
*┈━❅❀❦ 🦋 Mutiara Hikmah 🦋❦❀❅━┈*
KESUCIAN DIRIMU ITU BERMULA DARI HATIMU
"Wahai Orang yang ingin menyucikan diri...Sucikanlah batinmu, hatimu dan kemudian jiwamu dan baru tubuhmu. Petunjuk untuk zuhud itu datang dari jiwamu bukan dari jasadmu ke jiwamu. Apabila jiwamu telah jernih maka kejernihan itu akan berputar menuju ke anggota tubuhmu dan keseluruh tingkah Iaku (akhlak). Gunakanlah dunia ini sebagai sebagai alat untuk mencari keridhaan ALLAH. Jangan sampai dirimu diperalatkan oleh dunia hingga jauh dari-Nya. Inilah kehidupan yang sering denganmu dan melingkupi keberadaan kita didunia ini."
(Nasihat Sultanul Auliya Quthb Rabbani Wal Ghaustil Ash-Shaamadi As-Sayyid Syaikh Abdul Qadir Al Jilani Al Hasani)
{~Habib Ali Abdurrahman Al Habsyi~}
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈*
Setelah dibentak oleh Wijaya, Syafiqah pun langsung pergi ke kamarnya dalam keadaan kesal. Sebab biasanya sang kakek tak pernah ikut campur dalam masalah berpakaian tapi hari ini. Bahkan biasanya Kakeknya juga tak pernah mencampuri urusan percintaannya lagi setelah dirinya bertunangan. Tetapi setelah kecelakaan itu, semuanya menjadi berubah.
"Sebenarnya apa yang dipikirkan Kakek? Kenapa dia begitu berubah sekali?" gumam Syafiqah dikala ia telah berada di dalam kamarnya.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi disaat aku koma ya? Apa terjadi sesuatu? Sehingga Kakek terlihat begitu membenci Fariz. Sampai-sampai ancamannya sangat mengerikan seperti itu," gumamnya lagi seraya ia memakai celana kulot berwarna hitam, lalu atasan ia pakai switer rajut, yang agak tipis sehingga baju tak berlengan yang tadi ia pakai tadi masih terlihat, walaupun samar-samar.
"Aah sudahlah, sebaiknya untuk sekarang aku harus menjaga jarak dulu dari Fariz. Karena ancaman Kakek tidak bisa diremehkan begitu saja. Tapi ngomong-ngomong, siapa pria tadi ya? Kok wajah familiar banget deh, tapi siapa ya?" Syafiqah terlihat berusaha mengingat-ingat wajah Afnan, akan tetapi hasilnya nol. Ia tak bisa mengingat apapun tentang wajah Afnan.
"Aah..bodo amat dah! Gue nggak kenal! Apa mungkin dia hanya memiliki wajah pasaran aja kali ya? Sudahlah sebaiknya aku secepatnya menemui Kakek saja. Dari pada dia keburu ngancam lagi," gumamnya lagi, seraya ia melangkah keluar dari kamar. Dan langsung berjalan menuju ke ruang kerja sang Kakek.
Setibanya diruang kerjanya Wijaya, Syafiqah kembali mengamati wajah Afnan. Dan ketika Afnan hendak membalas tatapan matanya, Syafiqah pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Kakeknya.
__ADS_1
"Duduklah Fiqah!" ujar sang kakek terdengar tegas. Dan tanpa berbasa-basi lagi, Syafiqah pun langsung duduk disebuah sofa tunggal tepat didepan Afnan, yang saat ini ia sedang duduk di sofa yang berukuran panjang.
"Sekarang katakanlah Kek? Sebenarnya apa yang ingin Kakek katakan pada Fiqah?" tanya Syafiqah, dengan wajah terlihat datar.
"Oke, tapi sebelum itu kamu berkenalan dulu sama dia Nak," ujar Wijaya, sambil mengisyaratkan, pada Syafiqah agar berkenalan dengan Afnan.
"Salam kenal Perkenalkan nama saya Afnan Ikhbar Shaqir Nona, Anda bisa memanggil saya Afnan saja," kata Afnan seraya ia mengulurkan tangannya pada Syafiqah. Namun tak dihiraukan oleh Syafiqah, hanya melengoskan wajahnya, dan kembali menatap Wijaya.
Melihat kelakuan cucunya yang terkesan tidak memiliki sopan santun, membuat Wijaya merasa malu pada Afnan, "Maaf Nak Afnan. Maaf atas kelakuan Cucu Saya, yang tak memiliki sopan santunnya, ya Nak?" ujar Wijaya, seraya ia mengatupkan kedua tangannya pada Afnan.
"Kakek, ngapain pakai minta maaf segala sih?" protes Syafiqah, yang sepertinya ia tidak suka mendengar permintaan maaf sang kakek pada Pria yang dihadapannya itu.
"Diamlah Fiqah! Kalau kamu tidak ingin mendengar kata maaf dari Kakek, maka kamulah yang minta maaf pada Nak Afnan!" bentak Wijaya, membuat mata Syafiqah langsung membulat sempurna. Ia begitu terkejut melihat wajah Sang Kakek yang terlihat sekali ia begitu marah padanya. Padahal seingatnya Kakeknya tak pernah sampai segitunya banget memarahi dirinya.
"Fiqah jaga sikapmu! Dia itu adalah..." bentak Wijaya, namun perkataannya langsung dihentikan oleh Afnan.
"Kakek, Please.." kata Afnan sambil memegang tangannya Wijaya. Dan dengan tatapan memohonnya agar Wijaya tidak keceplosan. Sehingga ia mengungkapkan jati dirinya.
"Hah, Astaghfirullah!" ucap Wijaya sambil ia mengusap wajah dengan kasar, "Maaf Nak Afnan atas ketidak nyamanannya. Ini salah Kakek karena telah salah men.."
"Tidak apa-apa Kek, jangan merasa tidak enak seperti itu, Kek. Dan Saya yang seharusnya meminta maaf disini karena sudah menjadi penyebab ketidak nyamanan ini," tutur Afnan terdengar lembut, "Maafkan saya Nona, karena saya Anda.." lanjut Afnan lagi. Namun kata-katanya langsung dipotong oleh Syafiqah.
"Sepertinya sudah tidak ada hal penting lagikan Kek? Kalau begitu Fiqah ke kamar ya? Soalnya kepala Fiqah mulai sakit lagi. Dari pada Fiqah pingsan di sini, lebih baik Fiqah ke kamar saja!" katanya seraya ia memijat pelipisnya.
"Baiklah, tapi sebelum kamu pergi, Kakek ingin memberi tahu kamu dulu. Bahwa mulai besok, Afnan akan menjadi Asisten kamu, dia akan menggantikan Toni," ujar Sang Kakek membuat Syafiqah terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Apa?! Dia yang akan jadi Asisten Fiqah Kek? Tidak Fiqah tidak mau kek!" protes Syafiqah yang lagi-lagi ia memberikan tatapan ketidak sukaannya pada Afnan. Bahkan tatapannya itu mengandung kebencian yang amat sangat.
"Jangan membantah! Kamu tahukan apa jadinya kalau kamu bersikeras membantah Kakek? Jadi jangan sampai kamu Kakek melakukan sesuatu yang akan membuat kamu menyesal dikemudian hari. Jadi cam kan itu!" balas Wijaya terdengar begitu tegas. Mendengar ancaman sang Kakek, Syafiqah langsung mengepalkan tangannya, sambil menatap wajah Afnan dengan geram.
"Sialan! Gara-gara Pria ini, gue di ancam lagi sama Kakek! Kalau nggak membantah, pasti Fariz lagi yang kenak dampaknya! Aah sudahlah sebaiknya untuk sekarang aku ikuti saja dulu kemauan Kakek. Tapi lihat saja nanti, akan gue buat Lo menyesal karena sudah mengenal gue!" batin Syafiqah. Yang terlihat ia masih menatap Afnan, dengan tatapan penuh dendam.
"Huh! Sudahlah terserah Kakek saja!" cetus Syafiqah, seraya ia bangkit dari duduknya.
"Bagus! Jadi mulai besok berlakulah baik pada Nak Afnan! Ingat Kakek akan selalu mengawasi kamu!" tegas Wijaya lagi. Membuat Syafiqah terlihat semakin kesal.
"Terserah Kakek! Fiqah permisi ke kamar !" balas Syafiqah sambil menyentakkan kakinya, lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan Afnan dan Wijaya begitu saja.
"Aah.. Maaf ya Nak Afnan? Kamu pasti terkejut banget melihat kelakuan istri kamu yang arogan itu. Dan ini akan menjadi tugas kamu untuk menaklukkan istri arogan kamu itu menjadi wanita yang sholehah. Kamu bisakan Nak?" ujar Wijaya, setelah Syafiqah tak terlihat lagi.
"Iya Kek nggak papa, In shaa Allah, Anan akan berusaha lebih keras lagi, untuk membuat Syafiqah menjadi seseorang yang Kakek harapkan," balas Afnan dengan lembut.
"Aamiin, semoga hari itu tidak akan lama lagi," balas Wijaya penuh pengharapan.
"Aamiin ya Allah."
⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶
Terus dukung author ya guys 🙏🥰
Karena ada hadiah yang menanti bagi yang bersemangat memberikan dukungan pada Novel ini yaa..So go semangat go semangat 😉💪💪
__ADS_1