
─⊱◈◈◈⊰🦋 Kalam Hikmah 🦋⊱◈◈◈⊰─
Hidayah tuh tidak bergantung pada kecerdasan, atau kekayaan, atau keturunan, atau suku, atau ketampanan. Hidayah adalah karunia Allah, maka mintalah agar Allah menurunkannya kepada anda, dan menjaganya hingga akhir hayat.
Itulah salah satu alasan mengapa anda harus baca surat Al Fatihah di setiap kali sholat, yang mengandung permintaan hidayah, padahal anda sudah beragama Islam bahkan rajin sholat.
Karena anda sholat hari ini, belum cukup sebagai jaminan anda akan tetap sholat besaok hari. Dan sebaliknya yang belum sholat hari ini, belum tentu akan demikian seterusnya, bisa jadi esok dia yang rajin sholat sedangkan anda mengganti posisinya sebagai orang yang malas sholat.
Karena itu buang jauh-jauh kesombongan karena merasa sudah dapat hidayah dan buang jauh-jauh budaya nyinyir setiap kali melihat orang terjerembab dalam dosa.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*┈┈┈┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈┈┈┈*
Kedatangan Wijaya, yang ikut menjenguk Afnan langsung disambut oleh Kyai Abdur Rahim. Lalu keduanya saling mengobrol sambil sarapan, yang telah dipersiapkan oleh Umi Salamah dan Syafiqah. Dan setelah mereka menyelesaikan sarapannya. Kyai Abdur Rahim berpamitan pulang, karena sudah pasti ia amat lelah setelah menjaga Afnan semalaman. Karena suaminya mengajak pulang akhirnya Umi Salamah pun ikut pulang. Tinggallah Syafiqah dan Wijaya yang berada diruang rawatnya Afnan.
"Kek? Waktu Fiqah koma, apa yang Kakek perbuat agar Fiqah kembali sadar? Apakah Kakek memanggil dokter terhebat?" tanya Syafiqah, tanpa melihat sang Kakeknya. Karena tatapannya itu masih mengarah ke pembaringan tempat Suaminya saat ini sedang dirawat.
"Iya, Waktu kamu koma, Kakek mendatangkan Dokter dari luar negeri! Tapi tetap saja kamu tak sadar-sadar juga Nak," balas Wijaya apa adanya. Mendengar perkataan sang Kakek, pandangan Syafiqah pun langsung mengarah pada Wijaya.
__ADS_1
"Lalu apa yang Kakek perbuat agar Fiqah tersadar?" tanyanya, dengan wajah penasarannya.
"Pada waktu itu, Kakek sempat putus asa. Karena Kakek sudah mendatangi beberapa Dokter. Namun kamu tidak juga, sadar. Sampai akhirnya Kakek dipertemukan dengan Afnan," jawab Wijaya, yang akhirnya ia pun menceritakan semuanya. Dari pertama ia berjumpa dengan Afnan. Bahkan ia juga menceritakan ketika Afnan mengajarkan ia Sholat serta mengaji. Dan dari sanalah ia tahu, mengetahui cara pengobatan lewat Al-Qur'an.
Mendengar cerita sang Kakek, wajah Syafiqah pun langsung berubah sedih. Pasalnya ia belum bisa mengaji, "Humm.. Fiqah nggak bisa mengaji! Gimana cara Fiqah membacakan Afnan Al-Qur'an Kek," katanya terdengar lirih.
"Jangan sedih Nak. Kamu pasti bisa kok, asalkan kamu mau mempelajarinya. Gini saja Nak, Insya Allah besok Kakek datang lagi, dan akan membawakan kamu guru ngaji. Gimana kamu maukan Nak?" tanya Wijaya, memberikan usul pada Syafiqah.
"Mau Kek, Mau! Fiqah mau! Tapi kenapa harus tunggu besok Kek? Kenapa tidak hari ini?" tanya Syafiqah balik.
"Hari ini tidak bisa Nak! Soalnya Kakek mau ke kantor polisi. Untuk memberikan kesaksian prihal peristiwa kemarin Nak. Ini saja Kakek tidak bisa berlama-lama disini. Jadi besok saja Kakek datang lagi ya?" balas Wijaya, menjelaskan alasan ia tak bisa menemani sang Cucunya itu.
"Sabar ya Nak. Percayakan semuanya pada Allah, yakinlah kamu pasti akan bisa melewati ujian ini," kata Wijaya, Seraya ia mengelus kepala Syafiqah yang kini sudah tertutup dengan hijabnya.
"Aamiin.. Iya Kek," balas Syafiqah, sambil tersenyum lembut pada sang Kakek.
"Ya sudah, kalau begitu Kakek pamit ya Nak. Kamu baik-baik disini ya, jaga suami kamu, dengan tulus oke?" kata Wijaya lagi.
"Iya Kek. In shaa Allah," balas Syafiqah dengan singkat.
__ADS_1
"Ya sudah Kakek pergi ya, Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumus salam, Kek,"
Setelah mendapatkan jawaban salam dari sang Cucu. Wijaya pun langsung bergegas pergi, dan tinggallah Syafiqah seorang diri, bersama Afnan yang masih terlihat belum sadarkan diri. Setelah kepergian Wijaya, Syafiqah pun langsung menghampiri tempat tidurnya Afnan. Lalu ia pandangi wajah pucat suaminya dengan lekat. Bahkan tanpa sadar tangannya kini sudah menyentuh wajah pucat itu.
"Afnan..? Mau sampai kapan kamu akan tidur seperti ini, sih?" gumam Syafiqah, dengan tangan yang masih menelusuri wajahnya Afnan. Tiba-tiba ia teringat, akan permintaan Afnan, yang meminta dirinya untuk memanggilnya Sayang. Bahkan ia juga teringat akan akan perkataannya Afnan, yang akan menjadikan dirinya wanita yang sempurna. Teringat hal itu, Syafiqah pun mendekati bibirnya, ketelinganya Afnan.
"Sayang.. bangunlah! Bukankah kamu mau menjadikan aku wanita yang sempurna? Jadi ayolah bangun Sayang," bisik Syafiqah ketelinganya Afnan. Namun tak juga direspon oleh Afnan. Namun Syafiqah tak putus asa. ia terus-menerus membisikkan hal yang sama ketelinganya Afnan.
"Sayang.. Bangun dong! Kamukan belum ngajarin aku Sholat dan mengaji! Kalau kamu seperti ini terus, lalu sama siapa aku belajarnya Sayang?" kata Syafiqah lagi, seraya ia memberikan kecupan pada dahi, pipi, hidungnya Afnan. Bahkan ia juga mengecup singkat bibir pucatnya Afnan juga.
"Ayo dong Sayang, bangun! Aku sudah menuruti keinginan kamu, untuk memanggil, kamu sayang. Tapi kenapa kamu tidak bangun juga sih hiks..hiks..! Mau sampai kapan sih kamu mengabaikan Fiqah? hiks..hiks.." kata Syafiqah, yang kini nada bicaranya, mulai ada keputus asaan. Bahkan tangisan juga ikut pecah karena, ia melihat Afnan tak lagi meresponnya. Hingga akhirnya ia menjadi kesal.
"Huh! Sudahlah! Terserah kamu! Tidur saja seterusnya sana! Tidak usah bangun sekalian, biar saja aku cari orang lain saja! Aku tidak akan memperdulikan kamu lagi!" katanya seraya ia mengusap air matanya dengan kasar. Lalu ia pun hendak meninggalkan Afnan. Namun tiba-tiba tangannya tertahan oleh seseorang. Serta dibarengi dengan suara seorang pria yang terdengar masih sedikit lemah.
"Kamu mau pergi meninggalkan aku Sayang?"
...┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈...
__ADS_1
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 Syukron 🙏🥰