
Matahari belum menampakkan sinarnya, Rama sudah dari tadi selesai shalat subuh. Hari ini dia memang bangun lebih awal dari biasanya. Pikirannya belum bisa tenang sehingga dia merasakan malam terasa begitu panjang.
Saat-saat seperti ini biasanya selalu ada Dhani sebagai tempat berbagi keluh kesah Rama. Sahabat yang selalu ada dan menemani saat keadaan suka maupun duka. Sahabat yang selalu membantu dan memikirkan untuk mencari solusi ketika ada masalah seperti ini. Namun kali ini berbeda. Karena masalah ini berkaitan dengan Raina, Rama mengurungkan niatnya untuk berbagi cerita dengan sahabatnya itu. Rama paham betul bagaimana perasaan Dhani pada Raina. Rama tidak ingin terjadi hal-hal diluar dugaannya yang takutnya nanti justru memperkeruh suasana.
Untuk saat ini dia akan berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri. Masih duduk ditepi ranjang tidurnya, dia mengamati dengan saksama pesan bunda Raina yang beliau kirim lewat wa Raina kemarin. Pesan yang menunjukkan alamat rumah Raina yang selama ini sedikit pun tidak pernah tertarik untuk Rama ketahui.
Setelah beberapa waktu, Rama keluar dari kamarnya dan turun mencari mama Sari. Dia ingin menyampaikan apa yang semalam tertunda.
Ternyata mama Sari sudah berada di ruang makan. Melihat itu, Rama setengah berlari menghampiri beliau.
"Selamat pagi, mama." Ucap Rama seceria mungkin sambil memeluk dan mencium pipi mama Sari sekilas. Berharap perasaan mamanya sudah mencair dan sudah mulai memaafkan kesalahannya kemarin itu.
"Iya, pagi." Jawab mama Sari sekilas, masih terdengar kaku. Menunjukkan perasaan pemiliknya yang belum mencair sempurna.
Ah.. Mama sepertinya masih marah.
Rama menarik sebuah kursi tepat disamping mamanya kemudian segera duduk.
"Tumben jam segini kamu sudah turun?" Mama Sari melirik putranya. "Kamu tidak ke kantor?" Baru menyadari bahwa putra sulungnya itu masih menggunakan baju santainya.
"Hari ini Rama ijin, Ma. Rama akan menyelesaikan masalah Rama dulu."
"Kamu sehat, kan?" Mama Sari mulai panik. Takut kalau anaknya sakit.
__ADS_1
Rama menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum, kemudian memberanikan diri meraih kedua tangan mamanya.
"Ma.. Rama benar-benar minta maaf atas kesalahan Rama kemarin. Rama terlalu bodoh hingga membuat kekacauan seperti ini. Rama menyesal, Ma. Mama mau kan memaafkan Rama?" Rama menggenggam tangan mamanya erat, matanya mulai berkaca-kaca. Suasana menjadi begitu hening. Mama Sari yang melihat ketulusan putranya juga ikut terharu. Beliau tidak bisa menahan hingga matanya kini juga mulai berkaca-kaca.
"Rama.." Suara mama Sari bergetar.
"Ma.. Mama jangan nangis!" Rama benar-benar tidak tega kalau harus melihat mamanya menangis. "Rama janji, Rama akan berusaha menjadi yang lebih baik. Rama banyak belajar dari kejadian ini. Maafkan Rama ya, ma!" Ucap Rama penuh harap.
Mama Sari menangkupkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi Rama. Tak terasa buliran air bening kini jatuh dari pelupuk mata beliau, mengalir membasahi pipi. "Iya, iya sayang. Mama memaafkanmu. Tapi kamu harus janji sama mama, Jangan bikin kesalahan seperti ini lagi!" Ucap mama Sari putus-putus. Rama mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian membasuh lembut air mata dipipi mamanya itu. "Mama memaafkanmu." Ucap mama Sari yang membuat Rama berhampuran dalam pelukan mamanya. Sedangkan mama Sari semakin merasa terharu. Aliran air matanya tak terasa semakin banyak.
Rama menemukan kenyamanannya kembali, memeluk mamanya semakin erat. Bahkan sesekali terdengar tawa kecil dari keduanya.
"Janji ya, jangan buat mama dan papa kecewa lagi. Terkait apapun, kamu harus jujur. Mama dan papa akan selalu berusaha memberikan yang terbaik buat kamu dan Andi. Kebahagiaan kalian yang paling utama untuk mama dan papa. Maafkan mama dan papa bila akhir-akhir ini membuat kamu tidak nyaman, kami terkesan memaksa kamu untuk segera mendapatkan pendamping hidup. Maafkan kami, sayang." Ucap mama pelan seraya mengelus-elus punggung Rama yang kini masih dalam pelukannya.
Tanpa mereka sadari, dua pasang mata tengah mengamati mereka berdua. Andi dan papa Budi ternyata sudah berdiri di dekat ruang makan sejak tadi, sengaja mereka berdua memberi kesempatan kepada Rama dan mama Sari untuk saling menumpahkan perasaan mereka masing-masing. Andi maupun papa Budi ikut bahagia melihat kenyataan yang kini ada didepan mata.
"Alhamdulillah.. Papa seneng melihatnya." Ucap papa Budi seraya menarik kursi kemudian duduk disamping istrinya.
"Andi juga. Andi tadi kaget banget mendengar cerita papa. Tapi melihat mama dan kak Rama seperti ini, Andi sudah lega sekarang." Kata adik Rama yang baru tahu kalau Rama sedang dalam masalah karena ketahuan bahwa Rama dan Raina ternyata hanya menjalin kasih pura-pura.
Mendengar kedatangan papa Budi dan Andi, spontan Rama dan mamanya melepas pelukan mereka. Keduanya kompak mengusap sisa-sisa air mata pada pipinya masing-masing. Senyum juga mulai terkembang pada bibir keduanya.
"Kalau begini kan enak." Papa Budi tersenyum penuh syukur.
__ADS_1
"Terima kasih ya, ma pa." Kata Rama kemudian.
Tak berapa lama dua asisten rumah tangga menyiapkan sarapan. Hari ini ada hidangan nasi goreng jawa. Namun pagi ini Andi memilih untuk minum susu dan makan roti tawar selai nanas saja. Dan Rama hanya minum susunya.
Andi sudah siap ke sekolah dan sudah lengkap berseragam. Meskipun ujian nasional sudah selesai, namun masih ada ujian lain yang harus ditempuh dengan baik juga.
Papa Budi sudah siap dengan penampilannya untuk ke kantor. Terlihat rapi dan berwibawa. Sedangkan Rama masih santai dengan kaos oblongnya.
"Ma.. Mama sudah memaafkan Rama. Mama juga mau memaafkan Raina kan?"
"Iya, sayang. Mama juga salah kalau terlalu menyalahkan Raina. Bagaimana pun Raina niat awalnya kan hanya membantu kamu. Karena paksaanmu sih." Rama tersenyum malu mendengarnya. Memang benar, Raina terpaksa mengikuti kemauan Rama karena dia tidak punya pilihan lain kala itu.
"Kalau begitu, bolehkan Rama mengajak Raina main kesini?? Kata bundanya, Raina sampai sakit karena memikirkan ini semua. Raina merasa sangat bersalah pada mama."
"Ya Allah.. Terus sekarang keadaannya bagaimana?" Mama Sari kaget.
"Rama sebentar lagi mau ke rumahnya, Ma. Rama juga belum tahu keadaan Raina sekarang. Mudah-mudahan dia sudah sembuh."
Selesai makan Rama naik ke atas menuju kamarnya. Dia bersiap-siap untuk ke rumah Raina. Perasaannya kini sudah mulai membaik, mama Sari sudah memaafkan dia. Sekarang keadaan Raina yang masih terngiang dalam kepala Rama. Rama terus berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada Raina.
Sudah tidak bisa menunggu lebih lama, setengah delapan Rama pamit berangkat. Sebelum menyalakan mesin mobilnya, dia kembali mengecek pesan wa dari bundanya Raina untuk memastikan alamat rumah Raina.
Dengan niat yang tulus, Rama akan segera menemui Raina.
__ADS_1