
Orang bijak tentu akan menyikapi rasa sakit yang diberikan oleh orang lain dengan memaafkan kesalahan orang lain itu. Tidak perlu memperkeruh keadaan dengan terus membahasnya apalagi membalasnya.
Sesungguhnya memberi maaf akan memberikan ketenangan dan ketentraman hati. Hidup pasti akan lebih bahagia.
***
Salah satu asisten rumah tangga menuju kamar utama untuk memberikan info kepada nyonya besarnya bahwa Raina sudah menunggu di ruang tengah. Mendengar itu mama Sari segera keluar kamar. Berbeda dengan beberapa hari lalu ketika di mall, hari ini perasaan beliau sudah tenang. Rasa kecewa pada Raina juga sudah berkurang.
"Rai," sapa mama Sari pada Raina yang tengah duduk sopan di sofa sambil memainkan hpnya.
"Iya, Tante." Raina mulai gugup.
"Rama mana?" tanya beliau karena tidak melihat putranya disekeliling.
"Masih di kamarnya, Tan. Katanya mau shalat Asar dulu."
Raina bingung mau mulai berbicara. Awalnya dia berfikir akan menjelaskan semuanya bersamaan dengan Rama. Ternyata Rama tak kunjung keluar dari kamar.
"Maaf, Tante bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri?"
"Raina juga baik." Raina kaget, tiba-tiba mama Sari menggeser duduknya tepat di samping dirinya. Memegang tangan gadis manis itu. Tangan Raina terasa berkeringat dibuatnya.
"Raina."
"Tante."
Kedua kalimat itu terucap bersamaan dari bibir keduanya. Membuat mereka tersenyum dengan kata-kata mereka sendiri.
__ADS_1
"Maaf, Tante. Bolehkah Raina berbicara lebih dulu?" Raina memberanikan diri. Menyadari tindakannya ini sebenarnya kurang sopan tapi terpaksa harus dia lakukan karena tujuan utamanya berkunjung ke rumah itu adalah untuk meminta maaf pada beliau.
"Bicaralah!" Mama Sari menganggukkan kepala dibumbui senyum hangatnya.
"Tante, Raina ... Jujur Raina bingung harus mulai dari mana. Terlalu besar kesalahan Raina pada Tante. Raina berterima kasih sekali karena Tante mengijinkan Raina untuk datang kesini. Raina minta maaf karena kemarin telah melakukan sesuatu yang sangat bodoh." Raina menghela napas, suaranya sangat pelan dan mulai bergetar. "Sungguh, Raina minta maaf, Tante. Raina dan Kak Rama dengan sengaja ...," kata-kata Raina terputus.
"Sssstt ...." Mama Sari menempelkan jari telunjuknya pada bibir Raina. Menyuruhnya untuk berhenti berbicara.
"Jangan diteruskan! Tante sudah tahu semuanya. Kamu melakukannya karena terpaksa kan? Rama yang menjadi penyebab semua ini. Sudah, jangan dibahas lagi!"
"Jadi Tante memaafkan Raina?" Raina mulai berkaca-kaca.
"Iya, Sayang. Tante sudah memaafkan Raina maupun Rama. Bukankah tidak baik kalau terus-terusan marah. Nanti malah menjadi beban hidup tante." Mama Sari tersenyum hangat, beliau mengusap air mata yang mengalir pada pipi Raina.
"Tante, Tante memang baik sekali. Terima kasih, Tante." Raina memeluk mama Sari erat. Merasakan kelegaan dalam hatinya.
Mama Sari melepas pelukannya."Yang penting kalian harus janji, jangan melakukan hal seperti ini lagi ya. Jadikan semua ini pengalaman berharga bagi kalian agar kalian menjadi lebih baik didepan nanti!" kata Mama Sari serius.
Mereka berdua mengangguk kompak, mendengarkan dan memahami apa yang dikatakan oleh mama Sari itu.
"Oh iya, Ma." Rama mengambil setangkai bunga mawar putih yang tadi dia taruh di atas meja."Ini, Raina sengaja membeli ini sebagai simbol ketulusannya untuk minta maaf pada Mama." Rama memberikan bunga itu pada mamanya.
"Iya? Ya Allah, Rai. Kamu kok tahu kalau tante paling suka bunga mawar putih. Makasih, Sayang." Mama Sari menerima bunga itu kemudian kembali berhamburan memeluk Raina. Raina justru mengernyitkan dahinya ke arah Rama, Raina kaget dibuatnya. Rama memberikan kode supaya Raina mengikuti jalan pikirannya.
"Iya, Tan. Sama-sama."
"Rama memang pernah mengatakan kalau mama sangat suka bunga mawar putih seperti ini, Rama tidak menyangka kalau Raina benar-benar mengingatnya." Rama tersenyum meyakinkan.
Apa maksud Kak Rama? kenapa Kak Rama melakukan ini semua untuk Raina?? Raina tidak habis pikir, semua yang terjadi tentang bunga mawar putih itu jauh diluar dugaannya tadi. Lagi-lagi Raina salah menebak jalan pikiran Rama.
__ADS_1
Melihat mama Sari tersenyum senang tentu saja membuat mereka bahagia. Terutama Rama, dia senang sudah memberikan sedikit kebahagiaan buat mamanya. Meskipun kali ini Rama masih memanfaatkan Raina.
Meskipun kini sudah ketahuan, Raina bukan lagi kekasih Rama, tapi mama Sari berharap Raina tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga Hartawijaya. Bagaimana pun Raina juga sudah memberikan banyak kebaikan pada keluarga mereka. Berkat kecerdasan dan ketulusan Raina, dia bisa merubah Andi. Andi menunjukkan kemajuannya dalam nilai sekolahnya. Les privatnya dengan Raina bisa dibilang berhasil. Itu merupakan anugrah yang sangat disyukuri oleh mama Sari.
Setelah memastikan semuanya berjalan sesuai harapan, Raina minta tolong pada Rama untuk segera mengantarnya pulang. Raina tidak enak kalau harus pulang malam.
Papa Budi yang baru pulang dari kantor terlihat tersenyum cerah melihat istri dan anaknya yang sudah bercanda ria di ruang keluarga. Beliau tahu bahwa keadaan keluarganya kini sudah membaik seperti semula. Papa Budi sangat bersyukur.
Setelah melaksanakan shalat maghrib, Raina diantar pulang oleh Rama. Dia meminta maaf karena tidak bisa gabung makan malam bersama keluarga Hartawijaya. Raina tadi sudah janji pada bunda Suci bahwa dia akan makan malam di rumah. Mama Sari memahami posisi Raina, beliau mengijinkan Raina pulang.
Benar saja, setelah sampai di rumah, ternyata bunda Suci sudah menyiapkan semuanya. Berbagai menu masakan sudah tertata rapi di meja makan.
"Assalamu'alaikum." Raina memberi salam sambil membuka pintu rumahnya.
"Wa'alaikum salam," jawab bunda Suci dari dalam. Mengetahui anaknya datang, beliau langsung menghampiri.
Setelah selesai cium tangan, Rama segera berpamitan karena menganggap tugas mengantarkan Raina sudah beres. Dia berpikir akan lebih baik kalau langsung pulang kembali.
"Kenapa buru-buru? masuk dulu! kita makan malam bersama, kebetulan tante masak agak banyak hari ini," ajak bunda Suci pada Rama.
"Tapi, Tante." Rama sedikit ragu.
"Sudahlah, gak baik menolak rejeki. Lagian ini sudah jam makan lho," kata bunda Suci sambil tersenyum.
Akhirnya Rama merasa tidak enak untuk menolak. Dia memutuskan menerima ajakan bunda Suci. Untuk pertama kalinya Rama menerima tawaran makan malam di rumah itu. Saat makan Rama merasa sangat canggung. Dia baru menyadari bahwa bunda Suci merupakan pribadi yang sangat lembut, menurutnya beliau mirip dengan mama Sari. Untuk masalah makan, bahkan bunda Suci tanpa canggung melayani Rama seperti pada anaknya sendiri.
Setelah selesai makan malam, Rama tidak lupa mengucapkan terimakasih pada bunda Suci kemudian dia berpamitan.
Hari ini lagi-lagi Rama tidak bertemu dengan ayahnya Raina. Tak disangka setelah mobil Rama keluar dari halaman rumah Raina,mobil ayah Tono datang.
__ADS_1