
─⊱◈◈◈⊰🦋 Kalam Hadits 🦋⊱◈◈◈⊰─
Semangat beramal, terus bersabar, selalu berdoa, jauhi dosa-dosa, dan berjalan dengan segala aturan syariat. Sabar sebentar. Karena dunia memang tempat beramal.
• Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin rahimahullah mengingatkan,
“Dalam umur tidak ada kata libur. Sepanjang umur adalah waktu beramal, tidak ada waktu libur selain kematian. Berdasarkan sabda Nabi Muhammad ﷺ,
“Jika seseorang meninggal maka putuslah semua amalannya kecuali dari tiga hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” [H.R. Muslim (1631)]
Nabi ﷺ tidak menjadikan pemutus amal selain satu hal ini, yaitu kematian. Artinya, kita harus selalu dan senantiasa dalam amal. Orang yang cerdas adalah yang mengalahkan jiwanya [untuk taat] dan beramal untuk hidup setelah kematian. Sedang orang yang lemah adalah orang yang dirinya selalu tunduk pada nafsunya lalu berangan-angan banyak kepada Allah."
Muhadharat wa Fatawa al-Liqaʼ asy-Syahri, 1/89
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*┈┈┈┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈┈┈┈*
Afnan begitu senang setelah mengetahui kalau istrinya sedang hamil. Dan akhirnya ia pun tahu penyebab keanehannya Syafiqah. Apalagi setelah ia tahu juga kalau Uminya juga seperti itu ketika Beliau hamil dirinya. Membuat Afnan akhirnya memaklumi keanehan istrinya itu. Bahkan ia selalu menuruti apapun yang menjadi keinginan istrinya itu. Seperti saat ini, seharusnya hari itu adalah jadwal ia berangkat keluar negeri.
Namun karena istrinya yang selalu ingin dimanja membuat ia akhirnya terpaksa membatalkan keberangkatannya. Padahal itu adalah perjalanan yang amat penting bagi dirinya. Namun apa hendak dikata, dari pada istrinya memaksa ingin ikut, padahal kehamilannya belum diperbolehkan untuk melakukan perjalanan udara. Makanya ia lebih memilih untuk membatalkan perjalanan bisnisnya.
"Ayank, kok nggak jadi perginya? Apa karena Fiqah minta ikut ya, makanya nggak jadi pergi?" tanya Syafiqah, dengan wajah yang terlihat antara kesal dan sedih.
"Tidak kok Sayang. Bukan karena kamu kok, tapi karena memang ada penundaan dari pihak sananya, Sayang," dalih Afnan dengan lembut.
"Humm.. masa sih? Bilang aja karena Mas, takut Fiqah ikutkan?" ujar Syafiqah, yang sepertinya ia tak percaya dengan Alasan suaminya tadi.
__ADS_1
"Nggak loh Sayang. Lagian kalau kamu ikut, juga nggak baik untuk janin kamu Sayang. Karena itu perjalanannya sangat jauh, delapan jam loh. Kasiankan? Jadi nanti kalau memang kandungan kamu sudah tujuh bulanan. Baru deh kamu ikut sekalian Bebymoon, oke," rayu Afnan terdengar sangat berhati-hati sekali.
"Hmm.. ya sudah deh! Terserah sama Ayank saja!" balas Syafiqah pasrah. Namun masih terdengar ketus.
"Kok masih marah sih Sayang?" tanya Afnan, seraya ia mendekati wajahnya ke wajah Syafiqah.
"Siapa yang marah! Perasaan Ayank aja kali!" balas Syafiqah, namun masih terdengar ketus.
"Kalau nggak marah kok, ngomongnya ketus sih? Itu namanya masih marah Sayang," kata Afnan seraya ia menoel pucuk hidungnya Syafiqah.
"Tau akh! Fiqah mau pergi aja sendiri! Bosen disini!" kata Syafiqah sambil menyentakkan kakinya, lalu ia pun bermaksud pergi meninggalkan Afnan, yang terlihat masih duduk disofa ruang keluarga mereka.
Mendengar perkataan Syafiqah, Afnan sedikit terkejut. Apalagi melihat istrinya yang berjalan menuju ke pintu keluar, membuat ia langsung bangkit dari duduknya dengan segera, "Loh Sayang! Kamu mau kemana? Tunggu Mas dong!" panggilnya seraya ia mengejar istrinya yang kini terlihat berjalan menuju ke mobilnya.
"Jangan ikuti Fiqah! Fiqah mau pergi sendiri aja!" katanya, seraya ia membuka pintu mobilnya. Melihat itu Afnan mempercepat larinya. Dan langsung menarik tangannya Syafiqah.
"Nggak mau! Fiqah mau sendiri saja! Mas aja nggak sukakan kalau Fiqah mengikuti Mas? Jadi mulai sekarang Fiqah juga akan seperti itu!" balas Syafiqah, sambil menyentakkan tangannya agar bisa terlepas dari genggaman tangannya Afnan.
"Sayang, dengarkan Mas dulu! Mas bukan tidak mau mengajak kamu Sayang! Tapi..." balas Afnan yang tampak ia mulai bingung untuk memberikan penjelasan pada istrinya, yang sepertinya sedikit sulit, menerima segala alasannya.
"Tapi apa?! Mas nggak maukan? Fiqah ikut?" sela Syafiqah, langsung memotong perkataannya Afnan.
"Tidak Sayang, bukan begitu!" balas Afnan, yang tampaknya ia semakin kesulitan menghadapi sikap istrinya itu, "Baiklah-baiklah! Ayo kita pergi! Mas akan membawa kamu pergi, ayo sekarang kita berkemas dulu ya Sayang?" lanjut Afnan, yang akhirnya ia mengalah. Lalu ia pun menggandeng tangan istrinya, menuju pintu masuk rumahnya.
Setibanya didalam rumah, Afnan langsung membawa istrinya menuju ke kamar mereka, dan setibanya di kamar, "Sebentar ya? Mas ambil tas koper kita dulu, oke," kata Afnan, yang terlihat ia bermaksud mengambil koper mereka yang sengaja ia letakkan di atas lemari mereka. Namun baru satu langkah ia berjalan menuju lemari, tiba-tiba Syafiqah memeluknya dari belakang.
"Loh? Ada apa Sayang? Kok malah memeluk Mas sih? Maskan mau ngambil koper kita Sayang," tanya Afnan, sambil melirik wajah istrinya dari kaca rias, yang kebetulan berada di dekat mereka.
__ADS_1
"Humm... kita tidak usah pergi aja Ayank," balas Syafiqah, seraya ia mempererat pelukannya dengan wajahnya yang ia tempelkan ke punggungnya Afnan, seperti sedang menghirup aroma yang terdapat ditubuhnya Afnan.
"Eh? Kenapa Sayang? Bukankah kamu tadi, katanya ingin pergikan? Sampai kamu tadi marah-marah sama Maskan?" tanya Afnan, yang terlihat masih bingung dengan sikap istrinya tersebut.
"Maafin Fiqah ya Ayank? Karena sudah bertingkah seperti anak-anak," ucap Syafiqah dengan suara yang terdengar tenggelam, karena ia masih melekatkan wajahnya dipunggungnya Afnan.
Mendengar permintaan maaf dari sang istri Afnan pun tersenyum tipis. Lalu ia pun melepaskan jeratan tangannya Syafiqah yang melingkar erat di perutnya. Setelah itu ia pun membalikkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Syafiqah. Dan baru saja ia membalikan tubuhnya, Syafiqah sudah kembali memeluk tubuhnya lagi, tapi kali ini ia memeluknya dari depan. Sambil tangannya meraba-raba bagian dadanya Afnan. Melihat Hans hal itu, Afnan pun mengerenyitkan dahinya.
"Sayang, kamu kenapa hm? Apakah ada yang tidak nyaman?" tanya Afnan, seraya ia mengelus kepala Syafiqah dengan kasih sayangnya. Karena ia sebenarnya tahu kalau istrinya ingin bermanja.
"Aah.. tampaknya istriku ingin dimanja lagi nih? Aku sih senang-senang aja, tapi gimana sama anak kami?" batin Afnan tampak bingung. Disaat seperti itu tiba-tiba tangan Syafiqah membuka kancing-kancing kemejanya Afnan seraya ia berkata.
"Humm.. Ayank.. hum..Fiqah Ingin itu.." kata Syafiqah lirih, yang terlihat kini kancing kemejanya Afnan di bagian atasnya mulai terbuka, setelah dada sedikit terekspos ia pun mulai mengecupnya berkali-kali.
"Aah.. Sayang, bukankah tadi malam sudah. Jangan terlalu sering-sering Sayang. Ingat loh kandungan kamu masih terlalu muda..jadi.." kata Afnan, dengan suara beratnya. Tampaknya ia mulai terpancing dengan sentuhan yang diciptakan oleh istrinya.
"Aaaakh! Ayoo Ayank! Fiqah Ingin lagi!" sela Syafiqah, yang tampaknya ia tak memperdulikan kata-kata suaminya. Bahkan ia sudah menariknya ke tempat tidur mereka.
"Haaah...? Lagii Sayaang???"
...┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈...
Dear Readers Fillahku.
Ramanda ingin memberitahukan, mengapa sih, Novel ini, jarang banget updatenyakan?
Nah Ramanda mau kasih tahu, mengapa novel ini jarang Update, itu karena Novel ini sedang anjlok seanjlok-anjloknya rentesinya, bahkan levelnya turun drastis. Maka sedih banget melihat hasilnya. Makanya itu Ramanda, jadi malas-malasan untuk update. Tetapi tetap aja Ramanda meneruskannya walaupun sedikit sedih.
__ADS_1
Nah untuk Ramanda ingin minta tolong diakhir bulan ini, bagi para Readers, yang masih memiliki votenya please dong bantu vote, untuk kelanjutan novel ini. 🙏 Karena Ramanda berharap vote dari kalian, bisa menaikkan lagi rating novel ini. Namun kalau usaha ini belum juga bisa menormalkan novel ini. Terpaksa Ramanda akan tamatkan secara paksa. Sekali lagi tolong ya guys, 🙏 Dan semoga Allah membalas kebaikan para Readersku semua Aamiin 🤲.