
Setelah melalui tahap demi tahap, berkat kekompakan ketiganya akhirnya Raina, Gita dan Veris bisa lulus tahun ini bersamaan. Mereka selalu saling membantu satu sama lain. Doa dan usaha yang seimbang telah membuktikan hasilnya. Buah dari kekompakan selama ini, begitu terasa sekarang. Menempuh S1 selama tujuh semester dengan prestasi yang baik merupakan kebanggaan tersendiri.
Mama dan papa Veris sangat berterimakasih karena selama ini Raina dan Gita sering membantu putrinya dalam urusan kuliah. Beliau bersyukur putrinya memiliki dua sahabat yang telah mensuport hingga Veris bisa dengan lancar sampai pada titik ini. Membawa dampak begitu positif bagi putri kesayangan mereka. Setelah ini, sesuai rencana Veris akan meneruskan kuliahnya ke Australia.
Begitu juga dengan keluarga Gita, ibu dan ayahnya sangat bersyukur. Beliau berdua sangat bangga dengan putri keduanya itu karena bisa lulus dengan nilai yang membanggakan. Gita tidak melanjutkan kuliahnya, setelah ini dia akan melamar pada sebuah perusahaan ternama di kota. Dia sudah mendapatkan informasi terkait lowongan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan jurusannya.
Lain halnya dengan Veris dan Gita, kelulusan Raina ini tidak hanya disambut bahagia oleh ayah dan bundanya saja. Keluarga Hartawijaya justru lebih antusias mendengar kelulusan calon menantunya itu. Kelulusan yang sudah sangat dinanti-nanti oleh kedua keluarga itu.
Perguruan tinggi tempat Raina menempuh pendidikan memiliki agenda wisuda tiap semester. Wisuda adalah upacara peneguhan atau pelantikan bagi seseorang yang telah menempuh pendidikan. Di kalangan akademik, wisuda merupakan penanda kelulusan mahasiswa yang telah menempuh masa belajar pada suatu universitas. Tentunya wisuda ini sudah dinanti oleh Raina, Gita, Veris dan mahasiswa yang lainnya.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari ini Raina akan wisuda. Mengenakan kebaya tradisional yang dipadukan dengan make up yang lebih dari biasanya membuat Raina terlihat sangat anggun. Gita dan Veris pun demikian. Semua tampak begitu cantik dan bahagia dibalik senyum hangatnya.
Tidak lupa mereka memakai busana hitamnya pada bagian luar. Ya baju toga, yang menurut filosofinya warna hitam pada busana wisuda ini merupakan simbolisasi yaitu misteri serta kegelapan telah berhasil dikalahkan sarjana waktu mereka menempuh pendidikan di bangku perkuliahan. Tidak hanya itu sarjana juga diharapkan mampu mengatasi kegelapan di masa yang akan datang dengan ilmu pengetahuan yang selama ini didapat olehnya.
Selain ayah dan bundanya, Rama beserta kedua orangtuanya juga turut hadir dalam acara Raina ini. Semua meluangkan waktunya untuk mendampingi Raina pada acara penting dalam hidupnya. Raina bersyukur atas itu.
Setelah prosesi wisuda selesai, tidak lupa para wisudawan dan wisudawati berfoto bersama keluarga, sahabat dan bahkan kekasihnya masing-masing. Raina pun demikian, setelah berfoto sendiri, berfoto dengan ayah dan bundanya, berfoto bersama keluarga Hartawijaya, sekarang Raina disuruh foto berdua dengan Rama.
Awalnya Rama maupun Raina tampak canggung, namun karena masih banyak yang antri setelah mereka, akhirnya mereka berusaha seprofesional mungkin. Sesuai arahan sang fotografer, Raina tampak melingkarkan tangannya pada lengan Rama. Keduanya tersenyum hangat, membuat siapa saja yang melihat terpana dengan keserasian mereka berdua.
Tangan bunda Suci dan mama Sari saling menggenggam melihat putra dan putri mereka yang tampak serasi. Senyum bahagia tergambar jelas pada bibir beliau berdua. Rama yang tampan dengan postur tubuh idealnya dan Raina yang cantik dengan penampilan sama idealnya meskipun dia terkesan cuek untuk urusan makan.
__ADS_1
Selesai foto, orangtua Raina dan orangtua Rama pulang duluan. Raina ditemani oleh Rama masih ingin bergabung dengan dua sahabatnya.
Hari ini merupakan momen yang begitu spesial buat Raina dan dua sahabatnya. Tentu saja berfoto ria termasuk agenda utama hari ini. Dan benar, setelah bergabung mereka bertiga langsung beraksi. Berbagai ekspresi telah ditampilkan, banyak foto telah diambil. Rama sampai geleng-geleng kepala melihat sikap tiga gadis itu.
Tiba-tiba Dhani datang menghampiri sahabatnya yang tengah duduk menunggu calon istrinya yang masih asyik dengan Gita dan Veris.
"Hai, Bro." Dhani datang langsung menepuk bahu Rama kemudian ikut duduk.
"Hei, sudah beres?" tanya Rama yang memahami bahwa Dhani juga termasuk salah satu yang ikut disibukkan saat momen wisuda seperti ini.
"Ya ... ini juga sambil istirahat. By the way selamat ya," kata Dhani seraya mengulurkan tangan kanannya.
Rama tersenyum dan membalas uluran tangan sahabatnya itu. "Raina yang lulus," kata Rama.
"Kadang gue juga masih seperti mimpi. Menerima kenyataan bahwa yang dijodohkan dengan gue itu ternyata orang yang Lo sayang." Rama melirik Dhani sekilas. Dosen tampan itu tampak memandang jauh ke arah Raina yang masih asyik dengan wisudawati yang lain.
"Ha!! Sudahlah, jangan diungkit lagi. Gue sudah punya Mira kali. Dan gue yakin Raina memang yang terbaik buat Lo."
"Mudah-mudahan, Dhan. Doain ya," kata Rama serius.
"Pastilah. Saling mendoakan ya." Tersenyum tulus pada sahabatnya.
__ADS_1
"Eh iya, tunggu!Lo bilang sebentar lagi kan? Jadi kapan? Jangan-jangan Lo malah ngeduluin gue." Rama antusias teringat perkataan Dhani dalam telepon semalam yang mengatakan bahwa hubungan dirinya dengan Mira sebentar lagi InsyaAllah akan melangkah ke pelaminan.
Dhani hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Rama. Sengaja membuat sahabatnya itu semakin penasaran.
"Jangan gila, jadi Lo berniat ngerahasiain itu semua dari gue?" kata Rama sudah tidak sabar dengan sikap Dhani.
"Heii. Sabar ngapa sih, tunggu aja undangannya ya!" Dhani mengedipkan matanya.
"Jadi beneran Lo sebentar lagi? Kapan? Jangan buat gue gak tidur semalaman hanya karena penasaran dengan ini semua," nada suara Rama terdengar agak tinggi, mulai kesal.
"Kak Rama, ada apa sih?" Raina datang dan kaget melihat sikap Rama yang terlihat kesal.
"Selamat ya, Rai. Semoga ilmunya barokah." Belum Rama menjawab, Dhani terlebih dahulu memberi selamat pada Raina seraya mengulurkan tangan kanannya. Raina membalasnya.
"Aamiin. Terimakasih banyak, Pak. Ini semua berkat Pak Dhani juga. Kesabaran Bapak dalam membimbing kami selama ini," kata Raina tulus masih sambil berjabat tangan dengan Dhani.
"Hei, mau sampai kapan ini?" Rama tanpa sadar melepas tangan Dhani yang masih berjabat erat dengan tangan Raina.
"Is is is... Sahabat gue ini cemburu? Calon istri Lo ini mahasiswa gue Bro," kata Dhani geleng-geleng kepala seraya tersenyum senang begitu mengetahui Rama secara terang-terangan menunjukkan sikap cemburunya.
Kak Rama apa-apaan sih. Raina merasa malu.
__ADS_1
"Eng ... enggak, siapa yang cemburu?" masih saja mencari alasan. "Eh iya, Dhani ini mau nikah lho Rai. Dan tau gak, masa dia gak mau jujur sama gue. Ngeselin kan?" Rama sengaja mengalihkan pembicaraan.
Jadi yang di Mal dulu itu memang benar kekasihnya Pak Dhani? Kata Raina dalam hati, walau bagaimana pun Dhani dulu pernah menjadi sosok spesial yang singgah dalam hatinya.