Cinta Raina

Cinta Raina
Tidak Nyaman


__ADS_3

Makan siang dengan diselingi obrolan mendebarkan telah usai, Andi pergi ke kamarnya, Papa juga pamit ke ruang kerjanya karena mendadak ingat ada sesuatu yang perlu dicek oleh beliau. Sementara Mama, Rama dan Raina kembali ke ruang keluarga. Melanjutkan obrolan santai mereka.


Duduk berhadapan, Mama Rama masih menatap lekat gadis cantik yang kini ada didepannya. Memegangi tangan gadis itu, ekspresi kebahagiaan terpancar lewat senyum hangat beliau.


“Raina,, kamu cantik”.


“Makasih Tante” Jawab Raina sambil tersenyum.


“Raina tahu?,, Tante masih seperti mimpi lho rasanya.. Hehehe, jangankan Tante ya,, Andi saja tadi kaget seperti itu.”


“Apalagi melihat penampilanmu hari ini..” Mama Rama masih antusias.


“Apa semua ini karena Rama? Penampilanmu jauh berbeda dari biasanya.”


Mama Rama terus saja antusias mengungkapkan apa yang beliau rasakan.


Raina hanya tersenyum, sejujurnya dia bingung mau menjawab apa. Semakin banyak bicara, rasanya semakin banyak kebohongan yang tercipta, dan itu membuat perasaan Raina semakin tidak nyaman.


Melihat sikap Tante Sari seperti itu, rasanya Raina ingin segera lari. Kabur sejauh mungkin dan mengakhiri drama mendebarkan ini.


“Rama, Apa kamu yang memaksa Raina merubah penampilannya  jadi seperti ini?” Mama menoleh pada Rama, pertanyaan baru terlontar untuk putra sulungnya itu.


“Kenapa sih Mama ini” ucap Rama tidak memberikan jawaban.


“Lihatlah!! Raina memang kelihatan lebih anggun kalau seperti ini, tapi perhatikan dong, Dia sendiri malah kelihatan sangat tidak nyaman”


Ya ampun Mama,, Raina tidak nyaman bukan karena penampilannya, Ma. Rama


“Sayang.. Kamu seperti ini memang cantik” kalimat Mama untuk Raina terpotong, mengambil napas pelan kemudian melanjutkan, “tapi kalau kamu tidak nyaman, tidak usah dipaksa ya”.


“Iya Tante,, hari ini memang Raina sengaja ingin mencoba hal baru, Raina juga pengen belajar tampil cantik seperti gadis gadis diluar sana” Raina tersenyum, menjawab sekenanya mengikuti apa yang sedang dipikirkan Mama Rama, meskipun sejujurnya rasa tidak nyamannya saat ini didominasi karena kebohongan yang Ia ciptakan dengan Rama.


“Siapa bilang penampilanmu yang biasanya itu tidak cantik?, Tampil sederhana tidak mengurangi kecantikanmu kok,, Jadilah dirimu sendiri Raina!! Meskipun itu permintaan Rama, kalau kamu tidak nyaman jangan memaksakan diri ya”. Melirik putranya, memberikan nasehat tersiratnya.


“Ih Mama,, kenapa menatap Rama seperti itu,”


Maafin Raina Tante.. Kalau saja Tante tahu bahwa aku sama Kak Rama saat ini sedang berbohong. Raina semakin tidak nyaman.


Sejak pertama kali bertemu dengan Raina beberapa bulan lalu, Mama Rama memang sudah mengagumi kepribadian gadis ini. Gadis cerdas dan cantik , namun tidak pernah berlebihan menampilkan kesempurnaan wajahnya. Ia selalu berpenampilan sederhana.


Raina juga pintar menempatkan dirinya. Ia begitu sopan ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, tapi Ia bisa begitu kocak dan mengagetkan bila dihadapkan dengan orang yang super menyebalkan seperti Andi. Raina bisa bersikap begitu bijaksana.


Dan kini dari sudut pandang Mama Rama, tanpa disangka Raina juga mampu menakhlukkan hati Rama yang terkenal begitu dingin dan cuek diluar sana.

__ADS_1


“Jadi kalian itu sebenarnya sudah jadian berapa lama?” tanya Mama Rama tiba tiba.


“Emm.. Baru . . . ” Raina ragu menjawab lemudian melirik Rama sekilas. Rama yang menyadari itu spontan mengacungkan kedua jarinya dari balik punggung Mama yang tengah membelakanginya, memberi isyarat.


“Baru dua minggu tante.”Pelan Raina menjawab. Satu kebohongan terukir kembali.


“Padahal tante pikir kamu itu pacarnya Dhani lho” Ucap Mama disusul gelak tawa beliau.


“Kok tante bisa berfikir seperti itu?” Raina kaget.


“Bagaimana tidak, Dhani itu kalau sudah membicarakan kamu seperti gak mau berhenti. Memuji kamu terus.. Raina cantik lah, Raina baik lah , Raina cerdas lah.. Ahh masih banyak yang lainnya. Dan memang itu semua sesuai kenyataan sih.” Tutur Mama Rama sambil tersenyum.


“Iya Tante??”


Benarkah?? Ah Pak Dhani.. Bahkan mendengar ini dari Tante Sari saja sudah membuat jantungku berdebar debar. Bagaimana kalau mendengar langsung dari Bapak ya. Muka Raina memerah


“Iya Rai, Dhani juga sering bilang kamu itu mahasiswanya yang paling top, Eh gak taunya kamu malah calon menantu Tante.” Tambah Mama masih setia dengan senyum hangatnya.


Rama yang mendengar semua itu tidak tertarik ikut menyahut sama sekali, entah apa yang sedang Ia pikirkan, yang jelas kali ini Ia menyibukkan diri dengan memainkan ponsel ditangannya.


Tiba tiba nada dering posel Raina yang ada didalam tas berbunyi.


“Maaf tante, ada telpon.” Ucap Raina sebelum mengangkat telponnya.


“Iya,, Angkat saja Rai.”


“Hallo, Assalamu’alaikum Bun”


“Wa’alaikum salam.. kok lama sekali ke toko bukunya?” Ucap Bunda diseberang sana, untung hanya Raina yang bisa mendengarnya.


“Ini.. Ini juga sudah mau pulang kok Bun”


“Oh ya sudah, hati-hati sayang”


“Siap Bun”


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam” kata terakhir Raina kemudian menutup percakapan singkat itu.


Setahu Bunda, putrinya itu hari ini memang hanya pergi ke toko buku dengan dua sahabatnya. Sudah melewati jam makan siang tentunya Bunda perlu mengetahui kabar putrinya yang belum pulang itu.


“Bunda kamu ya Rai?” tanya Mama Rama setelah mendengar beberapa kali Raina menyapa sang penelpon.

__ADS_1


“Iya tante” jawab Raina kemudian melirik jam dipergelangan tangannya. “Maaf Tante, sepertinya Raina harus pulang sekarang.”


“Iya tidak apa apa, sebenarnya tadi tante sudah mau nyuruh bibik anter mukena ke kamar Rama, siapa tau kamu mau shalat duhur dulu disini, tapi sepertinya Bundamu sudah menyuruhmu pulang ya.”


“Maaf ya Tante,,”


Rama kemudian berdiri dari duduknya, mendekat pada Raina yang sudah mau berpamitan.


“Mama tenang saja, Raina juga bakalan sering kesini kok, Iya kan Sayang?”. Ucap Rama santai dari belakang punggung Raina seraya meletakkan kedua tangannya pada bahu kanan kiri Raina, membuat Raina mengernyitkan dahinya.


“Raina kan juga tetap guru les privat Andi, Ma” tambah Rama menjelaskan begitu tahu Raina mengernyitkan dahinya.


“Jangan kepedean!!” Bisik Rama pelan hampir menempel pada telinga Raina, membuat Raina geram dan menoleh kemudian melotot pada Rama.


Rama terkekeh dibuatnya.


“Iya sih,, tapi kalau kesininya saat sedang  jadwal les dengan Andi, Mama tidak kebagian waktu ngobrol bersamanya dong.” Ucap Mama Rama tidak menyadari tingkah sepasang kekasih pura pura itu.


“Sering sering kesini ya Rai” Pinta Mama pada Raina.


“InsyaAllah Tante,, terima kasih makan siangnya”


“Iya Sayang, sama-sama..”


“Raina pamit ya Tan, salam buat Om Budi dan Andi” tersenyum tulus kemudian mencium tangan Mama Rama.


“Hati hati yaa”


Rama juga mencium tangan mamanya, setelah mengucapkan salam kemudian mereka berdua bergandengan tangan berlalu meninggalkan Mama Rama yang tengah senyum senyum penuh syukur itu.


Setelah keluar dari rumah mewah keluarga Hartawijaya, bukannya merasa lega tapi perasaan gusar dan tidak nyaman kembali menghampiri Raina. Ia merasa hari-harinya kedepan pasti akan lebih mendebarkan lagi. Kalau saja Rama bukan putra dari keluarga Hartawijaya mungkin tidak akan serumit ini.


“Bagaimana ini Kak?” Raina mulai memperlihatkan perasaan aslinya ketika mobil Rama sudah mulai berjalan.


“Jangan tanyakan ini dulu, gue juga pusing”


“Aku gak enak sama Tante Sari tau, Kak”


“Apalagi gue,, kalau saja gue tahu kalau lo itu guru lesnya Andi yang selalu dibanggain Nyokab, pasti gue juga gak minta bantuan lo”


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membawa dua insan yang tengah gundah dengan drama yang telah meraka ciptakan sendiri.


***

__ADS_1


Terimakasih Kakak-kakak yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca novel ini. 


Jangan lupa klik favorite ya, biar tahu update ceritanya ^_^


__ADS_2