Cinta Raina

Cinta Raina
Terbongkar


__ADS_3

Veris dan Gita tidak bisa tenang meninggalkan Raina sendirian menghadapi mama Rama. Mereka yakin mama Rama pasti sudah mendengar percakapan Raina dan mereka tadi.


Meskipun sudah keluar dari food court mereka tetap mengawasi Raina dari jarak jauh. Mereka ikut merasakan ketakutan yang dialami Raina sekarang.


"Maaf Tante" Raina menjawab lirih, menundukkan kepalanya. Belum berani menatap langsung mama Rama yang kini duduk berhadapan dengannya. Rasa bersalahnya kini sudah mencapai puncak.


"Bicaralah! Ceritakan semua!" ucap mama Rama tegas tapi masih mengkondisikan diri untuk tetap bijaksana menyikapi keadaan.


"Raina dan Kak Rama hanya pura-pura, Tante"


"Bicaralah yang jelas! Raina" mama Rama sudah tidak sabar mendengar Raina yang hanya berkata sepotong-potong.


"Raina dan Kak Rama tidak benar-benar berpacaran, Raina hanya terpaksa membantu Kak Rama agar Kak Rama terhindar dari perjodohan yang Tante dan Om Budi rencanakan"


Mama Rama memandang Raina lekat, mendengarkan dengan saksama kata demi kata yang keluar dari bibir merah Raina. Menarik napas panjang kemudian menghembuskannya pelan. Terlihat jelas beliau tengah mengatur emosinya.


"Kenapa, kenapa Rama bisa memilih kamu sebagai gadis yang membantu rencana gilanya ini??" tambah mama Rama.


"Jadi..." kalimat Raina terpotong, berat sekali untuk melanjutkan bicaranya. Masih terus menunduk, Raina menggigit bibir bawahnya, jari jemari kedua tangannya juga terpaut semakin kuat. Menunjukkan gejolak hebat yang tengah dirasakan oleh pemiliknya.


"Raina pernah tidak sengaja menabrak mobil Kak Rama, Tante. Singkat cerita, karena situasi dan kondisi Raina terpaksa menerima permintaan Kak Rama untuk membantunya. Raina tidak punya pilihan lain" pelan Raina menjelaskan secara singkat awal mula drama percintaan mereka itu. Tak terasa buliran air bening dari pelupuk mata Raina mulai berjatuhan. Raina sudah tidak kuat untuk menahannya.


Dengan matanya yang sudah sembab, Raina memberanikan diri menatap mama Rama, meraih tangan beliau "Tante.. Maafkan Raina dan Kak Rama".


Tak disangka perempuan paruh baya itu kini memalingkan mukanya dari Raina. Rasa sakit dalam hatinya membuatnya melepas genggaman Raina pada tanggannya.


"Hantikan tangismu kalau kamu tidak ingin membuat pengunjung Mall ini berpikir Tante menyakitimu!"

__ADS_1


Raina menunduk kembali, memahami kata-kata Mama Rama itu. Pelan, Ia mencoba mengusap air matanya.


"Andi sudah selesai ujian, tidak perlu les privat lagi. Dan kamu juga tidak perlu menginjakkan kaki di rumah Tante lagi!" suara mama Rama pelan namun tetap terdengar jelas. Membuat tubuh Raina lemas seketika, kata demi kata yang Mama Rama ucapkan begitu menyayat hatinya.


Apalah daya Raina, Ia menyadari posisinya yang salah. Jangankan menimpali, hanya sekedar menatap dan mengucap kata maaf pada mama Rama saja Ia bahkan sudah tidak sanggup lagi. Maaf, maaf dan maaf hanya terucap dalam hatinya.


Mama Rama bangkit dari duduknya, meraih tas disampingnya. "Jangan bercerita dengan Rama dulu, kalau dia menghubungimu biarkan! Biar Tante yang bicara padanya" kata mama Rama kemudian berlalu meninggalkan Raina begitu saja. Takut tidak bisa menahan emosinya sehingga mama Rama memilih pergi. Sedangkan Raina hanya terpaku menatap mama Rama yang berjalan semakin jauh meninggalkannya.


Setelah memastikan mama Rama berlalu, Veris dan Gita yang dari tadi mengawasi Raina dari jauh kini bergegas menghampiri sahabatnya itu.


"Rai.. Lo gak pa pa kan?" Gita dan Veris duduk disebelah kanan dan kiri Raina. Menguatkan sahabatnya yang kini masih terdiam dengan tatapan kosongnya. Matanya juga masih sembab.


"Kita pulang saja, temenin gue nyeritain semuanya pada Bunda" jawab Raina lirih.


"Lo yakin??" ucap Veris disusul anggukan kepala Raina.


Veris membantu Raina berdiri, sedangkan Gita membawakan tas Raina. Mereka bertiga melangkah keluar dari food court langsung menuju parkiran.


Senja mulai tiba, mobil Veris melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan Mall yang semakin ramai. Gita menenangkan Raina yang kini dalam pelukannya, duduk dikursi belakang. Sementara Veris fokus dengan kemudinya dan sesekali melirik kursi belakang melalui kaca spion untuk memastikan keadaan Raina.


Beberapa menit kemudian mobil itu sampai dihalaman rumah Raina. Veris mematikan mesin mobilnya dan melepas sabuk pengamannya. Kemudian ketiganya keluar dari mobil.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam" jawab Bunda Raina dari dalam.


Ketiga gadis itu masuk rumah dan mencium tangan bunda Raina bergantian. Melihat mata putrinya yang masih sembab langsung menimbulkan pertanyaan dari bunda Raina.

__ADS_1


"Na.. Kamu kenapa? kamu sakit??" bunda mulai kawatir karena keadaan putrinya jauh berbeda dari keadaan waktu berangkat tadi. Bunda mengangkat wajah Raina memastikan keadaan putrinya.


"Nanti Na cerita, sekarang kami masuk kamar dulu ya Bun. Mau shalat maghrib dulu" Raina mengajak kedua sahabatnya menuju kamar.


Raina dan kedua sahabatnya langsung ambil wudhu dan segera shalat karena waktu shalat maghrib hampir habis. Bunda mondar mandir di ruang keluarga, gelisah menunggu putrinya. Tidak sabar ingin segera mendengar cerita mengenai apa yang sedang terjadi.


Setelah selesai shalat, perasaan Raina sudah sedikit membaik. Hatinya mulai tenang dan lega. Mulai bisa meyakinkan diri untuk bercerita pada bundanya.


"Bantu gue ya.. gue mau menceritakan semuanya pada bunda" pinta Raina pada Gita dan Veris. Kedua sahabatnya itu mengangguk dan memegangi pundak Raina menguatkan.


"Kita akan bantu Lo menjelaskan semuanya, Lo tenang saja"


***


"Kalian mau makan dulu?"kata bunda saat Raina dan sahabatnya menghampiri beliau di ruang keluarga.


Tanpa menjawab, Raina langsung berhamburan kepelukan bunda yang duduk disofa. "Ada hal yang selama ini Raina rahasiakan dari Bunda" Raina mulai berbicara. Bunda mengernyitkan dahinya. Menatap Veris dan Gita bergantian seperti minta penjelasan.


Akhirnya Raina dibantu oleh Veris dan Gita malam ini menceritakan semuanya. Mulai dari penyebab Raina terpaksa menerima permintaan Rama yang tidak masuk akal hingga kejadian di Mall tadi sore.


Berbagai ekspresi muncul dari wajah bunda ketika gadis-gadis didepannya ini bercerita. Bunda hanya mengetahui peristiwa Raina menabrak mobil Rama dan Raina harus memberi ganti rugi sebesar tiga juta rupiah. Selebihnya bunda tidak tahu karena Raina memang tidak pernah cerita. Apa yang mereka ceritakan tadi tentu membuat bunda Raina terkejut.


"Na,, Bukankah Bunda selalu berpesan padamu. Jangan pernah menyimpan masalah sendirian! Ada Bunda dan Ayah. Kamu merupakan bagian dari Bunda dan Ayah. Masalahmu tentu tanggung jawab kami juga" ucap bunda penuh makna seraya mengelus-elus puncak kepala putrinya yang kini masih dalam pelukannya.


Veris dan Gita ikut larut dalam suasana. Tangan mereka terpaut satu sama lain. Saling menggenggam.


Mendengar cerita dari mereka bertiga membuat bunda ikut merasakan kepedihan yang menimpa putrinya. Namun bunda berusaha kuat, tetap tenang menghadapi keadaan meskipun sebenarnya gejolak dalam hatinya membuat air mata beliau mau menetes. Bunda menahannya, beliau ingin menguatkan putrinya sehingga beliau sendiri harus jauh lebih kuat.

__ADS_1


"Maafkan sikap Na, Bun" ucap Raina lirih semakin kuat memeluk Bundanya.


__ADS_2