Cinta Raina

Cinta Raina
Menjemput Raina


__ADS_3

Dua hari kemudian.


"Gimana, Rai? Lo sudah sehat beneran?" tanya Rama dalam teleponnya.


"Alhamdulillah sudah. Tadi juga sudah masuk kuliah."


Kok masih tenang saja. Katanya mau ketemu mama gue. Rama ngedumel dalam hati.


"Syukurlah kalau gitu," imbuh Rama tidak sama dengan isi hatinya.


"Jadi kapan Kak Rama ada waktu longgar? aku masih gak enak kalau harus berkunjung ke rumah Kak Rama sendirian. Kak Rama sudah janji kan mau nemenin Raina?"


Rama tersenyum, akhirnya yang ditunggu-tunggu terucap juga dari bibir Raina. Dia sebenarnya sudah pengen ketemu Raina, tapi rasa gengsinya masih terlalu tinggi.


"Ni sebenernya masih sibuk banget di kantor," jawab Rama menutupi rasa senengnya. Lagi-lagi dia sok sibuk.


"O.. Kira-kira kapan Kak Rama punya waktu?"


"Ya kalau Lo memaksa dan pengen banget ketemu mama, mungkin bisa gue usahain. Itung-itung demi nyokab gue," ucap Rama asal. Padahal Rama sendiri yang sudah sangat ingin ketemu dengan Raina.


"Kalau hari ini Kak Rama pulang jam berapa?" Raina berharap bisa segera bertemu mama Sari supaya semuanya cepat beres.


"Mungkin bisa gue usahain pulang lebih cepet, kalau papa ngijinin."


Setelah berdiskusi, akhirnya terjadi kesepakatan bahwa sore ini Rama akan menjemput Raina ke rumahnya.


Jam tiga sore nanti, Rama ijin pada papa Budi untuk keluar menjemput Raina. Tentu saja papa Budi mengijinkan, tapi tetap saja dengan syarat pekerjaan Rama harus sudah selesai. Meskipun bekerja di perusahaan milik papanya sendiri, Rama tetap harus mematuhi aturan papa Budi sebagai atasannya.Benar saja, Rama bekerja lebih keras hari ini. Segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa menjemput Raina tepat waktu.


Jam tiga lebih lima belas menit Rama keluar dari kantornya. Dari kantor Rama memilih langsung melajukan mobilnya ke arah rumah Raina. Kalau harus pulang ke rumah dulu pasti malah memakan waktu lebih lama.

__ADS_1


Jalanan sore ini rupanya sedikit macet, Rama mulai gerah. Apalagi masih menggunakan jas kantor seperti ini. Sambil menunggu lampu merah berubah menjadi hijau, Rama memanfaatkan waktu untuk melepas jasnya. Rasa gerahnya kini sedikit berkurang.


Memakan waktu hampir satu jam akhirnya Rama tiba di rumah Raina.


"Assalamu'alaikum," salam Rama.


"Wa'alaikum salam." Bunda Suci membukakan pintu, Rama mencium tangan beliau kemudian Rama dipersilahkan masuk ke dalam rumah. Duduk di ruang tamu sambil menunggu Raina yang masih shalat asar di kamarnya.


Beberapa menit kemudian Raina datang menghampiri. "Maaf ... Kak Rama nunggu lama?" Raina ternyata sudah siap, dengan pakaian yang sederhana seperti biasanya Raina tetap terlihat menawan.


"Kita langsung berangkat sekarang?" tanya Rama setelah meletakkan gelas bekas minumannya pada meja. Karena cuaca yang terasa panas dan tubuhnya yang cukup kelelahan, minuman yang tadi disediakan oleh bunda Suci pun habis hanya dengan sekali teguk. Rama memang kehausan.


"Boleh, Raina pamit bunda dulu ya." Raina masuk ke ruang tengah mencari dimana bunda Suci berada.


Setelah keduanya berpamitan, mereka langsung masuk mobil dan Rama menyalakan mesin mobilnya. Mobil mulai berjalan, Raina melambaikan tangan pada bundanya yang masih mengamati dari depan pintu rumahnya.


"Bokap Lo kemana, Rai? dua kali ke rumah Lo belum sekali pun gue lihat bokap Lo," tanya Rama tiba-tiba seraya tetap fokus memegang kendali kemudinya.


"Jadi keluarga Lo punya toko?" imbuh Rama seperti pengen tahu lebih banyak tentang gadis cantik yang kini tengah duduk di sampingnya.


"Iya.. Alhamdulillah meskipun masih berupa minimarket yang terbilang cukup sederhana, selama ini kebutuhan kelurga kami bisa tercukupi dengan usaha ayah ini. Raina tersenyum penuh syukur. Rasa bangga dia tujukan pada kerja keras ayah dan bundanya selama ini.


"Mungkin dengan keberhasilan Lo, suatu saat Lo bisa membantu perkembangan usaha bokap Lo ini. Makanya yang serius kuliahnya!" Rama melirik Raina sekilas. Dia sadar sebenarnya tidak perlu mengatakan satu kalimat terakhirnya itu. Rama tahu seberapa besar prioritas Raina untuk urusan pendidikan. Dengan usaha dan kerja kerasnya Raina selalu mendapat beasiswa dengan jalur prestasi. Rama sengaja mengatakan itu dan hanya ingin menggoda Raina.


"Iya ... iya!" Raina kini menatap Rama lekat.


Menyadari dirinya tengah dipandang oleh Raina, rasa percaya dirinya muncul. "Kenapa menatap gue seperti itu?" tanya Rama sambil melirik ke arah Raina sekilas.


"Kak Rama sedikit aneh hari ini." Raina menata kalimatnya kemudian melanjutkan. "Kak Rama hari ini banyak bicara, biasanya cuek banget."

__ADS_1


"Perasaan Lo aja kali, gue biasa aja kok."


"Kan Raina yang merhatiin."


Tiba-tiba mobil Rama menepi pada sebuah trotoar. Setelah melepas sabuk pengamannya dia membuka pintu mobilnya.


"Kak Rama mau kemana? kenapa kita berhenti disini?" tanya Raina melihat sekeliling.


"Hanya sebentar, Lo tunggu disini saja, jangan kemana-mana!" kata Rama dengan sedikit nada perintah.


Raina hanya mengangguk menanggapinya. Dia mengamati Rama dari dalam mobil. Raina kaget, ternyata Rama masuk ke dalam sebuah toko bunga yang tak jauh dari mobilnya berhenti.


Apa? apa mungkin ... ? aahh ini tidak mungkin! sadar Raina! sadar! jangan berhalusinasi yang tidak-tidak! Raina memukul-mukul kepalanya sendiri.


Tak lama kemudian Rama keluar dari toko bunga itu dengan membawa setangkai bunga mawar putih yang begitu indah. Entah kenapa perasaan Raina menjadi deg degan melihat hal itu.


Pelan Rama membuka pintu mobil, kemudian dia naik. Bunga yang dia beli diletakkan dengan hati-hati pada kursi belakang. Setelah memastikan sabuk pengmannya terpasang sempurna, Rama segera menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Raina hanya diam membisu, pikirannya yang kemana-mana membuat dirinya sedikit kaku. Susah untuk berbicara. Hanya berjalan sekitar dua kilometer mobil Rama sudah sampai di rumahnya.


"Lo kenapa?" Rama menatap Raina yang raut mukanya berbeda dengan tadi.


"Ha? nggak, Raina nggak pa pa." Raina masih berputar dengan pikirannya, tentu saja kaget dengan pertanyaan Rama itu.


"Ayo turun!"


"Eh, iya, Kak." Raina bergegas turun.


Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Karena bukan sebagai pasangan kekasih lagi, kini mereka berjalan tanpa bergandengan tangan.

__ADS_1


Mama Sari ternyata tidak berada di ruang tengah seperti dugaan Raina. Beliau masih berada di kamarnya. Raina dipersilahkan duduk di sofa ruang tengah itu untuk menunggu. Sedangkan Rama naik keatas menuju kamarnya karena akan shalat Asar terlebih dahulu.


Raina menatap lekat setangkai bunga mawar putih yang kini diletakkan pada meja di depannya.


__ADS_2