
Belum separuh perjalanan, tiba tiba Raina merasa ada yang tidak beres dengan motor yang sedang dikendarainya.
“Ya Tuhan.. kenapa tiba-tiba bocor, tadi baik baik aja” ucap Raina gusar ketika Ia menghentikan motornya di pinggir jalan dan mengecek keadaan roda belakangnya.
Raina menoleh kanan kiri, melihat keadaan sekitar berharap ada tukang tambal ban di sekitar sini. Tapi nihil, tidak satu pun Ia menemukannya.
Tak berapa lama ketika Raina belum menemukan solusi ada sebuah mobil yang menghampirinya. Mobil itu menepi di pinggir trotoar dekat motor Raina. Pintu depan bagian sopir terbuka, Pria muda tampan bertubuh tegap dengan pakaian santainya turun dari mobil itu.
Raina kaget, mendadak gugup melihat pria yang tak asing baginya kini berjalan mendekatinya.
“Raina, ada apa??”
“Pak Dhani.. kenapa Bapak bisa disini?” Raina tidak bisa menutupi wajah kagetnya.
“Kamu itu lucu, ditanya balik nanya” Dhani tersenyum.
“Eh,, Ini Pak, motor saya bocor” Raina menunjuk roda belakang motornya yang kini sudah kempes.
Dhani jongkok, mengecek roda yang sudah kehabisan udara itu. Mengangguk-angguk pelan menunjukkan bahwa Ia memahami penyebab kebocoran roda itu.
Seperti Raina, Dhani juga terlihat menoleh kanan kiri mencari cari siapa tau ada tukang tambal ban sekitar sini.
“Tidak ada Pak” Raina tau maksud tingkah dosennya itu.
Dhani berfikir sejenak, kemudian berdiri.
“Sebentar biar saya telpon bengkel langganan saja, tidak jauh dari sini”
Dhani mengambil ponsel dari saku celananya kemudian menelpon seseorang. Terdengar percakapan singkat yang isinya Dhani menyuruh orang bengkel untuk mengurus motor yang ada dialamat Dhani dan Raina sekarang berada.
“Terimakasih Pak” Raina merasa lega akhirnya motor bocornya bisa segera diatasi.
“Iya, tidak masalah” Dhani tersenyum.”Kamu dari mana mau kemana?”
“Mau pulang Pak, abis ngeles dari rumah Andi”
“Oh iya,, dari kemarin saya mau tanya ini. Gimana perkembangan kamu dengan Andi, Apa baik-baik saja?”
“Alhamdulillah aman Pak, baik kok.Semua berjalan lancar” Jelas Raina, muka ceria memperlihatkan antusiasnya yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa bantuan dari Dhani yang sudah memperkenalkan dirinya dengan keluarga Andi selama ini berhasil. Semua berjalan sesuai keinginan.
“Syukurlah..”
“Pak Dhani sendiri, dari mana mau kemana?” Raina memberanikan diri bertanya.
“Ini juga mau kesana, ke rumah Andi”.
“Ooh.. “
__ADS_1
Tak berapa lama sebuah mobil bengkel dengan bak terbuka datang, motor Raina dibawa. Orang itu menjelaskan bahwa motor Raina baru bisa diambil besuk karena bengkel sudah waktunya tutup.
“Ayo kuantar pulang” tawar Dhani begitu mobil bengkel yang membawa motor Raina berlalu. Ia sadar waktu sudah menunjukkan semakin sore.
Raina belum menjawab, Ia rikuh bingung mau menjawab apa. Satu sisi Raina begitu senang, dengan menjawab ‘Iya’, Ia bisa diantar pulang oleh dosen yang ada didepannya ini. Tapi disisi lain Ia juga merasa tidak enak dengan orang tuanya. Selama ini Raina memang tidak pernah diantar pulang oleh seorang laki-laki.
“Emm.. terimakasih tawarannya Pak, tapi maaf.. Raina naik ojek aja” Jawab Raina
“Kenapa,, saya juga tidak sedang terburu-buru. Ke rumah Andinya nanti malam juga bisa” Dhani menjelaskan.
“Tidak apa-apa Pak,, Hanya sajaa..” Raina ragu menjawab, takut Dhani berfikir yang tidak-tidak.
“Iya..iya.. tidak perlu merasa tidak enak seperti itu” Dhani tersenyum, mencoba memahami posisi Raina. “Juga tidak perlu panggil saya Pak kalau sedang tidak di kampus seperti sekarang”, tambah Dhani membuat Raina sedikit tercengang.
“Tapi Pak”
“Santai saja, malah serasa begitu tua kalau kamu terus terusan panggil pak kayak gini”, kemudian gelak tawa terdengar dari mulut keduanya.
Percakapan ringan mulai terjalin, Raina juga sudah memberanikan diri mengganti sapaan buat dosennya itu.
“Apa Kak Dhani juga bagian dari keluarga Hartawijaya?” Raina kembali bertanya.
“Oh bukan.. Hanya saja kami dulu pernah tetanggaan, dan anak sulung dari keluarga Pak Budi bersahabat baik dengan saya, sampai sekarang”.
“Ooo bersahabat dengan Kakaknya Andi”
Dhani memutuskan menemani Raina sampai ojek yang dipesan datang. Setelah sekitar lima belas menit ojek itu baru datang dan akhirnya Raina pulang.
Dhani memandangi punggung gadis yang pamit meninggalkannya itu. Ia tersenyum dan baru masuk kedalam mobilnya ketika ojek yang membonceng Raina sudah tidak terlihat.
***
Cahaya bulan malam ini mampu menembus tirai dibalik kaca jendela, jatuh menerpa wajah cantik Raina yang tengah senyum senyum di atas tempat tidurnya.
Raina masih membayangkan kejadian tadi sore. Dhani, dosen baik hati yang diam-diam Ia kagumi selama ini tiba-tiba datang bak malaikat utusan Tuhan yang membantu ketika dirinya memerlukan bantuan.
Dhani memang baik, pribadinya juga lembut. Mungkin karena usianya yang masih muda, Ia cukup mudah untuk dekat dan bergaul dengan mahasiswanya. Termasuk dengan Raina.
“Na.. “ Suara Bunda diluar kamar memecah lamunan indah Raina.
“Iya Bun..” Raina sedikit kaget, kemudian turun dari tempat tidur, berjalan dan meraih gagang pintu kamarnya.
“Ada apa Bun?” tanya Raina setelah membuka pintu kamarnya.
“Kamu gak laper?”
“Eh iya..” Raina cengengesan, milirik jam dinding yang terpajang ditembok kamarnya, ternyata sudah waktunya makan malam.
__ADS_1
Baru membayangkanmu saja rasa laparku sudah hilang, Kak Dhani. Raina tersenyum.
“Kamu kenapa Sayang?” Bunda bingung melihat putrinya senyum senyum tidak jelas.
“Tidak apa apa Bundaa” menutup pintu kamar kemudian mensejajari Bundanya yang berjalan menuju ruang makan.
“Pasti sedang jatuh cinta” Bunda menebak.
“Bundaa..” Raina kesal, menunjukkan raut sebal seperti anak kecil seraya bergelayutan dilengan bundanya.
Ayah yang sudah siap dimeja makan hanya bisa senyum senyum melihat tingkah dua bibadari didepannya itu. Istri dan putri kecilnya. Putri yang sudah semester enam tapi masih dianggap putri kecil. Hehehe
“Eh Ayah sama Bunda dulu kenalnya bagaimana?” sambil makan Raina tiba tiba bertanya, sebuah pertanyaan yang terdengar menggelitik bagi kedua orangtuanya.
“Ada apa?? Tumben sekali. ” Ayah heran namun tersenyum.
“Tuh kan Yah, bener kata bunda. Sepertinya putri kita ini memang sedang jatuh cinta” Imbuh Bunda seraya melirik melihat reaksi putrinya.
Raina mendengus kesal. “Ayolah Bun.. cerita dikiit aja”. Raina kembali merengek.
“Biar Ayahmu tuh yang cerita” Bunda tersenyum, mengingat kisah cintanya ketika masih muda dulu.
“Asal kamu tahu, Bundamu ini dulu cantik banget, bunga desa pada waktu itu. Sekarang juga masih sama, cantik.” Ayah menggebu memulai ceritanya, tersenyum senang melihat wajah istrinya yang mulai merona.
“Iya?? Ahh.. Na baru tahu, Ayah ternyata bisa juga merangkai kata romantis” Ucap Raina bangga.
“Dan sama, Ayah juga pemuda tampan yang jadi rebutan di kampung.” Giliran Ayah yang tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
“Ah.. gak bener kalau yang ini, Ayah nambah nambahin tu”. Bunda memotong, sementara Ayah mulai cekikikan.” Jadi gini Na, Bunda dulu pertama kali ketemu Ayah waktu ada pasar malem di kampung.”
“Terus??” Raina tidak sabar.
“Waktu ituu..” Bunda mengingat ingat, “Beda dengan di kota, kalau di kampung pasar malam tuh rame banget, jarang-jarang kan penduduk kampung dapat hiburan gratis.Ditengah keramaian itu beberapa pria iseng dari luar desa godain Bunda,, Dan gak tau, tiba-tiba Ayahmu datang menghampiri Bunda, menarik tangan Bunda dengan paksa tanpa mengucap sepatah kata pun. Dan langsung mengantarkan Bunda pulang”
“Tiba-tiba?? Jadi Bunda sebelumnya tidak mengenal Ayah?? Dan Ayah seberani itu??” Raina makin penasaran.
Ayah tidak bergeming, mengusap usap tengkuknya seraya sedikit tersenyum, seperti anak kecil yang ketahuan sikap bandelnya.
“Bunda kesal dong, tapi entahlah.. sejak kejadian itu Ayah dan Bunda jadi sering bertemu. Ayah itu anak kepala desa yang sedikit tertutup..Sekolahnya di kota. Bukan hanya Bunda, gadis desa yang lain juga sama. Jarang yang bisa berkenalan dengan Ayah. Tapi ternyata diam diam Ayahmu menyukai Bunda” Bunda tersipu.
“Aahhh, Jadi gemes.. Ternyata Ayah keren”
Seperti itulah, malam ini Raina sedikit mengetahui bagaimana awal kisah cinta Ayah dan Bundanya. Terselip rasa kagum dan bangga, apalagi melihat Ayah dan Bundanya selalu harmonis. Dulu, sekarang dan sampai akhir nanti.
__ADS_1