CINTA MU Membawaku To Jannah

CINTA MU Membawaku To Jannah
PENJELASAN WIJAYA.


__ADS_3

─⊱◈◈◈⊰🦋 Kalam Hikmah 🦋⊱◈◈◈⊰─


Kenyataan tak mungkin disesalkan. Begitulah kita diajarkan bagaimana menghadapi kenyataan dengan penuh keimanan.


Tak ada yang luput dari rencana terbaik-Nya. Tak ada yang terlewat dari skenario terindah-Nya.


Jalani, hadapi dan nikmati. Kehidupan itu banyak menghadirkan ilmu yang tak kita dapatkan di bangku sekolah. Hati yang penuh iman selayaknya pohon yang akarnya memghujam sehingga terpaan ujian tetap menguatkan.


❤صَلَّ اللّٰـهُ عَلَی مُحَمَّدْ صَلَّ اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ❤


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


*┈┈┈┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈┈┈┈*


"Berhenti kalian disitu! Atau ku tembak wanita ini!" teriak Teddy, yang tampak sekali ia sedikit panik saat melihat kedatangan polisi-polisi tersebut. Dan saat bersamaan terdengar suara langkah kaki, seperti Henda memasuki ruangan tersebut, dan..


"Teddy! Jangan gila kamu! Lepaskan Fiqah Teddy! Dia keponakan kamu!" teriak seorang pria tua, yang terlihat baru saja muncul, bersama dengan dua Pria tampan yang terlihat masih muda. Melihat kedatangan Pria tersebut, Teddy langsung tersenyum sinis kepadanya.


"Oh'hoo.. selamat datang Tuan besar Wilayah! Akhirnya Anda datang juga, Pak tua!" kata Teddy, dengan tatapan yang dipenuhi dengan kebencian pada pria tua itu, yang ternyata dia adalah Wijaya.


"Oh iya, tadi Anda bilang apa? Saya, jangan gila? Hahahaha... tapi kenyataannya saya sudah gila pak tua! Dan itu semua gara-gara Anda!" ujar Teddy lagi sambil tertawa terbahak-bahak. Namun seketika tawanya berhenti, Lalu ia kembali menatap Wijaya dengan tatapan penuh kebenciannya lagi. Melihat hal itu, membuat para polisi, menjadi khawatir saat melihat Wijaya mulai mendekati Teddy.

__ADS_1


"Pak Wijaya, sebaiknya Anda mundur! Tampaknya Pria ini sangat bahaya Pak!" ujar salah satu Pria yang berseragam putih tersebut.


"Tidak apa Pak! Biarkan saya menanganinya karena dia anak Saya;" balas Wijaya, tanpa melirik sedikit pun pada polisi itu. Karena tatapannya masih mengarah ke Teddy dan Syafiqah.


"Baiklah Pak Kalau begitu! Tapi Anda harus hati-hati!" balas polisi tersebut. Dan Wijaya pun dengan perlahan mulai mendekati Teddy yang saat ini masih menyandera Syafiqah


"Teddy, Papa tahu ini salah Papa! Maka dari itu, ayo kita bicara empat mata! Dan lepaskanlah Fiqah! Papa janji akan mengabulkan apapun yang kamu inginkan," ujar Wijaya secara berhati-hati.


Mendengar perkataan Wijaya, Teddy malah tersenyum miring, tampak ia tak percaya dengan perkataan sang, "Benarkaah?" tanyanya, dengan memasang wajah tak percayanya.


"Iya Teddy! Papa janji! Ayolah lepaskan Syafiqah!" balas Wijaya, seraya ia mengulurkan tangannya pada Teddy dengan perlahan. Namun Teddy menanggapinya dengan senyuman seringanya.


"Heh.. janji? Apa janji Anda bisa dipercaya Pak Tua? Seingatku Anda yang suka berjanji ini, jarang sekali menepatinya! Apa Anda ingat ketika Anda berjanji pada Saya dan Kak Dirga? Pastinya Anda tidak ingatkan? Makanya Anda memperlakukan Saya seperti sampah sekarang! Jadi jangan pernah mengumbar janji lagi pada Saya! Karena Saya tidak akan terpengaruh Pak tua!" ujar Teddy dengan mata yang terlihat sudah berkaca-kaca. Namun tetapannya menyiratkan kebencian yang amat sangat pada Wijaya.


"Nak, Papa tidak pernah membeda-bedakan kalian berdua. Jadi kamu jangan salahkan Papa tentang ketidak berhasilan kamu. Sementara Kakak kamu berhasil, itu karena Dia begitu gigih. Hingga akhirnya perusahaan yang kecil yang Papa berikan menjadi besar bukan?" lanjut Wijaya lagi, mengingatkan Teddy.


"Nak perusahaan ini milik Kakak kamu, bukan milik Papa! Hanya saja ketika dia meninggal Papa mengambil alih, itu semata-mata hanya titipan. Karena waktu itu Syafiqah masih kecil! Kini Syafiqah sudah dewasa, jadi sudah sepantasnya Dialah penerusnya Nak. Jadi buanglah prasangka buruk kamu, yang berpikir Papa memperlakukan kamu sebagai sampah Nak." jelas Wijaya lagi. Membuat pandanganTeddy terfokus pada Wijaya saja.


Sehingga seakan ia memberikan kesempatan pada Afnan yang tadi datang bersama Wijaya. Dan Afnan langsung menyergap tangannya Teddy yang sedang memegang senjata tersebut, lalu ia langsung mengangkatnya keatas.


"Ikhsan sekarang!" teriak Afnan, yang sepertinya mereka memang sudah saling memberikan kode satu sama lainnya. Makanya Ikhsan langsung paham dengan perkataannya Afnan. Dan ia pun langsung menarik tangannya Syafiqah.

__ADS_1


"Maaf Ukhty!" kata Ikhsan, seraya ia menarik tangan Syafiqah sekuatnya.


"Kyaaaak!!" teriak Syafiqah. Sehingga tubuh Syafiqah yang tadinya didekap oleh Teddy dari belakang kini langsung terikut oleh tarikannya Ikhsan. Bahkan langsung masuk ke pelukannya Ikhsan. Namun dengan cepat Ikhsan pun langsung melepaskan pelukannya.


"Pergilah dari sini ukhty! Cepatlah keluar!" ujar Ikhsan. Dan tanpa berbasa-basi lagi Syafiqah pun langsung berlari pergi meninggalkan ruangannya.


Sementara dan Teddy jadi bergelut, tampak Afnan berusaha ingin merebut senjatanya Teddy. Namun Teddy berusaha mempertahankannya, hingga akhirnya terdengar suara letusan peluru sebanyak dua kali.


DOOR.!! DOOR!!


Sekita keduanya terdiam, akan tetapi tak berapa lama, terlihat tetesan darah mengalir kelantai. Entah siapa yang tertembak karena keduanya terlihat masih saling berdekapan


"Ustadz Afnan!" gumam Ikhsan.


"Teddy!" gumam Wijaya. Dan seketika ruangan menjadi hening. Namun tiba-tiba saja, salah satu dari polisi membuka suaranya.


"Sersan Edi, cepat panggil Ambulance! Dan kalian pisahkan mereka!" ujar polisi tersebut. Namun saat bersamaan terdengar suara yang terjatuh.


BRUUUK!!.


...┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈...

__ADS_1


Aaakh..Author lagi nggak Fit 🤒, jadi blank semuanya Maaf ya guys. Di novel ini Author sedikit mengecewakan 🙏 sekali lagi Afwan ya guys.🙏


__ADS_2