Cinta Raina

Cinta Raina
Menilai Perasaan


__ADS_3

***


Beberapa bulan lalu, setelah kebohongan Rama dan Raina terkait hubungan palsu mereka diketahui oleh mama Sari, Rama dan Raina sudah tidak lagi berhubungan. Rama juga sudah memutuskan untuk tidak lagi memikirkan Raina.


Rama menghabiskan malam minggunya bersama dengan Dhani. Hari ini mereka sepakat ingin bertemu karena masing-masing akan menyampaikan hal yang cukup serius dan tidak bisa kalau hanya dibicarakan lewat telepon.


"Hei, sudah lama?" sapa Rama pada Dhani yang terlihat sudah menunggu di sudut sebuah kafe.


"Baru aja. Belum ada lima menit."


Sambil menunggu pesanan makanan datang, mereka asyik menceritakan kesibukan masing-masing.


"Eh iya, katanya mau ngomong penting, ada apa?" tanya Dhani teringat apa tujuan mereka bertemu malam ini.


"Lo juga kan?"


"Iya, Lo duluan deh yang cerita! Nanti gantian gue."


"Lo tahu kan, hubungan gue dan Raina selama ini seperti apa. Sekarang semuanya kacau," ucap Rama memulai ceritanya.


"Maksudnya?"


Rama akhirnya menceritakan pada Dhani bahwa kebohongannya sudah terbongkar. Menceritakan bagaimana marahnya mama Sari dan papa Budi ketika mengetahui itu. Meskipun kini beliau berdua sudah memaafkan Rama maupun Raina, namun kejadian itu tidak bisa dilupakan oleh Rama. Dia sangat menyesal telah mengecewakan kedua orangtuanya. Rama juga berterusterang pada sahabatnya itu bahwa dirinya dan Raina sekarang sudah tidak lagi berhubungan.


"Apa? Lo jangan bercanda deh." Dhani tampak kaget dan tidak percaya mendengar bahwa Rama memutuskan untuk tidak lagi menghubungi Raina.


"Apaan sih, Lo tahu kan selama ini hubungan gue sama dia memang hanya sebuah kebohongan?"


"Kebohongan? Iya hubungan kalian memang sebuah kebohongan, tapi cinta Lo itu sungguhan," kata Dhani tegas.

__ADS_1


Rama mengernyitkan dahinya mendengar kata-kata Dhani. "Dan dengan menceritakan semua ini, gue berharap Lo bisa mengejar cinta Lo. Lo sayang kan sama Raina? Kejar dia, Bro! Gue gak akan ganggu lagi."


"Dasar bocah! Masih aja tidak mau mengakui perasaannya sendiri." Dhani merasa gemas, memasukkan makanan yang ada di piringnya ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan kasar.


"Apa sih, dari tadi Lo ngomong gak jelas." Rama masih belum paham.


"OK, dengerin gue! Jangan bicara lagi sebelum gue berhenti ngomong!" ucap Dhani tegas.


"Lo inget beberapa waktu lalu, saat Lo nginep di apartemen gue? Lo ngigo Bro, ngomong serius padahal mata Lo masih terpejam. Dan gue bisa memahami makna semuanya."


"Emang gue ngomong apa?"


"Lo nyebut-nyebut nama Raina, bahkan Lo bilang 'Jangan tinggalin gue, Rai. Gue sayang sama Lo. Jangan tinggalin gue!', dan tentu saja gue geram dong, Lo tahu gue waktu itu sayang sama Raina kan? Gue sengaja gak bilang terkait ngigo Lo ini karena gue merasa kecewa sama Lo."


"Jangan ngaco!"


"Stttt..." Dhani mengangkat jari telunjuknya, mengisyaratkan bahwa Rama belum boleh bicara.


"Lo terlalu dini menyimpulkan sesuatu."


"Jangan bicara dulu!" ucap Dhani tegas membuat Rama menutup mulutnya seketika.


"Sampai tiba-tiba nyokap dateng ke apartemen dengan Mira."


"Ha? Mira sudah kembali?" Rama kaget mendengar Dhani menyebut nama itu.


"Iya, Mira. Mira yang selama empat tahun ini tidak memberi kabar sama sekali. Gue kaget, dan sebenarnya ini juga yang akan gue sampaikan pada Lo."


"Terus bagaimana?" Rama penasaran, tidak sabar ingin mendengar cerita Dhani ketika Mira datang.

__ADS_1


"Inget dulu! Ini poinnya bukan tentang Mira ya, tapi tentang perasaan Lo pada Raina."


"Ok. Ok." mengalah supaya Dhani segera melanjutkan ceritanya.


" Jadi Mira datang bersama mama, sebelumnya dia sudah mendengar semua tentang gue dari mama. Dan seperti gue, selama kepergiannya empat tahun ini dia tidak menjalin hubungan dengan laki-laki lain meskipun juga tidak dengan gue. Selama ini dia hanya fokus menempuh pendidikan. Tentu saja gue tidak percaya begitu saja. Tapi setelah mendengar dari nyokap dan bokapnya juga, gue mulai merubah pikiran gue."


"Terus?"


"Setelah beberapa hari, ya gue pikir ini memang jawaban atas doa-doa gue waktu itu. Allah mengirimkan Mira supaya gue ikhlas melepas Raina buat Lo. Nyatanya, melihat Mira kembali dan tahu bahwa selama ini dia memegang kata-katanya empat tahun lalu, gue seneng sekali. Entah kenapa setelah Mira kembali yang ada dalam pikiran gue bukan lagi Raina, semua tentang Mira."


"Dasar, itu artinya Lo tu sebenernya sayang pada Raina bukan karena cinta, mungkin karena memang dia gadis yang baik. Dan semua orang pasti nyaman bersamanya kan? Dan sebenarnya hati Lo hanya untuk Mira. Bukankah begitu?"


"Nah ini, Lo memang pintar kalau menilai perasaan orang lain. Terus? Bagaimana Lo menilai perasaan Lo sendiri sama Raina?"


Rama mengacak-acak rambutnya frustasi. "Ok, terserah Lo mau menilai bagaimana perasaan gue terhadap Raina. Itu hak Lo. Yang jelas gue kesini tadi untuk mengatakan itu. Dan ternyata Mira sudah kembali, gue ikut seneng melihat Lo bahagia begini."


"Dan gue juga akan seneng kalau Lo mau memperjuangkan cinta Lo untuk Raina."


"Stop, Dhan! Stop! Setelah kepergian Amel, gue sudah memutuskan untuk fokus dulu dengan perusahaan."


"Astaga, ayolah... Ini Raina, bukan Amel! Sejak kapan sih Lo keras kepala begini?" Dhani tidak mengerti dengan jalan pikiran Rama. Selama ini apa yang disarankan oleh Dhani selalu menjadi pertimbangan utama buat Rama, begitupun sebaliknya. Tapi kali ini tidak sama sekali.


Asal Lo tahu Dhan, Raina gak pernah ada sedikitpun rasa buat gue. Haruskah gue menyiksa perasaan gue sendiri untuk itu? Cukup Amel yang membuat semuanya kacau, jangan ada lagi! Gerutu Rama dalam hati.


Melihat Rama diam, Dhani paham bahwa sahabatnya itu sedang dalam keseriusannya. "Yang jelas saran gue seharusnya Lo memperjuangkan Raina,Bro! Ya tapi kalau Lo sudah memutuskan seperti ini, mau bagaimana lagi. Lo sendiri yang berhak nentuin bagaimana hidup Lo kan? Gue cuma berharap Lo tidak akan menyesali apa yang sudah Lo putuskan saat ini," ucap Dhani serius.


Akhirnya mereka sama-sama diam, menghormati keputusan sahabatnya. Bukan untuk dipermasalahkan, tapi untuk didoakan supaya keputusan yang diambil memanglah yang terbaik.


Malam itu, setelah menghabiskan makanan dan minumannya Rama ikut Dhani pulang ke apartemennya dan menginap di sana.

__ADS_1


Sesuai dengan ucapan Rama pada Dhani, selama dua bulan dia memang fokus pada perusahaan papanya. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk mencoba menerima kenginan omanya terkait perjodohan dirinya dengan gadis yang bernama Nana.


***


__ADS_2