CINTA MU Membawaku To Jannah

CINTA MU Membawaku To Jannah
MENJENGUK SYAFIQAH


__ADS_3

Dipondok pesantren NH.


Hari-hari berlalu begitu cepat, bahkan tanpa terasa sudah satu minggu lebih, Afnan melewati hari tanpa adanya roh Syafiqah, yang biasanya selalu mengikuti dirinya. Namun entah mengapa, semenjak Afnan mengusir Rohnya Syafiqah, ia merasakan ada keanehan pada dirinya. Dan anehnya matanya, selalu tertuju, pada tempat-tempat yang biasanya Syafiqah berada, bila sedang menunggu ia Afnan sedang mengajar. Bahkan mata Afnan, selalu ingin mencari keberadaannya.


"Ada apa ini? Mengapa aku selalu ingin melihat dia ya?" gumam Afnan, saat ia sedang duduk di balkon kamarnya. Dengan mata yang sedang tertuju disebuah ayunan, dibawah pohon yang rindang, tempat biasa Syafiqah duduk. Dan selalu memandang dirinya dari sana. Disaat bersamaan terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.


"Siapa?!" seru Afnan. Yaa semenjak salah satu santriwatinya masuk kekamarnya, semenjak itu juga ia selalu waspada. Bahkan ia selalu mengunci kamarnya tersebut. Agar tak sembarang orang lagi yang memasuki kamarnya.


"Ana Ustadz, Ikhsan!" sahut Ikhsan dari luar. Mendengar sahabatnya menyebutkan namanya, Afnan pun langsung bergegas membuka pintu kamarnya.


"Mau ngapain antum kesini?!" tanya Afnan, terdengar ketus.


"Aih! Juntek banget ente! Emangnya nggak boleh ya bersilaturahmi?" tanya Ikhsan balik, dan langsung nyelonong bae.


"Cih! Silaturahmi dijadikan alasan! Bilang aja Antum kesini mau pinjam uangkan?" tanya Afnan balik, to the poin. Membuat Ikshan langsung menyengir, sambil ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Eh, Hehehe..kok ente tahu sih? Ho'oh sih, Ana, mau pinjam duit, soalnya udah kepepet banget nih," balas Ikhsan terlihat sedikit malu.


"Ah, saban hari itu aja alasan Antum! Ya udah Antum perlu berapa hm?" tanya Afnan, yang memang ia selalu tidak tega, pada temannya satu satu ini. Karena Afnan, tahu, mengapa Ikhsan sering meminjam uang padanya. Itu karena orang tua Ikhsan saat ini sedang dirawat.


"Ana pinjam dua juta deh, nanti saat gajian, Ente langsung aja potong gaji Ana," balas Ikhsan, yang sebenarnya ia sedikit malu pada Afnan, karena Afnan sudah terlalu sering membantunya.


"Ya udah, nanti gue transfer. Oh iya, gimana keadaan Umi Antum? Apakah sudah ada kemajuan?" tanya Afnan

__ADS_1


"Ya, gitu deh, tapi Alhamdulilah, kata Suster kemarin, beliau sudah mulai menggerakkan tangannya kok," balas Ikhsan, yang wajahnya, kini sedikit sendu.


"Oh iya Ana baru ingat, hantu cewek yang Antum ceritakan, apakah masih mengikuti ente?" tanya Ikhsan, membuat Afnan, langsung mengerutkan keningnya.


"Kenapa Antum, tiba-tiba teringat itu?" tanyanya sedikit penasaran.


"Yaa, itu karena Ana, kemarin lihat didepan pintu ruangan tempat beliau dirawat, ada dua pria yang berdiri didepan pintunya. Ana melihat seperti ada sedikit mengganjal deh, Ustadz. Sebenarnya Akhwat itu siapa sih?" jawab Ikhsan. Mendengar cerita Sahabatnya, tiba-tiba saja jantungnya Afnan berdegup kencang.


"Ana juga nggak tahu, hanya saja, seminggu yang lalu, dia meminta ana membantunya sih," balas Afnan, yang entah mengapa tiba-tiba ia jadi penasaran dengan apa yang terjadi pada kehidupan Syafiqah.


"Minta bantuan? Ada apa sebenarnya ya? Apa Ustadz, nggak merasa Aneh? Jujur, sebenarnya Ana merasa Aneh, masa orang yang masih hidup rohnya bisa keluar sih? Soalnya setahu Ana yang Rohnya keluar biasanya itu orang yang sudah meninggalkan?" tanya Ikhsan, yang terlihat ia juga merasa penasaran pada roh wanita yang selalu diceritakan Afnan padanya.


"Allah kuasa makhluk tak kuasa, Wallahu alam, hanya Allah lah yang tahu," ucap Afnan, yang sebenarnya ia juga bingung dengan apa yang terjadi pada Syafiqah. Apalagi selama hidupnya, ia baru melihat hal yang aneh tersebut.


"Ana juga bingung, cuma beberapa hari ini Ana jadi teringat dia terus. Apa sedang terjadi sesuatu ya sama dia?" ujar Afnan, yang tatapan terlihat kosong, sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


"Mana Ana tahu! Tapi saran Ana, dari pada Ustadz, penasaran apa tidak sebaiknya Antum, kerumah sakit saja, sekalian menjenguk Umi Ana. Karena kebetulan ana mau kesana, nih Ustadz," balas Ikhsan. Dan dengan spontan pandangan Afnan langsung mengarah kepadanya.


"Iya juga ya? Ya sudah ayo kita berangkat sekarang, mumpung Ana tidak ada jadwal mengajar," kata Afnan, seraya ia bangkit dari duduknya, "Sebentar Ana ganti baju dulu," katanya lagi lalu ia pun melangkah menuju ke sebuah lemari yang berada di sudut kamarnya.


Setelah sampai di sana ia pun membuka lemari tersebut, lalu ia pun mengambil baju kokonya yang berwarna putih dan langsung memakainya. Dan tak lupa juga ia memakai peci berwarna hitam. Setelah dilihatnya telah rapi ia pun kembali ketempat Ikhsan berada.


"Ayo, kita berangkat sekarang!" ajaknya sambil ia melangkah menuju pintu.

__ADS_1


"Oke, let's go," balas Ikhsan, yang kini ia mulai mengikuti langkah Afnan. Dan kini mereka pun telah berada di luar kamarnya. Dan disaat mereka sedang melewati ruang keluarga, tiba-tiba seorang wanita paruh baya menghampirinya.


"Kamu mau kemana Nak? Bukankah hari ini kamu tidak ada jadwal ya?" tanya Wanita paruh baya tersebut.


"Anan, mau kerumah sakit Umy, mau jenguk Uminya Ikhsan," balas Afnan, seraya ia meraih tangan wanita tersebut.


"Ooh, maaf Nak Ikhsan, Umy belum sempat menjenguk Umi kamu. Tapi in shaa Allah, nanti, kalau Abi pulang, Umy akan menjenguk beliau," kata Wanita tersebut yang ternyata Ia ibunya Afnan.


"Iya nggak papa Umi, Ana maklum kok," balas Ikhsan, yang terlihat ia juga langsung meraih tangan Uminya, Afnan, setelah Afnan selesai menyalaminya.


"Syukurlah kalau begitu, ya sudah sana berangkat, nanti keburu sore lagi," ujar Sang Umi.


"Baiklah Umi, kalau begitu kami pamit ya Umi, Assalamu'alaikum" pamit Afnan, seraya mencium pipi uminya.


"Iya Nak, hati-hati di jalan ya Nak? Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu,"


"In shaa Allah Umi," balas Afnan dan Ikhsan secara bersamaan, seraya mereka berjalan menuju pintu keluar.


Setibanya di luar rumah, mereka pun langsung menuju ke mobilnya Afnan, setelah sampai keduanya langsung masuk ke dalam mobil, dengan posisi Ikhsan duduk di belakang kemudi, sementara Afnan duduk di sampingnya. Dan tak berapa lama Ikhsan pun mulai melajukan mobilnya Afnan. Menuju ke rumah Sakit, tempat Syafiqah dan Uminya Ikhsan dirawat.


Disepanjang perjalanan Afnan hanya terdiam karena sepertinya ia kembali merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya, "Aah..ada apa ini? Padahal hanya ingin menjenguk Syafiqah, tapi mengapa dada Ana sejak tadi berdebar-debar ya? Dan anehnya pikiranku selalu teringat dia? Haiiis, apa yang terjadi pada diriku ya? "


...⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...

__ADS_1


__ADS_2