CINTA MU Membawaku To Jannah

CINTA MU Membawaku To Jannah
BERTEMU DENGAN MERTUA.


__ADS_3

─⊱◈◈◈⊰🦋 Kalam Hikmah 🦋⊱◈◈◈⊰─


"𝐖𝐚𝐡𝐚𝐢 𝐚𝐧𝐚𝐤𝐤𝐮, 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐧𝐚𝐬𝐞𝐡𝐚𝐭 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡, 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐮𝐥𝐢𝐭 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐞𝐧𝐮𝐡𝐢𝐧𝐲𝐚. 𝐊𝐡𝐮𝐬𝐮𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐠𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠-𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐤𝐮𝐭𝐢 𝐡𝐚𝐰𝐚 𝐧𝐚𝐟𝐬𝐮, 𝐧𝐚𝐬𝐞𝐡𝐚𝐭 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐩𝐚𝐡𝐢𝐭. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐤𝐚𝐫𝐚-𝐩𝐞𝐫𝐤𝐚𝐫𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐥𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐝𝐢𝐠𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐡𝐚𝐭𝐢 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚."


[ 𝐈𝐦𝐚𝐦 𝐀𝐥-𝐆𝐡𝐚𝐳𝐚𝐥𝐢 ]


صَلَّی اللّٰـهُ عَلَی مُحَمَّدْ صَلَّی اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


*┈┈┈┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈┈┈┈*


Sinta dan Sarah tampak terkejut mendengar perkataan dari Ustadz mereka. Bahkan bukan hanya mereka saja yang terkejut, tapi ada beberapa orang santri dan santriwati yang kebetulan memang sedang tidak ada program, jadi ada beberapa orang, memilih bermain atau berjalan-jalan disekitar pondok untuk merilekskan otak mereka karena habis bertempur mencari saba' (menghafal Al-Qur'an).


Melihat kedua santriwatinya hanya diam saja Afnan pun berdecak kesal. "Ck..Kalian tahu apa yang sedang kalian perbuat tadi hm? Tidak tahukan? Kalian itu tadi sudah mengghibah. Kalian tahukan ghibah? Ghibah adalah perbuatan membicarakan keburukan orang lain tanpa sepengetahuan orang tersebut dengan niat untuk menjatuhkannya.


Perbuatan dosa ghibah ini termasuk dosa besar yang dilakukan seorang hamba dan bisa menjerumuskannya ke dalam neraka. Bahkan dosa ghibah ini diibaratkan seperti perbuatan memakan bangkai saudaranya sendiri. Artinya, dosa ghibah atau ngomongin keburukan orang lain di belakang itu merupakan perbuatan yang sangat hina di mata Allah SWT.


Para pelaku dosa ghibah harus benar-benar taubat dari perbuatannya jika ingin dosa ghibah mereka diampuni. Bahkan dosa ghibah ini tingkatannya lebih hina daripada dosa zina. Hal ini sesuai dengan hadits berikut yang artinya:


“Ghibah itu lebih berat dari zina. Seorang sahabat bertanya, 'Bagaimana bisa? ' Rasulullah SAW menjelaskan, 'Seorang laki-laki yang ber zina lalu bertobat, maka Allah bisa langsung menerima tobatnya. Namun pelaku ghibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang di-ghibahi-nya.,'" (HR. At Thabrani).


Innalillahi, betapa buruknya perbuatan dosa ghibah ini sampai dianggap lebih rendah dari dosa zina. Jadi kalian berhati-hatilah jangan anggap remeh dosa ghibah dan segera bertaubat dari perbuatan hina tersebut," jelas Afnan, dengan nada sedikit tinggi. Karena ia sangat kecewa dengan para anak didiknya masih saja ada yang melakukan perbuatan yang tidak disukai.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Ustadznya, Sarah maupu Indah, langsung menunduk wajahnya, karena merasa bersalah, "Maaf Ustadz, Kami salah," kata mereka secara bersamaan dan masih menundukkan kepalanya, sambil tangannya melintirkan ujung hijab mereka.


"Bukan sama Ustadz, minta maafnya! Tapi sama istri Ustadz!" balas Afnan, masih dengan suara kerasnya. Setelah mendengar perkataan Ustadznya, Sarah dan Indah pun langsung menghampiri Syafiqah, yang sejak tadi hanya berdiri memperhatikan mereka, sambil melipat kedua tangannya.


"Maafkan Ana Ustadzah," kata Sarah seraya ia mengulurkan tangannya pada Syafiqah.


"Anak inikan yang dulu pernah dimarahi oleh Afnan?" batin Syafiqah yang ternyata ia teringat pada peristiwa ketika rohnya terpisah oleh raganya.


Melihat Syafiqah terlihat hanya memandangi wajahnya Sarah, Afnan pun langsung menyenggol istrinya seraya berkata, "Fiqah? Kamu kok diam? Apakah kamu tidak ingin memaafkan Sarah, hm?" bisiknya, membuat Syafiqah tersadar dari lamunannya.


"Aakh..maaf..! Oh Iya, saya sudah maafi kamu kok, tapi jangan panggil Ustadzah ya, panggil Kakak saja," balas Syafiqah dengan lembut. Seraya menyabut uluran tangannya Sarah dengan hangat.


"Maaf Ustadzah, Ana nggak bisa, karena itu nggak sopan, Ustadzah," balas Sarah lagi.


"Tapi saya bukan Ustadzah loh!" kata Syafiqah lagi.


"Ya sudah kalau begitu terserah kalian saja," balas Syafiqah terdengar pasrah.


"Ana juga minta maaf ya Ustadzah, karena sudah tidak percaya, kalau Ustadzah adalah Aliyahnya (Istri) Ustadz Afnan," sambung Indah, seraya ia juga mengulurkan tangannya pada Syafiqah.


"Iya, sudah dimaafkan kok," balas Syafiqah hanya sekedarnya saja, berbeda dengan Sarah.


"Ya sudah karena sudah minta maaf, kalian kembalilah! Temuin Ustadz Ikhsan, selanjutnya kalian pahamkan?" ujar Afnan, terdengar tegas.

__ADS_1


"Paham Ustadz! Kalau begitu kami permisi Ustadz, Ustadzah," balas Sarah dan Indah. Setelah mendapatkan isyarat dari Ustadznya. Mereka pun langsung beranjak meninggalkan Afnan dan Syafiqah.


"Ayo Fiqah, sekarang kita Masuk," ajak Afnan, seraya menggandeng tangannya Syafiqah.


"Tunggu Afnan! Apa tidak apa-apa aku berpenampilan seperti ini menemui orang tua kamu?" tanya Syafiqah, terlihat ada keraguan Ketika Afnan hendak mengajaknya masuk ke pondok Utama.


"Emangnya kenapa penampilan kamu hm?" tanya Afnan kembali.


"Ya seperti ini! Aku tidak memakai kerudung, lihat saja tadi, murid kamu saja protes melihat aku seperti ini! Gimana dengan orang tua kamu Afnan? Pasti mereka akan Syok kalau melihat aku," balas Syafiqah. Yang entah mengapa ada perasaan takut didalam hatinya. Di saat bersamaan..


"Kata siapa kami akan Syok, kalau melihat kamu Nak?" ujar seorang wanita paruh baya, yang baru saja keluar dari dalam rumahnya.


Mendengar kata-kata wanita tersebut, Syafiqah pun langsung menolehkan wajahnya. Dan terlihat olehnya seorang wanita, dengan memakai baju gamis berwarna putih serta hijab yang berwarna senada dengan gamisnya. Wajah yang keibuan masih menampakan kecantikannya walaupun sudah lanjut usia. Apalagi ketika melihat senyumnya yang lembut meneduhkan hati siapapun yang melihatnya. Termasuk Syafiqah yang terlihat ia seperti terhipnotis melihat wajah wanita tersebut.


"Kok malah bengong sih Fiqah? Jawab dong pertanyaan Umi. Oh iya tapi sebelumnya kenali dulu, ini Umi Salamah, ibu mertua kamu Fiqah," kata Afnan, menyadari Syafiqah dari terkesimanya pada Umi Salamah.


"Assalammu'alaikum Umi," lanjut Afnan, seraya ia mencium tangan sang ibu, lalu ia juga memberikan pelukannya pada Sang Ibu.


"Wa'alaikumus salam Nak, kok baru sekarang sih, kamu membawa menantu Umi? Padahal Umi, sudah menunggu-nunggu dari kemarin-kemarin," protes Salamah, sambil membalas pelukan sang Anak.


"Eh, kok protes sama Anan sih Mi? Itukan salah menantu Umi sendiri! Kenapa dia nggak mau bertemu dengan mertuanya," ujar Afnan, membuat Syafiqah langsung tersentak mendengar perkataan suaminya.


"Hah? Apa! Kok nyalahin Fiqah?"

__ADS_1


...┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈...


Jangan lupa Dukung author ya 😉 Berikan VOTE, LIKE, HADIAH, & KOMNTAR. Biar Author semangat UP Oke😉


__ADS_2