
*┈━❅❀❦ 🦋 Mutiara Hikmah 🦋❦❀❅━┈*
Pernikahan merupakan ibadah yang mulia dan suci. Untuk itu, menikah tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena ini merupakan bentuk ibadah terpanjang yang dijaga hingga maut memisahkan. Pernikahan sejatinya bukan hanya menyatukan dua insan untuk membangun biduk rumah tangga saja.
Tujuan menikah dalam Islam yang utama ialah untuk menjalankan perintah Allah. Dalam Alquran surat An Nuur ayat 32, Allah memerintahkan hamba-Nya agar menikah dan tak mengkhawatirkan soal rezeki sebab Allah akan mencukupkannya.
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32)
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈*
Keesokan harinya.
Afnan telah, telah sampai kembali ke tanah air. Dan saat ini ia sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya. Yaitu di pondok pesantren Nurul Hidayah, milik orang tuanya. Karena Afnan adalah Anak bungsu dari Kyai Abdur Rahim. Ia pun diamanahkan untuk mengelola pondok pesantren tersebut. Dan otomatis ia harus tinggal disana.
Akan tetapi karena ia memiliki usaha sendiri, ia jadi sering keluar kota. Atau pun keluar negeri untuk mengembangkan usahanya. Yaa ternyata dibalik kesederhanaannya, ia ternyata seorang pria yang sukses. Namun tak pernah ia tonjolkan, sehingga orang menyangka ia hanya seorang Ustadz muda.saja. Karena memang ia lebih mengutamakan urusan pondok apalagi dalam hal mengajarkan para santrinya, itulah yang paling utama.
Mobil Afnan mulai memasuki gerbang pondok, ia sedikit heran ketika melihat beberapa mobil mewah sedang terparkir di halaman pondok, "Ada apa nih? Mengapa banyak mobil mewah disini? Bukankah hari ini bellum waktunya orang tua santri berkunjungkan?" tanya Afnan, pada Ikhsan yang saat ini sebagai pengemudinya.
"Lah kenape ente tanya Ana, pan ente tahu Ana, juga selalu ngikutin Antum," balas Ikhsan, yang memang ia tak mengetahui apa yang terjadi.
"Aah, sudahlah! Kalau begitu ayo kita masuk!" ajak Afnan, setelah Ikhsan telah memarkirkan mobilnya dengan sempurna.
"Ayo! Siapa takut!" balas Ikhsan, dan akhirnya keduanya pun turun dari mobilnya. Setelah itu keduanya pun langsung berjalan menuju pondok Utama yaitu rumah orang tua Afnan.
__ADS_1
Setibanya Afnan di depan pintu, "Assalamu'alaikum. Eh! Ada apa ini?" ucap Afnan yang terlihat ia begitu terkejut ketika melihat isi rumahnya telah ramai. Dan yang bikin terkejut adalah disaat ia melihat Wijaya, yang langsung datang menghampirinya.
"Wa'alaikumus salam, Alhamdulilah kamu telah kembali Nak?" kata Wijaya yang langsung memeluknya.
"Iya Kek, Alhamdulilah saya sudah kembali," balas Afnan, menyambut pelukannya Wijaya. Namun matanya melihat sekitar, hingga matanya bertemu dengan Kyai Abdur Rahim, lalu ia pun melepaskan pelukannya dari Wijaya, dan ia pun langsung menghampiri Sang Ayah.
"Assalamu'alaikum Bi," ucapnya sambil menyalami tangannya, serta memeluknya.
"Wa'alaikumus salam Nak, Alhamdulilah kamu kembali dengan selamat," balas Kyai Abdur Rahim, seraya ia mencium kening Afnan.
"Na'am Bi, Alhamdulilah," balas Afnan, yang kini matanya langsung beralih pada sang ibu, "Assalamu'alaikum Mi" lanjut Afnan yang kini ia juga menyalami sang ibu serta memeluknya.
"Wa'alaikumus salam Nak," sahut Umi Salamah, yang juga ia memberikan kecupan lembut pada dahinya Afnan. Setelah menyapa kedua orang tuanya, Afnan pun langsung duduk tepat di samping kedua orang tuanya.
"Mau ada acara akad nikah Nak," balas Kyai dengan lembut. Dan dengan spontan Afnan langsung menatap Sang Ayah.
"Akad nikah? Siapa yang akan menikah Bi?" tanya Afnan terlihat begitu penasaran.
"Siapa lagi kalau kalau bukan kamu," jawab Kyai terlihat begitu santai. Namun tidak bagi Afnan ia malah terlihat begitu terkejut.
"Apa! Nggak salah Abi? Kok Ana,?" Afnan terlihat kebingungan mendengar jawaban sang Ayah. Pasalnya ia tak mengetahui apapun. Dan bahkan ia tak mengetahui siapa yang akan ia nikahi. Namun tiba-tiba saja, sang Ayah mengatakan ia yang mau menikah.
"Maaf Nak Afnan, kalau kakek telah lancang. Ini rencana Kakek, Abi kamu tak bersalah. Tapi Nak, bukankah kamu pernah menyetujuinya ketika Kakek meminta kamu untuk menikahi cucu Kakek Syafiqah?" ujar Wijaya, yang akhirnya ia buka suara, karena ia tahu kalau Kyai Abdur Rahim, sebenarnya juga masih belum percaya, dengan cerita Wijaya kemarin.
Sebenarnya Rahim ingin meminta kejelasan dulu dari Anaknya. Akan tetapi ia tak mendapatkan kesempatan itu, karena Wijaya sudah keburu datang. Dengan membawa penghulu, saksi, dan beberapa kerabat dekatnya Wijaya. Membuat Kyai, benar-benar tak berdaya lagi. Akhirnya hanya pasrah menunggu kedatangan anaknya saja.
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari Wijaya, tiba-tiba jantung Afnan langsung berdegup kencang, "Eh, me-memangnya Syafiqah sudah sadarkah, kek?" tanya Afnan sedikit gugup.
"Alhamdulillah, sudah Nak," balas Wijaya apa adanya.
"Alhamdulillah, hmm...lalu apakah dia setuju dengan pernikahan ini?" tanya Afnan terdengar ragu.
"Nak, Syafiqah tidak mengetahui perihal pernikahan ini," balas Wijaya, membuat Afnan tersentak, ia pun mengerutkan dahinya.
"Apa? Lalu mengapa.." Afnan bermaksud bertanya. Namun langsung dipotong oleh Wijaya.
"Nak, Syafiqah hilang ingatan, dan ya dia ingat adalah mantan tunangannya yang brengsek itu," ujar Wijaya, dan akhirnya ia pun menceritakan apa yang terjadi, selama Afnan tidak ada. Ia juga menjelaskan maksud niat ia menikahkan Afnan dan Syaqah demi menghindari, kenekatan mantan tunangannya itu.
"Maka dari itu Nak, Kakek mohon nikahkanlah Cucu Kakek. Karena hanya kamu yang bisa membimbing serta menjaganya. Mungkin saat ini dia tidak mengenal kamu. Tapi Kakek yakin setelah kalian sering bertemu, lama-lama dia pasti akan menyukai kamu. Jadi please Nikahi Dia nak," pinta Wijaya, seraya ia mengatupkan kedua tangannya dan matanya terlihat sekali begitu berharap pada Afnan.
Mendengar permohonan Wijaya, untuk sesaat Afnan terdiam, ia tampak bingung, harus memberikan jawaban apa pada Wijaya. Lalu ia pun memandang kedua orang tuanya, seakan ia meminta pendapat dari keduanya. Kyai yang mendapatkan tatapan dari Afnan seperti paham dan..
"Ikuti kata hatimu Nak, karena yang mau menjalankan ibadah terpanjang itukan kamu. Jadi kami sebagai orang tua, hanya mendoakan yang terbaik saja Nak," ujar Kyai Abdur Rahim, yang terdengar begitu lembut. Setelah mendapatkan jawaban dari sang Ayah, Afnan kembali menatap wajah Wijaya.
"Baiklah Kek, saya siap untuk menikahi cucu Kakek Syafiqah!"
...⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💚❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...
Terus dukung author ya guys 🙏🥰
Karena ada hadiah yang menanti bagi yang bersemangat memberikan dukungan pada Novel ini 😉 So ayo semangat 💪
__ADS_1