
Benar saja, setelah bertemu dengan Raina, malam harinya Amel
meminta Rama untuk menemuinya. Rama
sangat senang karena beberapa hari ini mereka sama sekali tidak berhubungan.
Jangankan bertemu, ditelpon saja sama sekali tidak diangkat. Rama bersabar
menunggu karena kalau sudah seperti itu memaksa Amel pun tidak akan bisa.
Amel meminta Rama datang ke rumahnya setelah Adzan shalat
isya’.
Setelah selesai shalat isya’ Rama bersiap siap, senyum ceria
sudah terkembang dibibirnya. Perasaan yang mengganjal beberapa hari ini
sepertinya akan berakhir. Ia senang, bahkan Amel malam ini mengundangnya untuk
makan malam ke rumahnya.
Bergegas menuruni anak tangga kemudian menyapa mama dan
papanya yang sudah siap dimeja makan.
“Malam Ma.. Pa.. Rama malam ini tidak makan malam di rumah
ya.”
“Loh.. mau kemana Sayang, sudah rapi wangi lagi” Mama
menatap cara berpakainan putranya yang membuatnya terlihat sangat tampan.
“Tadi Amel menelpon, Rama diminta datang ke rumahnya”
“Oo.. jadi kalian sudah baikan?” Papa bertanya seperti
dengan nada tidak suka.
“Sepertinya begitu Pa” Rama tersenyum. “Ok Rama pamit ya”
mencium tangan kedua orangtuanya kemudian berangkat. “Assalamu’alaikum”.
“Wa’alaikum salam” Mama Papa menjawab bersamaan.
Mobil keren Rama keluar dari gerbang rumah, melaju dengan
kecepatan rata-rata. Rasa kangen pada kekasihnya sudah menumpuk, ingin segera
sampai di rumah Amel kemudian memeluknya dengan erat.
***
Mobil Rama sudah memasuki gerbang rumah Amel. Terlihat dua
mobil tengah terparkir di halaman rumah megah itu. Rama melirik ke garasi,
mobil keluarga Amel berjejer lengkap didalamnya.
Mobil siapa ya.. Rama bertanya tanya karena tahu mobil itu bukan milik keluarga Amel.
Setelah mematikan mesin, Rama membuka pintu mobilnya, keluar
dan langsung menuju pintu utama yang tengah terbuka.
Siapa mereka, apa
keluarga jauh?? Sepertinya aku belum mengenal mereka semua. Rama sedikit
kaget ketika di dalam rumah terlihat mama papa Amel beserta tujuh orang yang
masih asing dimatanya. Mereka terlihat berbincang hangat.
“Assalamu’alaikum” Rama masuk rumah dengan senyum cerianya,
merasa berhak masuk karena Amel memang mengundangnya.
“Wa’alaikum salam” Jawab mereka yang ada di sebuah ruang
makan besar keluarga Amel.
Seperti biasa Rama langsung menghampiri mama papa Amel dan
mencium tangan kedua calon mertuanya itu. Rama menatap satu persatu orang yang
__ADS_1
ada di ruangan itu, tersenyum menyapa sambil menundukkan kepala sopan.
Rama melihat sekeliling, kekasihnya tidak terlihat disana.
“Maaf.. Amel mana Tante?” bertanya pada mama Amel.
“Masih di kamarnya, duduk dulu Nak.. Sebentar lagi Amel juga
turun” Jawab mama Amel mempersilahkan Rama duduk. Rama pun kemudian duduk.
“Dia siapa Ma?” Tiba tiba salah satu dari orang yang
terlihat asing dimata Rama itu membuka suaranya. Pria muda bertubuh tinggi tegap
dengan paras tampannya. Kalau dinilai mungkin beda tipis dengan Rama yang
terkenal tampan itu, sebelas duabelas. Rama tentu yang duabelas dan pria itu yang
sebelas yaa hehe.
Apa?? Dia tadi
memanggil tante apa?? Rama mengkerutkan dahinya kaget.
“Oo.. Ini Rama temannya Amel Bis..” Papa Amel menerangkan
sambil melirik Rama seakan membungkam mulut Rama agar tidak ikut menjawab.
“Kenalkan Ram,, Ini Bison tunangannya Amel” Bak tersambar
petir, Papa Amel mengenalkan siapa pria itu pada Rama. Rama terdiam membeku,
mencari makna setiap kata yang keluar dari mulut papa Amel barusan.
“Rama” tiba tiba terdengar suara Amel yang baru saja datang
dan berdiri tepat dibelakang kursi Rama. Rama menoleh. “Ayo ikut aku kebelakang
sebentar” Amel menarik tangan Rama dan mengajaknya menuju taman belakang dekat
kolam renang.
Sesampainya di dekat kolam renang Rama langsung bertanya.
“Sayang,, maksud papamu tadi apa??” tanya Rama dengan nada
“Iya Rama.. Ini maksudku beberapa hari lalu, aku tidak
main-main”
Saat Rama datang ke kampus Amel waktu itu, Amel mengatakan
bahwa papanya tiba-tiba menjodohkan dirinya dengan anak salah satu kolega
papanya. Tapi Rama tidak mempercayainya. Mereka sampai ribut besar karena Amel sudah berusaha menjelaskan sejelas mungkin tapi tetap tidak dipercaya oleh Rama
Dan hari ini Rama melihat kebenaran ini dengan mata
kepalanya sendiri.
“Kenapa?? Bukankah kita saling mencintai,, bahkan hubungan
kita selama ini baik-baik saja kan??” Rama masih tidak terima dengan semuanya.
“Aku sudah sering mengatakan, keputusan orangtuaku itu yang
akan kujalani” ucap Amel cukup tegas.
“Apa kamu semudah ini menyerah?? Mengorbankan cinta kita begitu saja?? Bahkan aku akan membuktikan
pada papamu kalau aku bisa membahagiakanmu.” Rama mengguncang bahu Amel.
“Sudahlah Rama, ini semua sudah terjadi” Amel melepas tangan
Rama dari bahunya.
“Apa ini artinya kamu sudah tidak mencintaiku” Rama mulai
berteriak.
“Pelankan suaramu Ram” Ucap Amel takut terdengar dari dalam rumah..
“Jawab??” Rama meminta kepastian masih dengan nadanya yang
cukup tinggi.
__ADS_1
“Ya.. Aku sudah tidak mencintaimu” Jawab Amel.
“Aaaaaa..” Teriak Rama frustasi sambil mengacak acak
rambutnya.
“Mungkin setelah wisuda nanti aku akan menikah, dan sesuai
dengan impianku aku akan meneruskan kuliahku di Singapore. Kebetulan Bison
menangani perusahaan papanya yang ada disana” Amel menjelaskan rencananya
kedepan membuat Rama semakin frustasi mendengarnya.
***
Rama menyalakan mesin mobilnya, mengendarainya keluar
gerbang rumah Amel. Melesat kencang entah kemana. Pikirannya sedang kacau,
kalut, merasa dihianati oleh kekasih yang sangat Ia sayangi selama ini. Rama sangat kecewa.
Maafkan Aku Sayang,, Aku
terpaksa melakukan semua ini supaya kamu membenciku dan tidak memikirkanku
lagi.. Aku masih sangat mencintaimu. Maafkan Aku.. Tak terasa air mata Amel
menetes melihat mobil Rama yang berlalu dari gerbangnya.
Perjodohan ini sebenarnya juga bukan dengan persetujuan
Amel, tapi mau bagaimana lagi. Jangankan Amel, mamanya pun tidak bisa menolak
jika itu sudah keputusan final dari papanya.
Amel hanya bisa menerimanya meskipun dengan terpaksa, Ia
juga tidak ingin membangkang keinginan papanya meskipun dalam hatinya Ia
menginginkan Rama yang akan menjadi suaminya kelak.
Saat ini yang bisa dilakukan Amel hanya berusaha menjalani
semuanya dengan ikhlas. Berharap bahwa Bison adalah pria baik pilihan
keluarganya yang nanti betul betul bisa membahagiakannya.
Sebesar apapun cintanya pada Rama, bagi Amel menyetujui
keputusan mama papanya adalah sebuah keharusan. Ia tidak ingin menjadi anak
pembangkang. Ia juga menyadari bahwa selama ini mama maupun papanya selalu
memberikan yang terbaik buat dirinya.
Dalam hati Amel , terselip doa tulus untuk pria yang ia
cintai. Ia berharap Rama kelak juga akan menemukan wanita yang baik sebagai
penggantinya. Amel paham betul bahwa Rama itu pria yang baik meskipun sikapnya
terlihat cuek dan dingin dimata orang belum mengenalnya.
Ia juga tidak mengerti kenapa papanya selama dua tahun ini
selalu menutup mata dengan kebaikan Rama. Papa Amel merasa bahwa Rama tidak
akan bisa membahagiakan putrinya. Padahal Rama dan putrinya jelas saling
mencintai.
Amel mengusap air matanya, setelah memastikan make up
mukanya sudah terlihat normal ia kemudian kembali bergabung dengan orang orang
yang sudah menunggunya di ruang makan.
***
Ini gambaran wajah kekecewaan Rama menghadapi situasi malam ini.
Mohon maaf bukan bermaksud menyamakan dengan wajah asli pemilik foto.
Hanya sebagai gambaran visual ya Kak..
__ADS_1
RAMA EKA HARTAWIJAYA