
Tiga bulan kemudian
Raina semakin jarang bawa motor sendiri ke kampus karena akhir- akhir ini Rama sering mengantarnya. Putra sulung keluarga Hartawijaya itu sudah terbiasa berangkat lebih pagi untuk mengantar dan menyempatkan jam istirahat siangnya untuk menjemput Raina. Bahkan Rama merasa ada yang kurang saat dirinya sibuk di kantor dan tidak bisa bertemu Raina. Terkadang Rama hanya bisa mengantar dan pulangnya Raina bareng Gita atau Veris karena kesibukan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.
Ayah Tono dan bunda Suci merasa bangga dengan keseriusan Rama. Semakin kesini orangtua Raina ini semakin melihat sisi baik Rama. Rama memang terkesan cuek bagi mereka yang belum mengenal, bahkan Raina dulu juga sering mengadukan sikap semena-mena Rama pada orangtuanya ini. Namun kini semua sudah jauh berbeda, ayah Tono maupun bunda Suci sudah tahu sendiri bahwa Rama itu pria yang bertanggung jawab dan yang paling penting mengerti soal agama.
Mengerti soal agama bukan berarti harus ahli agama, tapi setidaknya dengan tahu bahwa Rama selalu berusaha melaksanakan shalat lima waktunya, dan tahu Rama selalu menyisihkan rejekinya bagi mereka yang kurang mampu, itu menunjukkan bahwa Rama pribadi yang baik. Tutur kata dan sikapnya pun juga terbilang cukup sopan. Kepada kedua orangtuanya pun Rama termasuk anak yang berbakti. Orangtua Raina bersyukur atas itu.
Sama halnya dengan Rama, Raina juga merasa semakin terbiasa dengan kehadiran Rama. Saat Rama sibuk dan memberi kabar bahwa tidak bisa mengantar atau menjemput dirinya, Raina juga merasa berkurang semangatnya. Namun demikian, sampai saat ini keduanya belum pernah memperlihatkan bahwa mereka saling membutuhkan. Semua masih mempertahankan gengsi masing-masing.
Malam ini malam minggu, Rama masih saja ragu mengajak Raina untuk keluar meskipun dia sangat ingin. Memang benar, meskipun mereka sudah sering bersama, namun itu hanya sekedar mengantar dan menjemput Raina ke kampus atau sekedar saling berkunjung ke rumah. Selebihnya belum pernah mereka jalan berdua keluar. Rama masih merasa kurang nyaman bila harus mengajak Raina jalan keluar, dia takut bila Raina menganggap dirinya mengajak kencan dan nantinya membuat Raina tidak nyaman. Begitu pikir Rama selama ini.
"Rai," ucap Rama tiba-tiba.
"Iya." Raina menoleh pada Rama yang tengah menikmati es tehnya. Rama memang terdengar memanggil namun nyatanya arah pandangnnya entah kemana. Dan itu membuat Raina mendengus kesal.
"Ada apa sih, Kak?" Raina merasa tidak sabar karena Rama masih saja belum mulai bicara.
"Emm." Rama ragu untuk mengatakannya. Sebenarnya dia masih memikirkan kalimat apa yang akan dia ucapkan.
__ADS_1
"Raina ganti baju dulu." Daripada kelamaan menunggu Rama berbicara, Raina memilih untuk masuk sebentar dan meninggalkan Rama yang tengah duduk di kursi santai di teras rumah Raina. Siang ini cuaca memang cukup panas, setelah menjemput Raina, Rama istirahat sebentar untuk menikmati es teh buatan bunda Suci untuk melepas dahaganya.
Tak berapa lama Raina keluar dengan baju santainya. Dia sudah lupa kalau tadi Rama akan berbicara sesuatu. Dengan santainya Raina duduk lagi di tempatnya tadi. Di sebuah kursi yang terpisahkan oleh sebuah meja kecil dengan kursi yang diduduki oleh Rama. Sementara Rama masih mengumpulkan seluruh tenaganya untuk memberanikan diri menyampaikan apa yang dia ingin sampaikan tadi.
"Lo malam ini ada acara? Maksud gue ..." kalimat Rama masih menggantung. Membuat Raina mengernyitkan dahinya. "Ah lupakan, jam istirahat gue sudah hampir habis, harus cepet kembali ke kantor nih," ucap Rama cukup santai membuat Raina mengutuki dirinya sendiri karena telah menyisipkan sebuah harapan dalam kelanjutan kalimat Rama tadi. Rama kemudian berdiri dari duduknya, masuk ke dalam rumah seperti biasa untuk pamit pada bunda Suci. Sementara Raina masih duduk tidak bergeming.
Sebenarnya Kak Rama mau ngomong apa sih? Gue jadi penasaran kan, menyebalkan sekali!
Rama keluar dari dalam rumah, kemudian pamit pada Raina. Raina mencium tangan Rama dengan tulus, kali ini sudah terasa biasa karena sudah sering dia lakukan. Rama selalu tersenyum kecil untuk momen-momen seperti ini. Rama belum berani berharap lebih pada Raina, namun melihat sikap Raina seperti ini dia percaya bahwa Raina calon istrinya yang baik.
"Raina malam ini gak ada acara, memangnya kenapa?" kata Raina setengah teriak, membuat Rama yang hampir membuka pintu mobil sontak menoleh kaget. Meskipun tempat mobil Rama parkir cukup jauh dengan kursi tempat duduk Raina, namun teriakan Raina tentu masih terdengar jelas. Benar saja, Raina tidak mau menghabiskan malam minggunya dengan rasa tidak tenang karena penasaran dengan kalimat Rama yang menggantung tadi. Dan kalimat yang cukup berani itu akhirnya keluar dari mulutnya. Kali ini dia tidak peduli dengan apa yang akan Rama pikirkan tentangnya setelah ini.
"Nanti gue telepon ya, sudah hampir telat ini," kata Rama sama teriaknya seraya mengangkat hp dengan tangan kanannya. Kemudian Rama langsung masuk mobil. Sesaat dia melayang dengan pikirannya sendiri setelah mendengar kalimat Raina tadi, Rama senyum-senyum sendiri. Tak lama kemudian mobil Rama keluar dari halaman rumah Raina.
"DASAR!! Sumpah, menyesal ya gue bilang gitu tadi. Kak Rama memang menyebalkan," gerutu Raina sambil jalan menuju kamarnya, jangan sampai bunda Suci mendengar itu.
"Kenapa Na? Kok cemberut gitu?" Benar kan, pasti bunda akan tanya-tanya kalau mendengar ini. Bunda sudah berjalan mendekati Raina yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Gak pa pa, Bun. Na cuma sedikit capek aja. Na istirahat dulu ya," jawab Raina disertai senyum cerianya agar tidak menimbulkan pertanyaan baru dari bundanya.
__ADS_1
"Oh.. Iya, Sayang. Eh iya, Bunda mau ke toko ayah sebentar ya. Tepung terigu bunda habis."
"Oh terigunya habis, Raina aja yang ambil tepungnya, Bun." Raina menawarkan diri untuk membantu bundanya. Bunda tersenyum menanggapi.
"Nggak usah, Sayang. Kamu istirahat aja! Bunda juga ada perlu yang lain kok."
"Bener?"
"Iya." Mengangguk kemudian mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut.
Setelah bunda Suci keluar rumah, Raina masuk ke kamarnya. Membanting tubuhnya di atas tempat tidur empuknya. Teringat sikap Rama tadi membuat dirinya kesal kembali. Meraih guling di dekat kepalanya kemudian memukuli guling itu beberapa kali. Melampiaskan kekesalannya. Berharap dengan melakukan itu perasaannya bisa sedikit lega.
Hp di dalam tas berbunyi. Raina kaget mendengarnya, pelan dia membuka matanya dan meraih tas itu. Ah benar, ternyata hampir setengah jam Raina terlelap sambil memeluk gulingnya tadi. Dia kemudian mengambil hp di dalam tas yang belum berhenti berbunyi.
Kak Rama?? Raina mengernyit.
"Halo, Assalamu'alaikum," suara malas Raina, suara khas bangun tidur.
"Wa'alaikum salam, Lo tidur ya? Pantes angkatnya lama. Sorry ganggu," kata Rama di seberang sana.
__ADS_1