Cinta Raina

Cinta Raina
Hari Minggu (Part 2)


__ADS_3

"Ni mandi apa berendam ya?" pesan whatsapp Rama pada Raina karena merasa terlalu lama menunggu.


Raina yang sudah siap dan akan keluar kamar menghentikan langkahnya karena hpnya berbunyi. Setelah dicek ternyata dari Rama. Raina hanya mendengus setelah membaca pesan itu.


Raina langsung menuju ruang tamu, Rama tentu saja senang begitu melihat Raina sudah siap. Dengan penampilan sederhananya gadis itu tetap terlihat menawan bagi Rama.


Tidak ingin kesiangan, keduanya segera pamit pada bunda Suci. Mencium tangan perempuan paruh baya itu dengan sopan secara bergantian. Memilih menunduk, Raina mengikuti Rama menuju mobil. Setelah semua siap, Rama menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan halaman rumah Raina dengan kecepatan sedang.


"Kita ke pantai mana sih, Kak?" tanya Raina karena sejujurnya dia masih kurang jelas arah dan tujuan mereka pagi ini. Tadi ayah Tono hanya menyampaikan bahwa Rama akan mengajaknya jalan-jalan ke pantai tanpa menyebut pantai mana yang akan mereka tuju.


"Ke kota sebelah aja ya, pantai XX?" kata Rama masih seperti meminta persetujuan padahal sejujurnya dia tidak perlu itu. Kalau dia sudah memutuskan akan kemana, tentu dia akan melaksanakan niatnya itu tanpa perlu persetujuan dari orang lain.


"Ha? Membutuhkan waktu perjalanan berapa lama ini nanti, jauh kan?" ucap Raina sedikit kaget, namun sejujurnya dia merasa senang mendengar itu karena dia belum pernah ke pantai XX ini.


"Gak lama kok, mungkin cuma 2 jam," jawab Rama kemudian melirik Raina sekilas seraya tersenyum. Rama sengaja memilih tempat yang agak jauh karena selain tempat itu indah dia ingin bersama Raina lebih lama hari ini. "Makanya tadi gue niatnya berangkat pagi agar nyampe sana gak kesiangan, tahunya Lo malah belum mandi. Mandinya lama banget lagi," keluh Rama.


"Salah siapa? Kenapa Kak Rama gak bilang dari semalem kalau mau jalan-jalan pagi ini. Eh, tapi Raina gak mandi lama ya. Raina hanya butuh waktu normal untuk bersiap-siap," kata Raina tidak ingin disalahkan. Memang biasanya seorang gadis membutuhkan waktu cukup lama untuk mandi dan merias wajahnya, apalagi kalau akan keluar dengan pria tampan seperti Rama. Namun hal itu tidak berlaku untuk Raina. Raina tetap tampil sederhana dan simpel seperti biasanya.


"Memang kalau gue bilang tadi malem, Lo akan mau?" Rama berpikir kalau mengajak Raina secara langsung sangat sedikit kemungkinan Raina akan mau. Makanya tadi dia meminta ijin langsung pada ayah Tono untuk mempermudah rencananya.


"Ya...," ucap Raina masih sambil memikirkan apa yang akan dia ucapkan. "Ya belum tentu sih," kata Raina kembali berdusta. Sejujurnya dia akan merasa sangat senang apabila Rama mengajak keluar seperti ini.


Rama hanya tersenyum mendengar jawaban Raina."Sudah gue tebak, pasti Lo tadi mau berangkat juga karena Om Tono kan?" Raina diam tak menjawab.


Kenapa Kak Rama berpikir seperti itu?

__ADS_1


Perjalanan pagi ini cukup lancar, untuk menuju pantai itu harus melewati lika liku pegunungan. Berada lebih dari seratus dua puluh kilometer dari pusat kota, perjalanan Rama dan Raina penuh tantangan namun terasa sangat menyenangkan.


"Wah... Bagus banget ya pemandangannya," kata Raina takjub ketika jalan yang dilewati mulai menanjak, mobil menyusuri jalan di pinggiran bukit sehingga sisi yang lain memperlihatkan pemandangan indah hamparan sawah dan rumah penduduk desa jauh di bawah bukit itu.


"Iya, masih terlihat alami. Udaranya juga terasa sejuk," sahut Rama.


"Melihat yang ijo-ijo begini rasanya seger, nutrisi mata." Raina tersenyum melirik Rama seolah mengucapkan terimakasih karena telah memberinya kesempatan menikmati pemandangan seindah itu.


"Lo seneng?"


"Iya, daripada jalan-jalan di Mal mendingan jalan-jalan ke tempat seperti ini. Menikmati indah ciptaan Tuhan," jawab Raina jujur.


" Sebentar lagi sampai ni, Lo pasti lebih seneng lagi kalau disana."


Sepuluh menit kemudian mobil memasuki sebuah gerbang besar yang bertuliskan ucapan selamat datang di pantai XX. Beberapa meter dari gerbang ada sebuah loket lengkap dengan beberapa petugasnya, mobil Rama berhenti kemudian dia membayarkan sejumlah uang untuk tiket masuk pantai sekaligus ongkos parkir mobil. Setelah mendapatkan tiket mobil melaju kembali.


Sudah masuk gerbang dan sudah membayar tiket masuk berarti sudah masuk area pantai, tapi sejauh ini pantai belum juga terlihat. Kok jauh, pikir Raina.


Tak lama kemudian terlihat area parkir yang cukup luas. Bus pariwisata, mobil pribadi, dan sepeda motor sudah banyak yang terparkir disana. Menunjukkan bahwa saat ini sudah banyak pengunjung pantai yang datang. Mobil Rama masuk area parkir, mencari tempat yang masih kosong.


Rama mematikan mesin mobilnya, melepas sabuk pengaman kemudian turun dari mobil. Begitu juga Raina.


"Sudah rame ya," ucap Raina melihat sekeliling. Dia melirik jam tangannya, ternyata sudah jam sepuluh. Hari ini hari minggu, tentu saja banyak orang yang memanfaatkan tempat seperti ini untuk refreshing melepas penat setelah sepekan beraktifitas.


"Ayo!" kata Rama sambil meraih tangan Raina. Raina sedikit terkejut, ini kali pertama Rama melakukannya setelah terakhir kali ketika mereka masih berstatus pacar pura-pura. Raina tidak menolak, mereka berjalan layaknya sepasang kekasih. Mendekat ke area pantai.

__ADS_1


Bibir pantai sudah di depan mata, hamparan pasir putih tampak membentang luas. Ombaknya terlihat cukup tenang. Letak pantai yang berada dekat hutan lengkap dengan pepohonan nan subur membuat suasana pantai begitu asri. Pemandangan indah menyejukkan mata.


Rama dan Raina berjalan bergandengan tangan menyusuri bibir pantai. Rama tersenyum senang melihat ekspresi Raina yang menunjukkan kekagumannya atas pantai ini.


"Ah, indah sekali, Kak," sorak Raina menunjuk jajaran batu karang yang indah tak jauh dari tempat mereka berdiri. Terlihat beberapa remaja tengah asyik berfoto di sekitar batu karang itu.


"Mau foto?" tanya Rama.


"Mau, tapi tunggu mereka pergi ya," kata Raina.


Benar saja, begitu melihat beberapa remaja tadi pergi meninggalkan area batu karang, Raina langsung menarik tangan Rama. Setengah berlari karena takut akan kedahuluan oleh pengunjung yang lain. Rama hanya tersenyum melihat tingkah polos Raina.


"Pak, boleh minta tolong sebentar!" kata Rama setengah teriak begitu melihat seorang petugas pantai yang kebetulan berjalan tak jauh dari mereka. Pria paruh baya itu kemudian mendekat.


"Iya, ada yang bisa saya bantu, Mas?"


"Minta tolong ya, Pak. Tolong ambil foto kami," pinta Rama seraya tersenyum sopan. Mendengar itu, Raina yang tengah asyik selfi tentu saja kaget.


"Oh, baik.. Mana kameranya!"


"Ini, pakai hp saja, Pak." Rama menyerahkan hpnya pada petugas pantai itu.


Rama kemudian menarik Raina, mencari lokasi yang menurutnya pas. Tanpa ragu Rama meminta pada Raina untuk berekspresi ke arah kamera. Beberapa jepretan telah diambil.


"Mas, lebih dekat dong sama mbaknya! Fotonya aneh semua ini," kata petugas pantai itu ketika mengecek hasil jepretannya. Semua foto menunjukkan bahwa keduanya sama-sama canggung.

__ADS_1


__ADS_2