
Dengan celana hitam yang dipadukan dengan kemeja lengan panjang
yang simpel penampilan Raina terkesan sederhana, santai namun tetap cantik dan sopan
selayaknya guru les pada umumnya. Setengah empat Raina sudah sampai di depan gerbang sebuah rumah sesuai alamat yang diterima lewat pesan ponselnya, rumah itu terlihat begitu mewah dengan taman indah di halamannya. Memperlihatkan
bahwa penghuni rumah itu tentu bukan orang biasa.
Memasuki gerbang depan langsung disambut oleh pak satpam
dengan sapaan dan berbagai pertanyaan sesuai tugasnya. Setelah menyampaikan
maksud dan tujuannya datang ke rumah ini, Raina langsung dipersilahkan masuk
area rumah. Dengan sedikit info dari pak satpam di depan tadi dia baru menyadari
bahwa calon murid lesnya kali ini merupakan putra
dari Bapak Budi Hartawijaya, pengusaha kaya yang cukup terkenal di kota ini.
Memencet bel yang menempel di samping pintu utama. Tak
berapa lama pintu rumah terbuka.
“Assalamu’alaikum,” salam Raina ketika seseorang membukakan
pintu dari dalam.
“Wa’alaikum salam, Mbak Raina ya?”
“Iya, Bu,” jawab Raina dengan senyum ramahnya.
“Panggil saja bik Yem, Mbak! Saya asisten rumah tangga di
sini.” Tersenyum lalu melanjutkan “Tadi nyonya sudah pesan kalau Mbak datang suruh menunggu di gazebo taman samping, mari saya antar!” jelas bik Yem sambil
melangkah kearah taman dan diikuti oleh Raina.
Terdapat empat kursi yang ditata melingkari sebuah meja. Raina
duduk di salah satu kursi di gazebo itu, mengamati sekitarnya. Mengagumi
keindahan yang terpampang di depan mata.
Wahh luas sekali, duduk
di taman rumah saja serasa piknik ke taman wisata.Udaranya juga sangat nyaman.
Pasti banyak pekerja di sini, tanamannya semua begitu terawat dan tertata rapi.
Bunda pasti senang kalau punya taman seperti ini. Raina tersenyum dengan
khayalannya sendiri.
Tak berapa lama perempuan paruh baya datang, penampilannya cantik,
raut mukanya juga terlihat hangat.
“Raina ya?” mama Sari menyapa dan mengulurkan tangannya ,
Raina membalas kemudian mencium punggung tangan mama Sari.
“Iya, Tante, “ jawab Raina sambil tersenyum ramah.
Duduk di kursi berseberangan dengan kursi yang diduduki
Raina, beliau memulai pembicaraannya “Dhani sudah bercerita banyak tentang kamu
Raina, kamu sangat berprestasi yaa, tante bangga padamu.” Tersenyum tulus mengagumi gadis yang duduk di depannya.
Memang Pak Dhani bercerita sebanyak apa, Tante? Raina
“Mungkin Pak Dhani berlebihan, Tante” Raina terlihat malu.
Mereka berbincang cukup lama sore ini. Sambil menikmati teh
hangat dan kue kering yang dihidangkan oleh seorang asisten rumah tangga, banyak
__ADS_1
hal yang diceritakan terutama tentang Andi anak bungsu mama Sari yang terbilang
sedikit bandel. Andi yang entah berapa kali ganti guru les privat karena alasannya
yang tidak masuk akal.
Andi sudah kelas 3 SMA, sebentar lagi ujian kelulusan dan
setelah lulus tentunya nanti harus menyiapkan diri untuk menghadapi tes masuk perguruan tinggi ternama sesuai arahan papanya. Itu semua jelas tidak mudah. Mama Sari yang memegang penuh perihal mengurus anak sudah hampir menyerah dengan
sikap anaknya ini. Hingga beliau mendapat usulan dari Dhani teman kakak Andi yang kemudian menyarankan Raina sebagai guru les anaknya.
Raina mendengarkan penjelasan panjang lebar mama Sri dengan
saksama sambil membayangkan bagaimana sikap anak yang akan menjadi muridnya
itu. Memikirkan strategi apa yang harus dilakukan kali ini.
Terkait dengan honor dan waktu pelaksanaan les sudah
disepakati. Raina mengucapkan banyak terima kasih karena dia diberi kesempatan
memberikan les privat menyesuaikan dengan jadwal kuliahnya dan tentunya juga
mempertimbangkan sekolah Andi yang full day Senin sampai Jumat. Jika berhasil,
honor yang diberikan nantinya juga cukup besar setiap bulan. Harapan besar bagi
Raina untuk menambah saldo tabungannya. Mereka juga sudah bertukar nomor
telepon untuk memperlancar ke depannya.
“Jadi kamu mulai ngajarnya minggu depan ya. Seandainya anak
itu sudah pulang pasti langsung tante kenalin. Maaf ya, Raina,” ucap mama Sari meminta maaf karena meleset dari rencana awal, rencananya hari ini Raina kenalan sama Andi ternyata Andi hari ini belum pulang, tadi dia telpon katanya masih di sekolah.
“Iya Tante tidak apa apa. Raina permisi pulang ya.”
Raina berpamitan, mencium punggung tangan mama Sari.
“ Iya. Hati-hati ya!”
kakinya menuju motor maticnya yang terparkir di depan rumah megah itu.
“Wa’alaikum salam.”
Benar kata Dhani,
Gadis ini memang cantik. Penampilannya tidak mencolok seperti umumnya gadis
seusianya. Cara bicaranya juga sangat sopan. Sepertinya dia juga rendah hati. Semoga
kali ini Andi cocok dengan kamu Raina. Mama Sari
***
Sampai di rumah Raina langsung membantu bundanya memasak di
dapur, menyiapkan makanan untuk makan malam nanti sambil menceritakan semua hal
terkait pembicaraannya dengan nyonya Hartawijaya tadi. Bunda tentu sangat
bangga pada putrinya tersebut. Doa doa terbaik terucap tulus dari mulut dan
hati beliau.
Raina memang sangat dekat dengan bundanya, apapun yang dia
alami pasti diceritakan kepada bundanya itu, tanpa terkecuali. Tapi kali ini
perihal tabrakan kecil di kampus masih dia simpan, nanti akan dia ceritakan kalau
sudah ada ayahnya di rumah. Luka disikunya pun berhasil disembunyikan di balik
kemeja lengan panjangnya.
“Ayah makan malam di rumah kan, Bun?”
__ADS_1
“Iya, Sayang. Tolong siapkan untuk anak anak ya, bunda mau
ke toilet sebentar”
“Iya, Bun.” Raina sudah paham maksud bundanya itu, dia
menyiapkan tiga kotak makanan untuk makan malam karyawan ayahnya di minimarket.
Biasanya menjelang maghrib ayahnya pulang sebentar untuk shalat jamaah di
rumah, kemudian makan malam bersama. Setelah itu beliau akan kembali ke
minimarket dan membawa makanan yang sudah disiapkan untuk karyawannya.
***
Di ruang keluarga, malam ini seperti biasa Raina beserta
ayah dan bundanya ngobrol hangat, kebiasaan setiap malam yang dilakukan
keluarga itu setelah ayahnya pulang dari minimarket.
Meskipun agak ragu Raina tetap menceritakan perihal dia tidak
sengaja menabrak mobil di kampus tadi siang. Raina juga menceritakan bahwa dirinya
harus mengganti rugi sebesar tiga juta rupiah pada pemilik mobil.
“Apa? Terus bagaimana keadaanmu, Sayang??” Seperti
perkiraan, bunda terlihat sangat khawatir dan mengecek tubuh anak gadisnya itu.
Terkejut setelah menyadari bahwa ada luka di siku putrinya.”Ini ... Ya Allah.
Kenapa tadi sore kamu tidak cerita? Harusnya kita memeriksakan lukamu ini ke
dokter, Sayang.”
“Aduuhhh. Ini sakit banget, Bun.” Pura-pura merengek tapi
terus tertawa lebar. “Tidak apa apa Bunda, ini luka kecil. Habis mandi tadi
juga sudah Na kasih salep kok.”
“Kamu ini.” Bunda mencubit hidung Raina, gemas dengan
kelakuan putrinya.
“Tapi Na, betul tidak ada rasa sakit pada bagian tubuh yang
lain?” Ayah sama paniknya.
“Tidak, Yah. Ini juga sudah tidak sakit kok, beneran.” Raina
menjelaskan dengan senyum meyakinkan. ”Kalau sakit mana mungkin Raina masih bisa
ke rumah keluarga Hartawijaya tadi.” Raina menjelaskan sambil tertawa.
Raina memang seperti itu, sejak kecil dia tidak pernah
cengeng. Meskipun sakit dia selalu menunjukkan keceriaannya. Untuk masalah ganti
rugi, setelah dibujuk dan dipaksa akhirnya dia mengalah, terpaksa menyetujui
bahwa ganti rugi nanti akan ditanggung oleh orangtuanya.
Setengah sepuluh Raina ijin kepada ayah dan bundanya untuk
masuk ke kamar. Hari ini dia merasa sangat lelah dan ingin segera istirahat.
Apalagi besuk dia ada kelas pagi.
Setelah cuci muka dia langsung ganti baju tidur dan
membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Walaupun begitu pikirannya masih terngiang
perihal ganti rugi. Tidak mau menjadi beban pikiran yang nanti bisa mengganggu
__ADS_1
aktifitasnya, dia berfikir harus segera menggantinya. Lebih cepat lebih baik.