
─⊱◈◈◈⊰🦋 Kalam Hadits 🦋⊱◈◈◈⊰─
RAIHLAH QOLBUN SALIM
Allah 'Azza wa Jalla berfirman :
"Pada hari saat harta dan anak-anak tidaklah bermanfaat, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati qolbun salim (hati yang selamat)" (QS. Asy-Syu'araa' : 88-89)
Qolbun salim (hati yang selamat) adalah hati yang hidup, khusyu', ikhlas, tawadhu', lembut, putih, bersih, suci, mudah menerima nasihat, bersih dari rasa dendam dan hasad, senantiasa bergegas melakukan kebaikan, mencintai apapun yang dicintai Allah serta membenci apapun yang dibenci Allah, jauh dari dosa dan maksiat.
Imam al-Utsaimin رحمه الله berkata : "Barangsiapa hatinya selamat, maka Allah Ta'ala akan memberikan kepadanya firasat yang dengannya dia pun akan mengetahui perkara dosa, sampai-sampai jiwanya tidak akan merasa lega & tenang karena perbuatan dosa itu. Dan ini adalah nikmat Allah untuk orang itu" (Syarah Bulughul Maram XV/33)
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*┈┈┈┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈┈┈┈*
Keluarga Afnan, maupun Syafiqah terlihat begitu bahagia. Hal itu terpancar jelas, wajah-wajah mereka. Apalagi di tengah-tengah mereka, telah hadir pendatang baru, yang terlihat begitu mungil dan lucu. Sehingga bertambah sempurnalah rasa kebahagiaan bagi kedua keluarga itu.
Hari pun menjelang sore, membuat kebersamaan terpaksa harus berakhir. Sebenarnya begitu berat bagi mereka karena harus meninggalkan cucu kesayangan mereka. Apalagi Wijaya, yang tampak enggan memberikan cicit pertamanya, pada Syafiqah. Membuat Syafiqah menjadi heran melihat Kakeknya itu.
"Kakek, dari tadi pamit mau pulang, tapi nggak pulang-pulang sih?" protes Syafiqah, karena memang sudah beberapa kali Kakeknya berpamitan pada Afnan dan Syafiqah. Namun ia terlihat masih enggan untuk pulang.
"Hehehe, Maaf Nak, habis Kakek masih ingin melihat Rasyid, habisnya kakek gemas banget sih melihatnya Nak," balas Wijaya, sambil menoel-noel pucuk hidungnya Baby Boy, yang di panggil Rasyid tersebut.
"Ya sudah kalau begitu Kakek nginap di sini saja Kek. Lagian disini ada kamar tamu kok, kek," timpal Afnan.
"Iya benar tuh Kek, kata Mas Anan, mendingan Kakek nginap disini aja, tuh ada dua kamar kosong kok. Kakek mau pilih yang mana? Mau kamar yang VIP atau yang biasa aja, juga bisa kek," canda Syafiqah, membuat Wijaya langsung tertawa kekel.
__ADS_1
"Hahaha.. kamu bisa aja sih Nak? Kamu pikir rumah kamu ini hotel apa?" balas Wijaya, sambil mengusap-usap kepala Cucunya.
"Eh, Iis Kakek, Fiqahkan bukan anak kecil lagi! Lihat tuh, bahkan Fiqah udah buat anak kecil juga pun!"
Lagi-lagi Wijaya tertawa terbahak-bahak, mendengar perkataan Syafiqah. Begitu juga dengan Afnan, ia juga tampak tertawa lucu melihat kelakuan istrinya. Yang menurutnya sangalah lucu.
"Hahahaha.. iya iya cucuku ini memang sudah besar, tapi kelakuannya tetap kayak Anak kecil. Ya sudah kalau begitu, kakek pulang ya? Nih, jaga anak kamu baik-baik ya?" kata Wijaya, seraya ia mencium pipi bayi mungil yang sedang ia pegang. Setelah itu ia serahkan baby boy tersebut pada Syafiqah.
"Oke kek siap! Fiqah pasti akan menjaga dan juga menyayanginya dengan sepenuh hati," balas Syafiqah, sambil menyambut buah hatinya dari tangan sang Kakek.
"Oh iya, ngomong-ngomong, apa arti dari Anak kamu ini Nan? Siapa tadi namanya?" tanya Wijaya terlihat amat penasaran.
"Namanya Rasyid Atalaric Kek. Rasyid artinya Petunjuk, cerdas. Sedangkan Atalaric berati harum. Jadi Anan berharap Rasyid kelak menjadi anak yang Sholeh, yang selalu mendapatkan petunjuk serta kecerdasan, yang membawa harum, bagi sesamanya," jelas Afnan, seraya memandang wajah bayinya dengan sambil tersenyum lembut.
"Aamiin, semoga menjadi doa untuk Baby Boy kalian ya, dan semoga Rasyid, membawa kebahagiaan untuk kalian berdua," sambung Wijaya.
"Ya sudah kalau begitu pulang ya Nak, semoga kalian senantiasa berbahagia," ucap Wijaya lagi, seraya ia mulai melangkahkan kakinya.
"Aamiin, iya Kek. Hati-hati di jalan ya Kek," balas Syafiqah, yang terlihat ia hanya menatap kepergian kakeknya.
"In shaa Allah Nak, ya sudah Kakek pamit Assalamu'alaikum," ucap Wijaya, seraya ia tersenyum saat membalikkan tubuhnya kembali menatap wajah Syafiqah dari jarak beberapa meter saja.
"Iya kek. Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu,"
Setelah mendapatkan jawaban salam dari kedua cucunya. Wijaya langsung bergegas keluar dari rumahnya cucunya. Di ikuti oleh Afnan yang ikut mengantar sang Kakek keluar rumahnya. Tinggallah Syafiqah dan buah hatinya saja yang berada di ruang tamu tersebut.
"Hmm.. pasti anak Mimy sudah lelahkan? Kalau begitu ayo kita kembali ke kamar, biar kamu bisa istirahat, ya sayang," kata Syafiqah pada buah hatinya, yang terlihat sudah mulai memejamkan matanya. Lalu ia pun bangkit dari duduknya dan langsung melangkah menuju ke lantai dua, tempat kamarnya berada.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Fiqah pun meletakkan bayi mereka di atas tempat tidurnya dengan perlahan, karena ia tak ingin, Baby Boynya terbangun dari tidurnya, "Sssth...bobo yang nyenyak ya sayang, semoga kamu bermimpi indah," bisiknya sambil ia mengecup dahi buah hatinya dengan lembut.
Disaat bersamaan, Afnan pun masuk ke kamar mereka juga."Loh, Rasyidnya sudah tidur ya Sayang?" tanya Afnan, sambil ia duduk disisi ranjangnya mereka tepat disebelahnya Syafiqah.
"Hu'um Yank, kayaknya dia lelah banget deh. Lihat aja tuh, diciumi sama Fiqah nggak terbangun loh," balas Syafiqah, seraya ia mengelus-elus pipi buah hatinya yang terlihat mulai tembem itu.
"Yaa mau gimana lagi Sayang. Kan seharian ini dia sudah seperti raja, yang menjadi perebutan bagi kaum orang tua. Jadi sudah pasti dia sangat kelelahan, Sayang," kata Afnan, seraya ia meletakkan dagunya di bahu Syafiqah, sedangkan tangannya ikut mengelus buah hatinya, yang dibagian kepalanya dengan lembut.
"Maa shaa Allah, anakku tampan banget ya? Dari kecil saja sudah jadi rebutan, gimana dia besar nanti ya?" kata Syafiqah, dengan wajah yang menunjukkan kalau ia sedang gemas melihat si kecil Baby Boynya.
"Siapa dulu Ayah? Lihat dong Ayahnya juga tampankan? Jadi pastinya anaknya juga tampan dong," balas Afnan seraya ia meletak jari telunjuk dan jempolnya di bawah dagunya. Lalu ia pun menaik turunkan alisnya ke wajah Syafiqah.
"Iya deh Fiqah akui, suaminya Fiqah memang tampan, baik, sholeh lagi. Fiqah sangat bersyukur banget, karena Allah menjodohkan Fiqah sama Ayank, yang cintanya membawa Fiqah menuju Jannah. Terima kasih ya Ayank, terima kasih karena telah menjadikan Fiqah wanita yang sempurna," ucap Syafiqah. Seraya ia menyandarkan kepalanya kedada bidang suaminya.
"Sama-sama Sayang. Mas juga sangat bersyukur sekali, karena mendapatkan istri yang cantik, pintar, tambah sholehah lagi. Terima kasih ya Sayang, karena kamu telah menyempurnakan agama Mas. Terima kasih juga, karena kamu sudah memberikanku buah hati yang begitu. Sehingga rasanya Mas telah mendapatkan kebahagiaan yang sempurna ini, sekali lagi terimakasih Sayang," balas Afnan, seraya ia mengecup lembut dahi istrinya dengan penuh kasih dan sayang.
"Ana uhibbuki fillah, Sayang. (Aku mencintaimu karena Allah)" ucap Afnan seraya ia menatap wajah istrinya dengan tatapan yang penuh kasih sayang.
Wajah Syafiqah pun langsung merona mendengar ucapan cinta dari suaminya
"Ahabbakilladzii ahbabtani ilahuu"
Artinya ; "Semoga Allah mencintaimu, Dzat yang telah membuatmu mencintai ku karena-Nya.”
Mendengar balasan ungkapan cinta dari istrinya, Afnan pun tersenyum lembut, lalu ia pun mendekati wajahnya ke wajahnya Syafiqah seraya berkata, "Aamiin ya Allah. Semoga cinta kita terus bersemi hingga Jannah-Nya" katanya, lalu ia pun mengecup lembut dahi istrinya dengan penuh cinta.
"Aamiin ya Allah"
__ADS_1
...┈━━◎❅❀❦ 🦋E.N.D.🦋❦❀❅◎━━┈...