Cinta Raina

Cinta Raina
Beasiswa


__ADS_3

Hari sudah mulai sore, Raina pulang dari kampus mengendarai motor maticnya dengan kecepatan sedang. Menyusuri setiap jalanan kota dengan senyum cerianya.


Raut wajahnya terlihat sangat bahagia, membayangkan betapa bahagianya ayah dan bundanya mendengar keberhasilan yang dia peroleh hari ini. Perlombaan yang menjadi beban pikiran selama dua minggu terakhir sudah terlewati, kemenangan sudah ditangan. Prestasi untuk kesekian kalinya.


Alhamdulillah.. Akhirnya semua terlaksana dengan lancar sesuai harapan. Terima kasih Tuhan. Ayah dan bunda pasti sangat senang. Senyum kembali terkembang dibibir Raina.


Setelah memarkirkan motornya di garasi rumah, Raina langsung berlari masuk rumah.


"Assalamu'alaikum," salam Raina dengan cerianya sambil memeluk bunda yang sedang menyiapkan makanan.


"Wa'alaikum salam. Sudah pulang Na. Eh ada apa ini??" tanya bunda sedikit kaget karena tidak biasanya anaknya langsung memeluk seperti ini.


"Coba Bunda tebak!" ucap Raina sambil tersenyum.


"Kamu ini. Baru pulang sudah main tebak tebakan, mana bunda tahu." Mengangkat bahu masih belum paham dengan anaknya, kemudian melanjutkan "Ahh bunda tau, kamu habis ngobrol banyak dengan dosen idolamu itu ya? Apa diajak makan malam??" ledek bunda sambil mencolek dagu putri kesayangannya.


"Bundaaa," terdengar gemas manja mendengar ucapan bundanya dan pelan melepas pelukannya.


"Terus apa Sayaang?? Makanya cerita yang jelas dong!"


"Na berhasil Bun, lomba kemarin itu hari ini pengumumannya. Dan itu artinya beasiswa bisa diperpanjang selama satu semester kedepan." Raina menjelaskan dengan penuh antusias. Girang dan memeluk bundanya lagi dengan erat.


"Alhamdulillah, selamat Sayang. Putri bunda memang hebat, mudah-mudahan semua lancar dan kelak cita citamu bisa terwujud ya." Bunda Membalas pelukan dengan penuh kasih sayang. Bunda Suci paham betul bahwa anaknya ini pasti selalu berusaha keras untuk mewujudkan apa yang dia impikan. Termasuk perihal beasiswa ini.


"Aamiin. Kan berkat doa Ayah dan Bunda juga." Melepas pelukan kemudian mengambil sepotong tempe goreng yang mulai disiapkan bunda dan langsung memasukkan kemulut.

__ADS_1


"Naaa... kebiasaan!" Bunda geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya yang selalu main comot, "Cuci tangan dulu! Mandi juga sana! Belum shalat Asar kan?"


"Hehe.. Iya Bunda." Berlalu menuju kamarnya sambil mengunyah tempenya.


Sementara ayahnya jam-jam segitu masih sibuk di minimarket sederhananya di tepi jalan besar. Dibantu tiga orang karyawannya pak Tono biasanya tutup jam delapan malam.


Setelah pak Tono pulang, Raina dan bunda menceritakan berita gembira hari ini. Sama halnya dengan bunda, ayah juga sangat bangga pada keberhasilan putri semata wayangnya ini. Ucapan bangga yang selalu diiringi doa untuk keberhasilan putrinya kedepan.


Dengan usaha minimarket sederhana itu sebenarnya pak Tono sudah mulai menabung untuk membiayai kuliah putrinya, namun  Raina tau betul bahwa biaya kuliah di Universitas swasta ternama ini sangat mahal. Oleh karena itu dia selalu berusaha lewat jalur beasiswa prestasi supaya tidak membebani orangtuanya.


Ya.. Universitas tempat kuliah Raina memang Universitas swasta ternama yang menjadi dambaan setiap orang. Dengan biaya yang fantastis, tidak semua orang bisa kuliah di sini. Mayoritas mahasiswa di sini merupakan anak orang orang terpandang dari penjuru negeri, tidak hanya kaya tapi juga pandai. Hanya orang beruntung yang bukan dari keluarga kaya yang bisa kuliah di sini, Termasuk Raina salah satunya. Bisa menempuh kuliah di sini karena prestasinya yang luar biasa.


Sesuai dengan biaya yang dikeluarkan, lulusan dari Universitas ini memang tidak diragukan, mayoritas bisa menata diri dan sukses dalam hal materi. Bisa diterima kerja di perusahaan ternama, meneruskan usaha keluarga dengan baik, bahkan tidak jarang bisa menciptakan bisnis sendiri dengan modal ilmu yang diperoleh.


***


Sementara di sebuah rumah megah,  keluarga Hartawijaya sedang makan malam seperti biasanya. Dibumbui dengan percakapan hangat antar penghuninya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Amel Ram??" Papa Budi memulai percakapannya di meja makan. Seperti kebanyakan orang orang terpandang, pak Budi juga selalu memperhatikan setiap tingkah putranya. Termasuk dalam hal percintaan. Dan tentunya ini tanpa diketahui putranya. Dia tidak ingin hal hal yang tidak diinginkan terjadi. Menjaga nama baik keluarga.


"Baik Pa, seperti biasanya," jawab Rama santai.


"Amel sudah semester akhir kan? Apa kalian belum ada rencana menikah?" Mama ikut menyahut, kemudian menambahkan. "Kamu sudah 28 tahun lho, harus mulai memikirkan pendamping hidupmu," ucap mama Sari pelan sambil meletakkan sayuran ke piring suaminya. Mama Rama ini memang selalu begitu, berusaha setenang mungkin dalam berbicara supaya pembicaraannya bisa dipahami oleh pendengarnya. Menasehati anaknya tidak perlu dengan nada keras pikirnya.


"Semester akhirnya kan masih mulai Ma. Katanya setelah lulus dia juga mau melanjutkan S2 di Singapore," jawab Rama masih santai.

__ADS_1


"Lantas, kamu diam saja??" Papa Budi bertanya lagi seakan menunjukkan sikap kurang sukanya. Rama dan Amel memang sudah menjalin hubungan sekitar dua tahun dan mereka sampai sekarang belum menunjukkan mau melangkah ke jenjang yang lebih serius.


"Kakak mana pernah serius sama cewek?!" Andi menyahut dengan sorot mata meledek kakaknya kemudian tersenyum entah apa alasannya.


"Kamu ini bocah, tau apa. Belajar yang baik sana! Biar bisa lulus dan masuk di Universitas yang bagus," sahut Rama kesal pada adiknya.


"Iya Kakakku sayang." Tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menggoda kakaknya.


Asal kamu tahu Andi, Kakakmu ini tidak pernah main main dengan perasaan cewek. Mereka saja yang terkadang berlebihan, mengejar kakak, terpesona dengan ketampanan kakak hehe.. Sehingga membuat kakak terkesan playboy. Padahal dalam prinsip Kakak mencintai itu cukup pada satu wanita. Rama tersenyum dengan kalimat dalam hatinya.


Teringat dengan pertanyaan Papanya tadi. "Rama pernah menyinggung tentang pernikahan, tapi dia selalu mengalihkan pembicaraan, mungkin dia masih mau fokus dengan kuliahnya," ucap Rama dengan hati hati.


"Sudah saatnya kamu mulai memikirkan ini Sayang! Lagian kata papa, kamu sudah mulai bagus di perusahaan. Jadi ada baiknya kamu juga mulai memikirkan pendamping hidupmu." Mama menambah nasihatnya dengan nada sungguh sungguh, menoleh pada papa Budi yang mengangguk-angguk menyetujui perkataan istrinya.


"Iya Mamaku sayang," jawab Rama persis dengan jawaban adiknya kepada dia tadi.


Begitulah,, Bagi mereka yang selalu sibuk dengan urusan masing masing, waktu makan bersama merupakan momen penting kumpul keluarga yang diisi percakapan hangat dan dimanfaatkan untuk saling berbagi cerita satu sama lain.


Selesai makan malam, papa Budi masuk ke ruang kerjanya mengecek pekerjaan kantor hari ini, sementara mama Sari menemani putra bungsunya belajar di ruang televisi. Karena merasa begitu lelah Rama juga langsung masuk ke kamarnya.


"Ah Papa Mama kenapa mulai membahas ini." Masih memikirkan percakapan di meja makan tadi sambil menyandarkan kepalanya pada bantal di atas tempat tidurnya.


"Kan masih dua puluh delapan tahun, lagian bukankah yang penting aku harus sukses dulu. Seperti Papa. Lagian aku tampan kenapa harus bingung dengan hal semacam ini. Aku juga sudah punya Amel." Sambil menatap langit langit kamar dia bicara sendiri, seperti biasa rasa percaya diri Rama selalu muncul.


Besuk rencananya Rama akan memberi kejutan kepada Amel dengan mengunjunginya langsung ke kampus pada saat makan siang.

__ADS_1


__ADS_2