Cinta Raina

Cinta Raina
Kamar hotel


__ADS_3

Pelan Rama membuka pintu kamar hotel, Raina dengan perasaan yang tidak karuan mengikuti di belakangnya. Suasana kamar masih gelap gulita.


Betapa kagetnya mereka begitu lampu dinyalakan. Ternyata kamar hotel yang luas itu sudah didesain sedemikian rupa. Nuansa ruangan yang cukup romantis. Bunga mawar merah ada di atas tempat tidur ditata rapi berbentuk hati. Melihat itu Raina mengernyitkan dahinya.


"Jangan bilang ini semua Kak Rama yang nyiapin." Ada nada menebak dalam kalimat Raina.


Rama tertawa mendengar itu.


Sudah gue duga, akan sia-sia tanya seperti ini. Mana mungkin Kak Rama ngelakuin ini!


"Mama yang ngasih kunci kamar ini. Gue juga kaget kenapa kita harus bermalam di sini. Mungkin mama yang sudah nyiapin ini semua."


"Kalau pun menolak rasanya juga tidak enak sama tante Sari, eh maksud Raina ... mama Sari." Raina ternyata masih saja belum terbiasa dengan panggilan itu, membuat Rama tersenyum gemas.


Di dalam kamar sudah siap satu koper cukup besar. Raina dan Rama menduga perlengkapan mereka dijadikan satu dalam koper itu. Pelan Raina membukanya dan mengecek isi di dalamnya, ternyata benar seperti dugaan. Mulai dari pelengkapan mandi, handuk sampai piyama tidur couple sudah siap di dalamnya. Raina melotot begitu tangannya menemukan celana dalam laki-laki dalam koper, rasanya masih asing dia dengan barang itu. Celana itu pasti milik Rama.


"Lo kenapa?" Rama tahu ekspresi istrinya yang tampak kaget.


"Eh ... Eng enggak, ini ... Raina hanya kagum saja sama mama Sari, beliau sudah menyiapkan semuanya dengan lengkap," jawab Raina gugup seraya memasukkan kain yang ditanggannya pada tempat semula dengan cepat sebelum Rama mengetahui.


"Mama memang luar biasa dalam urusan begituan. Sangat teliti untuk semua keperluan anak-anaknya"


"Eh, Kak Rama mandi duluan atau ..."


"Lo aja yang mandi duluan, make up Lo kan harus segera dibersihin juga. Gue gampang nanti," kata Rama kemudian duduk pada tepian ranjang.


Akhirnya Raina mengambil apa yang dia perlukan dalam koper besar tadi kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi. Benar kata Rama, make up harus segera dibersihkan. Raina yang terbiasa tampil sederhana tentu merasa tidak nyaman dengan wajahnya sekarang. Meskipun make up ini mampu menambah wajah cantik Raina menjadi lebih mempesona lagi, tetap saja Raina kurang nyaman dengan itu.


Setelah masuk kamar mandi Raina segera menutup pintunya dan menguncinya dari dalam. Sedangkan Rama mulai menunggu dengan memainkan hpnya.


Sebelum membersihkan muka, Raina memilih melepas gaunnya terlebih dahulu. Rasanya sudah gerah dan ingin segera melepasnya.


Sial, ini kenapa jadi susah banget sih. Raina merasa kesulitan melepas resleting gaunnya pada bagian punggung.

__ADS_1


"Kenapa jadi begini? Tadi makainya mudah." Raina menjadi kesal, bingung apa yang harus dia lakukan.


Gak mungkin minta bantuan Kak Rama kan? Jangan gila Rai! Ayo berusaha dulu!


Hampir setengah jam Raina berusaha melepas gaunnya, ternyata zonk. Akhirnya dia menyerah dan terpaksa keluar dari kamar. Pilihan terakhir, minta bantuan Rama.


Ceklekk... Pintu kamar mandi terbuka.


Rama yang tengah memainkan hpnya sontak melirik ke arah pintu kamar mandi yang mulai terbuka.


"Loh, Lo gak jadi mandi?" tanya Rama kaget karena Raina keluar dengan gaun dan make up yang masih utuh seperti saat masuk tadi. Hanya raut muka yang terlihat kucel karena terlalu lama memaksa membuka baju sendiri tadi.


"Kak, boleh Raina minta bantuan?"


"Lo kenapa?" Rama beranjak dari duduknya kemudian mendekat pada istrinya.


"Bantu Raina melepas ini!"


"Baju?"


"Ok, jadi apa yang harus gue lakukan?"


"Ini, resletingnya gak bisa diturunin." Raina menunjuk bagian punggungnya.


Setelah memahami apa yang harus dia lakukan, Rama segera menindaklanjuti.


Pelan Rama mencoba membuka resleting itu, ternyata beneran susah. Namun tak berapa lama resleting mulai bisa bergerak turun, lambat memperlihatkan punggung mulus Raina. Rama yang semula biasa saja menjadi gugup melihat itu.


"Alhamdulillah, sudah bisa ya. Biar Raina yang melanjutkan! Makasih ya, Kak." Raina segera masuk ke kamar mandi kembali sebelum bagian punggungnya terbuka semakin lebar.


Lo tahu aja apa yang gue pikirin, Rai. Rama menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Istrinya ternyata sigap segera pergi meninggalkannya bahkan sebelum Rama menurunkan resleting itu sampai bawah.


Cukup lama Raina berada dalam kamar mandi, membersihkan diri untuk mengurangi rasa capeknya hari ini. Sudah dengan memakai piyama tidur, Raina keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Wajahnya yang cantik natural membuat Rama bersyukur dalam hati bisa menikahi gadis cantik ini.

__ADS_1


Tidak seperti Raina, Rama hanya memerlukan waktu yang cukup singkat untuk membersihkan dirinya. Rama kini juga sudah kembali dari kamar mandi. Mengenakan piyama tidur senada dengan yang dipakai oleh Raina.


"Kak, bagaimana bisa tidur nanti. Bunganya Raina pindahin aja ya?" Raina meminta ijin.


Demi kenyamanan, Rama menyetujui usul istrinya. Mereka saling membantu membersihkan tempat tidurnya yang dipenuhi oleh hiasan bunga mawar.


Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00, merasa sangat lelah Rama segera naik ke atas tempat tidur. Sedangkan Raina masih berdiri di dekat ranjang. Dia ternyata mulai merasa gugup. Ini kali pertama dia akan tidur satu ranjang dengan Rama.


"Kenapa masih berdiri di situ? Lo gak capek?" tanya Rama pelan. Raina hanya diam. Rupanya Rama memahami apa yang dirasakan oleh istrinya sekarang.


Rama kemudian bangkit, mendekat pada Raina dan meraih tangan istrinya. Menuntun untuk ikut duduk di atas ranjang.


Sambil memegang lembut tangan Raina, Rama bicara cukup serius. "Lo takut tidur sama gue?"


"Raina ..." Raina ragu untuk menjawab.


"Iya ... Bicaralah!" Rama sejujurnya merasa tidak sabar ingin mendengar apa yang akan disampaikan oleh Raina.


"Tanpa mengurangi rasa hormat Raina sebagai istri sah Kak Rama, bolehkah Raina meminta sebuah permintaan?"


"Apa?"


"Mohon maaf sebelumnya, bukan maksud Raina lancang. Bisakah ... Bisakah kita tidak melakukannya dulu, sebelum kita benar-benar merasa nyaman dengan ini semua?" ucap Raina pelan hampir tidak terdengar.


Lo gila, Rai. Kenapa Lo berani ngomong seperti itu, kalau Kak Rama marah bagaimana? Raina seperti menyesal dengan kalimatnya sendiri.


Pelan Rama melepas genggaman tangannya pada tangan Raina. Paham dengan apa yang dimaksud oleh istrinya. Ada sedikit emosi yang sedang menguasai kepalanya. Tidak menyangka Raina akan bicara seperti itu. Bukankah hubungan di atas ranjang merupakan sebuah ibadah bagi pasangan suami istri yang sah.


Sabar Ram, kebahagiaan Raina sekarang sudah menjadi tanggung jawab Lo. Pahami apa yang dia rasakan! Beri kesempatan baginya untuk mempersiapkan diri dulu! Hati kecil Rama bicara.


Bodoh, Rai! Kenapa Lo ngomong begitu. Lihat, Kak Rama pasti akan marah kan? Raina merasa semakin gelisah.


***

__ADS_1


Akan lebih baik mempercantik hati dan budi pekerti diri sendiri. Maka pasangan yang baik akan datang menghampiri (^_^)


__ADS_2