Cinta Raina

Cinta Raina
Kemarahan Mama Sari


__ADS_3

"Kamu istirahat saja, tidak usah berpikiran macam-macam lagi, jaga kesehatanmu, sayang!" Ucap bunda Suci lembut ketika mereka melepas pelukannya.


"Betul kata bundamu, ayah juga mau keluar, mau sarapan terus siap-siap kerja." Kata ayah kemudian bangkit dari duduknya.


Bunda membantu Raina kembali berbaring, setelah minum obat Raina memang harus istirahat supaya panas tubuhnya segera turun."Kalau butuh apa-apa panggil bunda, ya!". Raina mengangguk kemudian mencoba memejamkan matanya.


Senin depan Raina akan mengikuti ujian akhir semester. Seperti biasa nilai semester kali ini harus bagus untuk menunjang kelancaran pengajuan beasiswa Raina untuk semester berikutnya. Ini yang dikuatirkan oleh ayah dan bunda Raina, mereka takut bila kejadian kemarin akan mengganggu prestasi Raina.


Raina berharap kesehatannya akan segera membaik dan minggu depan sudah siap ketika menghadapi ujian.


***


Pukul sembilan Rama tiba di rumahnya. Setelah mematikan mesin mobilnya, Rama turun dan mengambil koper dalam bagasinya. Membawanya masuk ke dalam rumah. Mengetahui kedatangan tuan mudanya, salah satu asisten rumah tangganya langsung menghampiri dan membawakan koper Rama itu.


"Mama dimana, bik?" Sudah kebiasaan Rama sejak kecil, setiap masuk rumah selalu mamanya yang ditanyakan.


"Sepertinya nyonya sedang di kamar, den."


"Oh iya, sampai di kamar nanti langsung buka saja kopernya, bik! Yang dikresek biru itu baju kotor semua." Ucap Rama kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar papa dan mamanya.


"Ia, den." Asisten rumah tangga itu mengangguk paham.


"Assalamu'alaikum." Ucap Rama membuka pintu kamar mamanya.


"Wa'alaikum salam." Mama tengah duduk di sofa kamarnya menonton TV. Rama menghampiri beliau dan mencium tangannya.


"Papa kemana, ma?"


"Papamu sedang bersepeda dengan Andi, mungkin sebentar lagi pulang."


"Kamu sudah sarapan?" Tanya mama Sari. Rama meringis seraya menggelengkan kepalanya. "Kamu ini kebiasaan."


"Tadi sebelum berangkat sudah ngopi, ma. Dari sana kan masih jam enam, kepagian belum selera makan."

__ADS_1


"Mama pesenin pizza ya? Tadi Andi juga minta dipesenin." Mama meraih hpnya kemudian memesan pizza sesuai permintaan Andi.


"Ya sudah, sambil nunggu pizza datang, Rama ke kamar dulu ya, Ma." Rama akhirnya keluar dari kamar mamanya kemudian masuk ke kamarnya sendiri. Membaringkan tubuhnya ke atas ranjang, melepas rasa capeknya.


Sekitar tiga puluh menit kemudian papa Budi dan Andi datang. Tak lama setelah itu disusul oleh motor delevery order, pizza yang tadi dipesan mama Sari datang.


Asisten rumah tangga membawa pizza itu ke ruang makan, setelah itu laporan kepada nyonya besar yang masih di kamarnya.


"Ram.. Ayo turun, ni pizzanya sudah dateng!" Ucap mama Sari di ruang makan, setengah teriak memanggil Rama yang ada di kamarnya di lantai dua.


"Iya mam.. Sebentar!" Jawab Rama teriak namun tak terlalu kedengeran dari bawah.


Pizza datang dengan topping spesial sesuai permintaan Andi. Andi dan Rama kompak memakannya dengan lahap. Mama Sari yang awalnya enggan makan makanan yang menurutnya kurang menyehatkan itu akhirnya ikut mencicipi. Mereka berempat menikmatinya bersama.


Setelah selesai makan Andi masuk ke kamarnya untuk mandi dan ijin kepada mama dan papanya bahwa dia akan pergi keluar, main bersama teman-temannya. Mama Sari justru mengajak Rama dan suaminya untuk masuk ke kamarnya kembali. Entah kenapa dari situ Rama mulai merasa ada suatu hal yang tidak biasa.


Mama Sari duduk di sofa santainya, diikuti oleh papa Budi juga. Rama masih berdiri, menerka-nerka dalam pikirannya apa yang sebenarnya akan disampaikan oleh papa dan mamanya saat ini.


"Ada apa sih, ma?" Rama merasa tatapan mamanya lebih tajam dan terlihat serius. Rama mendekat dan duduk sesuai permintaan mamanya.


"Raina sudah menelponmu?" Tanya mama Sari seraya mengusap bahu putra sulungnya itu.


" Ini yang akan Rama ceritakan pada mama." Rama menghela nafas sebentar kemudian melanjutkan kalimatnya."Dari semalem Raina gak mau bales pesan Rama, padahal sudah dibaca. Pagi tadi juga Rama menelponnya tapi tetap tidak diangkat. Gak tahu kenapa perasaan Rama jadi tidak enak, Rama kuatir terjadi apa-apa pada Raina, ma" Jelas Rama panjang lebar tanpa tahu apa yang sebenarnya akan mamanya tanyakan.


Ternyata kamu mendengar permintaan tante kemarin, Rai. Ucap mama Sari dalam hati.


Hening.. Tidak hanya papa Budi, sejenak mama Sari maupun Rama kompak terdiam. Sedang berselancar dengan pikiran mereka masing-masing.


"Kamu benar-benar mencintai Raina?" Tanya mama Sari pada Rama tiba-tiba. Sedangkan papa Budi hanya diam dan mendengarkan, memberikan kesempatan pada istrinya untuk meluahkan apa yang sudah beliau tahan dari kemarin.


"Emm.. Yaa.. Ya jelas lhah, ma."


"Kamu sayang sama Raina?"

__ADS_1


"Mama kenapa sih, Iya Rama sayang sama Raina." Rama tersenyum.


"Meskipun dia hanya pacar pura-puramu?" Mama bertanya lagi untuk kesekian kalinya. Menarik nafas panjang dan melepasnya pelan mengatur emosinya.


Deg.. Pertanyaaan mama kali ini bak kilatan yang menyambar tubuh Rama. Tangannya mulai gemetar. Tidak menyangka mama Sari akan bertanya seperti itu. Ini diluar dugaan Rama.


Apa?? Apa mama sudah tahu tentang hubunganku dengan Raina yang sebenarnya. Rama bertanya-tanya dalam hatinya.


"Mm.. Maksud, maksud mama apa?" Suara Rama terbata.


"Apa selama ini mama dan papa pernah mengajarimu untuk berbohong?"


Rama menggelengkan kepala.


"Apa mama dan papa selama ini pernah mengajarimu memanfaatkan kebaikan orang lain untuk kepentingan pribadimu?" Nada suara mama Sari mulai meninggi.


"Ma..." Papa Budi mengusap-usap pundak istrinya, secara tidak langsung beliau meminta pada istrinya untuk lebih menahan emosinya.


Rama belum berani menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa? Kenapa kamu memanfaatkan kebaikan gadis polos seperti Raina hanya untuk melancarkan rencana konyolmu itu?" Sudah mulai berteriak, mata beliau juga berkaca-kaca. Mama Sari seakan menumpahkan semua kekesalannya pada anak sulung yang kini ada dihadapannya.


"Jawab Rama! jawab!" Menatap Rama semakin tajam. Sudah tidak bisa menahan. Emosi mama Sari meledak, nafasnya terengah-engah. Buliran bening kini mengalir dari pelupuk matanya.


"Ma.. Tahan emosimu, ma!" Papa Budi menenangkan istrinya. Meraih tubuh istrinya dalam pelukan beliau, berusaha memberikan ketenangan pada mama Sari.


"Ma.. pa.. Maafkan Rama." Rama menunduk, melihat mamanya semarah ini tentu Rama sadar seberapa besar kesalahannya kali ini. Dia sangat menyesali kesalahan yang membuat mamanya hingga menangis seperti ini.


Papa Budi melepas pelukan istrinya, beranjak dari sofa kemudian mengambilkan segelas air putih untuk istrinya.


Mama Sari terduduk lesu, Rama berlutut dihadapan beliau, pelan meraih kedua tangan mamanya itu kemudian menciumnya.


"Maafkan Rama, ma! Rama tidak bermaksud menyakiti mama seperti ini." Rama mengusap air mata dipipi mamanya. "Rama mohon, mama jangan nangis seperti ini lagi!"

__ADS_1


__ADS_2