
Minggu-minggu ini tugas kuliah terasa begitu menguras pikiran dan tenaga. Sabtu sore Raina dan dua sahabatnya jalan-jalan di Mal untuk sekedar ngobrol bersama sambil melepas penat.
Mal memang tetap menjadi salah satu alternatif yang menjadi pilihan banyak orang untuk mengisi akhir pekan mereka. Tidak heran bila sabtu sore begini Mal sudah ramai oleh pengunjung.
Tidak pandang usia. Mulai dari anak-anak, muda, dewasa hingga cukup tua banyak yang lalu lalang menikmati sore mereka. Ada yang berjalan beriringan dengan kekasihnya, ada yang dengan sahabatnya dan ada juga yang terlihat asyik bersama keluarganya.
Semua tampak bergembira. Begitu juga dengan Raina dan dua sahabatnya. Mereka keluar masuk dari toko satu ke toko yang lain untuk sekedar melihat-lihat kali aja ada diskon. Meskipun belum tentu membeli, tapi sudah melihat-lihat saja rasanya bisa untuk refreshing, begitu yang mereka rasakan.
Tak disangka, dari sekian banyak yang berkunjung ke Mal tampak seorang pria muda dengan tampang kerennya yang tidak asing bagi Raina dan dua sahabatnya. Dari jauh terlihat jelas bahwa itu adalah Pak Dhani, dosen muda mereka.
Namun sore ini pemandangan yang terlihat cukup membuat berbagai spekulasi pada pikiran mereka bertiga. Bagaimana tidak, Pak Dhani yang terkenal di kampus sebagai dosen muda yang belum punya pasangan, sore ini terlihat bercengkerama dengan asyiknya bersama seorang gadis cantik di dalam sebuah food court Mal itu.
Raina yang sejak awal diketahui mengagumi sosok hangat Dhani, tentu saja merasa lebih kaget dengan apa yang ada didepannya.
"Lhoh Pak Dhani sama siapa itu? bukannya Pak Dhani masih jomblo ya." Veris tidak bisa menahan untuk tidak berbicara.
"Iya.. Mereka terlihat sangat deket gitu." Gita menyahut. Sementara Raina hanya diam seraya memperhatikan Dhani yang sekarang tengah berdiri dari duduknya dan mulai berjalan bergandengan tangan dengan gadis itu.
"Wah Rai sepertinya Lo harus mulai berhenti mengagumi Pak Dhani deh." Veris masih belum mengalihkan pandangannya dari Dhani yang berjalan samakin jauh.
"Ternyata Pak Dhani sudah punya pacar??"
"Entahlah, yang jelas mereka terlihat sangat akrab."
__ADS_1
Berbagai kalimat saling menimpali terdengar diantara mereka. Namun mereka hanya sebatas menduga-duga tanpa mendapat jawaban pastinya.
"Udah-udah, syukur deh kalau Pak Dhani sudah ketemu dengan jodohnya. Itu bukan urusan kita. Yuk kita masuk!! Aku sudah laper," ucap Raina mengajak kedua sahabatnya masuk food court itu.
Veris dan Gita justru merasa aneh, Raina biasanya terlihat antusias sekali bila sudah menyangkut Dhani. Raina sejak awal mengagumi dosen muda mereka itu. Mereka berfikir Raina sudah jatuh cinta padanya. Namun ketika melihat hal seperti tadi ternyata Raina menanggapinya dengan santai. 'Jadi apa sebenarnya yang dirasakan Raina pada Pak Dhani?' begitu yang ada pada pikiran Veris dan Gita.
Setelah memesan makanan sesuai selera masing-masing, mereka mencari meja kosong dan segera duduk.
"Rai, Lo nggak cemburu?? Nggak sakit hati??" tanya Gita pada Raina yang sibuk dengan ponselnya.
"Apa?? Entahlah, awalnya sih tadi gue emang kaget lihat Pak Dhani ngobrol santai dan terlihat akrab dengan gadis tadi itu. Tapi setelahnya biasa aja sih. Aku juga heran."
"Jadi sebenarnya Lo itu hanya sebatas mengagumi?? Bukan cinta??" Veris berdecak mendengar pernyataan Raina. Raina hanya membalasnya dengan mengangkat kedua bahunya.
Mereka berbagi cerita satu sama lain. Saling memberi suport, masukan dan saran untuk setiap masalah yang tengah dihadapi sahabatnya. Selalu jadi bahan paling menarik bila sudah mulai menyangkut hubungan pura-pura antara Raina dan Rama selama ini.
"Jadi mau sampai kapan?" tanya Veris pada Raina.
"Gue juga nggak tahu Ris," jawab Raina disusul seruputan kecil melalui sedotan, meminum jus alpukat yang ada didepannya.
"Hampir tiga bulan Rai, Lo yakin? Meskipun Gue tahu betul kalau Lo gak ada niatan buruk sedikit pun, tapi kalau dipikir-pikir kasihan mama sama mapa Rama lho, Rai." Gita mengutarakan pikirannya.
" Iya Git, gue juga tahu itu. Apalagi tante Sari dan om Budi baik banget sama gue. Tahu gak? Setiap gue datang ke rumah mereka rasanya jantung ini mau copot. Rasa bersalah selalu menghantui gue. Hampir setiap hari gue juga udah ngingetin Kak Rama untuk segera mengakhiri ini," nada sedih keluar dari bibir Raina.
__ADS_1
"Makanya Rai, apapun alasannya tetap lebih baik kalau kalian segera jujur!"
"Makasih Git, Ris, kalian selalu suport gue selama ini. Memang betul gak ada sedikit pun niat gue untuk berbohong. Posisi gue disini hanya ngebantu Kak Rama. Gue juga sayang sama keluarga Kak Rama. Andi juga sudah gue anggap seperti adik gue sendiri. Betul kata kalian, akan lebih baik kalau gue dan Kak Rama segera mengatakan yang sebenarnya," ucap Raina mantab.
"Maksud Raina apa??" tiba-tiba sebuah pertanyaan terdengar dari arah belakang Raina.
Raina dan dua sahabatnya kaget. Veris dan Gita bisa dengan mudah melihat sosok perempuan paruh baya yang kini tengah berdiri dibelakang Raina. Namun tak satupun dari mereka yang mengenali perempuan ayu itu.
Pelan Raina menolehkan wajahnya ke arah belakang. Mencari sumber suara yang tidak asing buatnya. Betapa kagetnya ketika Ia menyadari bahwa Mama Rama yang tengah berdiri disana.
"Eh Tante," suaranya pelan sedikit bergetar. Raina spontan berdiri dari duduknya kemudian meraih tangan perempuan itu dan menciumnya dengan sopan. Gita dan Veris pun demikian, meskipun mereka belum mengenal siapa wanita itu, namun melihat sikap Raina seperti itu membuat Veris dan Gita juga merasa sepantasnya melakukan hal serupa.
"Oh iya, ini Gita dan Veris Tan, sahabat Raina." Raina memperkenalkan dua sahabatnya pada Mama Rama itu."Dan ini tante Sari, mamanya Kak Rama," kata Raina kemudian pada Gita dan Veris.
Mendengar penjelasan Raina membuat Veris dan Gita kompak mengernyitkan dahinya. Siku mereka saling sodok, saling memandang satu sama lain. Tentu mereka sama-sama paham situasi yang akan Raina hadapi setelah ini.
"Gita, Veris, bisa kami bicara empat mata sebentar?" ucap Tante Sari seraya melirik Gita dan veris secara bergantian.
"Oh iya Tan, silahkan! kami permisi dulu." Gita memahami situasi, kemudian menarik tangan Veris dan mereka meninggalkan Raina dengan Mama Rama itu.
Heii.. Gita, Veris, jangan tinggalin guee!! jerit Raina dalam hatinya.
Setelah memastikan sahabat Raina sudah agak jauh, Mama Rama duduk dan diikuti oleh Raina.
__ADS_1
"Tadi kamu bilang harus segera mengatakan yang sebenarnya, maksudnya apa?" Tante Sari mengulangi pertanyaannya pada Raina.