
*┈━❅❀❦ 🦋 Mutiara Hikmah 🦋❦❀❅━┈*
Jangan berputus asa apalagi mencela sebuah takdir. Jika kau mengetahui kenikmatan yang akan diperoleh setelah badai itu datang, kelak kau akan merasa menyesal karena telah berburuk sangka terhadap apa yang sudah menimpa mu.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ
“Aku begitu takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Ahmad, 3:117. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih).
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
*┈┈┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈┈┈*
Semenjak hari dimana Afnan mencampuri kehidupan pribadinya. Syafiqah semakin tidak menyukai Afnan. Apalagi Afnan selalu mengikutinya kemanapun ia pergi, membuatnya semakin ingin memecatnya. Namun karena ancaman Wijaya yang selalu mengarah ke Fariz. Membuat ia tak memiliki pilihan yang lainnya, selain ia harus tetap membiarkan Afnan berada disisinya. Walaupun ia amat sangat-sangat membencinya.
"Aagrr! Gue benar-benar nggak bisa konsentrasi kalau begini! Pria itu benar-benar sudah membuatku gila!" gerutu Syafiqah sambil mengacak-acak rambut. Ketika ia berada diruang kerjanya. Ia tampak tak frustasi setiap ia teringat pada tunangannya yang tidak bisa ia temui itu. Dan itu semua karena ulahnya Afnan.
"Ada apa Nona? Apakah Anda baik-baik saja? Apa Anda perlu..." tanya Afnan, yang kebetulan sedang berada disatu ruangan dengan Syafiqah.
Mendengar pertanyaan Afnan membuat Syafiqah semakin emosi. Sehingga ia langsung memotong pertanyaan pria tersebut, "Diam kamu! Sudah gue bilang jangan pernah ikut campur urusan gue! Lo pahamkan nggak sih bahasa manusia hah?!" bentaknya, dengan wajah yang sudah terselimuti dengan amarah.
"Lagian, siapa yang sudah mengizinkan meja kerja Lo berada di ruangan gue hah?! Lancang sekali dia, tanpa meminta izin gue! Siapa Dia, cepat katakan?!" bentak Syafiqah dengan emosi, yang meluap-luap, dan dengan tatapan mata yang dipenuhi dengan kebencian. dan di saat bersamaan pintu ruangannya tiba-tiba terbuka, dibarengin suara berat dari seorang pria tua..
"Aku! Akulah orangnya, yang memperintahkan orang untuk menaruh meja Afnan disini! Kenapa? Apakah kamu keberatan hm?"
Mendengar perkataan seorang pria seketika pandangan Syafiqah beralih ke sumber suara tersebut. dan seketika matanya langsung membulat ketika ia melihat wajah pria tua tersebut, "Kakek!" sentaknya. Yaa ternyata Pria tua itu adalah Wijaya, Kakek Syafiqah sendiri.
__ADS_1
"Kenapa? kamu mau protes karena kakek telah lancang menyuruh orang menaruh meja Afnan di sini hm?" tanya Wijaya, dengan wajah datarnya.
"Bukan seperti itu Kek! Cuma saja, rasanya aneh, Fiqah sebagai Presdir disini, tapi Kakek tidak pernah meminta pendapat dari Fiqah dulu dan langsung memutuskan sendiri, tanpa minta persetujuan dari Fiqah! Jadi apa gunanya Kakek menjadikan Fiqah sebagai pimpinan di perusahaan ini kalau pendapat Fiqah, tak di butuhkan Kek?" balas Syafiqah, dengan wajahnya yang terlihat kecewa terhadap Sang kakek.
"Hmm... memang kalau Kakek meminta pendapat dari kamu, terus kamu akan setuju Nak?" tanya Wijaya, seraya ia duduk tepat didepan Syafiqah, dengan dibatasi oleh meja kerjanya. Mendengar pertanyaan Wijaya, Syafiqah tak langsung menjawabnya. Ia terdiam seribu bahasa, karena memang ia tak mungkin menyetujuinya.
"Heh..sudah Kakek duga itu Fiqah! Kamu tidak akan setujukan? Jadi untuk apa Kakek harus meminta pendapat kamu, hm?" kata Wijaya lagi, dengan santai.
"Tapikan Kek..." protes Syafiqah. Namun Wijaya langsung mematahkan perkataanya.
"Tidak ada tapi-tapian Fiqah! Ini sudah menjadi keputusan Kakek! Jadi bekerja samalah dengan Afnan! Karena proyek yang akan datang membutuhkan kerja sama kalian berdua! Apa kamu paham Nak?" ujar Wijaya terdengar begitu tegas, sehingga Syafiqah tak berani lagi untuk memprotesnya.
"Hmm.. paham Kek!" balas Syafiqah dengan terpaksa.
"Bagus! Kalau begitu Kakek, akan menunggu hasil kerja sama kalian! Apakah itu memuaskan atau tidak itu tergantung dengan kekompakan kalian! Jadi Kakek harap kamu tidak mengecewakan Kakek!" pungkas Wijaya, seraya ia bangkit dari duduknya, lalu ia pun berlalu meninggalkan Afnan dan Syafiqah terlihat mereka saling pandang setelah kepergian Wijaya.
"Maaf Nona, ini bukan keinginan Saya! Saya juga kaget saat melihat meja kerja saya ada diruang Anda. Tapi kalau memang Nona, merasa terganggu, saya akan membawa kembali meja saya ketempat semula. Nanti biar saya yang akan bicara pada Kakek Anda," jelas Afnan, yang memang sebenarnya ia tidak tahu sama sekali kalau Wijaya telah memperintahkan untuk memindahkan meja kerjanya di ruangan Syafiqah.
"Tidak perlu! Itu hanya akan menambah masalah buat gue!" cetus Syafiqah dengan tatapan dinginnya pada Afnan, "Sudah sana, kembali bekerja! Melihat wajah kamu membuat kepalaku tambah sakit saja!" lanjutnya lagi, sambil ia melambaikan tangannya, menandakan ia mengusir Afnan.
"Baiklah Nona!" balas Afnan, dan ia pun langsung kembali ke meja kerjanya yang tak berapa jauh dengan meja kerjanya Syafiqah.
"Sabar Afnan, kamu harus memiliki sabar lebih. Walau bagaimanapun ini adalah ujian, yang harus kamu lewati dengan hati yang tulus dan ikhlas, disertai dengan kesabaran ekstra. Agar kedepannya akan ada keindahan pada waktunya nanti," batin Afnan, yang mengingatkan dirinya sendiri. Sambil ia melirik wajah istrinya yang terlihat sedang fokus pada layar laptopnya. Namun ia tak berani lama-lama meliriknya. Karena Syafiqah selalu tahu kalau ia sedang mencuri pandang padanya.
Untuk sesaat ruangan pun menjadi hening, karena keduanya terlihat, sedang fokus pada perkerjaannya masing-masing. Dan yang terdengar hanya suara ketikkan pada keyboard laptop mereka masing-masing. Namun keheningan itu tiba-tiba terpecahkan dengan suara nada sambung yang ditimbulkan dari handphonenya Syafiqah. Dan seketika Syafiqah langsung mengambilnya, dan langsung menerimanya.
"Halo!" ucapnya ketika sambungan telah terhubung.
__ADS_1
"Halo, apakah benar ini nomornya Syafiqah?" tanya seorang wanita yang berada di seberang.
"Iya bener, saya Syafiqah! Ini siapa ya?" tanya Syafiqah balik.
"Aaaah.. ternyata benaran Lo masih hidup Fiqah? Ini gue Sarah! Lo ingat guekan?" balas Wanita yang menyebut namanya Sarah itu.
"Sarah? Sarah mana ya? Ooh Sarah tonggek yaa?" tanya Syafiqah lagi.
"Iya benar Fiq, ini gue! Gimana kabar Lo Fiq? Aah gue pikir Lo udah mati karena kecelakaan itu. Untung saja Fariz ngabarin gue kalau lu masih hidup, makanya gue dapat nomor lu dari dia juga ini," kata Sarah, yang dari nada bicaranya ia sangat senang.
"Gue baik-baik aja kok, gue masih hidup juga tau! Oh iya Lo sendiri gimana kabarnya? Aah gue jadi kangen sama lu deh," balas Syafiqah, yang terlihat ia juga senang karena dapat telepon dari Sahabat lamanya.
"Kalau begitu kita ketemuan yuk? Ditempat biasa kita nongkrong, lu ingatkan?"
"Diclub Motorsport ya? Emangnya lu masih sering ikutan balapan mobil yaa?" tanya Syafiqah balik.
"Iya bener! Udah lu datang aja, nanti lo akan sendiri, oke?" balas Sarah.
"Oke deh kalau begitu, nanti malam gue kesana deh!" balas Syafiqah lagi.
"Good! See you there, okay?"
"Okay! Kalau begitu gue tutup ya Bey"
...┈━━◎❅❀❦ 🦋 ❦❀❅◎━━┈...
Terus dukung author ya guys 🙏🥰
__ADS_1
Karena ada hadiah yang menanti bagi yang bersemangat memberikan dukungan pada Novel ini yaa..So go semangat go semangat 😉💪💪