
─⊱◈◈◈⊰🦋 Kalam Hadits 🦋⊱◈◈◈⊰─
Allah Maha Mendengar tidak perduli kau berkata menggunakan suara atau juga berkata dalam hati. Apapun yang kau katakan, percayalah bahwa Allah mengetahui apa yang kau katakan.
Allah Maha Melihat, tak perduli kau berada dalam keramaian atau juga sedang dalam kesendirian. Apapun yang kau lakukan, percayalah bahwa Allah melihat apa yang kau lakukan.
Allah Maha Mengetahui, tak perduli kau sedang bahagia atau juga bersedih. Apapun perasaan yang sedang menghampirimu, percayalah Allah mengetahui apa penyebab perasaanmu itu.
Berhusnudzonlah selalu kepada-Nya. Bukan Allah tak mendengar doa-doamu. DIA mendengar semua doa-doamu. Bukan pula Allah tak ingin mengabulkan doa-doamu, hanya saja Allah lebih mengutamakan kebutuhanmu, bukan keinginanmu.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*┈┈┈┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈┈┈┈*
Beberapa hari kemudian, Afnan bermaksud pergi ke luar negeri. Namun melihat istrinya yang semakin hari semakin aneh saja, membuat ia ragu-ragu untuk meninggalkannya. Pasal istrinya tak pernah mau lekang dari dirinya. Kemana pun ia bergerak, Syafiqah, pasti akan mengikutinya, sekalipun itu ke kamar mandi. Dan itu membuatnya semakin resah melihatnya.
"Sayang, sebenarnya kamu kenapa sih? Kenapa kamu jadi menempel terus sih sama Mas? Maskan mau buang hajat Sayang, masa kamu kayak gini sih? Perut Mas sakit nih Sayang, kamu tunggu disini ya?" ujar Afnan seraya memohon, dengan wajah terlihat, seperti sedang menahan sesuatu.
"Nggak mau! Pokoknya Fiqah ikut! Orang Fiqah nggak papa kok! Kalau Ayank, mau ngu'uk, ya udah ayo masuk, Fiqah temanin!" balas Syafiqah, seraya ia merangkul lenganya Afnan dan menariknya kekamar mandi.
"Haiis..Sayang! Nanti kamu kebauan loh! Aah.. udah akh! Jangan aneh-aneh kamu tunggu disini!" ujar Afnan, terdengar tegas.
"Nggak Mau Ayank!" protes Syafiqah.
"Sssth..! Nggak boleh ngebantahkan? Jadi diamlah Disni!" kata Afnan, sedikit membentak, akhirnya Syafiqah pun menuruti keinginan suaminya. Ia berdiri didepan pintu kamar mandi mereka. Sedangkan Afnan langsung masuk ke kamar mandi, dan langsung menguncinya.
"Aaah! Akhirnya..lega juga nih perut!" gumam Afnan, setelah ia menyelesaikan hajatnya. Namun ia tak langsung keluar, ia sengaja tetap didalam kamar mandi.
"Hmm.. sebenarnya apa yang terjadi pada Fiqah? Kenapa dia semakin aneh aja ya? Ana jadi sulit mau kemana-mana!" gumam Afnan, yang terlihat ia tak habis pikir melihat perubahan pada istrinya.
"Apa sebaiknya aku telpon Umii saja ya? Siapa tahu aja Umi tahu penyebab, keanehannya Fiqah," gumam Afnan lagi, seraya ia merogoh sakunya, "Aah..iya hp Ana di tempat tidur tadikan? Ya sudahlah nanti saja telpon Uminya, sekarang sebaiknya aku keluar saja dulu deh!" gumamnya lagi, seraya ia melangkah menuju kepintu, lalu ia pun langsung membukanya. Dan disaat ia hendak melangkah keluar tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu.
"Astaghfirullah! Apa itu?!" sentak Afnan, seraya ia menoleh kebelakang, "Astaghfirullah..Fiqah! Kenapa tidur disini sih!" sentaknya lagi, saat melihat ternyata istrinya tertidur sambil duduk menyandar dinding dengan kaki diselojorkan tepat di depan pintu kamar mandi. Sehingga membuat kaki Afnan tersandung dengan kakinya.
"Haiis.. semakin aneh aja sih kamu Sayang?" gumam Afnan lirih, sambil ia mengangkat tubuh istrinya ala bridal style. Dan langsung ia bawa ke tempat tidurnya.
__ADS_1
"Ini tidak bisa dibiarkan! Ana harus secepatanya telpon ke Umi!" kata Afnan lagiz seraya ia meletakkan tubuh istrinya di tempat tidurnya. Setelah itu ia langsung bergegas mengambil handphonenya. Dan langsung mencari kontak sang Ibu. Dan tak berapa lama.
"Halo.. Assalamu'alaikum?" ucap seorang wanita dari seberang.
"Wa'alaikumus salam Umi," balas Afnan dengan lembut.
"Ada apa Nak? Tumben pakai telpon segala? Biasanya kalau kangen umi langsung datangkan?" tanya Umi Salamah dari seberang.
"Ini Umi, Anan, mau tanya.. um.. itu Umi, akhir-akhir ini kelakuan Fiqah aneh banget Umi, apakah Umi tahu apa penyebabnya?" tanya Afnan, pada awalnya ia sedikit ragu. Namun karena rasa bingung dan rasa cemas lebih besar. Akhirnya ia pun mengungkapkan semuanya.
"Umm.. Aneh? Aneh bagaimana maksudnya kamu Nak?" tanya Umi Salamah terdengar penasaran.
"Ya itu, Aneh aja Umi. Maunya nempel terus sama Anan, sampai-sampai Anan sulit bergerak Umi," keluh Afnan lagi.
"Hah? Benarkah itu Nak?" tanya Salamah lagi.
"Iya Umi, benar! Apakah Umi tahu kenapa?"
"Alhamdulillah.. kalau benar! Ya sudah sekarang sebaiknya kamu bawa Fiqah kerumah sakit ya? Nanti dari sana langsung ke rumah umi ya Nak?" balas Umi Salamah, dengan suara yang terdengar begitu sumringah. Mendengar hal itu Afnan pun mengerutkan dahinya.
"Udah turuti aja kata Umi! Pergilah sekarang, biar secepatanya kamu tahu, Nak! Udah ya Umi, mau antar Abi nih, Assalamu'alaikum," kata Umi Salamah dan belum lagi, Afnan membalas salamnya, ia sudah menutup sambungannya.
"Eh? Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu, umi main tutup aja sih? Segitu sayangnya sama Abi," gumam Afnan, seraya ia memasukkan handphonenya ke dalam sakunya. Lalu pandangannya ia alihkan ke tempat tidurnya.
"Eh, kamu sudah bangun Sayang?" tanya Afnan, yang ternyata istrinya telah bangun dari tidurnya.
"Sudah Yank. Humm.. tadi siapa yang di telpon Yank?" balas Syafiqah dan bertanya balik.
"Ooh.. itu Umi Sayang. Umi menyuruh kita kerumah sakit," balas Afnan apa adanya.
"Ke rumah sakit? Siapa yang sakit Yank?" tanya Syafiqah terlihat penasaran.
"Tidak ada yang sakit kok Sayang. Hanya saja, Umi menyuruh Mas, untuk priksakan kamu ke dokter," balas Afnan. Membuat Syafiqah langsung mengerenyitkan dahinya.
"Fiqah? Emangnya Fiqah kenapa Yank?" tanyanya terlihat semakin penasaran.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa Sayang. Cuma sekedar ingin tahu saja, ya sudah ayo, kita turuti saja keinginan Umi. Kan biar dapat pahala," kata Afnan, sambil menarik tangan istrinya.
"Ya udah deh kalau begitu, ayo.." balas Syafiqah dengan pasrah. Dan akhirnya mereka pun langsung beranjak pergi meninggalkan kamarnya. Dan tak berapa lama kemudian mereka sudah berada di dalam mobilnya Afnan.
"Kamu sudah siap Sayang?" tanya Afnan sebelum menyalakan mesin mobilnya.
"Sudah Yank, Fiqah sudah siap kok,"
"Alhamdulillah, ya sudah kita berangkat ya? Bismillah.." kata Afnan dan tak berapa lama ia pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum.
Setelah menempuh perjalanan selama empat lima menit, akhirnya mereka sampai di depan lobiy rumah sakit. Lalu keduanya pun langsung turun, dan langsung menuju ke ruang pemeriksaan. Dan tak berapa lama mereka pun dipanggil oleh suster yang bertugas memanggil nama pasien yang hendak berobat.
"Silahkan duduk Pak, Bu. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita, berjas putih yang terlihat sedang duduk di belakang meja kerjanya.
"Terima kasih Dok!" Afnan dan Syafiqah pun langsung duduk di hadapan wanita yang dipanggil Dokter tersebut, "Ini Dok, saya ingin memperiksakan istri saya Dok," lanjut Afnan lagi.
"Ooh, baiklah! Mari Bu kita periksa dulu," balas sang Dokter. Seraya ia bangkit dari duduknya. Begitu juga dengan Syafiqah, lalu keduanya pun langsung menuju ke tempat tidur pemeriksaan. Lalu sang Dokter pun mulai memperiksa Syafiqah dengan seksama.
"Waah.. selamat ya Pak, istri Anda saat ini sedang hamil" ujar Sang Dokter, membuat Afnan dan Syafiqah saling berpandangan.
"Hamil?" ucap keduanya dengan serentak.
"Alhamdulillah... terima kasih ya Allah!" ucap Afnan langsung bersujud syukur.
...┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 Syukron 🙏🥰
Oh iya selagi menunggu Ramanda update cus yuk kepoin karyanya Mak ♥️Trias Wardani♥️
Pokoknya karya kece badai deh. Yuk akh, mampir ya guys, dan jangan lupa berikan dukungannya oke 😉👇
Syukron 🙏🥰.
__ADS_1