Cinta Raina

Cinta Raina
Calon Murid Les


__ADS_3

Dengan celana hitam yang dipadukan dengan kemeja lengan panjang


yang simpel penampilan Raina terkesan sederhana, santai namun tetap cantik dan sopan


selayaknya guru les pada umumnya. Setengah empat Raina sudah sampai di depan gerbang sebuah rumah sesuai alamat yang diterima lewat pesan ponselnya, rumah itu terlihat begitu mewah dengan taman indah di halamannya. Memperlihatkan


bahwa penghuni rumah itu tentu bukan orang biasa.


Memasuki gerbang depan langsung disambut oleh pak satpam


dengan sapaan dan berbagai pertanyaan sesuai tugasnya. Setelah menyampaikan


maksud dan tujuannya datang ke rumah ini, Raina langsung dipersilahkan masuk


area rumah. Dengan sedikit info dari pak satpam di depan tadi dia baru menyadari


bahwa calon murid lesnya kali ini merupakan putra


dari Bapak Budi Hartawijaya, pengusaha kaya yang cukup terkenal di kota ini.


Memencet bel yang menempel di samping pintu utama. Tak


berapa lama pintu rumah terbuka.


“Assalamu’alaikum,” salam Raina ketika seseorang membukakan


pintu dari dalam.


“Wa’alaikum salam, Mbak Raina ya?”


“Iya, Bu,” jawab Raina dengan senyum ramahnya.


“Panggil saja bik Yem, Mbak! Saya asisten rumah tangga di


sini.” Tersenyum lalu melanjutkan “Tadi nyonya sudah pesan kalau Mbak datang suruh menunggu di gazebo taman samping, mari saya antar!” jelas bik Yem sambil


melangkah kearah taman dan diikuti oleh Raina.


Terdapat empat kursi yang ditata melingkari sebuah meja. Raina


duduk di salah satu kursi di gazebo itu, mengamati sekitarnya. Mengagumi


keindahan yang terpampang di depan mata.


Wahh luas sekali, duduk


di taman rumah saja serasa piknik ke taman wisata.Udaranya juga sangat nyaman.


Pasti banyak pekerja di sini, tanamannya semua begitu terawat dan tertata rapi.


Bunda pasti senang kalau punya taman seperti ini. Raina tersenyum dengan


khayalannya sendiri.


Tak berapa lama perempuan paruh baya datang, penampilannya cantik,


raut mukanya juga terlihat hangat.


“Raina ya?” mama Sari menyapa dan mengulurkan tangannya ,


Raina membalas kemudian mencium punggung tangan mama Sari.


“Iya, Tante, “ jawab Raina sambil tersenyum ramah.


Duduk di kursi berseberangan dengan kursi yang diduduki


Raina, beliau memulai pembicaraannya “Dhani sudah bercerita banyak tentang kamu


Raina, kamu sangat berprestasi yaa, tante bangga padamu.” Tersenyum tulus mengagumi gadis yang duduk di depannya.


Memang Pak Dhani bercerita sebanyak apa, Tante? Raina


“Mungkin Pak Dhani berlebihan, Tante” Raina terlihat malu.


Mereka berbincang cukup lama sore ini. Sambil menikmati teh


hangat dan kue kering yang dihidangkan oleh seorang asisten rumah tangga, banyak

__ADS_1


hal yang diceritakan terutama tentang Andi anak bungsu mama Sari yang terbilang


sedikit bandel. Andi yang entah berapa kali ganti guru les privat karena alasannya


yang tidak masuk akal.


Andi sudah kelas 3 SMA, sebentar lagi ujian kelulusan dan


setelah lulus tentunya nanti harus menyiapkan diri untuk menghadapi tes masuk perguruan tinggi ternama sesuai arahan papanya. Itu semua jelas tidak mudah. Mama Sari yang memegang penuh perihal mengurus anak sudah hampir menyerah dengan


sikap anaknya ini. Hingga beliau mendapat usulan dari Dhani teman kakak Andi yang kemudian menyarankan Raina sebagai guru les anaknya.


Raina mendengarkan penjelasan panjang lebar mama Sri dengan


saksama sambil membayangkan bagaimana sikap anak yang akan menjadi muridnya


itu. Memikirkan strategi apa yang harus dilakukan kali ini.


Terkait dengan honor dan waktu pelaksanaan les sudah


disepakati. Raina mengucapkan banyak terima kasih karena dia diberi kesempatan


memberikan les privat menyesuaikan dengan jadwal kuliahnya dan tentunya juga


mempertimbangkan sekolah Andi yang full day Senin sampai Jumat. Jika berhasil,


honor yang diberikan nantinya juga cukup besar setiap bulan. Harapan besar bagi


Raina untuk menambah saldo tabungannya. Mereka juga sudah bertukar nomor


telepon untuk memperlancar ke depannya.


“Jadi kamu mulai ngajarnya minggu depan ya. Seandainya anak


itu sudah pulang pasti langsung tante kenalin. Maaf ya, Raina,” ucap mama Sari meminta maaf karena meleset dari rencana awal, rencananya hari ini Raina kenalan sama Andi ternyata Andi hari ini belum pulang, tadi dia telpon katanya masih di sekolah.


“Iya Tante tidak apa apa. Raina permisi pulang ya.”


Raina berpamitan, mencium punggung tangan mama Sari.


“ Iya. Hati-hati ya!”


kakinya menuju motor maticnya yang terparkir di depan rumah megah itu.


“Wa’alaikum salam.”


Benar kata Dhani,


Gadis ini memang cantik. Penampilannya tidak mencolok seperti umumnya gadis


seusianya. Cara bicaranya juga sangat sopan. Sepertinya dia juga rendah hati. Semoga


kali ini Andi cocok dengan kamu Raina. Mama Sari


***


Sampai di rumah Raina langsung membantu bundanya memasak di


dapur, menyiapkan makanan untuk makan malam nanti sambil menceritakan semua hal


terkait pembicaraannya dengan nyonya Hartawijaya tadi. Bunda tentu sangat


bangga pada putrinya tersebut. Doa doa terbaik terucap tulus dari mulut dan


hati beliau.


Raina memang sangat dekat dengan bundanya, apapun yang dia


alami pasti diceritakan kepada bundanya itu, tanpa terkecuali. Tapi kali ini


perihal tabrakan kecil di kampus masih dia simpan, nanti akan dia ceritakan kalau


sudah ada ayahnya di rumah. Luka disikunya pun berhasil disembunyikan di balik


kemeja lengan panjangnya.


“Ayah makan malam di rumah kan, Bun?”

__ADS_1


“Iya, Sayang. Tolong siapkan untuk anak anak ya, bunda mau


ke toilet sebentar”


“Iya, Bun.” Raina sudah paham maksud bundanya itu, dia


menyiapkan tiga kotak makanan untuk makan malam karyawan ayahnya di minimarket.


Biasanya menjelang maghrib ayahnya pulang sebentar untuk shalat jamaah di


rumah, kemudian makan malam bersama. Setelah itu beliau akan kembali ke


minimarket dan membawa makanan yang sudah disiapkan untuk karyawannya.


***


Di ruang keluarga, malam ini seperti biasa Raina beserta


ayah dan bundanya ngobrol hangat, kebiasaan setiap malam yang dilakukan


keluarga itu setelah ayahnya pulang dari minimarket.


Meskipun agak ragu Raina tetap menceritakan perihal dia tidak


sengaja menabrak mobil di kampus tadi siang. Raina juga menceritakan bahwa dirinya


harus mengganti rugi sebesar tiga juta rupiah pada pemilik mobil.


“Apa? Terus bagaimana keadaanmu, Sayang??” Seperti


perkiraan, bunda terlihat sangat khawatir dan mengecek tubuh anak gadisnya itu.


Terkejut setelah menyadari bahwa ada luka di siku putrinya.”Ini ... Ya Allah.


Kenapa tadi sore kamu tidak cerita? Harusnya kita memeriksakan lukamu ini ke


dokter, Sayang.”


“Aduuhhh. Ini sakit banget, Bun.” Pura-pura merengek tapi


terus tertawa lebar. “Tidak apa apa Bunda, ini luka kecil. Habis mandi tadi


juga sudah Na kasih salep kok.”


“Kamu ini.” Bunda mencubit hidung Raina, gemas dengan


kelakuan putrinya.


“Tapi Na, betul tidak ada rasa sakit pada bagian tubuh yang


lain?” Ayah sama paniknya.


“Tidak, Yah. Ini juga sudah tidak sakit kok, beneran.” Raina


menjelaskan dengan senyum meyakinkan. ”Kalau sakit mana mungkin Raina masih bisa


ke rumah keluarga Hartawijaya tadi.” Raina menjelaskan sambil tertawa.


Raina memang seperti itu, sejak kecil dia tidak pernah


cengeng. Meskipun sakit dia selalu menunjukkan keceriaannya. Untuk masalah ganti


rugi, setelah dibujuk dan dipaksa akhirnya dia mengalah, terpaksa menyetujui


bahwa ganti rugi nanti akan ditanggung oleh orangtuanya.


Setengah sepuluh Raina ijin kepada ayah dan bundanya untuk


masuk ke kamar. Hari ini dia merasa sangat lelah dan ingin segera istirahat.


Apalagi besuk dia ada kelas pagi.


Setelah cuci muka dia langsung ganti baju tidur dan


membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Walaupun begitu pikirannya masih terngiang


perihal ganti rugi. Tidak mau menjadi beban pikiran yang nanti bisa mengganggu

__ADS_1


aktifitasnya, dia berfikir harus segera menggantinya.  Lebih cepat lebih baik.


__ADS_2