Cinta Raina

Cinta Raina
Sabar Raina!


__ADS_3

Dalam perjalanan Raina hanya bisa berdoa. Mudah mudahan drama ini bisa segera diakhiri. Ia sangat merasa bersalah pada keluarga Hartawijaya.


Sejujurnya Ia tidak pernah punya pikiran bertindak seperti ini. Ia melakukannya dengan sangat terpaksa karena waktu itu tidak punya pilihan lain.


Kini semuanya menjadi semakin rumit. Rasa bersalah sering menghampirinya. Apalagi dalam situasi seperti sekarang, untuk bertemu dengan Tante Sari saja rasanya deg degan tidak karuan. Bagaimana nanti harus ngobrol banyak ya.


Selama ini Raina memang memilih untuk sendiri. Meskipun sudah berkali kali Irvan menyatakan perasaannya. Sampai akhirnya perjuangan cinta Irvan untuk Raina harus berhenti ketika Irvan mendapati Raina sudah memiliki kekasih waktu itu.


Waktu itu Raina sengaja mengelabuhinya karena tidak ingin memberikan sebuah harapan yang belum pasti pada Irvan yang nanti ditakutkan bisa lebih menyakitinya.


Terkait mengagumi Pak Dhani, Ia juga masih bisa mengontrolnya. Belajar dan belajar, saat ini masih menjadi prioritas utama. Sejujurnya Ia ingin berhasil dalam kuliahnya dulu tanpa terbebani masalah percintaan.


"Kapan kita akan mengakhiri semua ini, Kak?" tanya Raina pada Rama yang masih sibuk dengan kemudinya.


"Entahlah"


"Kak Rama,, jangan gitu dong, dulu Kak Rama mengatakan kalau semuanya bakal mudah. Aku hanya perlu ikut Kak Rama ke rumah sebagai kekasih terus nanti dengan gampang kita juga pura pura putus" ucap Raina mengingat ingat semua perkataan Rama sebelum Ia menyetujui perjanjian ini.


"Awalnya gue mikir juga seperti itu, sebelum tahu ternyata Lo itu Raina guru les Andi"


"Terus sekarang bagaimana??"


"Lo bisa gak sih sabar dulu, bukan hanya Lo, gue juga udah pusing dengan ini semua" kata Rama dengan nada sedikit membentak.


"Ini juga karena ide gila kak Rama Kan??" Ucap Raina pelan, masih bersabar.


"Stop!! Lo bisa diam gak?" Rama membentak, memukul kemudinya namun pandangannya masih tetap fokus kearah depan.


Mendengar nada tinggi Rama, membuat Raina terdiam seketika. Pikirannya mulai kemana mana. Tidak menyangka Rama sekeras itu. Ia merasa sangat sedih, bagaimana pun Ia melakukan ini juga untuk membantu Rama. Tapi ternyata tanggapan Rama seperti itu. Buliran air bening dari pelupuk matanya hampir jatuh, untung Ia masih bisa mengkondisikan.


Rama melirik Raina sekilas. Ia kaget dengan perubahan raut wajah Raina.


"Lo kenapa?? Sakit??" tanya Rama yang tidak menyadari kesalahannya.


Kak Rama memang egois, gak bisa ngertiin perasaan orang sama sekali. Kak Rama jahat. Jerit Raina dalam hati dan masih berusaha kuat untuk menyembunyikan perasaan kecewanya.


Jari jemarinya bertaut, Raina hanya menggeleng gelengkan kepalanya sambil menunduk, tidak mampu mengeluarkan kata katanya lagi.

__ADS_1


Rama yang tengah frustasi dengan pikirannya sendiri memang kurang peka dengan keadaan, tidak mengetahui apa yang sedang dirasakan Raina. Ia juga tidak menyadari bahwa kata katanya sudah menyakiti Raina.


Tak berapa lama mobil Rama sampai di depan gerbang rumahnya. Ketika pak satpam sudah membuka gerbang lebar lebar Rama langsung melajukan mobilnya masuk halaman rumah megah itu.


Setelah turun dari mobil, Raina merasa belum sanggup bila harus langsung bertemu dengan Mama Rama.


"Aku ke toilet dulu Kak" Ucap Raina ketika siap turun dari mobil.


"Oke" jawab Rama santai, Ia masih buka buka ponselnya mengecek pekerjaan kantor.


Raina turun dari mobil kemudian bergegas menuju toilet yang ada di luar rumah. Toilet yang tidak jauh dari gazebo yang terkadang Raina manfaatkan saat sedang memberi les privat pada Andi.


Cepat cepat Raina masuk toilet kemudian menutup pintunya pelan.


Ini bukan Lo Raina,, kenapa harus baper seperti ini?? Gak usah pedulikan omongan cowok cuek itu! Bukannya dari awal Lo sudah tahu kalau Rama itu memang menyebalkan??


Yang perlu Lo pikirkan sekarang hanya perasaan Tante Sari..


Bertahanlah, bersabarlah dulu untuk Tante Sari..


Yaa..


Sabar Raina.. Sabar..


Gerutu Raina pelan pada bayangan dirinya yang tampak sayu pada cermin toilet itu.


Raina menarik selembar tisu yang ada pada gantungan tisu di dekatnya. Mengelap wajahnya dan memastikan buliran air mata bening pada pelupuk matanya tadi sudah mengering.


Mengambil sisir pada tasnya, merapikan rambutnya. Melihat mukanya sedikit sembab, kemudian Raina juga mengambil bedak dan lipstik. Merapikan riasan sederhana pada wajahnya.


Berulang kali Raina mengambil napas panjang kemudian menghembuskannya pelan. Benar benar menata dirinya, berusaha mengembalikan sisi cerianya seperti biasa.


Setelah merasa siap, Raina baru keluar dari toilet. Melangkahkan kakinya mantab menuju pintu rumah utama keluarga Hartawijaya itu.


"Kak Rama?? kenapa masih diluar?" Raina kaget ketika Rama masih ada diluar.


"Lama banget ke toiletnya, Lo sakit?" Rama teringat wajah pucat Raina ketika didalam mobil tadi.

__ADS_1


"Nggak kok, kenapa Kak Rama gak masuk?" Merasa belum dijawab, Raina mengulangi pertanyaannya.


"Untuk apalagi?? ya nunggu Lo lah" kata Rama santai. Mendengar itu Raina mengernyitkan dahinya.


"Kalau gue masuk tanpa Lo pasti Mama banyak tanya, Lo tahu Mama kan?" spontan Rama menjelaskan sebelum Raina berpikir macam macam.


"Iya sih" jawab Raina menyetujui.


Tangan kiri Rama kemudian meraih tangan Raina, membuka pintu utama rumahnya dan masuk ke dalam rumah bergandengan tangan mesra layaknya pasangan kekasih sungguhan.


Ahh.. Andai saja Lo beneran pacar gue, pasti semua bakalan lancar. Gue gak bakalan pusing lagi ngadepin Mama Papa. gerutu Rama dalam hati.


Masih sambil jalan, Rama memukul mukul kepalanya sendiri dengan tangan kanannya menyadari kata katanya yang tidak masuk akal tadi. Dia heran kenapa bisa berpikir seperti itu.


"Kak Rama kenapa??" Tanya Raina heran melihat tingkah aneh Rama yang tengah menggandeng tangannya.


"Ha?? eh nggak, gak pa pa" jawab Rama sedikit kaget dengan pertanyaan Raina.


Mama Rama ternyata tengah asyik duduk disofa ruang keluarga, nonton Tv ditemani suaminya.


"Assalamu'alaikum" Salam Rama kompak dengan Raina ketika mereka tiba di ruang keluarga.


"Wa'alaikumsalam" Jawab Mama dan Papa Rama serentak tidak kalah kompak.


Mama Rama menoleh, menatap kedatangan anaknya. Senyum lebar terkembang pada bibirnya. Melihat Rama dan Raina bergandengan tangan mesra benar benar membuat Mama Rama bahagia.


"Kalian sudah datang, ayo sini!" ucap Mama Rama sambil menggerakkan tangannya meminta Rama dan Raina segera mendekat padanya.


Rama dan Raina kemudian mendekat, bergantian mencium tangan Mama dan Papa Rama dengan sopan.


Mama Rama meminta Raina duduk disebelahnya, dan Raina menurut.


"Sayang,, boleh Tante memeluk kamu??" tanya Mama Rama tiba tiba pada Raina yang kini sudah duduk disamping perempuan paruh baya itu.


Raina sedikit kaget dengan permintaan Mama Rama itu.


"Eh iya.. Tentu saja Tante" Raina tersenyum.

__ADS_1


Mama Rama kemudian membuka kedua tangannya lebar dan Raina berhamburan memeluk Mama Rama itu seperti Bundanya sendiri.


Beliau mengelus elus puncak kepala Raina dalam pelukannya dengan penuh kasih sayang. Berharap Raina kelak benar benar menjadi menantunya, menjadi pendamping hidup Rama yang bisa membahagiakannya.


__ADS_2