
"Gimana, dah selesai?" tanya Rama pada Raina karena melihat gadisnya itu sudah tidak lagi bersama Gita dan Veris.
"Sudah, tapi kalau Kak Rama masih mau ngobrol sama Pak Dhani gak pa pa. Raina tunggu."
"Enggak kok, ni bisa makin emosi gue kalau deket dia lama-lama." Rama melirik sahabatnya, masih merasa kesal karena Dhani belum mau berterusterang terkait kapan hari pernikahannya. Dhani malah tertawa melihat sikap Rama yang demikian.
"Hati-hati, Rai! Ni kayaknya calon suami Lo jadi emosian sekarang," kata Dhani disusul gelak tawanya. Merasa diluar lingkupnya sebagai dosen, Dhani bicara nonformal meskipun pada Raina.
"Diem, Lo!" nada kesal Rama keluar lagi.
"Eittss.. Noh bener kan kata gue, Rai!"
"Udah, jangan dengerin dia. Ayo kita pulang!" ajak Rama seraya menarik tangan Raina. "Assalamu'alaikum," salamnya sambil berlalu meninggalkan Dhani yang masih tertawa bahagia dengan tingkah sahabatnya itu.
"Wa'alaikum salam."
Semoga kalian bahagia, jodoh dunia akhirat. Dhani tersenyum menatap sahabatnya yang meninggalkannya sambil menggandeng Raina.
Rama dan Raina sudah masuk ke dalam mobil.
"Ni buat Lo, selamat ya! Semoga ilmunya barokah, bisa menuntun Lo menjadi pribadi yang lebih baik," ucap Rama seraya memberikan bunga yang indah pada Raina, disusul uluran tangan kanannya memberi selamat.
Ini beneran? Gue gak nyangka ternyata Kak Rama bisa sweet seperti ini. Raina membalas uluran tangan Rama, menunjukkan rasa bahagianya dibalik senyum cerahnya.
"Aamiin. Thanks, Kak. Bunganya bagus banget."
"Lo suka? Itu mama yang beliin buat Lo."
Apa? Jangan mimpi Raina! Rama gak mungkin beliin itu buat Lo! GAK MUNGKIN! Gerutu Raina menyesali kata kagumnya pada Rama tadi.
__ADS_1
"Oh, selera tante Sari memang sangat tinggi." Raina kembali tersenyum namun dalam hatinya dia merasa menyesal karena sempat berharap itu dari Rama.
Setelah mengantar Raina sampai rumah, Rama juga langsung pulang karena malam nanti dia juga akan kesana lagi.
Mengadakan acara syukuran kecil-kecilan, malam ini keluarga Raina mengundang keluarga Rama untuk makan malam di rumahnya.
Spesial untuk acara makan malam nanti, bunda Suci sengaja memasak sendiri semua makanannya. Bunda Suci memang hobi di dapur, tidak heran bila beliau bisa membuat berbagai macam olahan masakan. Jarang sekali keluarga itu memesan makanan dari luar.
Dibantu oleh Raina, sebelum adzan isya' hidangan makanan sudah tertata rapi di meja makan. Sambil menunggu kedatangan keluarga Hartawijaya, pak Tono sekeluarga melaksanakan shalat isya' berjamaah.
Sekitar setengah delapan sebuah mobil terdengar masuk ke halaman rumah Raina. Rama bersama adik dan kedua orangtuanya telah datang.
"Assalamu'alaikum," salam papa Budi kemudian terdengar ayah Tono menjawab salam dari dalam rumah. Setelah dibukakan pintu, semua masuk. Andi dan Rama membawa bingkisan sebagai buah tangan yang kemudian diletakkan di ruang tengah.
Acara makan malam berjalan dengan lancar, semua memuji kelezatan dari masakan bundanya Raina itu. Ayah Tono dengan bangganya juga menceritakan bahwa bakat masak istrinya memang sudah tampak sejak masih remaja. Bakat yang ditekuni, menjadi hobi sampai sekarang.
Rasa santai itu ternyata belum berlaku untuk Rama maupun Raina, acara berkumpul seperti ini selalu membuat deg degan keduanya. Tanpa sepengetahuan mereka, para orangtua biasanya sudah menyiapkan sebuah rencana yang cukup serius.
"Baiklah, jadi sebenarnya acara malam ini bukan semata-mata acara syukuran atas lulusnya Raina," kata papa Budi membuat Rama mengernyitkan dahinya. Perasaannya mulai gelisah.
Orangtua Rama dan orangtua Raina ternyata sepakat untuk membahas hari pernikahan putra putrinya malam ini. Raina sudah lulus dan memang ini sudah waktunya. Begitu pikir mereka. Papa Budi dan ayah Tono sudah menentukan sebuah tanggal, malam ini beliau menyampaikannya dan tinggal minta persetujuan dari Rama maupun Raina.
"Bagaimana menurut kalian?" tanya ayah Tono setelah menjelaskan semuanya. Beliau menatap Rama dan Raina bergantian untuk meminta persetujuan.
"Tapi, Yah. Bukankah itu berarti tinggal tiga minggu lagi?" Raina kaget karena tidak menyangka akan secepat ini.
"Iya, dan kami rasa waktu tiga minggu cukup untuk mempersiapkan segalanya," tambah papa Budi.
"Lagian menikah itu ibadah, kalau memang sudah siap kenapa harus ditunda?" kata ayah Tono. "Bagaimana menurut Nak Rama?"
__ADS_1
"Kalau saya terserah bagaimana keputusan Raina, Om. Kalau Raina siap, InsyaAllah Rama juga siap," jawab Rama membuat Raina menggigit bibir bawahnya. Tidak menyangka Rama akan berkata demikian.
"Maaf sebelumnya, bolehkah Raina minta waktu untuk bicara empat mata dengan Kak Rama sebentar?" pinta Raina.
"Oh iya silahkan, yang menjalani semuanya memang kalian berdua. Jadi silahkan kalian berunding dulu." Papa Budi memberi kesempatan.
Raina dan Rama akhirnya masuk ke dalam kamar Raina. Berbicara empat mata.
"Tiga minggu lagi, Kak? Kenapa Kak Rama jawabnya begitu tadi."
"Terus aku harus bagaimana? Kalau pun aku menerima atau menolak kamu belum tentu setuju dengan keputusanku kan?"
"Tapi dengan jawaban Kak Rama seperti tadi, seolah-olah aku yang harus menentukan semuanya. Terus aku harus jawab bagaimana?" Raina memegang kepalanya bingung.
"Sekarang begini saja, Rai. Memang tiga minggu itu waktu yang cukup singkat, bukan hanya Lo, gue juga kaget tadi. Tapi coba Lo pikir baik-baik dulu, kalau Lo memang belum bisa menerima, Lo harus punya alasan yang jelas supaya bisa diterima oleh orangtua kita," kata-kata Rama membuat Raina berfikir sejenak.
"Memang Kak Rama setuju kalau pernikahan kita harus tiga minggu lagi?" Raina menatap Rama.
"Gue sudah hampir dua puluh sembilan tahun, Rai. Masalah nafkah, InsyaAllah dengan menjalankan perusahaan papa dengan baik, gue sudah bisa menafkahi istri dan anak-anak gue nanti. Mama papa gue juga sudah menginginkan ini semua, beliau sangat sayang sama Lo. Lalu alasan apa yang membuat gue harus menolak?" Rama menatap Raina lekat, sorot mata hangat penuh keyakinan, menunjukkan keseriusan dengan apa yang telah diucapkan.
Raina belum terbiasa saling tatap dengan Rama seperti ini. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak karuan, pipinya sudah merona. Dia memilih menatap ke lain arah.
Tapi bukankah Kak Rama tidak mencintai Raina? Pertanyaan menyedihkan yang sering muncul dalam benak Raina.
"Terus nanti aku harus jawab bagaimana?" suara Raina sudah tidak sepanik tadi.
"Dari sisi gue seperti yang gue bilang tadi, namun gue tetap menghargai keputusan Lo juga. Kalau memang Lo belum siap, gue tidak akan memaksa."
Suasana kamar hening sejenak. Rama diam, Raina juga tampak diam meskipun hati dan pikirannya tengah bekerja keras untuk mengambil keputusan. Keputusan yang sangat berarti bagi kehidupannya nanti.
__ADS_1