
Setelah jam kuliah selesai Raina siap-siap berangkat menuju
rumah keluarga Hartawijaya tempat Ia memberikan les privat hari ini.
Raina langsung pamit pada Gita dan Veris untuk keluar kelas terlebih dahulu. Dia berlari menuju masjid kampusnya.
Sudah shalat dhuhur di masjid kampusnya, kali ini Ia
langsung meluncur tanpa mampir ke rumah. Ia juga sudah pamit Bundanya melalui telpon. Untuk pertemuan pertamanya dengan murid baru, Ia tidak ingin terlambat
yang nantinya akan memberikan kesan kurang baik dimata murid barunya. Menurut Raina disiplin itu sangat penting. Terutama disiplin waktu, dan Dia sudah terbiasa dengan itu.
Masih dengan penampilan sederhana seperti biasanya, Raina kali
ini mengenakan kemeja panjang warna putih dengan rambutnya yang terurai indah. Sederhana namun tetap menunjukkan keseriusannya.
Tepat waktu, motor matic Raina sudah terparkir di halaman
depan rumah megah keluarga Hartawijaya. Melepas helmnya dan kemudian merapikan
penampilannya dengan mengandalkan kaca spion yang ada pada motornya. Memantapkan penampilan, meyakinkan dirinya untuk memulai les privatnya.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan menyapa.
“Mbak Raina”.
Raina menoleh, “Eh iya Bik” Jawab Raina dengan senyum
hangatnya pada Bik Yem yang sudah berdiri dibelakangnya.
“Nyonya pesan Mbak Raina suruh nunggu di gazebo kemarin,
biar Bik Yem panggilkan Den Andi dulu”
Raina mengangguk memahami maksud Bik Yem itu. Dia kemudian melangkahkan kakinya menuju gazebo, duduk
menunggu murid barunya sambil menikmati bunga-bunga indah yang ada didepannya saat ini.
Tidak berapa lama seorang pemuda dengan penampilan santainya
datang menghampiri, raut muka cuek namun terlihat keren khas anak belasan tahun. Langsung duduk
dikursi sebrang Raina.
“Assalamu’alaikum” Raina memberi salam duluan.
“Wa’alaikum salam” anak muda itu menjawab salam meskipun dengan nada cueknya.
“Kenalkan aku Raina, kamu bisa memanggil Mbak Raina” Raina
mengulurkan tangan sambil menunjukkan muka cerianya.
“Andi” menjawab cuek tanpa membalas uluran tangan Raina.
Merasa uluran tangannya tidak ditanggapi, Raina menarik
tangannya kembali, mengambil nafas panjang sejenak kemudian kembali menciptakan
senyum seindah mungkin. Baiklah, sepertinya cara yang ini tidak cocok Raina. Cobalah cara keduamu!!
“OK, sini bukumu!! Biar
kulihat sejauh mana materimu di sekolah” Raina mengambil setumpuk buku Andi yang ada dimeja tepat
__ADS_1
dihadapan Andi. Butuh beberapa menit Raina membuka setumpuk buku itu, tidak ketinggalan juga mengecek lembaran hasil ulangan Andi. Raina membolak balik lembar
demi lembar kemudian tertawa lepas dengan santainya.
“Hei.. apa yang lucu??” Andi merasa Raina menertawainya.
“Tidak..” milirik wajah Andi sesaat kemudian kembali fokus
dengan lembaran kertas ditangannya.”Sepertinya kamu mengerjakan ulangan ketika
sedang mengantuk yaa..haha.. hasilnya sungguh tidak cocok dengan wajahmu yang
cukup tampan itu. Hasilnya buruk, Saaangat buruk” memberi penekanan pada dua
kata terakhirnya kemudian Raina tertawa kembali.
Lihat mukanya!! Ayo terpancinglah...
Raina.
“Kurang ajar sekali,, Sini!!” Andi kesal kemudian merebut
lembaran itu dari tangan Raina.
“Kesini mau mengajariku atau menertawaiku??” tambah Andi
dengan nada ketusnya.
“Baiklah, jadi kamu sudah siap untuk mulai belajar? OK. Ayo kita mulai sekarang!" YES YES... kamu terpancing anak muda. Raina
tersenyum bangga dengan keberhasilan usahanya.
Akhirnya masih dengan metode belajar seperti itu pembelajaran sore ini berjalan dengan cukup baik, bahkan sesekali Raina memukul
justru melanjutkan belajarnya.
Dua jam telah berlalu, les privat sore ini selesai. Materi terselesaikan dengan baik, bahkan Andi merasa kali ini lebih mudah memahami
beberapa hal yang selama ini menurutnya sulit. Untuk pertemuan pertamanya, Raina berhasil.
“OK, pembelajaran hari ini cukup sampai disini.. Jangan lupa
nanti dipelajari lagi, kalau perlu baca berulang-ulang!!” Kata Raina mengakhiri lesnya dengan nada perintah, namun masih tetap tersenyum.
“Iya,, iya” jawab Andi singkat selayaknya Adik yang mendapat
perintah dari Kakaknya.
“Mbak Raina pulang dulu ya,, salam untuk Tante Sari ya. Assalamu’alaikum” Raina pamitan
setelah selesai membereskan alat tulisnya.
“iya. Wa’alaikum salam”.
***
Sederet menu makan malam sudah siap diatas meja, semua
anggota keluarga juga sudah terlihat duduk dikursinya masing-masing.
Obrolan hangat keluarga Hartawijaya disela-sela makan malam
terdengar seperti biasanya. Kali ini les privat Andi yang menjadi topik utamanya.
__ADS_1
“Bagaimana Andi, kata Mama hari ini kamu mulai les privat
lagi?” Tanya Papa.
“Iya Pa.. gurunya gila”, gila
tapi manis sih. Andi tersenyum tipis.
“Apa?? Maksudnya??” Rama mulai tertarik, mendengar kata kata
adiknya yang tidak senada dengan raut mukanya.
“Pokoknya dia guru yang aneh, menyebalkan sekali”
“Jadi kamu tidak cocok lagi?? Dan minta Mama mencari ganti guru les lagi??” Mama menyahut, mulai terdengar nada kesalnya.
“Ha?? eeemm” Andi ragu menjawab, sedikit kaget dengan
pertanyaan mamanya. Menelan makanannya kemudian melanjutkan bicara. Sedikit bingung dengan jawaban yang akan Ia utarakan.
“Sebenarnya sih Dia aneh, tapi kasihan Mama kalau harus
pusing mencarikan guru les lagi. Sepertinya Andi selama ini sudah sering merepotkan Mama perihal ini..hehe..” Sedikit cengengesan, tidak ingin guru lesnya diganti namun tidak mau keinginannya ini terlihat. Mama dijadikan alasan supaya terlihat lebih keren.
Kecil-kecil tingkat gengsimu ternyata sudah cukup tinggi, persis seperti Papamu. Mama
Mama hanya manahan tawa mendengar anak bungsunya itu bicara.
Beliau mengerti sekali kejadian les privat tadi sore. Diam-diam Mama mengamati putranya yang sedang belajar dengan Raina dari balik jendela kamarnya. Mama tertawa sendiri ketika melihat Raina yang dengan santainya beberapa kali memukul kepala anak bungsunya itu.
Bahkan Mama juga tahu bahwa putranya itu sesekali melirik Raina, yang tentu saja tanpa sepengetahuan guru lesnya itu.
Mama bangga pada Raina yang mulai berhasil melunakkan sikap
putra bungsunya.
“Nah.. gitu kan baik, kasian Mamamu” Pak Budi tersenyum
bangga pada anaknya yang mulai berfikir dewasa.
“Jadi..??” Rama malah seperti belum jelas dengan kemauan
Adiknya.
“Alhamdulillah.. syukur kalau kamu mau bertahan, belajarlah
yang rajin ya Sayang.. Contohlah kakakmu itu!!” mengarahkan ekor matanya pada Rama. Tersenyum menunjukkan rasa bangga pada kepintaran anak sulungnya yang patut dicontoh oleh adiknya.
“Tuu.. denger kata Mama!” Rama juga tersenyum tak kalah bangga pada dirinya sendiri yang merasa secara tidak langsung dipuji oleh mamanya.
"Iya Ma.. Iya" jawab Andi, kemudian menambahkan "Kak Rama jangan terlalu bangga dulu, nanti Andi pasti bisa lebih keren dan lebih pintar dari Kakak"ucap Andi tegas.
Rama tersenyum mendengarnya, kemudian berkata "Eh Kakak jadi penasaran guru les gilamu itu seperti apa, Dia hebat sekali sampai bisa membuatmu bertahan".
***
Ini gambaran visual tokoh ya Kak..
Maaf tidak bermaksud menyamakan dengan pemilik asli foto ini atau bagaimana, hanya sebagai gambaran saja ya..
RAINA WAHYUNI
__ADS_1