CINTA MU Membawaku To Jannah

CINTA MU Membawaku To Jannah
BERTEMU SAHABAT KARIB


__ADS_3

*┈━❅❀❦ 🦋 Mutiara Hikmah 🦋❦❀❅━┈*


Pujian adalah ujian berupa kebaikan, karena ketika kita dipuji, bisa jadi kita akan merasa sombong dan merasa takjub pada diri sendiri, bahkan kita lupa bahwa semua nikmat ini adalah dari Allah Azza wa Jalla, kemudian kita merasa hebat dan sombong serta lupa bersyukur. Kagum terhadap diri sendiri merupakan suatu sifat yang bisa membinasakan...


Kita lebih memerlukan doa daripada pujian, karena biasanya pujian dapat menipu diri kita.


Karena itu, kita harus belajar untuk ikhlas dan dilarang untuk memuji dengan berlebihan. Sehingga, segala amal kebaikan yang kita lakukan tidak akan berakibat lelah tapi lillah (karena Allah).


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


*┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈*


Waktu pun menjelang malam.


Tampak Syafiqah telah rapih dengan memakai baju kaos putih dipadukan dengan jaket berwarna hitam. Sedangkan bagian bawahnya ia sengaja memakai celana jeans yang berwarna hitam juga. Dan Kali ini rambut ikalnya ia sengaja mengikatnya menjadi satu keatas, hingga tereksposlah leher jenjangnya nan putih itu.


Setelah semuanya telah rapih, Syafiqah pun langsung bergegas meninggalkan kamarnya. Dan ketika ia melewati ruang keluarga. Ternyata Wijaya dan Afnan sedang ada disana, nampak keduanya sedang asyik mengobrol. Namun seketika obrolan keduanya pun terhenti ketika melihat Syafiqah yang terlihat sudah bersiap akan pergi.


"Kamu mau kemana Nak?" tanya Wijaya terlihat penasaran.


"Fiqah mau ketemuan sama Sarah Kek, kami sudah janjian akan bertemu hari ini," balas Syafiqah apa adanya.


"Tidak bisakah kalian bertemu disini saja Nak?" tanya Wijaya lagi.


"Apaan sih Kek? Jangan bilang, Kakek juga ingin melarang Fiqah, untuk ketemuan dengan Sarah, jugakah?"


"Iya benar sekali Nak! Karena saat ini situasi di sekitar kamu masih belum aman banget Nak! Makanya itu sebisa mungkin kamu jangan banyak keluar dulu, karena Kakek nggak ingin kejadian yang menimpa kamu terulang lagi, Nak," balas Wijaya, mengingatkan Syafiqah pada peristiwa kecelakaannya.


"Tapi Kek, Fiqah sudah janji, sama Sarah. Kakekkan tahu, Sarah adalah teman karibnya Fiqah. Jadi please izinkan Fiqah menemuinya ya Kek? Karena Fiqah nggak ingin membuat dia kecewa Kek, jadi please untuk kali ini aja ya Kek," pinta Syafiqah sambil ia mengatupkan kedua tangannya pada Sang kakek. Berharap sang Kekek memberikan izinnya.

__ADS_1


"Baiklah! Tapi kamu harus ditemani oleh Nak Afnan! Gimana apakah kamu bersedia hm?" balas Wijaya. Karena ia sempat mendapatkan kode dari Afnan, agar ia memberikan Izinnya pada Syafiqah.


"Yaa elah.. kenapa harus dia lagi sih Kek? Fiqah udah bosen banget lihat muka dia! Nggak di rumah, nggak dikantor, muka dia Mulu yang dilihat. Masa iya Fiqah ingin main sebentar diluar harus lihat muka dia lagi sih Kek?" protes Syafiqah, yang terlihat sekali ia amat membenci Afnan. Sehingga ketika sang kakek menyebut namanya sebagai Syarat, matanya langsung menatap wajah Afnan dengan tatapan penuh kebencian.


"Yaa Kakek nggak maksa sih! Kalau kamu nggak mau juga nggak papa kok. Jadi kamu tinggal kembali ke kamar kamu lagi ajakan?" ujar Wijaya dengan santai, sambil ia mengambil cangkir yang berisikan teh manis, lalu ia pun menyeruputnya dengan santai juga.


"Huh! Kakek mah gitu! Ini nggak adil Kek! Masa hanya karena dia Fiqah harus gagal ketemu Sarah sih!" protes Syafiqah begitu kesal. Namun disaat begitu tiba-tiba saja ia teringat pada Toni, "Begini saja Kek, gimana kalau Fiqah ditemani dengan Toni saja Kek? Diakan orang kepercayaan Kakek jugakan? Jadi please Izinkan Fiqah pergi sama Toni ya Kek?" katanya lagi, penuh pengharapan.


"Tidak! Keputusan Kakek sudah bulat! Pergi dengan Afnan, atau tidak sama sekali!" tegas Wijaya, membuat Syafiqah kembali menatap Afnan dengan kekesalan.


"Huh! Puas Anda! Ya sudah Ayo berangkat sekarang!" kata Syafiqah pada Afnan, dengan tatapan dinginnya.


"Baik Nona!" balas Afnan, seraya ia bangkit dari duduknya, "Kek, Afnan pergi dulu ya? Assalamualaikum," ucapnya lagi pada Wijaya.


"Pergilah, hati-hati di jalan dan tetap waspada ya? Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," balas Wijaya, sambil menepuk cucu mantunya itu.


"In shaa Allah Kek," kata Afnan lagi, lalu ia pun langsung menyusul Syafiqah, yang sudah terlebih dahulu keluar dari villanya Wijaya.


"Sekarang kita mau kemana Nona?" tanya Afnan, sambil melirik kaca spion tengahnya. Untuk melihat wajah istrinya yang saat ini sedang jutek kepadanya.


"Ke klub motor sport!" balas Syafiqah dengan ketus, tanpa ingin melihat wajahnya Afnan


"Baiklah Nona," balas Afnan, dan seperti biasanya, sebelum ia menghidupkan mesin mobilnya, ia akan berdoa, yang sebenarnya ia ingin mengajarkan istrinya tersebut.


"Huh! Lama yaa? Banyak banget ritual kamu! Cepat jalankan mobilnya!" bentak Syafiqah, yang mulai kesal mendengar Afnan berdoa.


"Astaghfirullah Nona, inikan untuk keselamatan kita, emangnya Nona mau mengalami koma lagi dan arwah Nona gentayangan lagi?" kata Afnan yang tidak sengaja ia keceplosan, karena teringat ketika Syafiqah koma.


"Apa kamu bilang? Arwah? Apa maksud kamu hah?" tanya Syafiqah, terlihat begitu penasaran.

__ADS_1


"Eh, bukan apa-apa kok Nona! Lupakan saja!" kata Afnan yang kemudian ia pun fokus pada mengemudinya.


"Huh! Dasar pria gaje!" geremeng Syafiqah. Namun masih terdengar oleh telinga Afnan. Akan tetapi ia tak memperdulikannya.


"Astaghfirullah, kenapa Ana bisa keceplosan sih? Seharusnya Ana, jangan mengingatnya lagi! Mungkin saja waktu itu memang bukan dia, melainkan jin yang menyerupai dirinya. Ah Wallahu alam hanya Allah yang tahu. Kalau memang waktu itu, benar-benar rohnya, semoga ia secepatnya mengingat semuanya," batin Afnan, yang terlihat ia sangat berharap Syafiqah bisa mengingat dirinya kembali.


Setelah melakukan perjalanan dengan jarak tempuh sekitar satu jam. Akhirnya mobil mereka memasuki sebuah area yang sepertinya tempat para pembalap mobil berlatih, atau beradu kemampuan mereka pada sesama pembalap. Dan tak jauh dari area balapan tersebut, terdapat sebuah Caffe bertuliskan klub motor sport. Tempat menongkrongnya para anak muda, yang miliki hobi balapan mobil.


Setelah turun dari mobilnya, Syafiqah pun langsung bergegas memasuki cafe tersebut. Dan tentu saja Afnan, ingin mengikutinya. Namun Syafiqah pun langsung menghentikan langkahnya, "Hei..Lo tunggu disini saja! Jangan ngikutin gue lu paham!" centusnya dengan tatapan dinginnya.


"Maaf Nona! Saya tidak bisa! Karena saya sudah diamanahkan oleh Kakek Anda, untuk menjaga Anda!" kata Afnan, dengan wajah datar.


"Cih! Banyak omong Lo! Gue nggak perduli! Pokoknya lu jangan dekat-dekat gue!" bentak Syafiqah, seraya ia mendorong dada Afnan. Dan disaat bersamaan..


"Fiqah?! Aaaakh.. akhirnya lu datang juga! Gue kangen banget tau sama Lo!" teriak seorang wanita, yang tiba-tiba saja langsung memeluk Syafiqah.


"Saraah..! Aah gue juga kangen Lo Sat!" balas Syafiqah, yang ikut menyambut pelukan wanita yang dipanggil Sarah tersebut. Yang akhirnya keduanya saling berpelukan sambil melompat-lompat, karena kesenangan. Karena akhirnya ia bertemu sahabat karibnya.


"Aah iya, gue lupa Fiq, Lo ingat Rakakan? Itu loh, cowok tengil yang dulu pernah Lo kalahin," kata Sarah, mengingatkan Syafiqah.


"Iya ingat, emang ada apa sama dia?" tanya Syafiqah, seraya ia mengerutkan dahinya tanda ia penasaran.


"Dia nantangin Lo lagi Fiq, dengan taruh mobilnya sendiri. Asal Lo tahu aja mobilnya Lamborghini Veneno mobil termahal nomor satu Brai. Keren tau Sayang kalau diabaikan," kata Sarah, terlihat menggebu-gebu kala menyebut nama Mobil yang menjadi taruhannya. Syafiqah, tersenyum miring, mendengar hal itu.


"Hmm..oke kalau begitu, siapa takut! Kapan rencananya?" tanya Syafiqah dan saat bersamaan, terdengar suara seorang pria yang tiba-tiba muncul dari belakang Syafiqah.


"Sekarang! Apa Lo berani?"


...┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈...

__ADS_1


Terus dukung author ya guys 🙏🥰


Karena ada hadiah yang menanti bagi yang bersemangat memberikan dukungan pada Novel ini yaa..So go semangat go semangat 😉💪💪


__ADS_2