
Sudah cukup lama Raina berbaring di tempat tidurnya, tapi tetap saja matanya belum bisa terpejam. Kejadian malam ini masih seperti mimpi. Tidak penah terlintas dalam pikirannya sedikitpun bahwa yang akan dijodohkan dengan Rama adalah dirinya. Bahkan selama dua bulan ini dirinya dan Rama sudah tidak pernah berhubungan sama sekali.
Kalau mau menanyakan kabarku, kenapa gak coba kirim pesan atau meneleponku? Raina membolak-balikkan badannya di atas tempat tidur. Dia kemudian meraih hp yang ada di sampingnya. Tanpa disadari jari jemarinya membuka aplikasi chat dan mencoba mengintip kontak Rama.
Kak Rama masih online? Eh bodo amat, kenapa gue jadi begini. Sudah malem, waktunya tidur. Raina meletakkan hpnya kembali. Tak lama setelah diletakkan, tiba-tiba hpnya berbunyi. Masih sambil berbaring dia membuka layar hpnya.
Kak Rama?
"Kenapa jam segini belum tidur? Lagi mikirin gue ya?" tulis Rama diikuti ikon tertawa dibelakangnya. Raina tersenyum sendiri. Dia bangkit dari tidurnya, duduk dan menyandarkan punggungnya pada bantal besar miliknya.
"Dah mau tidur tapi jadi kebangun lagi karena pesan gentayangan tengah malam."
"Jadi, ganggu ni? Ya udah, selamat tidur."
Ihh... Kak Rama mesti gini, gak pernah ada usaha nyenengin perempuan. Raina mendengus kesal.
"Katanya mau tidur? Ayo buruan off!" tulis Rama lagi setelah melihat Raina masih online tapi tidak kunjung membalas pesannya.
"NYEBELIN," balas Raina kemudian menutup hpnya. Kesal dan meletakkan hpnya di atas meja. Setelahnya Raina berbaring kembali. Menarik selimut tebalnya, memejamkan mata dan berharap bisa segera tidur.
Rama yang juga tengah berbaring di kamarnya senyum-senyum membaca pesan terakhir Raina. Rama membayangkan bagaimana raut muka calon istrinya saat ini. Raina memang terlihat menggemaskan bagi Rama bila sedang ngambek begini. Dia sengaja tidak membalas pesan itu karena memang sudah terlalu malam, berharap Raina bisa segera istirahat.
***
Dua hari kemudian.
Alarm hp Raina berbunyi, Raina menggeliat manja di atas ranjang empuknya, mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Masih dengan mata terpejam tangannya mencari-cari pada tempat biasa dia meletakkan hpnya. Namun tidak ketemu. Raina membuka matanya pelan, melihat semua arah. Ya dia baru sadar bahwa hpnya dengan sengaja dia letakkan di atas meja rias semalam. Dia bangkit dan melangkahkan kakinya dengan malas. Meraih hp yang dari tadi berdering itu dan segera mematikannya.
Tidak ingin ketinggalan shalat Subuh, Raina segera masuk kamar mandi. Raina justru terbiasa mandi setelah shalat, karena mandi membutuhkan waktu yang cukup lama menurutnya.
__ADS_1
Setelah selesai shalat Subuh Raina keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk membantu bundanya. Sudah menjadi kebiasaan bagi Raina, selama dia bangun tepat waktu, dirinya selalu menyempatkan diri untuk ke dapur.
Dia kembali ke kamarnya saat waktunya mandi tiba. Dengan cekatan dia bergegas mempersiapkan keperluan pribadinya. Setelah semua siap dan memastikan penampilannya cukup sempurna, Raina meraih tasnya. Satu kantong alat peraga terpaksa harus ditenteng karena tidak muat kalau harus masuk ke dalam tas semua.
Raina langsung menuju ruang makan, ternyata ayah Tono dan bunda Suci sudah menunggu. Setelah duduk pada kursinya seperti biasa, Raina mengamati menu yang sudah disiapkan bundanya. Matanya tertuju pada sesuatu yang tidak seperti biasanya, dia tampak bingung dengan pamandangan pagi ini. Dia baru sadar pagi ini ada yang berbeda.
"Bun, kenapa piringnya ada empat?" tanya Raina pada bunda Suci. Bersamaan dengan pertanyaan Raina, terdengar suara salam dari luar.
"Wa'alaikum salam." Ayah Tono menjawab seraya berdiri dari duduknya dan menuju depan untuk membukakan pintu.
Apa? Itu suara Kak Rama kan?
"Bun, kenapa bunda gak bilang-bilang kalau mengundang Kak Rama kesini?" protes Raina setengah berbisik pada bunda Suci.
"Bunda juga baru tahu, Sayang. Tadi pagi ayahmu memang teleponan lama dengan papanya Rama. Entah apa yang beliau berdua bahas." Bunda Suci mengangkat kedua bahunya mengisyaratkan kalau beliau sendiri juga belum memahami keadaan sepenuhnya.
"Selamat pagi, Tante, Rai," sapa Rama ketika sampai di ruang makan. Rama mencium tangan bunda Suci dengan sopan kemudian dipersilahkan duduk tepat di samping Raina.
"Bagaimana kabar papa dan mamamu, semua sehat, kan?" tanya bunda Suci.
"Alhamdulillah semua sehat, Tante."
"Oh iya, mumpung masih hangat ayo segera makan, nanti kalian telat. Ini tadi Tante dan Na lho yang masak," ucap bunda Suci sambil melirik Raina.
"Iya, Tante? Dulu Raina juga sering diajak mama masak bersama pas main ke rumah. Masakannya enak." Rama menatap Raina dengan senyumnya, Raina yang tadi biasa aja jadi salah tingkah.
Kalau di depan orangtua aja gini. Kalau pas berdua kenapa selalu nyebelin? Raina memanyunkan bibirnya.
Lo lagi mikirin apa, Rai? Rama.
__ADS_1
Sekitar setengah jam mereka berempat menghabiskan waktu di meja makan. Setelah itu Raina segera pamit untuk berangkat ke kampus.
"Hari ini kamu diantar Nak Rama, Na," ucap ayah Tono seraya menepuk bahu Rama.
"Tapi kenapa? Kak Rama kan juga mau ke kantor, Yah. Nanti kalau Kak Rama telat bagaimana? Raina bisa naik motor kok," kata Raina karena sebenarnya dia tidak ingin diantar oleh Rama. Dia masih canggung setelah malam perjodohan itu.
"Enggak kok, Rai. Perusahaan papa dan kampus kamu kan deket."
Tuh kan, kalau di depan ayah bundaku aja Kak Rama pakek aku kamu kaya gini. Emang Kak Rama beneran ada niatan anterin gue?
"Tapi ...."
"Sudahlah, ayo berangkat! Nanti malah kamu yang telat." Rama bangkit dari duduknya.
"Iya, Sayang. Gak ada salahnya kamu bareng Nak Rama. Dia kan calon suamimu juga," ucap bunda Suci semakin membuat Raina merinding.
Demi menuruti perintah ayah dan bundanya, akhirnya Raina mengalah dan pagi ini terpaksa dia berangkat bareng Rama.
"Gue tadi juga kaget, Rai. Pagi-pagi papa gedor-gedor pintu kamar gue. Kata papa harus bersiap lebih awal untuk nganterin Lo," kata Rama sambil fokus dengan kemudinya.
"Kak Rama kan bisa nolak."
"Yaela, Rai. Buat apa harus ngabisin waktu pagi-pagi untuk ribut hanya masalah ginian. Lagian gue seneng-seneng aja ngelakuinnya," kata Rama santai.
"Seneng?" kata Raina sedikit kaget. Membuat Rama memutar otak untuk memperbaiki kata-katanya.
Iya, gue seneng disuruh anter Lo.
"Ya, gue se ... seneng kalau pagi-pagi sudah bisa nyenengin nyokab bokap gue." Rama melirik Raina sekilas, berharap kata-katanya barusan tidak terdengar aneh.
__ADS_1