
*┈━❅❀❦ 🦋 Mutiara Hikmah 🦋❦❀❅━┈*
Kala titik air jatuhkan diri ke bumi. Itulah tanda sang awan tuntaskan tugas. Mandikan lembar demi lembar hijau dedaunan. Tumbuhkan kebahagiaan pada setiap jengkal tanah pengharapan.
Saat mentari tenggelam di garis cakrawala. Itulah akhir dari pengembaraan berharganya. Setelah lelah menebar cahaya penuh berkah. Wujudkan kebahagiaan dalam hangatnya buaian malam.
Ternyata semua ada waktunya, yang telah ditentukan oleh-Nya secara sempurna...Semua ada masanya. Yang tiada kita menyadarinya.
Semua ada umurnya. Di mana kita harus ikhlas atas segalanya. Sebagai bukti ketertundukkan yang dalam. Dan kepatuhan yang sepenuhnya utuh. Pada setiap lembar iradah-Nya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈*
Hari-hari telah terlewati begitu cepat, kini Wijaya sudah mulai menuaikan hasilnya dalam pembelajarannya tentang ilmu agama. Bahkan kini ia juga sudah mulai bisa membaca Alquran. Membuat Afnan selaju gurunya menjadi senang. Apalagi, Wijaya begitu gigih mempelajarinya. Karena ia telah berjanji didepan tubuh Syafiqah. Kalau ia akan membacakan Al-Qur'an setiap hari untuknya. Karena Afnan pernah berkata bahwa Alquran adalah obat dari segala penyakit. Maka dari itu ia bertekad harus secepatnya bisa membaca Alquran.
Tapi Anehnya, semenjak Wijaya telah pandai membaca Alquran, Arwah Syafiqah tak pernah muncul lagi. Membuat perasaan Afnan jadi tak menentu lagi. Sebenarnya ia ingin sekali melihatnya ketika, Wijaya mengajaknya ke kamar tempat ia dirawat. Namun karena ia mengetahui hukumnya, yang tak memperbolehkan seorang yang bukan muhrim berada di satu ruangan. Apalagi ia tahu benar, kalau Syafiqah pasti tidak berhijab. Makanya ia selalu menolak ajakannya Wijaya. Akan tetapi justru perasaannya semakin tidak karuan, ia merasa ada keanehan pada dirinya.
"Nak Afnan?" panggil Wijaya, ketika ia melihat Afnan yang sedang berdiri di depan jendela. Dengan pandangan yang terlihat sedang menatap sebuah taman yang berada di luar.
"Nak Afnan?" panggil Wijaya lagi, karena sepertinya Afnan sedang melamun. Sehingga ia tidak mendengar panggilan pertamanya.
"Nak Afnan?!" panggil Wijaya lagi yang kini panggilannya terdengar lebih keras. Namun lagi-lagi Afnan tak juga meresponnya. Menandakan ia sama sekali tak mendengar panggilannya. Dan Wijaya pun langsung mendekatinya, lalu ia pun menyentuh bahunya. Membuat Afnan langsung tersentak.
__ADS_1
"Astaghfirullah!" sentaknya dan ia pun langsung menoleh kebelakang, "Kakek? Ada apa Kek?" tanya Afnan, lagi, seraya ia, memutarkan tubuhnya menghadap Wijaya.
"Kamu yang ada apa Nak? Kenapa sejak tadi kamu melamun terus? Apakah ada yang sedang kamu pikirkan Nak?" tanya Wijaya kembali, ia memang begitu penasaran dengan sikap Afnan yang beberapa hari ini terlihat berbeda.
Mendengar pertanyaan Wijaya, Afnan terlihat bingung untuk menjawabnya, "Eh, ti-tidak A-ada apa-apa kok Kek. Hanya saja, saya ingin mengatakan kalau dua minggu kedepan saya tidak bisa menemani Kakek belajar. Karena Saya harus pergi ke Kairo untuk membawa para santri yang berprestasi untuk melanjutkan sekolah di sana Kek," balas Afnan yang pada awalnya sedikit gugup. Dan tampak juga dari raut wajahnya, ia seperti berat untuk pergi. Namun karena itu sudah menjadi tugasnya, mau tak mau ia harus menjalaninya.
"Ooh baiklah Nak, tidak apa-apa kok, kamu berangkatlah. Tapi dengan Syarat, kamu harus berhati-hati disana, dan juga harus menemui Kakek, setelah kamu kembali, kamu paham?" ujar Wijaya, seraya ia menepuk pundak Afnan.
"Paham kek! In shaa Allah, Saya akan langsung datang lagi setelah kembali nanti," balas Afnan.
"Bagus! Dan jangan lupa juga untuk selalu mendoakan Syafiqah, agar secepatnya ia sadar kembali. Karena seingat Kakek, kamu kamu pernah berkata, salah satu doa yang cepat diijabah adalah seorang musafir? Dan kamu sebentar lagi hendak pergikan, jadi kamu termasuk golongan musafirkan nantinya, benar tidak yang saya katakan Nak?" ujar Wijaya, yang terlihat ia agak ragu-ragu karena pemahamannya masih dibilang minim.
Afnan tersenyum ketika mendengar ucapan Wijaya. Walaupun ia terlihat ragu-ragu, namun yang dikatakannya tidak salah, "Benar Kek, memang ada tiga golongan yang doanya tidak bisa ditolak oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda
"Tiga orang yang tidak akan tertolak (doanya), yaitu: doa orang tua bagi anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir."(HR.Al-Baihaqy).
Itulah 3 golongan orang yang doanya dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Meskipun demikian, bukan berarti doa yang lainnya tidak akan dikabulkan. Semuanya pasti akan dikabulkan. Karena sejatinya, Allah Azza wa Jalla adalah Sang Maha Pemurah dan Penyayang terhadap semua hamba-Nya.
"Seperti itukan yang Kakek maksud?" tanya Afnan, setelah ia menjelaskan maksudnya yang dikatakan Wijaya tadi.
"Iya Nak, benar. Makanya itu Kakek meminta sama Kamu, tolong doakan cucu Kakek ya? Karena hanya Dia harapan Kakek satunya, untuk itu Kakek, sangat memohon..." ujar Wijaya, namun langsung dipotong oleh Afnan.
__ADS_1
"Sssth.. Kakek tidak boleh memohon pada Saya, karena tempat kita memohon, hanya pada Allah Kek, jadi jangan pernah berputus asa dari pertolongan-Nya. Karena semuanya atas kehendak-Nya kek. Tapi Kakek jangan khawatir, karena in shaa Allah, saya tetap akan mendoakan Syafiqah, dimanapun saya berada,"
Mendengar perkataan Afnan, Wijaya langsung memeluk tubuhnya. Sebab ia selalu terharu setiap mendengar penjelasan demi penjelasan yang dilontarkan oleh Afnan. Bahkan ia selalu menitikkan air matanya, apa bila perkataannya sedikit menyentuh hatinya.
"Terima kasih, terima kasih Nak, Kakek bersyukur sekali, karena Allah mempertemukan Kakek dengan kamu. Dan Kakek berharap bila Allah, mengizinkan Syafiqah sadar kembali, maka kamulah yang akan, Kakek jadikan suaminya," kata Wijaya, membuat Afnan terkejut mendengarnya.
"Eh! Suami? Apa maksudnya Kakek, ngomong seperti itu?" tanya Afnan yang terlihat tidak percaya dengan apa yang ia dengar tadi.
"Kenapa? Apakah kamu tidak menyukainya? Memang sih, Syafiqah sangat jauh dari kata Sholehah. Karena memang, ia dididik pada orang yang tak memahami agama makanya itu jauh dari kata Sholehah. Tapi Kakek percaya kalau kamu pasti bisa mendidiknya menjadi seorang istri, dan Ibu yang sholehah. Jadi Kakek berharap kamu mau menerima Syafiqah, sebagai istri kamu. Apakah kamu bersedia Nak?"
Mendengar permintaan Wijaya, jantung Afnan tiba-tiba berdegup kencang. Membuat ia terlihat bingung harus menjawab apa. Karena memang ia tak pernah terpikir sampai kearah sana. Melihat Afnan hanya diam, Wijaya berpikir kalau Afnan tidak bersedia dengan permintaannya. Dan ia pun tak mungkin memaksakan kehendaknya.
"Kalau kamu tidak bersedia nggak papa kok Nak Kakek paha..."
"Bukan seperti itu, tapi saya hanya ingin mengikuti kehendak-Nya. Apabila Allah meridhoi Saya dengan Syafiqah, maka in shaa Allah, saya akan menikahinya Kek!" potong Afnan terdengar tegas. Membuat Wijaya begitu senang mendengarnya.
"Alhamdulillah.. terima kasih Nak, In shaa Allah Kakek Akan memohon pada Allah, semoga Syafiqah dan kamu benar-benar berjodoh!"
...┈━━◎❅❀❦ 🍃🍃 ❦❀❅◎━━┈...
Terus dukung author ya guys 🙏🥰
Karena ada hadiah yang menanti bagi yang bersemangat memberikan dukungan pada Novel ini. Oh iya apabila ingin lihat kejelasannya. Kalian bisa follow Akun Instragram Author yang bernama ramanda2378. karena disana sudah Author jelaskan dan berapa saja hadiah yang akan Author berikan. jadi lupa follow ya guys.
__ADS_1
Syukron 🙏🥰.