
"Nanti sore kita cek rumah kita ya," kata Rama saat dirinya dan Raina sudah siap untuk istirahat. Rasa capeknya karena pesta kemarin masih tersisa. Mumpung libur kantor, Rama sengaja memanfaatkan waktunya untuk tidur siang meskipun hanya sebentar.
"Iya, Kak."
Atas persetujuan orangtua Rama maupun orangtua Raina, telah disepakati bahwa setelah menikah mereka akan pindah ke rumah baru. Dengan alasan supaya Rama dan Raina bisa belajar mandiri dan bisa belajar saling mengerti satu sama lain, Rama sudah membeli sebuah rumah yang siap mereka tempati saat sudah menikah. Sore nanti pasangan baru ini akan mengecek rumah itu.
Rama kemudian berbaring pada tempat tidurnya, Raina mengikuti. Sebenarnya Rama tidak terbiasa tidur siang, pekerjaan kantor yang dikirim lewat email pun sudah menumpuk, namun karena alasan ingin berduaan dengan sang istri dia menyempatkan siangnya untuk istirahat. Semenjak mama Sari pulang tadi, memang beliau lebih mendominasi Raina. Padahal Rama kan juga masih mau menikmati masa pengantin barunya.
Seperti tadi malam, Raina dan Rama kali ini tidur dengan guling di antara mereka sebagai pembatas. Rama sebenarnya sangat risih dengan keadaan ini, namun sekali lagi dia mencoba bersabar.
Hufh.. Baiklah, sepertinya Lo harus ekstra sabar dulu, Ram! Sebenarnya sih bisa aja Lo berbuat apapun yang Lo inginkan. Sah sah saja kok, dan itu halal.
Tapi ingat, Lo ingin memiliki Raina seutuhnya kan? Sentuh hatinya dulu, biarkan dia nyaman di sisi Lo. Jangan memaksa! kata Rama dalam hati. Menasehati dirinya sendiri.
"Kak."
Eh, dia belum tidur?
"Iya."
"Apa sih makna pernikahan buat Kak Rama?"
Rama sedikit berpikir, sebenarnya apa maksud dari pertanyaan mendadak istrinya itu. Raina menatap Rama lekat seolah memberikan pertanyaan yang jawabannya sangat penting bagi dirinya.
Sambil menatap langit-langit kamar pelan Rama menjawab, "Menurut gue ... Menikah itu yang pertama tentu saja untuk ibadah. Pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan namun juga dua keluarga. Keluargaku dan keluargamu"
Rama kemudian memiringkan tubuhnya memeluk guling yang menjadi pembatas di antara mereka tadi. Kini mereka saling tatap, Rama kemudian melanjutkan kalimatnya, "Ketika mengatakan 'saya terima nikahnya' pada akad nikah kemarin, itu artinya gue juga mengatakan bahwa gue siap menerima tanggung jawab untuk melayani Lo sebagai istri gue, mencintai dan melindungi Lo. InsyaAllah." Rama tersenyum manis, senyum yang bisa membuat siapa pun yang melihat serasa melayang layang dibuatnya. Sejuk sekali, sesejuk kata-katanya yang memberikan kesejukan untuk hati Raina.
"Kok diem," ucap Rama sengaja menyadarkan istrinya yang diam terpaku, pipinya sudah merona dibuatnya.
"Oh," Raina mendadak salah tingkah kemudian mengubah posisinya menatap langit-langit kamar, tak kuasa berlama lama saling tatap dengan Rama.
"Kalau buat Lo sendiri? Apa makna pernikahan buat Lo?" pertanyaan yang sama untuk Raina.
__ADS_1
Belum Raina menjawab, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar terketuk.
Ahhh... Siapa lagi?! Benar-benar harus bersabar gue.
"Iya, siapa?" sahut Rama.
"Ini mama."
"Mama, Kak." Raina kemudian beranjak menuju pintu, dia tahu bahwa suaminya tadi mengunci pintu kamar itu.
"Iya, Ma. Ada apa?" tanya Raina setelah membuka pintu.
"Nanti sore papa mengundang ayah dan bundamu makan ke rumah."
"Benarkah?" Bola mata Raina berbinar senang, baru semalem Raina bermalam di rumah keluarga Hartawijaya namun rasanya sudah lama tidak bertemu orangtuanya.
"Iya, ini kan mama mau belanja. Mama pengen tahu makanan kesukaan ayah dan bundamu apa ya?" tanya mama Sari pada Raina seraya melirik putranya yang menatap ke arahnya sambil berbaring di tempat tidur.
Raina kemudian menceritakan makanan kesukaan ayah dan bundanya sesuai keinginan mama Sari.
Sebelum menjawab, mama Sari melirik putranya yang melambaikan tangan sambil geleng-geleng kepala. Beliau pun tersenyum memahami maksud dari putranya itu.
"Untuk sekarang lebih baik kamu istirahat dulu, kalian masih capek. Lain kali saja ikut mama belanja ya." Mama Sari tersenyum seraya menepuk bahu menantunya itu kemudian pergi meninggalkannya.
Rama ... Rama ... Mama Sari tak kuasa menahan senyumnya karena melihat tingkah putranya yang jelas-jelas tidak mau terganggu waktu berduanya bersama Raina.
Raina kemudian kembali ke tempat tidur, berbaring di sisi Rama.
Eh gulingnya mana? Raina melihat sekeliling.
Ah, kenapa pindah kesana? mengetahui guling yang dia cari ternyata sudah ada di atas lemari.
"Kenapa?" Rama yang tadi sudah terpejam kini membuka matanya kembali.
__ADS_1
"Enggak." Raina kemudian membaringkan tubuhnya dan memarik selimut sampai leher.
"Cepat tidur, kita gak punya waktu banyak."
"Iya" Raina langsung memejamkan mata. Setelah beberapa lama terdengar hembusan napas berulang menunjukkan Rama yang sudah terlelap dalam mimpinya. Raina pun akhirnya juga tertidur.
Sesuai dengan rencana, sore hari Rama dan Raina pergi untuk mengecek kondisi rumah baru mereka. Membutuhkan waktu sekitar setengah jam perjalanan untuk sampai kesana. Rumah yang cukup besar, bernuansa modern dan terlihat nyaman untuk ditempati.
"Alhamdulillah, sepertinya nyaman untuk ditempati."
"Mungkin akan lebih sejuk kalau bagian sini ditambah berbagai jenis tanaman hias," Raina menunjuk salah satu sudut taman yang masih terlihat longgar.
"Beli saja, nanti bisa ditanam dan diatur sesuai keinginan Lo. Ini rumah kita, mari kita tata senyaman mungkin."
"Ok, bisa kita mulai akhir pekan ini, saat Kak Rama libur." Raina terlihat antusias.
Mereka mengecek ruangan demi ruangan. Dari depan hingga belakang. Ada kamar utama yang sengaja didesain lebih luas daripada kamar lainnya. Bagian dapur juga didesain khusus sesuai dengan keinginan Raina. Mereka bersyukur karena kondisi rumah sudah beres dan siap untuk ditempati.
Setelah mengecek semuanya akhirnya mereka pulang. Langsung pulang ke rumah karena malam ini ayah dan bunda Raina akan makan malam di rumah keluarga Hartawijaya. Raina rasanya juga sangat rindu pada beliau berdua.
Setelah adzan isya' ayah dan bunda Raina tiba. Raina menyambut beliau dengan pelukan hangat. Meskipun baru sehari tidak bertemu rasanya sudah sangat rindu.
Makanan dengan berbagai macam menu sudah tertata rapi di meja makan. Mama Sari membimbing semua untuk segera ke ruang makan. Keluarga besar ini terlihat sudah sangat akrab.
"Keluarga kita pasti akan lebih seru saat kehadiran cucu nanti," ucap mama Sari santai namun membuat Raina terbatuk-batuk.
"Pelan-pelan," Rama menyodorkan segelas air putih.
"Iya Bu, sudah tidak sabar pengen dipanggil mbah uti," tambah bunda Suci.
"Usia kalian sudah matang, masalah keturunan jangan ditunda ya." Mama Sari mengingatkan.
Doakan, Ma. Semoga hubungan kami semakin membaik dan bisa segera memberikan cucu yang lucu buat keluarga kita, kata Rama dalam hati.
__ADS_1
"Betul ... Lagi pula pernikahan dengan hadirnya buah hati akan menambah keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangga kalian," tambah bunda Suci. Rama dan Raina mengangguk menyetujui.