
"Bagaimana, Rai?" tanya Rama pada Raina, sudah hampir setengah jam mereka berdiskusi di dalam kamar Raina. Rama sudah menyampaikan pendapatnya, keputusan terakhir di tangan Raina.
"Kak Rama percaya kalau Raina nanti bisa menjadi istri yang baik buat Kak Rama?"
"InsyaAllah, ya mungkin sekarang kita memang belum saling mencintai, tapi bukankah cinta datang karena terbiasa? Gue percaya itu semua," ucap Rama karena menganggap cintanya pada Raina selama ini masih bertepuk sebelah tangan.
Iya, kita memang belum saling mencintai. Kak Rama masih menutup hati buat Raina kan? kata Raina dalam hati.
"Mereka sudah menunggu, Rai. Bisakah kita keluar sekarang?" tambah Rama.
"Baiklah, apapun yang Raina katakan nanti, Kak Rama gak boleh nyalahin Raina ya," pinta Raina.
"Iya, bukankah tadi gue sudah bilang akan menghargai apapun keputusan Lo."
Rama dan Raina keluar dari kamar, tampak suasana gelisah pada ruang keluarga. Menanti jawaban pasti dari calon pasangan suami istri itu.
"Alhamdulillah, akhirnya kalian keluar juga." Ayah Tono tersenyum melihat Rama dan Raina yang berjalan beriringan dan kembali bergabung dengan mereka yang ada di ruang keluarga.
"Jadi, bagaimana keputusan kalian?" tanya papa Budi pelan.
Suasana menjadi begitu hening, semua tampak diam menunggu jawaban dari Rama atau Raina. Rama sendiri hanya menunduk, dia sudah menyerahkan keputusan pada Raina. Dia sudah berjanji akan menerima apapun yang menjadi jawaban Raina.
Kini Raina lah yang dengan segala kekuatannya mencoba meyakinkan diri untuk menjawab sesuai dengan apa yang dia rasakan. Jari jemarinya bertaut sedemikian rupa, telapak tangannya mulai berkeringat, jantungnya juga berdegup begitu kencang. Sambil terus berdoa dalam hati supaya apapun yang menjadi keputusannya adalah yang terbaik buat semuanya.
Setelah beberapa menit begitu tegang, akhirnya Raina mengangguk, lirih menjawab pertanyaan papa Budi. Ternyata Raina menyetujui apa yang telah mereka rencanakan. Semua tampak bergembira, ucapan syukur keluar dari bibir semua orang yang ada pada ruang keluarga tersebut. Tak terkecuali Rama, dia juga bersyukur meskipun kalimat itu dia sorakkan hanya di dalam hati.
__ADS_1
Alhamdulillah...
Terimakasih, Rai. Gue janji akan berusaha menjadi yang terbaik buat Lo. Gue akan berusaha supaya Lo bisa membuka hati Lo buat gue. Rama tersenyum manis seraya menatap lekat wajah Raina yang masih terlihat menunduk. Rupanya Raina justru merasa malu-malu dengan jawaban yang telah dia utarakan.
Mama Sari dan bunda Suci yang dari tadi duduk bersebelahan, langsung berpelukan begitu mendengar jawaban Raina. Beliau berdua terharu, tak terasa buliran bening tanda kebahagiaan menetes dari pelupuk mata beliau berdua. Sebentar lagi putra putrinya akan menyatukan perasaan mereka dalam ijab qobul pernikahan.
"Alhamdulillah. Padahal Andi dulu pernah iseng berpikir bagaimana jadinya kalau Kak Rama nanti jodohnya seperti Mbak Raina. Ternyata Allah menjadikannya sebuah kenyataan, Andi ikut seneng," ucap Andi bahagia. Semua tampak tersenyum mendengar itu.
Begitu mendengar keputusan dari Raina yang juga menjadi perwakilan atas Rama, akhirnya mama Sari mulai membuka suara. Beliau menceritakan bahwa sebenarnya selama ini beliau bersama papa Budi diam-diam sudah mulai merancang sebuah pesta penikahan yang cukup besar. Beliau berdua sudah merasa yakin dengan bagaimana kelanjutan dari perjodohan ini, beliau mulai menyiapkan semuanya supaya nanti ketika hari H tiba semua bisa berjalan dengan baik. Dan hari ini akhirnya terjawab juga, pernikahan akan dilaksanakan tiga minggu lagi. Tak henti-hentinya ucapan syukur keluar tulus dari bibir dan hati beliau.
***
Lima hari sebelum hari bahagia itu tiba, Rama dan Raina pergi menemui seorang desainer yang menyiapkan baju pesta mereka. Keduanya kompak untuk mengecek kesiapan apapun yang dibutuhkan untuk acara pernikahan nanti. Begitu juga hari ini.
Merasa lapar, saat perjalanan pulang mereka memutuskan untuk mampir ke sebuah restoran.
"Rai, bukankah itu restoran baru yang lagi viral itu ya?" tanya Rama pada Raina seraya menunjuk sebuah restoran yang ada tak jauh dari mobil Rama berhenti.
"Lagi viral?" Raina menoleh dan memastikan pandangannya pada arah yang ditunjuk oleh Rama. Dia justru tidak tau tentang masalah begituan, karena akhir-akhir ini yang ada pada pikirannya memang fokus untuk acara pernikahan nanti.
"Gue juga belum tau pasti sih, cuma denger dari obrolan anak-anak kantor saat makan siang di kantin. Kabarnya sih makanannya enak-enak. Kita coba mampir aja ya," kata Rama memberi ide.
"Terserah Kak Rama aja." Raina memang tidak pernah ribet terkait masalah makan, mau makan di restoran atau di warung makan pinggir jalan juga tidak masalah.
Begitu mobil terparkir, Rama dan Raina keluar. Mereka melihat sekeliling. Restoran yang dari luar terlihat cukup besar dan mewah. Tempat parkir juga terlihat hampir penuh, banyak kendaraan terparkir yang menunjukkan restoran itu sedang ramai pengunjung.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam restoran. Begitu masuk mereka disambut ramah oleh seorang petugas cantik yang memang sengaja disiapkan oleh pihak restoran untuk memberikan sambutan manis seraya menunjukkan meja yang masih kosong.
Senada dengan tampilan luarnya, bagian dalam restoran memang luas dan cukup mewah. Suasana di dalam terasa begitu nyaman, hampir semua meja penuh namun tidak mengurangi kenyamanan yang diberikan. Desain modern restoran yang dipadukan dengan alunan lagu cinta nan indah membuat restoran tampak berkelas. Tidak heran bila tempat makan yang baru buka sekitar enam hari itu sudah viral di media sosial. Pengunjung juga terlihat sangat menikmati suasana yang diberikan.
Setelah duduk pada kursinya, Rama segera melihat daftar menu makanan yang sudah siap di atas mejanya. Rama memanggil pelayan dan memesan makanan yang dia minati, begitu juga dengan Raina. Setelah beberapa waktu makanan yang dipesan sudah siap dinikmati.
"Ternyata nyaman juga ya Kak, disini!"
"Lumayan sih," sahut Rama sambil mengunyah dan merasakan makanan yang ada dalam mulutnya.
Rama maupun Raina sama-sama menikmati hidangan yang disajikan.
"Raina? Ini beneran Lo kan?" suara seorang laki-laki yang berjalan dari arah belakang kursi Rama. Raina yang tengah menunduk menikmati makanannya kemudian mengangkat kepala dan melihat ke arah sumber suara.
Deg. Raina seketika meletakkan sendok dan garpunya begitu menyadari yang memanggilnya adalah orang yang dia kenal. Mulutnya masih diam, namun raut mukanya tidak bisa berbohong bahwa dia kaget dengan kedatangan laki-laki itu.
Melihat ekspresi Raina, Rama sontak mendongakkan wajahnya dan memastikan siapa laki-laki yang kini tengah berdiri di sampingnya.
***
Kasih komen dong, Kak.
Biar author semangat nulisnya (^_^)
Selamat membaca..
__ADS_1