
Sebelum tidur Raina memberanikan diri untuk menelpon Rama.
Menanyakan kembali perihal KTP yang sudah beberapa hari ini dibawa Rama.
Setelah nada sambung berhenti, tanda bahwa Rama sudah
mengangkat telponnya, Raina langsung menyapa.
“Assalamu’alaikum.. Halo Kak Rama..”
“Wa’alaikum salam,, ada apa lagi, malem-malem begini ganggu
orang mau tidur saja.” Rama mengangkat telpon dan nada ketusnya langsung
terdengar.
“Maaf, KTPku bagaimana Kak.. Kak Rama tidak benar-benar lupa
menaruhnya kan??” Raina kawatir bahwa pernyataan Rama tadi benar adanya.
“Iya iya tenang saja, mungkin ada ditas kerjaku.. bawel
banget sih” jawab Rama jengkel.
Sabar Raina sabarr.. Raina mengelus-elus dadanya sendiri.
“Kalau begitu, bisakah besuk kita ketemu, tolong berikan KTP
itu. Setelahnya Raina janji tidak akan mengganggu Kak Rama lagi. Bukankah kita
sudah impas??”
“OK,, besuk di cafe Nikmat saja” Jawab Rama dan seperti
biasa langsung menutup telponnya tanpa salam.
“Huuff.. Sudahlah.. yang penting KTPku bisa segera kembali,
dan aku tidak akan berhubungan dengan orang menjengkelkan ini.” Raina kesal, menusuk-nusuk
profil WA Rama dengan jari telunjuknya.
***
Pagi hari saat makan pagi bersama di rumah keluarga
Hartawijaya. Seperti biasa obrolan keluarga tercipta.
“Amel ternyata sudah tunangan, Pa, Ma” Rama akhirnya mulai
bicara.
Rama tidak ingin menyimpannya sendiri, Ia selau terbuka
perihal hubungannya dengan Amel karena selama ini Rama sudah mengatakan kepada
orangtuanya bahwa Ia berencana untuk melangkah kehubungan yang lebih serius dengan Amel. Jadi kejadian semalam juga harus didengar oleh orangtuanya.
“Apa??” Mama kaget.. “Maksudnya bagaimana? Amel
menghianatimu dan bertunangan dengan orang lain??”
Rama diam dan hanya menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan mamanya. Masih tampak jelas raut muka kesedihannya. Bagaimana pun Rama memang sudah sangat menyanyangi Amel.
__ADS_1
“Sudahlah Rama, mungkin Amel memang bukan jodohmu. Kalau
kejadiannya sudah terlalu jauh sampai tunangan seperti itu, itu artinya Ia tidak
pantas diperjuangkan lagi.” Papa yang memang sedari awal kurang setuju dengan hubungan Rama dengan Amel justru mensyukuri kejadian ini.
Andi yang biasa ngoceh semaunya sendiri dan paling seneng
kalau menggoda kakaknya kali ini juga diam, hanya mendengarkan kakak dan orangtuanya bicara sambil menikmati makan paginya. Tidak berani ikut bicara, Ia seakan ikut merasakan kesedihan yang dialami kakaknya. Sejahil apapun dia pada kakaknya, sebetulnya dia sangat menyayangi kakaknya itu.
Rama memang terkenal sebagai pria muda tampan yang bersifat
dingin dan cuek ketika diluar sana, bagi orang yang belum mengenalnya. Terutama kepada wanita-wanita yang selama ini mencoba mendekatinya. Tapi bila dengan keluarganya keadaan justru sebaliknya. Rama sangat terbuka dengan Mama dan Papanya, terutama perihal kekasihnya yang nanti juga bakal jadi
menantu orantuanya itu.
“Sabar Sayang.. Anak mama ini kan pria baik. Percayalah.. Setiap
yang baik pasti juga akan mendapat jodoh yang baik pula, InsyaAllah” Ucap Mama lembut
menenangkan.
“Iya Ram, benar kata Mamamu, kamu sebagai laki-laki wajib
mempersiapkan dirimu menjadi pribadi yang baik, nanti Allah juga akan
memberikan yang terbaik buat kamu” Tambah Papa seraya menepuk bahu anak sulungnya itu. Rama masih diam.
Kembali mereka menikmati makanannya dipiring masing-masing,
Rama kali ini hanya mengorek-orek nasi dipiringnya. Sepertinya kesedihan sudah sangat mengganggu nafsu makannya.
“Papa jadi ingat pesan Oma kamu waktu itu, bukankah Oma
lalu.
“Mama juga Pa, sebelum Mama kritis beliau selalu bercerita
bahwa saat tinggal dengan suami istri penolong itu, Oma dirawat dengan baik oleh putri mereka yang namanya... “ suara Mama terpotong, mengingat-ingat nama gadis
baik yang sudah merawat ibu mertuanya saat hilang.
“Nana Ma.” Rama menyahut.
“Kamu juga masih mengingatnya Nak??” Mama terharu karena
diam-diam ternyata Rama juga masih mengingat pesan Almahumah omanya.
Oma,, Apa ini
keinginan Oma?? Rama
***
Waktu Papa dan Mama Rama masih ada urusan di luar negeri Oma
sempat hilang selama hampir dua minggu, Oma yang memang sudah tua terkadang ingatannya terganggu, sudah sedikit pikun.
Waktu itu Oma jalan jalan di taman bersama perawatnya, saat
ditinggal perawatnya ke toilet sebentar tiba-tiba Oma menghilang. Papa dan Mama Rama pun waktu itu juga langsung pulang dan melakukan berbagai cara untuk mencari Oma, tapi Oma tidak kunjung ditemukan.
Setelah dua minggu berlalu Alhamdulillah Oma pulang, sepasang
__ADS_1
suami istri baik hati yang menolongnya bercerita pada keluarga Hartawijaya bahwa mengetahui status Oma dari tayangan berita televisi.
Awalnya sepasang suami istri ini bertemu dengan Oma dipinggir jalan dekat taman, karena kondisi oma yang kelelahan dan terlihat
kebingungan akhirnya mereka membawa oma pulang ke rumah dan merewatnya sampai
kondisi pulih.
Setelah kondisi kesehatan oma pulih ternyata oma masih belum
ingat siapa namanya juga dimana rumahnya, sampai akhirnya siang itu berita kehilangan dari keluarga Hartawijaya ditayangkan di televisi. Sore harinya oma langsung diantarkan oleh suami istri penolong itu ke rumah keluarga Hartawijaya.
Keluarga Hartawijaya sangat bersyukur dan berniat memberikan
sejumlah uang sebagai tanda terimakasih pada suami istri penolong oma itu, tapi
ternyata niat baik mereka ditolak secara halus oleh suami istri itu. Mereka
menyampaikan bahwa saling tolong menolong merupakan kewajiban sesama muslim. Termasuk
menolong dan merawat oma, itu semua sudah kewajiban dan mereka ikhlas
melakukannya.
Dengan ketulusan seperti itu, Keluarga Hartawijaya tidak
bisa memaksa, Pak Budi hanya berpesan bahwa sewaktu-waktu keluarga suami istri
penolong itu membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi Pak Budi.
Keluarga Hartawijaya pasti akan senang hati membantu.
Setelah tinggal bersama keluarganya kembali, hampir setiap
hari Oma menceritakan kegiatannya waktu berada di rumah keluarga yang menolongnya
itu, semua anggota keluarga sangat baik. Bahkan mereka memiliki seorang putri
yang hatinya seperti malaikat. Selalu menemani nenek ketika tidak kuliah.
Bercanda, menghibur dan merawat oma sudah seperti neneknya sendiri.
Oma sering sekali mengatakan bahwa Rama pasti cocok kalau
menikah dengan gadis itu, selain baik Nana juga memiliki wajah ceria yang
sangat cantik. Tapi karena waktu itu Rama mengatakan bahwa dirinya sudah dekat dengan
Amel, Oma tidak bisa memaksa cucunya itu. Padahal sebenarnya waktu itu Amel dan
Rama belum jadian. Sampai akhirnya sebulan kemudian Oma sakit, kritis dan
akhirnya meninggal.
Sebelum meninggal oma masih sempat mengatakan bahwa oma
pasti akan bahagia kalau Rama bisa berjodoh dengan Nana.
Waktu berlalu memang terlalu cepat, keinginan oma untuk
berkunjung ke rumah keluarga yang menolongnya itu pun juga belum terlaksana.
Oma sudah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
__ADS_1
***