
─⊱◈◈◈⊰🦋 Kalam Hikmah 🦋⊱◈◈◈⊰─
Berusaha keras semampunya untuk mencari dan meniti jalan hidayah. Semampunya bukan semaunya. Hasil yang akan diperoleh sesuai dengan usaha dan kesungguhan. Dalam sebuah hadits qudsi Allah ﷻ mengatakan:
“Wahai hambaku, sesungguhnya itu hanyalah amal perbuatan kalian yang Aku catat untuk kalian. Kemudian Aku akan memberikan balasannya kepada kalian. Barang siapa yang mendapati kebaikan maka hendaklah ia bersyukur memuji Allah dan barang siapa yang menemukan keburukan maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim: 55)
Oleh sebab itu, jika kita tidak mendapatkan hidayah karena memang tidak mau berusaha sungguh-sungguh mencarinya maka jangan salahkan Allah ﷻ, salahkan saja diri sendiri. Hidayah itu dicari bukan di angan-angankan saja.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*┈┈┈┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈┈┈┈*
Suasana menjadi begitu tegang, semua mata mengarah ke Afnan dan Teddy. Dan ketika salah satu polisi hendak mendekati tiba-tiba salah satu dari mereka terjatuh. Dan dengan spontan mereka pun berteriak menyebut namanya.
"AFNAN!!" teriak Wijaya dan Ikhsan dan seketika mereka berdua hendak menghampiri Afnan namun Teddy kembali menodongkan pistolnya ke arah Wijaya maupun Ikhsan secara bergantian.
"Jangan mendekat! Atau peluru dari pistol ini akan kembali menyasar ke dalam tubuh kalian!" teriak Teddy. Tampaknya ia sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Dan disaat ia bermaksud ingin melihat wajah Afnan, tiba-tiba kembali terdengar suara letusan peluru. Namun bukan berasal dari senjatanya Teddy.
__ADS_1
DOOR!! DOOR!!
Seketika Teddy mengangkat wajahnya, dan matanya pun langsung terbelalak tatkala ia melihat sang Ayah, sedang menodongkan pistol ke arahnya. Dan seketika ia pun kembali ke rnenundukkan wajahnya, sepertinya ia ingin memeriksa sesuatu dibagian dadanya. Sembari tangannya meraba kebagian dadanya.
"Aah.. darah!" sentaknya ketika ia melihat tangannya yang tadi menempel didadanya kini, telah berlumuran darah, "Hah? Hahahaha..." Tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak Seraya ia menunjukkan tangannya yang berlumuran darah ke arahnya Wijaya.
"Apakah sekarang Anda sudah puas Pak tua? Tentunya Anda sudah puas bukan! Kenapa pada akhirnya Anda telah membalas dendam karena Anak tertua Anda , sudah ku bunuh! Hahahaha..Ugh!" ujar Teddy, walaupun ia terlihat sedang tertawa. Namun matanya terlihat memerah antara menahan Amarah dan kesedihan, karena genangan air mata disekitarnya.
"Nak, kamu salah! Tidak terpikirkan sedikitpun oleh Papa tentang balas dendam itu Nak! Papa melakukan ini, karena ini yang terbaik untukmu! Karena kamu sudah melewati batasmu Nak! Untuk menyerahlah agar polisi segera menangani kamu dan agar secepatnya juga mereka mengobati kamu Nak!" kata Wijaya, seraya ia menjatuhkan senjatanya. Dan ia juga bermaksud ingin mendekati Teddy. Namun lagi-lagi Teddy kembali mengangkat tangannya yang masih memegang pistolnya.
"Diam disitu! Jangan mendekat atau Anda ingin mati bersama saya hah?!" kata Teddy, yang terdengar suaranya sudah mulai bergetar.
Mendengar kata-kata sang Ayah, yang mengingatkan tentang keluarganya. Teddy pun akhirnya menjatuhkan senjatanya. Dan dibarengi dengan dirinya yang langsung terjatuh dan terduduk bersimpuh, seraya ia memegang lukanya. Melihat hal itu, para polisi pun langsung mengambil senjatanya.
"Cepat panggil para petugas ambulancenya!" titah sang Polisi. Dan tak berapa lama, masuklah, empat orang pria berseragam putih dengan membawa dua tandu.
Sedangkan ikhsan langsung menghampiri Afnan, "Ustadz! Ustadz Afnan!" panggil seraya ia menggoyangkan tubuhnya Afnan.
__ADS_1
"Permisi Pak! Biar kami yang menanganinya!" kata salah satu Pria berseragam putih tersebut. Lalu mereka pun langsung mengangkat tubuh Afnan kesalah satu tandu, setelah itu, dua orang pun langsung mengangkatnya.
Sementara dua orang lagi, langsung mengangkat tubuh Teddy dan meletakkannya ke atas brankar. Setelah itu, mereka pun langsung membawanya juga. Sedang para polisi langsung membawa para Anak buahnya Teddy. Dan kini tinggallah Wijaya dan Tony yang berada diruangan tersebut. Dan kini Wijaya terlihat sudah berdiri didepan jendela kaca yang berada di ruangannya Syafiqah
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kamu mengkhianatiku Tony?" tanya Wijaya, dengan tatapannya mengarah kebawah. Karena dibawah masih tampak ramei dengan mobil polisi, ditambah lagi, disana ada dua mobil Ambulance.
"Tidak Tuan! Hanya saja hari ini saya menemukan sebuah bukti. Dan sesuai permintaan Nona Syafiqah saya disuruh memberitahunya bila saya menemukan bukti tersebut. Namun saat kami masih melihat bukti-bukti tersebut. Tiba-tiba Pak Teddy datang, bersama anak Buahnya. Makanya terjadilah insiden ini Tuan!" jelas Tony. Tampak dari raut wajahnya kalau ia sedang berkata jujur.
"Baiklah aku percaya padamu Tony! Sebaiknya sekarang kamu cari Syafiqah, lalu antar dia kerumah sakit, tempat Suaminya di rawat!" ujar Wijaya, masih menatap kebawah. Dan saat bersamaan..
"Apa maksud Kakek! Apakah bunyi tembakan tadi mengenai Afnan Kek?" tanya seorang wanita yang baru saja muncul dari pintu masuk ruangannya. Mendengar pertanyaan itu, spontan Wijaya pun langsung menoleh.
"Syafiqah! Iya Nak! Suami kamu tertembak oleh Om kamu! Dan sekarang mereka membawa ke rumah Sakit!" balas Wiha apa adanya dan terdengar begitu lembut.
"Hah! Ayo Toni! Antar Aku! Fiqah pamit Kek! Assalamu'alaikum" pamit Syafiqah dan ia langsung bergegas meninggalkan ruangan tersebut dan diikuti oleh Toni. Kini tinggallah Wijaya seorang diri.
"Alhamdulillah.. suatu kemajuan dari cucuku! Kini Dia sudah bisa mengucapkan salam," gumam Wijaya, seraya ia tersenyum senang.
__ADS_1
...┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈...
Maaf ya guys, Author lama tidak Update, itu karena memang tubuh author tidak Fit. Jadi author diharuskan istirahat total. Tapi tetap saja terus kepikiran, jadinya sekarang Author sudah seperti maling tunggu paksu tidur baru dah author bergerak. Jadi author, para Readers mau memakluminya 🙏