
Kak Lucky? Kapan dia kembali? Raina bertanya dalam hati.
"Raina apa kabar, sudah lama sekali kita tidak bertemu?"
"Raina ... Alhamdulillah baik," jawab Raina cukup singkat.
"Dia siapa, Rai?" tanya Rama sambil melirik ke arah Lucky karena dia belum pernah bertemu dengan laki-laki itu sebelumnya.
"Dia ...," belum selesai Raina menjawab Lucky sudah menyahut terlebih dahulu.
"Gue Lucky, kakak kelas sekaligus mantan pacar Raina dulu waktu SMA," kata Lucky tersenyum ramah seraya menyodorkan tangannya pada Rama untuk berjabat. Dan Rama membalasnya.
"Gue Rama, calon suami Raina."
"Ternyata Lo belum nikah, gue pikir sudah, Rai," ucap Lucky membuat Rama mengernyitkan dahinya.
"Belum, InsyaAllah sebentar lagi." Raina menjelaskan. Ada rasa tidak nyaman pada diri Raina saat ini. Bertemu dengan Lucky merupakan suatu hal yang tidak dia inginkan sejak dulu. Entah kenapa hari ini semuanya terjadi.
"Kami akan menikah dalam waktu dekat." Rama menegaskan.
"Oh iya, ini restoran baru gue, Rai. Setelah pulang ke Indonesia bokap ngijinin gue untuk usaha kecil-kecilan sendiri. Ya mudah-mudahan semua pengunjung suka." Lucky tersenyum dengan pandangannya yang tetap fokus pada Raina. Membuat Rama sedikit jengah dengan situasi di depannya.
Lo semakin cantik, Rai. Kata Lucky dalam hati.
Orangtua Lucky juga seorang pengusaha yang cukup ternama. Namun sejak kecil dia terlihat tidak berminat untuk berkecimpung dalam usaha keluarganya. Lucky sering bermimpi bisa membangun usaha sendiri sesuai dengan bakat dan minatnya. Raina tahu betul mengenai ini, saat mereka dekat dulu, Lucky sering menceritakan bagaimana mimpi dan harapan dia dimasa depan.
Dimasa SMA, Raina dan Lucky merupakan pasangan kekasih antara adik dan kakak kelas yang cukup populer di sekolah. Lucky merupakan ketua OSIS yang tampan dan banyak digandrungi oleh murid perempuan. Mendengar Lucky dan Raina jadian membuat banyak murid perempuan yang sakit hati dan iri. Namun mereka mengakui keserasian antara Lucky dan Raina.
Dalam masanya, Lucky dan Raina selalu saling suport terkait dengan prestasi di sekolah. Lucky dan Raina sama-sama siswa berprestasi. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahi hubungannya ketika Lucky lulus SMA dan melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Mereka terpaksa melakukannya karena waktu itu papa dan mama Lucky memang tidak menyukai hubungan antara putranya dengan Raina.
Lucky dan Raina memang putus dengan baik-baik dan memutuskan untuk tetap berteman. Meskipun begitu, tanpa sepengetahuan Lucky ternyata perpisahan itu menyisakan rasa sakit hati yang cukup dalam bagi Raina. Sampai-sampai mempengaruhi prestasi Raina di sekolah. Raina yang terlanjur merasa nyaman ternyata harus menerima kenyataan bahwa dirinya harus pisah dengan Lucky hingga akhirnya mereka tidak pernah saling berhubungan.
"Restorannya bagus, kami merasa nyaman makan disini," jawab Raina sekenanya karena melihat raut muka tidak suka pada Rama.
__ADS_1
"Gue dipanggil papa untuk ke kantor ini. Lo sudah selesai?" tanya Rama pada Raina.
"Iya, Raina sudah selesai."
Rama kemudian berdiri dari kursinya, Raina pun demikian.
"Terimakasih sudah berkunjung kesini, jangan lupa sering-sering mampir ya, Rai," ucap Lucky kembali.
"Iya. Kami pulang dulu." Rama dan Raina kemudian mulai melangkah meinggalkan mejanya.
"Eh, tunggu! No hp Lo berapa, Rai?" tanya Lucky lagi.
"Maaf kami buru-buru," kata Rama kemudian menarik tangan Raina untuk segera keluar dari restoran. Raina hanya bisa menurut.
Dalam perjalanan Rama dan Raina hanya diam. Raina masih kaget dengan kejadian tadi, dia tidak menyangka bisa bertemu dengan laki-laki yang pernah menjadi sosok spesial dalam hidupnya.
"Lo kenapa?" tanya Rama karena merasa tidak nyaman harus saling diam.
"Jangan bilang Lo masih mikirin laki-laki tadi. Ya emang sih dia tampan, pantas saja Lo dulu waktu putus sampai mengganggu prestasi Lo di sekolah."
Dari mana Kak Rama tahu? Padahal gue gak pernah cerita kan?
"Kak Rama ngomong apa sih, eh tunggu! Diam-diam Kak Rama sudah ngeponin masa lalu Raina ya?"
"Apa sih, buat apa?"
"Ya itu buktinya Kak Rama tahu soal tadi." Raina cemberut sambil menatap keluar jendela.
"Rai, Lo belum bisa move on ya? Gue tahu dari ekspresi Lo tadi ketika laki-laki itu muncul. Gue bisa memaklumi sih, meskipun sebentar lagi kita akan menikah, kita menikah cuma karena perjodohan kan? Gue gak bisa memaksa perasaan Lo."
"Bukankah Kak Rama juga seperti itu? Kak Rama menikahi Raina bukan atas dasar cinta kan?"
Mereka kembali terdiam, semua masih mempertahankan gengsinya. Belum mau mengakui perasaan yang sesungguhnya. Baik Rama maupun Raina, keduanya sama-sama membiarkan pasangannya larut dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
Tak berapa lama akhirnya mereka sampai di rumah Raina. Rumah masih sepi. Ayah Tono masih di toko dan bunda Suci masih ada acara dengan ibu-ibu PKK di kantor kelurahan.
Rama duduk di sofa ruang TV menunggu Raina membuatkan minuman. Beberapa menit kemudian Raina datang membawa dua gelas jus alpokat di tangannya. Raina duduk di samping Rama kemudian menyerahkan satu gelas itu pada Rama.
"Rai, Lo gak usah makan di restoran tadi lagi ya!" kata Rama hati-hati takut disalah artikan oleh Raina.
"Kenapa?" tanya Raina santai. Padahal dia sendiri juga sudah enggan untuk datang kesana setelah tahu bahwa Lucky adalah pemilik restoran yang sedang viral itu.
"Ya, gue gak pengen aja Lo jadi sering ketemu sama laki-laki tadi. Sepertinya dia seneng banget denger kalau Lo belum nikah. Tadi aja waktu gue bilang kita akan nikah sebentar lagi dia masabodoh tidak menanggapi."
"Kak Rama cemburu?" Raina sengaja mengeluarkan kata-kata bodoh hanya untuk iseng memancing reaksi Rama.
"Apaan sih, bukan begitu. Ya meskipun kita tidak saling mencintai, kita sebentar lagi kan akan menikah, kita harus jaga nama baik keluarga. Walau bagaimanapun menikah bagi gue cukup sekali seumur hidup," kata Rama sungguh-sungguh.
Raina menganguk paham, dia setuju dengan apa yang disampaikan Rama. Menikah itu bukan main-main.
Tiba tiba Rama tertawa menatap Raina.
"Apa yang lucu?"
Rama menggerakkan tangannya, mengusap pelan jus alpokat yang belepotan pada bibir Raina. Sontak hal itu membuat Raina gugup. Rama belum pernah bersikap seperti ini. Rama menatap sayu bibir indah itu. Tangan Rama yang tak kunjung beralih dari bibirnya membuat jantung Raina berdegup tidak karuan.
Tuhan, dosakah bila saat ini Rama menginginkan bibir indah ini? Pikiran liar Rama mulai menghantui.
"Kak," suara lirih Raina menyadarkan Rama.
"Eh.. Lo ... Lo ceroboh amat sih, kayak anak kecil, tu jus Lo kemana-mana." Rama spontan menarik tangannya kemudian mengusap-usap tengkuknya salah tingkah.
***
Gemes gak sih ketika nulis sudah dapat 1000 kata lebih tinggal up eh tiba-tiba baterai habis dan drop. Tulisan belum tersimpan dan langsung lenyap seketika. Huhuhu, Author pengen nangis rasanya. Begitulah kisah saat menulis part ini.
Akhirnya beres, Selamat membaca Kakak (^_^)
__ADS_1