Cinta Raina

Cinta Raina
Papa Budi


__ADS_3

Seperti mendapat angin segar, Rama bergegas keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga dengan setengah berlari. Menuju kamar mama dan papanya yang ada di lantai bawah.


Ceklek.. Rama menarik pegangan pintu kamar mamanya.


Dikunci?? Tumben sekali jam segini sudah dikunci. Masa iya mama dan papa sudah tidur..


Rama membalikkan badan, merasa tidak mungkin masuk, dia mengurungkan niatnya untuk menemui mama Sari malam ini. Masih berjalan tiga langkah tiba-tiba suara pintu kamar terbuka. Rama menoleh, ternyata papa Budi keluar dari kamar itu. Pelan beliau menutup pintu kembali. Kemudian menghampiri putranya yang masih berdiri sekitar satu setengah meter darinya.


"Papa... Mama sudah tidur?"


"Ayo kita bicara diluar!" Papa menepuk bahu putra sulungnya itu kemudian mereka berjalan beriringan menuju taman belakang dekat kolam renang.


Waktu masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam, namun hawa dingin malam ini mulai terasa. Rama dan papanya menikmati waktu berdua mereka malam ini dengan duduk di kursi santai dekat kolam renang.


"Mamamu terlihat capek sekali, biarkan dia istirahat dulu. Papa bisa memahami kalau mamamu masih kecewa sama kamu, Ram." Papa Budi mulai bicara.


"Iya, pa. Rama salah."


"Kamu tahu, ada satu hal yang harus ditanam sebagai kebiasaan dan digunakan sebagai pedoman hidup di dunia ini, InsyaAllah bisa menjadi bekalmu untuk akhirat juga nanti. Itu adalah kejujuran."


Rama mengangguk-angguk paham.


"Kejujuran mungkin menjadi hal yang sulit bagi seorang pendusta, tapi akan menjadi sangat mudah bagi yang sudah terbiasa. Jadi biasakan! Biasakan berperilaku jujur pada siapapun!"


Papa Budi menatap Rama lekat, berbicara dari hati ke hati. Jarang mereka berdua bisa memanfaatkan waktu luang untuk sekedar duduk dan ngobrol bersama seperti malam ini.


"Iya, pa. Rama akan mengingatnya."

__ADS_1


"Bukan hanya anjuran utama dalam agama. Untuk urusan dunia, jujur juga paling utama. Papa bisa seperti sekarang ini juga bermula dari sifat kejujuran papa. Dengan terbiasa jujur maka orang lain atau rekan bisnis tentu juga percaya dengan kita." Pelan papa Budi menjelaskan, berharap putranya bisa memahami.


"Rama akan belajar dari papa."


Seorang asisten rumah tangga datang membawa dua cangkir kopi panas. Menemani obrolan hangat papa dan putranya itu.


"Mama merasa sedih bukan semata-mata karena kamu salah terus mama menyalahkanmu karena kesalahanmu, tapi justru mamamu merasa bersalah karena menganggap dirinya lalai dalam membimbingmu. Bukankah itu terdengar lebih menyakitkan?" Ucap papa Budi disusul satu sruputan kopi panas yang kini dalam tangannya.


Deg.. Rama menarik mundur posisi tubuh dalam duduknya. Menyandarkan punggungnya yang kini tengah melemas dalam sandaran kursi. Ucapan papanya membuat Rama semakin merasa bersalah. Bahkan tadinya dia malah menganggap sikap mama Sari yang terlalu berlebihan. Rama tidak menyadari betapa besar rasa cinta mamanya dibalik sikap beliau tadi. Rama sungguh menyesal.


"Benar mamamu marah, asal kamu tahu papa sebenarnya lebih marah. Kalau saja tidak ada mama mungkin papa bisa sampai memukulmu tadi. Tapi kembali lagi, papa harus menahan emosi. Papa tahu kalau papa marah itu akan lebih menyakiti mamamu. Dan tentu hanya akan memperkeruh suasana."


Untuk kesekian kalinya ucapan papa Budi membuat Rama tercengang malam ini. Memang benar, papa Budi lebih mendominasi dalam percakapan ini. Sedangkan Rama semakin kalut dengan rasa menyesalnya.


Rama baru ingat dengan percakapan dia dengan bundanya Raina dalam telpon tadi. Kemudian Rama menceritakan semuanya dengan papa Budi.


"Rama juga kaget, pa. Rama tahu Raina itu memang paling nggak bisa kalau punya salah dengan orang lain. Apa lagi ini dia merasa salah sama mama, pasti menjadi beban pikiran buat dia."


"Beberapa kali bertemu, papa juga merasa Raina itu gadis yang baik. Papa juga sudah terlanjur senang kamu mendapat cewek seperti dia. Eh gak tahunya malah kenyataannya seperti ini. Rama.. Rama..." Papa Budi berdecak.


Rama hanya meringis mendengarnya. Entah kenapa semakin kesini dia juga merasa Raina itu gadis yang baik. Dia juga mulai terbiasa dengan hubungannya yang setiap saat dengan Raina. Telpon dan pesan wa yang tidak ditanggapi oleh Raina juga membuatnya tidak tenang. Rama rindu sikap Raina yang selalu merengek meminta Rama segera mengakhiri kebohongan mereka. Tanpa sadar Rama rindu semua tentang Raina.


Mendengar Raina sakit juga membuat Rama kuatir. Rama merasa bersalah dan ingin segera bertemu dengan gadis cantik itu. Rama ingin tahu keadaan Raina.


Rama tahu bahwa minggu depan Raina akan menghadapi ujian semester. Rama tentu tidak tega kalau Raina sakit seperti ini. Kondisi Raina harus segera pulih agar bisa mengikuti ujian dengan baik. Pendidikan untuk saat ini memang prioritas utama bagi Raina. Rama paham itu.


"Tadi Rama sudah minta alamat rumah Raina pada bundanya, besuk Rama gak masuk kantor ya Pa. Rama akan menjenguk Raina."

__ADS_1


"Ya Allah.. Jadi selama ini kamu juga belum tahu rumah Raina??" Papa Budi kembali kaget mendengar kenyataan yang ada. "Selama ini kamu jemput dan antar Raina dimana??" Tanya papa Budi sedikit teriak, tidak percaya dengan apa yang beliau dengar. Setahu beliau dan istrinya, Rama selama ini menjemput dan mengantar Raina sampai rumah.


"Di penitipan sepeda motor, pa." Jawab Rama lirih hampir tidak terdengar. Papa Budi geleng-geleng kepala dibuatnya.


"Jadi orangtua Raina juga tidak tahu tentang drama percintaan kalian ini?"


"Awalnya tidak, pa. Tapi mendengar suara bunda Raina seperti tadi, Rama yakin bahwa Raina baru saja menceritakan semuanya pada bundanya."


"Kamu sudah dewasa, Rama. Kamu harus bisa menyelesaikan masalah ini. Jangan sampai ada yang tersakiti!! Mama, Raina, orangtua Raina atau bahkan dirimu sendiri." Papa Budi tersenyum entah apa artinya."Papa percaya sama kamu!" Menepuk bahu putranya beberapa kali, meyakinkan.


Berbekal alamat rumah yang diberikan oleh bunda Suci lewat pesan wa tadi, Rama memutuskan besuk pagi akan langsung menuju rumah Raina. Rama tidak sabar ingin tahu keadaan Raina. Papa Budi juga sudah memberi ijin pada Rama untuk tidak masuk kantor. Memberi kesempatan pada putranya itu agar dia bisa segera menyelesaikan masalahnya.


Rama berharap Raina bisa cepat sembuh dan nanti akan diajak berkunjung ke rumahnya. Rama akan bicara baik-baik pada mama Sari supaya beliau memaafkan kesalahan Rama dan Raina.


Dua cangkir kopi panas kini sudah kosong, tidak terasa hampir dua jam mereka berdua menikmati obrolan malam ini. Banyak masukan dan nasihat penuh makna yang diberikan oleh papa Budi untuk Rama.


Merasa hawa semakin dingin, Papa Budi memutuskan segera masuk kamar untuk istirahat. Rama juga kembali ke kamarnya.


Terima kasih, pa..


Rama bangga pada papa, Rama semakin paham seberapa sayang dan cinta papa pada mama dan keluarga kita. Rama sayang pada papa dan mama. Rama.


***


Mohon maaf baru bisa update ya kak, kesibukan di dunia nyata tidak bisa ditinggalkan..


Terimakasih ♡^_^♡

__ADS_1


__ADS_2