
Raina menoleh, benar ternyata Rama sudah berdiri tepat di belakang kursinya. Rasa gugup menghampiri dirinya, membicarakan Rama dengan Veris dan Gita sedangkan yang dibicarakan ternyata berada didekatnya tentu saja membuat Raina merasa tidak enak.
"Kak Rama." Spontan Raina bangkit dari duduknya.
"Ini, alat peraga Lo ketinggalan di mobil gue." Rama menyerahkan tas kantong berisi alat peraga itu pada Raina. Rasa gugup Raina yang berlebihan saat keluar dari mobil tadi membuat dirinya lupa dengan apa yang dia taruh di kursi belakang.
"Makasih, Kak. Maaf sudah merepotkan Kak Rama."
"Lain kali jangan gini lagi! Ya sudah gue pamit, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Rama berlalu meninggalkan Raina dengan dua sahabatnya. Setengah berlari dia menuju mobil. Memang sudah kesiangan, pasti dirinya telat sampai kantor nanti.
Entah kenapa mendengar percakapan Raina dengan dua sahabatnya tadi membuat perasaan Rama sedikit kacau.
Ternyata benar, tidak ada sedikitpun rasa di hati Raina untuk gue. Tapi kenapa rasanya begitu sakit mengetahui kenyataan ini? Bukankah memang keadaannya seperti ini? Kenapa gue kaget? Gerutu Rama dalam hati.
Jangan bodoh Rama! Raina menerima perjodohan ini pasti karena dirinya anak yang patuh pada orangtuanya, bukan karena cinta. Ingat Rama, bukan karena cinta! Pikiran Rama jadi kemana-mana.
Sedangkan Raina yang masih duduk dengan dua sahabatnya merasa tidak nyaman. Menyadari betapa cerobohnya dirinya sehingga merepotkan Rama pagi ini. Bukan hanya malu tapi dia merasa tidak enak dengan Rama.
"Rai, gue gak nyangka ternyata Kak Rama sepeduli itu sama Lo," ucap Veris mengagetkan Raina yang tengah melamun.
"Iya, ternyata Kak Rama Romantis gitu ya. Meskipun cuek tapi dia peduli sekali. Bagaimana jadinya nanti jika Kak Rama tidak nganterin ini." Gita menunjuk alat peraga itu.
Raina hanya tersenyum, kali ini tidak menanggapi sedikitpun, sebagaimana yang dikatakan Veris dan Gita, Rama memang begitu baik pagi ini hingga dia menyempatkan diri untuk putar balik mengantarkan alat peraga Raina yang tertinggal di dalam mobilnya. Raina juga sangat berterimakasih atas itu.
Tak berapa lama waktu menunjukkan bahwa Raina dan dua sahabatnya harus segera masuk kelas. Mereka bertiga bergegas menuju kelasnya.
__ADS_1
***
Belum jam satu siang Raina sudah keluar kelas, praktikum hari ini berjalan dengan lancar sesuai harapan. Dia sudah bilang pada kedua sahabatnya bahwa siang ini dirinya akan pulang bareng Rama lagi. Sambil menunggu dijemput, Raina melaksanakan shalat duhur dulu di masjid kampus sedangkan dua sahabat kali ini tidak bisa menemani karena mereka harus segera pulang. Veris sudah ditunggu orangtuanya karena akan ada perlu ke luar kota. Sedangkan Gita harus menemani ibunya jualan di depot keluarga mereka.
Tak berapa lama Rama datang. Setelah sampai di area kampus dia langsung menelepon Raina.
"Halo, Assalamu'alaikum. Lo dimana sekarang?" tanya Rama setelah Raina mengangkat teleponnya.
"Wa'alaikum salam. Kak Rama sudah sampai?"
"Iya, ni di tempat tadi pagi."
"Ya udah, Raina segera kesana." Raina segera menutup teleponnya dan setengah berlari dia menuju Rama yang sudah menunggunya.
Mobil Rama sudah terlihat menunggu di tempat mereka janjian tadi pagi. Raina datang dengan setengah ngos-ngosan, langsung masuk ke dalam mobil dan duduk seraya mengatur napasnya yang masih tidak beraturan.
" Lo lari?" tanya Rama pada Raina yang kini duduk di sebelahnya.
"Dasar, ngapain? Nggak akan gue tinggal. Ni minum!" Rama memberikan sebotol air minum pada Raina dan Raina pun segera membuka tutup botol itu dan meneguknya. Rama hanya bisa tersenyum melihat tingkah Raina seperti ini.
Lo memang aneh Rai, dan ini yang membuat Lo terlihat makin lucu.
Setelah Raina selesai minum, Rama segera menyalakan mesin mobilnya dan segera keluar meninggalkan kampus. Hari iniĀ papa Budi sengaja memberi ijin pada Rama agar dirinya tidak perlu kembali ke kantor lagi. Beliau sengaja memberi waktu pada Rama agar putranya itu bisa lebih lama bareng Raina. Berharap dengan sering bersama, cinta antara keduanya bisa segera tumbuh.
Walau bagaimana pun keluarga Raina maupun keluarga Rama akan lebih tenang jika saat pernikahan nanti anak mereka sudah dalam keadaan saling mencintai. Meskipun sifatnya perjodohan, kebahagiaan Rama maupun Raina tetap yang paling utama.
"Lo sudah makan?" tanya Rama tiba-tiba.
"Tadi sudah makan bakso sih di kantin, tapi aku tu berasa belum makan kalau belum makan nasi, hehe" jawab Raina jujur.
__ADS_1
"Apa? Lo aneh ya." Rama mengernyitkan dahinya.
"Aneh? Aneh darimananya?" Raina bingung.
"Biasanya cewek-cewek kan paling menjaga makan mereka, Amel aja takut banget kalau makan nasi," sahut Rama spontan. Belum sempat Raina menyahut, Rama menyadari kata-katanya, dia menutup matanya dalam dan membukanya kembali, tampak menyesal dengan apa yang sudah dia ucapkan. "Sorry, bukan maksud gue ...." Rama takut menyinggung Raina.
"Santai aja, Kak Rama benar sih. Memang dari banyak temen cewek mereka sangat menjaga berat badan mereka, bahkan tidak jarang sampai menyiksa diri hanya untuk pengin kurus," jawab Raina santai. Sebenarnya ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya saat mendengar Rama menyebut Amel. Tapi jangan sampai hal itu terlihat. Raina berpikir akan sangat memalukan bila Rama sampai mengetahui hal itu.
"Gue kira Lo juga seperti itu." Rama tersenyum seraya melirik Raina sekilas.
"Ih ngapain? Hidup cuma sekali Kak, dinikmatin aja. Aku sih mikirnya rugi kalau harus menyiksa diri hanya untuk terlihat indah dipandang orang lain."
"Tapi dengan cara makan Lo yang terkesan cuek, Lo tetep terlihat ideal kok."
"Hem??" Raina sontak menoleh pada Rama, tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut Rama. Kalau boleh jujur, Rasanya senang sekali Raina mendengar itu. Tapi tentu saja hal itu Raina sembunyikan, tersenyum bahagia cukup di hati saja. Hanya saja pipinya yang sudah merona tentu tidak bisa ditutupi. (Benar sih, wanita mana yang tidak bahagia bila dipuji penampilannya ideal, apalagi kalau yang mengatakan itu orang yang spesial di hati kita. Rasanya bahagia melayang gak sih?? Hehehe).
"Jadi, kita makan dimana? Gue juga belum makan," tanya Rama tanpa mengetahui ekspresi Raina saat ini.
"Terserah Kak Rama aja, atau di rumah juga bisa, bunda pasti juga sudah masak untuk makan siang," jawab Raina memberi ide.
"Tapi, gue gak enak sama Tante Suci. Tadi sudah makan pagi di rumah Lo, masa makan siang juga di rumah Lo lagi?"
Raina tertawa mendengar itu. "Kak Rama belum kenal Bunda sih."
"Jadi beneran gak pa pa nih?"
"Iya santai aja, malah kasian nanti kalau bunda sudah capek-capek masak tapi Raina malah makan di luar."
***
__ADS_1
Maaf ya Kakak-Kakak pembaca tercinta, updatenya kali ini sangat telat karena kondisi kesehatan yang kurang mendukung.
Terima kasih bagi yang tetap setia menunggu. (^_^)