Cinta Raina

Cinta Raina
Rama Kecewa


__ADS_3

Benar saja, setelah bertemu dengan Raina, malam harinya Amel


meminta  Rama untuk menemuinya. Rama


sangat senang karena beberapa hari ini mereka sama sekali tidak berhubungan.


Jangankan bertemu, ditelpon saja sama sekali tidak diangkat. Rama bersabar


menunggu karena kalau sudah seperti itu memaksa Amel pun tidak akan bisa.


Amel meminta Rama datang ke rumahnya setelah Adzan shalat


isya’.


Setelah selesai shalat isya’ Rama bersiap siap, senyum ceria


sudah terkembang dibibirnya. Perasaan yang mengganjal beberapa hari ini


sepertinya akan berakhir. Ia senang, bahkan Amel malam ini mengundangnya untuk


makan malam ke rumahnya.


Bergegas menuruni anak tangga kemudian menyapa mama dan


papanya yang sudah siap dimeja makan.


“Malam Ma.. Pa.. Rama malam ini tidak makan malam di rumah


ya.”


“Loh.. mau kemana Sayang, sudah rapi wangi lagi” Mama


menatap cara berpakainan putranya yang membuatnya terlihat sangat tampan.


“Tadi Amel menelpon, Rama diminta datang ke rumahnya”


“Oo.. jadi kalian sudah baikan?” Papa bertanya seperti


dengan nada tidak suka.


“Sepertinya begitu Pa” Rama tersenyum. “Ok Rama pamit ya”


mencium tangan kedua orangtuanya kemudian berangkat. “Assalamu’alaikum”.


“Wa’alaikum salam” Mama Papa menjawab bersamaan.


Mobil keren Rama keluar dari gerbang rumah, melaju dengan


kecepatan rata-rata. Rasa kangen pada kekasihnya sudah menumpuk, ingin segera


sampai di rumah Amel kemudian memeluknya dengan erat.


***


Mobil Rama sudah memasuki gerbang rumah Amel. Terlihat dua


mobil tengah terparkir di halaman rumah megah itu. Rama melirik ke garasi,


mobil keluarga Amel berjejer lengkap didalamnya.


Mobil siapa ya.. Rama bertanya tanya karena tahu mobil itu bukan milik keluarga Amel.


Setelah mematikan mesin, Rama membuka pintu mobilnya, keluar


dan langsung menuju pintu utama yang tengah terbuka.


Siapa mereka, apa


keluarga jauh?? Sepertinya aku belum mengenal mereka semua. Rama sedikit


kaget ketika di dalam rumah terlihat mama papa Amel beserta tujuh orang yang


masih asing dimatanya. Mereka terlihat berbincang hangat.


“Assalamu’alaikum” Rama masuk rumah dengan senyum cerianya,


merasa berhak masuk karena Amel memang mengundangnya.


“Wa’alaikum salam” Jawab mereka yang ada di sebuah ruang


makan besar keluarga Amel.


Seperti biasa Rama langsung menghampiri mama papa Amel dan


mencium tangan kedua calon mertuanya itu. Rama menatap satu persatu orang yang

__ADS_1


ada di ruangan itu, tersenyum menyapa sambil menundukkan kepala sopan.


Rama melihat sekeliling, kekasihnya tidak terlihat disana.


“Maaf.. Amel mana Tante?” bertanya pada mama Amel.


“Masih di kamarnya, duduk dulu Nak.. Sebentar lagi Amel juga


turun” Jawab mama Amel mempersilahkan Rama duduk. Rama pun kemudian duduk.


“Dia siapa Ma?” Tiba tiba salah satu dari orang yang


terlihat asing dimata Rama itu membuka suaranya. Pria muda bertubuh tinggi tegap


dengan paras tampannya. Kalau dinilai mungkin beda tipis dengan Rama yang


terkenal tampan itu, sebelas duabelas. Rama tentu yang duabelas dan pria itu yang


sebelas yaa hehe.


Apa?? Dia tadi


memanggil tante apa?? Rama mengkerutkan dahinya kaget.


“Oo.. Ini Rama temannya Amel Bis..” Papa Amel menerangkan


sambil melirik Rama seakan membungkam mulut Rama agar tidak ikut menjawab.


“Kenalkan Ram,, Ini Bison tunangannya Amel” Bak tersambar


petir, Papa Amel mengenalkan siapa pria itu pada Rama. Rama terdiam membeku,


mencari makna setiap kata yang keluar dari mulut papa Amel barusan.


“Rama” tiba tiba terdengar suara Amel yang baru saja datang


dan berdiri tepat dibelakang kursi Rama. Rama menoleh. “Ayo ikut aku kebelakang


sebentar” Amel menarik tangan Rama dan mengajaknya menuju taman belakang dekat


kolam renang.


Sesampainya di dekat kolam renang Rama langsung bertanya.


“Sayang,, maksud papamu tadi apa??” tanya Rama dengan nada


“Iya Rama.. Ini maksudku beberapa hari lalu, aku tidak


main-main”


Saat Rama datang ke kampus Amel waktu itu, Amel mengatakan


bahwa papanya tiba-tiba menjodohkan dirinya dengan anak salah satu kolega


papanya. Tapi Rama tidak mempercayainya. Mereka sampai ribut besar karena Amel sudah berusaha menjelaskan sejelas mungkin tapi tetap tidak dipercaya oleh Rama


Dan hari ini Rama melihat kebenaran ini dengan mata


kepalanya sendiri.


“Kenapa?? Bukankah kita saling mencintai,, bahkan hubungan


kita selama ini baik-baik saja kan??” Rama masih tidak terima dengan semuanya.


“Aku sudah sering mengatakan, keputusan orangtuaku itu yang


akan kujalani” ucap Amel cukup tegas.


“Apa kamu semudah ini menyerah?? Mengorbankan cinta kita begitu saja?? Bahkan aku akan membuktikan


pada papamu kalau aku bisa membahagiakanmu.” Rama mengguncang bahu Amel.


“Sudahlah Rama, ini semua sudah terjadi” Amel melepas tangan


Rama dari bahunya.


“Apa ini artinya kamu sudah tidak mencintaiku” Rama mulai


berteriak.


“Pelankan suaramu Ram” Ucap Amel takut terdengar dari dalam rumah..


“Jawab??” Rama meminta kepastian masih dengan nadanya yang


cukup tinggi.

__ADS_1


“Ya.. Aku sudah tidak mencintaimu” Jawab Amel.


“Aaaaaa..” Teriak Rama frustasi sambil mengacak acak


rambutnya.


“Mungkin setelah wisuda nanti aku akan menikah, dan sesuai


dengan impianku aku akan meneruskan kuliahku di Singapore. Kebetulan Bison


menangani perusahaan papanya yang ada disana” Amel menjelaskan rencananya


kedepan membuat Rama semakin frustasi mendengarnya.


***


Rama menyalakan mesin mobilnya, mengendarainya keluar


gerbang rumah Amel. Melesat kencang entah kemana. Pikirannya sedang kacau,


kalut, merasa dihianati oleh kekasih yang sangat Ia sayangi selama ini. Rama sangat kecewa.


Maafkan Aku Sayang,, Aku


terpaksa melakukan semua ini supaya kamu membenciku dan tidak memikirkanku


lagi.. Aku masih sangat mencintaimu. Maafkan Aku.. Tak terasa air mata Amel


menetes melihat mobil Rama yang berlalu dari gerbangnya.


Perjodohan ini sebenarnya juga bukan dengan persetujuan


Amel, tapi mau bagaimana lagi. Jangankan Amel, mamanya pun tidak bisa menolak


jika itu sudah keputusan final dari papanya.


Amel hanya bisa menerimanya meskipun dengan terpaksa, Ia


juga tidak ingin membangkang keinginan papanya meskipun dalam hatinya Ia


menginginkan Rama yang akan menjadi suaminya kelak.


Saat ini yang bisa dilakukan Amel hanya berusaha menjalani


semuanya dengan ikhlas. Berharap bahwa Bison adalah pria baik pilihan


keluarganya yang nanti betul betul bisa membahagiakannya.


Sebesar apapun cintanya pada Rama, bagi Amel menyetujui


keputusan mama papanya adalah sebuah keharusan. Ia tidak ingin menjadi anak


pembangkang. Ia juga menyadari bahwa selama ini mama maupun papanya selalu


memberikan yang terbaik buat dirinya.


Dalam hati Amel , terselip doa tulus untuk pria yang ia


cintai. Ia berharap Rama kelak juga akan menemukan wanita yang baik sebagai


penggantinya. Amel paham betul bahwa Rama itu pria yang baik meskipun sikapnya


terlihat cuek dan dingin dimata orang belum mengenalnya.


Ia juga tidak mengerti kenapa papanya selama dua tahun ini


selalu menutup mata dengan kebaikan Rama. Papa Amel merasa bahwa Rama tidak


akan bisa membahagiakan putrinya. Padahal Rama dan putrinya jelas saling


mencintai.


Amel mengusap air matanya, setelah memastikan make up


mukanya sudah terlihat normal ia kemudian kembali bergabung dengan orang orang


yang sudah menunggunya di ruang makan.


***


Ini gambaran wajah kekecewaan Rama menghadapi situasi malam ini.


Mohon maaf bukan bermaksud menyamakan dengan wajah asli pemilik foto.


Hanya sebagai gambaran visual ya Kak..

__ADS_1


RAMA EKA HARTAWIJAYA



__ADS_2