih Kakek! Terburu-buru banget sih! Kayak nggak ada hari esok aja deh! Lagian Fiqahkan baru pulang Kek!" protes Syafiqah, yang wajahnya sudah sedikit memerah, karena sebenarnya ia jadi malu kepada kedua mertuanya yang terlihat memandangi dirinya. Sambil ikutan tersenyum karena mendengar perkataan Wijaya.


"Kalau saya, setuju banget Pak Wijaya! Mereka memang harus secepatnya pergi deh! Kalau bisa sekarang juga!" kata Kyai Abdur Rahim, membalas perkataan Wijaya, membuat mata Syafiqah terlihat membulat.


"Nah, benarkan? Jadi pak Yai dan Nyai setujukan dengan saya?" tanya Wijaya pada Kedua orang tuanya Afnan.


"Setuju banget dong Pak Jaya!" balas kedua orang tuanya Afnan.


"Alhamdulillah Kalau begitu, Toni antar mereka sekarang juga! Dan penuhi keperluan mereka juga kalau sampai di sana!" ujar Wijaya pada Toni, yang kebetulan berada di sana juga.


"Baik Tuan Besar!" balas Toni terdengar tegas.


"Bagus! Sekarang pergilah Kalian sekarang juga!" titah Wijaya, lagi pada Afnan maupun Syafiqah, sambil menarik tangan keduanya.


"Loh-loh Kek! Masa seperti ini sih! Terburu-buru banget! Kamikan belum menyiapkan segala sesuatunya," protes, Syafiqah, sambil ia mengikuti langkah sang Kakek. Begitu juga dengan Afnan yang terlihat pasrah dengan tarikan tangannya Wijaya.


"Benar, apa yang dikatakan Fiqah Kek! Kami tidak bisa pergi begitu saja. Kamikan belum menyiapkan pakaian kami Kek," sambung Afnan, ikut menimpali protesnya Syafiqah.


"Kalian tenang saja! Karena Toni akan menyiapkan semuanya untuk kalian disana! Sekarang pergilah berbulan madu, bersenang-senanglah disana oke!" kata Wijaya, yang saat ini ia memaksa masuk Afnan dan Syafiqah kedalam mobilnya.


"Sekarang jalanlah Toni!'' titahnya pada Toni.


"Baik Tuan!"

__ADS_1


...┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈...


Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 Syukron 🙏🥰


__ADS_2