
"Sudahlah, jangan bicara kemana-mana! Ini sudah malam. Ayo cepat tidur." Rama bangkit kemudian mematikan lampu utama kamar. Rama berusaha tenang, namun sejujurnya pikiran dia tetap saja terngiang dengan permintaan Raina tadi. Tidak berniat menjawab, daripada membahasnya lebih dalam akan membuat situasi tidak nyaman, Rama lebih memilih segera istirahat, tubuhnya merasa sangat lelah. Rama bergerak dan berbaring di atas tempat tidurnya.
Entah kenapa mendapati Rama yang enggan menanggapi permintaannya, Raina justru merasa lebih lega. Dia akan sangat menyesali kalimatnya tadi jika ternyata kalimat itu akan membuat Rama marah padanya.
"Kemari!" Rama menepuk-nepuk bagian ranjang samping tubuhnya. "Segera tidur, kita sudah bekerja keras hari ini. Akan lebih baik kalau kita segara istirahat."
Raina hanya mengangguk diam, dia menyibakkan selimut kemudian segera naik ke atas tempat tidur. Berbaring di samping Rama kemudian meletakkan guling tepat di sampingnya, menjadi pembatas antara dirinya dengan Rama. Kedua lampu meja yang ada di samping masih bersinar. Raina mematikan lampu meja di sampingnya kemudian menarik selimutnya hingga leher. Mencoba memejamkan matanya.
Beberapa saat Rama juga memejamkan matanya, namun ternyata belum bisa tidur juga.
"Rai, Lo sudah tidur?" Rama melirik Raina yang dari tadi sudah tidak bergerak. Melihat Raina tidak bereaksi, Rama memiringkan badannya. Pelan meyibakkan selimutnya sedikit dan memindahkan guling yang menjadi pembatas antara dirinya dengan Raina. Rama menatap istrinya lekat, tangannya terangkat merapikan rambut Raina yang berserak menutupi pipinya. Mendapat perlakuan itu, Raina menggeliat kemudian memiringkan tubuhnya membelakangi Rama.
"Selamat malam." Rama menepuk bahu Raina pelan kemudian kembali berbaring seperti posisi awal.
Selamat malam juga, Kak Rama. Raina yang pura-pura tidur mulai mendengar suara napas Rama yang beraturan, menunjukkan bahwa dirinya aman karena Rama sudah terlelap dalam mimpinya. Mata Raina juga mulai pedas, rasa deg-degannya dari tadi membuat rasa lelahnya menjadi berlebih dan ingin segera tidur.
Esuk harinya alarm hp Raina bunyi, jadwal bangun seperti biasa. Raina membuka matanya pelan, masih setengah sadar dia seperti melihat bayangan seseorang yang tengah terjaga sambil menatapnya. Raina menggeliat mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Membuka mata kembali, bayangan itu masih pada tempatnya tadi. Raina mengucek-ucek matanya memastikan. Tiba-tiba mata Raina molotot, menyadari situasi.
"Kak Rama!" Raina terlonjak kaget dan langsung terduduk, refleks menarik selimut menutupi dadanya.
"Selamat pagi," sapa Rama dengan senyum hangatnya. Kemudian duduk bersandar.
"Sejak kapan Kak Rama bangun? Kenapa tadi menatap Raina seperti itu?"
"Baru juga bangun."
"Bohong." Raina cemberut.
__ADS_1
Kak Rama curang, kenapa Kak Rama mencuri waktu. Menatapku lekat saat Raina masih terlelap.. Aaaa bagaimana tadi penampilanku ya.. Aku kan malu.
"Alarm Lo berisik," kata Rama santai.
Astaga, saking terkejutnya Raina sampai lupa mematikan alarmnya yang sudah berdering keras dari tadi. Dia bergegas mencari hpnya dan mematikan alarm itu.
"Sudah waktunya shalat, kita jamaah ya!"
"Iya, Raina ke kamar mandi dulu." Raina turun dari tempat tidur kemudian setengah berlari masuk ke kamar mandi dan segera mengunci pintunya.
Sejenak Raina menatap dirinya pada cermin dalam kamar mandi. Menutup wajahnya sendiri, merasa malu membayangkan ketika diam-diam Rama menatap wajahnya saat dirinya masih asyik dalam dunia mimpi. Bagaimana wajahku tadi?
Takut Rama menunggu, Raina segera menanggalkan pakaiannya dan segera mandi. Tak berapa lama Raina keluar dari kamar mandi dalam keadaan lebih segar dan cerah.
Setelah Rama juga selesai mandi, mereka bersiap untuk shalat subuh berjamaah.
Shalat berjalan dengan kusyuk, Raina mencium tangan Rama ketika mereka selesai berdoa. Rama mendekatkan kepalanya pada Raina dan mengecup kening istrinya dengan lembut. Rasa bahagia dalam diri keduanya terpancar lewat senyumnya masing- masing.
"Kita nanti pulang jam berapa,Kak?" tanya Raina sambil melipat mukena dan memasukkannya kembali ke dalam koper.
"Entahlah, rasanya masih pengen tidur lagi ini." Tak disangka Rama kembali naik ke atas tempat tidurnya dan berbaring kembali.
Melihat itu Raina segera menghampiri suaminya dan mendekat pada bibir ranjang. Seperti tidak setuju kalau Rama akan tidur lagi.
"Kak Rama jangan bercanda, ini sudah pagi. Ayo kita pulang!" suara Raina terdengar sedikit merengek.
"Gue masih ngantuk," jawab Rama dengan mata yang mulai terpejam. Tentu saja Raina sebal melihat itu. Dia jadi bingung mau ngapain, mau tidur lagi sudah tidak mungkin.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau Kak Rama masih pingin tidur. Raina keluar dulu cari angin ya."
Belum Raina beranjak, tak disangka Rama menarik tangan Raina dengan cukup kuat, Raina sampai terjerembab ke atas tubuh Rama.
"Aaaa." Raina sedikit teriak karena kaget. Menyadari posisinya Raina ingin segera bangkit namun Rama mencegahnya.
"Kenapa terburu-buru, Lo gak lelah?" Masih bicara dengan mata terpejam sambil memeluk Raina yang berada di atasnya. Raina bingung mau jawab apa, posisi dia sekarang membuatnya tidak bisa berfikir. Wajahnya hampir menempel pada wajah suaminya. Rasa gugup langsung menghampiri. Apalagi saat Rama membuka matanya dan tersenyum cerah pada dirinya, wajah Raina memerah seketika. Dan itu membuat Rama semakin gemas.
Aaaa... Kenapa Kak Rama manis sekali kalau dari dekat seperti ini. Kata Raina yang hanya terucap dalam hati.
Rama sengaja menggoda istrinya. Mendengar permintaan Raina semalam benar-benar membuatnya tidak bisa tidur dengan nyinyak semalam. Dia ingin meraba bagaimana perasaan istrinya yang sebenarnya.
Rama beranjak merubah posisinya, kini Raina yang berada di bawahnya. Rama manatap istrinya lekat, menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang ada di dalam kungkungannya. Yang ditatap sudah merona tak berdaya, jantung Raina rasanya mau meledak.
"Bukankah pengantin baru itu seharusnya memiliki waktu istirahat cukup banyak?" ucap Rama cukup santai.
Raina tersenyum kecut mendengar itu, tak sanggup berkata. Bahkan dia malu untuk menatap suaminya. Sementara itu ada rasa lega pada diri Rama, tidak seperti yang dia bayangkan. Dia pikir Raina akan marah dengan situasi seperti ini. Nyatanya Raina tidak melawan, wajahnya malah merona menunjukkan gambaran apa yang tengah dia rasakan.
Masih bertahan beberapa saat dalam posisi itu, mereka sama-sama diam saling menatap. Rama manatap bibir merah Raina, perlahan dia menggerakkan kepalanya semakin mendekat pada wajah Raina. Raina memejamkan mata, tangannya mencengkeram seprei.
Tiba-tiba hp dalam saku celana Rama bunyi. Suasana berubah seketika.
"Kak, hpnya," suara Raina lirih mengingatkan. Dua bibir yang sudah berjarak seruas jari itu akhirnya gagal bertemu. Rama geram, ingin rasanya membanting hp yang mengganggu itu.
***
Selamat membaca, Kak.
__ADS_1
Jangan lupa like dan kasih komentar yang membangun ya..(^_^)