
*┈━❅❀❦ 🦋 Mutiara Hikmah 🦋❦❀❅━┈*
Jangan pernah menilai seseorang dari fisiknya dan penampilannya saja. Kenali orang itu dari hatimu sendiri. Janganlah pernah kau sia siakan orang yang sangat tulus mencintaimu dan menyayangmu dengan sepenuh hatinya. Dan menerima apadanya dirimu. Karena mencari seseorang yang tulus amatlah sulit.
Maka hargailah perasaanya. Karena menghargai seseorang yang mencintaimu jauh lebih baik daripada engkau terus menerus mengejar yang tak mungkin engkau dapatin.
Hargailah orang yang tulus yang mencintaimu dengan hati bukan dengan fisik atau materinya
Gunakanlah hatimu untuk melihat yang tulus dari hatinya, bukan dengan mata yang bisa menipu banyak hal.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈*
Setelah merasa puas menangis di dalam pelukan Afnan. Tanpa sadar akhirnya Syafiqah ketiduran dalam posisi, masih berada dipelukan suaminya. Ditambah lagi kondisinya yang memang tidak stabil, membuat ia mudah sekali kelelahan. Sedangkan Afnan, yang merasakan nafas istrinya mulai teratur, ia pun memberanikan diri untuk melihat wajah istrinya itu.
"Alhamdulillah, akhirnya dia tertidur juga," gumam Afnan, seraya ia membaringkan tubuh istrinya ke pembaringannya dengan sangat berhati-hati sekali. Karena ia takut, membangunkan Syafiqah. Setelah berhasil, ia pun menyelimutinya.
"Tidurlah yang nyenyak istriku, semoga kamu bermimpi indah ya," bisiknya, seraya ia memberikan kecupan lembut pada dahinya Syafiqah. Karena ia juga merasakan kelelahan pada tubuhnya, ia pun bermaksud ingin membaringkan tubuhnya di sofa. Namun baru saja ia ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba tangan ditarik oleh Syafiqah.
"Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku," igau Syafiqah, dengan mata yang terlihat masih terpejam. Afnan yang melihat itu pun tersenyum lembut, lalu ia pun membelai rambut ikal istrinya itu.
"Jangan khawatir, Ana tidak akan kemana-mana, dan akan selalu sisimu, sampai maut memisahkan kita," gumamannya, lalu ia pun kembali mengecup dahi istrinya lagi. Setelah mengatakan hal itu, seketika Syafiqah terlihat lebih tenang. Namun tangannya masih bercengkrama dengan tangan Afnan. Membuat Afnan tidak bisa kemana-kemana lagi. Padahal saat ia sudah amat mengantuk sekali.
"Astaghfirullah, ini mata nggak bisa ditahan lagi ya?" gumam Afnan, seraya ia mengusap matanya. Dan setelah ia kembali melirik wajah istrinya, dan tanpa sengaja juga matanya mengarah ke sisi Syafiqah yang terlihat lumayan lebar.
__ADS_1
"Nggak papa kali ya? Kalau Ana berbaring di sini sebentar? Yaa hanya sebentar saja kok," gumam Afnan, lalu ia membaringkan tubuhnya disampiing Syafiqah dengan perlahan. Karena ia takut membangunkan Syafiqah. Apalagi saat ini tangannya masih digenggam oleh Syafiqah. Membuat ia sedikit kesulitan.
"Aah, Alhamdulilah akhirnya," ucapnya lirih, setelah ia berhasil membaringkan tubuhnya tepat di sebelah Syafiqah. "Hanya sebentar saja kok! Hanya ingin menghilangkan rasa kantuk saja" batin Afnan seraya ia memejamkan matanya. Karena hari itu memang hari yang melelahkan baginya, membuat ia tak membutuhkan waktu yang lama untuk ikut terhanyut kedunia mimpinya. Dan kini keduanya telah tertidur di atas tempat tidur yang sama, dan saling berpegangan tangan.
...•••••...
Dua jam telah berlalu, tiba-tiba Syafiqah tersentak dari tidurnya. Pada awalnya ia begitu terkejut ketika ia melihat kedua tangannya yang diatas perutnya, terlihat sedang mencengkram tangan seseorang. Dan dengan spontan ia menolehkan wajahnya kesamping dan betapa terkejutnya ia ketika melihat wajah tampan Afnan yang tampak begitu lelah, sedang tertidur begitu pulas disebelahnya. Dan Syafiqah hampir saja berteriak. Namun seketika ia menutup mulutnya, karena tiba-tiba saja ia teringat pada ucapan sang kakek, bahwa pria yang sedang tertidur di sebelahnya itu, kini telah menjadi suaminya.
"Suami? Heh.. kenapa terdengar lucu ya?" gumam Syafiqah, seraya ia menatap wajah suaminya yang masih terlihat pulas dalam tidurnya. dan ketika ia masih memandang wajah suaminya seketika memori ketika ia koma kembali muncul.
"Hmm...sekarang aku tahu mengapa wajahmu terlihat begitu familiar. Ternyata itu karena kita pernah bertemu saat aku masih koma," kata Syafiqah, dengan nada suara yang pelan, karena ia takut suaranya akan membangunkan Afnan.
"Hmm.. terima kasih Afnan, terima kasih karena kamu tetap ada, walaupun aku tidak mengingatmu," ucap Syafiqah lagi, dengan tatapan masih memandang wajah tampan suaminya.
Mengingat akan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya. Seketika ia bangkit dari tempat tidurnya, lalu ia juga mengambil benda pipihnya. Karena sepertinya ia ingin menghubungi seseorang. Dan karena takut, terdengar oleh Afnan, Syafiqah pun menjauhi tempat tidurnya. Dan kini, ia berdiri tepat didepan jendela yang ada diruangannya. Lalu ia pun mulai melakukan panggilan pada seseorang. Dan tak berapa lama, panggilan pun diterima oleh seseorang.
"Hallo? Ada apa Nona?" jawab seorang pria yang sedang berada disebrang.
"Toni, tolong kumpulkan semua berkas pengeluaran dan pemasukan selama aku koma! Dan tolong Carikan bukti juga, atas keterlibatan Om Teddy, pada kecelakaan yang aku alami!" kata Syafiqah, terdengar tegas. "Oh iya, Aku minta tolong juga kamu selidiki rekening Om Teddy, apakah kamu bisa?" lanjut Syafiqah memberikan perintah pada Toni yang saat ini ada disebrang.
"Baik Nona! Apakah ada lagi?" tanya Toni lagi.
"Oh Aku juga minta kamu, selidiki Fariz! Suruh Anak buah kamu untuk mengikutinya. Dan satu lagi, jangan sampai kakek Maupun Afnan mengetahui hal ini! Kamu paham Toni!" kata Syafiqah lagi.
"Paham Nona!" balas Toni terdengar tegas.
__ADS_1
"Bagus! Aku tunggu laporan kamu besok dikantor, Oke?" kata Syafiqah lagi.
"Oke Nona!"
"Ya sudah sekarang Aku tutup telponnya. Selamat istirahat!" kata Syafiqah lagi, lalu ia pun langsung memutuskan sambungannya. Namun ia tak langsung kembali ketempat tidurnya. Karena posisi ruangan saat ini sedang dilantai tiga, jadi ia memilih melihat pemandangan malam dari depan jendelanya, tempat ia berdiri saat ini. Baru sepuluh menit ia menikmati pemandangannya, tiba-tiba ia di kejutkan oleh suara bariton yang berasal dari belakangnya.
"Kenapa kamu ada disini Fiqah? Apakah saya tadi membuat kamu terbangun, hm?"
Mendengar pertanyaan tersebut, seketika Syafiqah langsung menoleh kebelakang, "Ah! Afnan, tidak kok! Aku memang terbangun sendiri," balasnya seraya ia kembali menatap keluar jendela lagi.
"Oh iya..apa alasan kamu, waktu menyetujui, saat Kakek meminta kamu menikahiku?" tanya Syafiqah, tanpa menoleh sedikitpun pada Afnan. Ia terlihat masih terfokuskan pada pemandangan diluar jendelanya.
"Hmm.. mungkin karena saya, sudah jatuh cinta kali sama kamu," balas Afnan. Dan seketika Syafiqah langsung menoleh ke arahnya.
"Apa! Mungkin? Kenapa jawabnya seperti ada keraguan begitu?" tanya Syafiqah terdengar datar. Entah mengapa ada kekecewaan dihatinya, ketika Afnan, menyebutkan kata "mungkin"
Melihat wajah jutek Istri, Afnan pun tersenyum lembut, lalu ia pun mendekati Syafiqah, dan tanpa basa-basi, tiba-tiba Afnan langsung mengecup dahi Syafiqah, membuat mata Syafiqah langsung membulat sempurna.
"Kamu! Sudah..." protes Syafiqah. Namun lagi-lagi Afnan kembali memberikan kecupannya, tapi kali ini ia mendaratkan kecupannya itu, kebibirnya Syafiqah. Membuat mata Syafiqah kembali membulat, apalagi ketika Afnan membisikkan sesuatu ditelinganya.
"Ana 'uhibuk min allah zawjati, aku mencintaimu karena allah istriku"
...┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈...
Dukung author terus ya guys 🙏😉
__ADS_1