CINTA MU Membawaku To Jannah

CINTA MU Membawaku To Jannah
MUKENA MAHAR DARI AFNAN.


__ADS_3

─⊱◈◈◈⊰🦋 Kalam Hikmah 🦋⊱◈◈◈⊰─


“Dua do’a yang tidak akan ditolak: do’a ketika adzan dan do’a ketika ketika turunnya hujan.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi.)


Rintik hujan membasahi bumi fana..


Menghadirkan aroma lembut tanah yang menghanyutkan rasa. Terlantun kata demi kata terucap mengukir doa. Inilah salah satu waktu terindah untuk meminta. Dikala sayup hari berjalan dengan langkah tergesa. Inilah sentuhan kasih sayang-Nya kepada seluruh makhluk semesta.


Hujan...


Rinainya turun bersama limpahan rahmat yang tak terhingga. Setiap bulir keberkahan itu terlintas di depan mata, mengiringi doa-doa mustajab yang mengangkasa


Berdoalah kepada Rabb Pemilik alam semesta dengan ratapan menghamba. Berdoalah seakan engkau debu yang kotor dan tak berdaya. Mintalah dengan penuh kepasrahan dan harap ampunan dosa


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


*┈┈┈┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈┈┈┈*


Tiga hari kemudian.


Setelah insiden tersebut, Afnan langsung dilarikan ke rumah sakit. Namun karena terlalu lama menanganinya membuat ia mengalami koma, dan itu membuat Syafiqah menjadi sedih. Apalagi ketika ia sedang berada di rumah Afnan, karena disuruh istirahat, membuat ia malah tak bisa tidur. Karena hatinya jadi selalu terbayang dengan suaminya, yang biasanya sering menggodanya. Kini kamar itu terasa lengang tanpa kehadiran suaminya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi pada diriku? Mengapa perasaanku seperti ini sih? Aku jadi nggak bisa tidur deh," gumam Syafiqah yang terlihat ia malah bangkit dari tempat tidurnya. Dan entah mengapa ia jadi ingin melihat-lihat isi kamarnya Afnan. Karena selama ini ia begitu cuek dengan sekitarnya.


"Apa ini? Apakah ini album foto?" gumam Syafiqah, saat ia membuka laci yang ada di meja tepat disamping tempat tidurnya. Lalu ia pun mengambil album foto tersebut. Dan langsung ia kembali duduk di sisi tempat tidurnya. Lalu ia pun membuka album tersebut satu persatu. Dan ada satu foto yang menjadi pusat perhatiannya. Hingga tanpa sadar ia pun tersenyum melihat foto tersebut.



"Ini Suamiku? Humm... ternyata Dia tampan sekali kalau seperti ini," gumam Syafiqah. Namun setelah mengatakan hal itu tiba-tiba jantungnya kembali berdetak kencang.


"Hah..? Kenapa jantungku begini lagi sih?" gumamnya lagi seraya ia mengepalkan tangannya, lalu ia memukul dadanya, dengan pelan, "Humm.. kenapa aku jadi ingin sekali bertemu dengannya ya? Dan perasaan ini sangat berbeda sekali dengan perasaanku pada Fariz. Apakah ini tandanya Aku mulai mencintainya?" gumam Syafiqah lagi, dengan pandangan masih. mengarah ke fotonya Afnan. Lalu ia pun mengeluarkan foto tersebut dari Albumnya dan menaruh kembali album itu pada tempatnya.


Setelah itu Syafiqah kembali mengambil foto yang ia ambil di album tadi. Dan kembali ia pandangi foto tersebut, semabri ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, "Cepatlah sembuh Afnan, aku sangat merindukanmu?" ucapnya lirih, dengan mata yang terlihat mulai sayu. Dan tak berapa lama, tanpa terasa matanya pun mulai terpejam, dengan tangan yang terlihat sedang mendekap foto Afnan di dadanya.


Dua jam kemudian, Syafiqah tersentak dari tidurnya. Karena ia mendengar suara Adzan yang berkumandang. Yaa karena ia kini tinggal di pondok pesantren milik orang tuanya Afnan. Otomatis setiap saat ia mulai terbiasa mendengar suara Adzan di mesjid yang berada di pondok tersebut. Biasanya ia selalu mengabaikan suara Adzan tersebut. Namun kali ini ia terlihat langsung terbangun.


"Afnan pernah bilang bahwa Allah itu Maha baik. Dan apapun yang menjadi permintaan hamba-Nya pasti akan dikabulkan. Kalau begitu aku juga ingin sholat ah! Afnankan sudah mengajarkan aku berwudhu. Sekarang sebaiknya aku berwudhu dulu," gumam Syafiqah, lalu ia pun langsung bangkit dari tempat tidurnya. Dan langsung bergegas ke kamar mandi. Dan tak berapa lama ia keluar kembali dengan wajah yang terlihat sudah basah dengan air wudhunya.


Setelah itu, Syafiqah pun menghampiri lemarinya dan membukanya terlihat dibagian atas rak lemari ada lipatan kain berwarna putih yang diatasnya terdapat sebuah sejadah. Lalu ia pun langsung mengambilnya, kemudian untuk sejenak ia memeluk lipatan kain putih serta sejadah tersebut dan kemudian ia pun menciumnya.


"Ini mukenah mahar dari Afnan. Dan hari ini aku akan memakainya Afnan," gumamnya lagi, seraya ia kembali mencium mukena tersebut. Setelah itu ia pun langsung memakainya. Setelah selesai ia memakai mukena tersebut. Wajah Syafiqah langsung berubah, tampak sekali ia terlihat kebingunga.


"Tapi gimana caranya? Akukan nggak pernah melakukan Sholat," gumamnya lagi,

__ADS_1


"Apa aku minta ajarin sama Umi ya? Tapi apa katanya nanti, kalau ternyata anak mantunya tidak tahu Sholat? Bodo akh! Yang penting aku harus bisa Sholat! Biar bisa minta sama Tuhan agar Dia menyembuhkan Afnan!" gumam Syafiqah lagi. Lalu ia pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan kamarnya, untuk mencari ibu mertuanya. Dan di saat ia hendak menuruni anak tangga, tiba-tiba, ia dikejutkan dengan suara seorang wanita dari bawah.


"Masya Allah... Cantiknya menantu Umi," ucap wanita itu yang tak lain adalah Umi Salamah, ibunya Afnan.


"Eh, Umi! Terima kasih Umi," balas Syafiqah sambil menyunggingkan senyuman malunya, "Ini mukena mahar dari Anaknya Umi, baguskan Umi" lanjut Syafiqah, seraya ia menunjukkan mukena yang berbordir indah itu.


"Iya Sayang, sangat cantik! Apalagi kamu yang memakainya, tambah cantik," puji Umi Salamah, seraya ia menyentuh dagunya Syafiqah.


"Eh, terima kasih atas pujiannya Umi. Oh iya Umi, hum..itu.. Fiqah tidak bisa sholat Umi. Um..bisakah Umi mengajarkan Fiqah Sholat? Soalnya Fiqah ingin mendoakan Anak Umi, agar ia cepat sadar Umi," ucap Syafiqah lirih. Tampak sekali ia begitu malu dan ada juga tersirat kesedihan tatkala ia mengucapkan kalimat terakhirnya. Sehingga ia hanya menunduk wajahnya saja, untuk menutupi hal tersebut.


Mendengar hal itu, Salamah tersenyum lembut, seraya ia mengangkat wajah malu sang anak menantunya itu, "Alhamdulilah.. dengan senang hati, Umi akan mengajarkan kamu Sayang," balasnya, seraya ia memeluk tubuh Syafiqah dan kemudian ia juga mengusap kepala Syafiqah dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih Umi," ucap Syafiqah didalam pelukannya.


"Sama-sama Sayang, ya sudah sekarang ayo kita, ke mesjid ya Nak," ajak Salamah, yang kebetulan ia memang hendak ke Mesjid.


"Baik Umi," balas Syafiqah. Dan akhirnya mereka pun pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat Subuhnya yang kebetulan mesjidnya amat dekat dengan pondok utama milik orang tuanya Afnan.


...┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈...


Jangan lupa Dukung author ya

__ADS_1


__ADS_2