Cinta Raina

Cinta Raina
Pertemuan dengan Amel


__ADS_3

Raina sudah berbaring ditempat tidurnya tapi pikirannya masih kemana mana.


Satu sisi ia bersyukur hari ini bisa melewati les privat pertamanya bersama Andi dengan lancar. Remaja SMA yang awalnya terkenal sangat menjengkelkan dan susah untuk mendapatkan guru les yang cocok tapi akhirnya bisa takhluk dengan sikap Raina.


Disisi lain ia juga belum tenang karena sudah dua hari ini ia belum bertemu Amel dan belum bisa menjelaskan secara langsung perihal kejadian waktu itu yang membuat Amel salah paham.


Tiba tiba ponsel Raina berbunyi, Raina segera meraih ponselnya kemudian melihat siapa yang sedang menelponnya.


“Aaaaa,, bagaimana ini??” Raina sedikit teriak, mulai gusar begitu layar ponselnya menunjukkan bahwa Pak Ganti Rugi yang menelpon. Setelah kejadian itu memang belum pernah sama sekali mereka berhubungan meskipun hanya lewat telpon.


“Halo.. Assalamu’alaikum” Raina akhirnya memberanikan diri.


“Wa’alaikum salam.. bagaimana??” Ucap Rama diseberang sana yang tidak perlu menjelaskan maksud perkataannya tapi sudah jelas dipahami oleh Raina.


“Maaf”


“Apa?? Jadi kau ingin main main denganku” Rama mulai mengeluarkan nada kesalnya.


“Bukan begitu Kak,,  jadi selama dua hari ini saya belum ketemu dengan Kak Amel. Sama sekali” Raina menjelaskan, berharap Rama memahami keadaannya.


“Bodoh.. Memang apa gunanya ponselmu?”


“Hem??” Raina belum paham dengan maksud Rama.


“Kenapa tidak menelponnya?”


“Oww.. Raina tidak punya nomer Kak Amel, Kak.. Maaf” Maaf maaf dan maaf, hanya itu yang bisa Raina ucapkan saat ini agar tidak memperkeruh keadaan.


“Kenapa tidak minta padaku”


Apa?? Maksudnya apa ini. Aku lagi yang disalahin kan. Kenapa Ia tidak berinisiatif sendiri untuk memberikan nomor Kak Amel. Kalau aku kan memang gak berfikiran sejauh ini. Raina


“Hei” Teriak Rama yang membuyarkan gumaman Raina dalam hatinya.

__ADS_1


“Eh iya.. jadi nomor  Kak Amel berapa?”


“Nanti kukirim” Suara Rama langsung menutup telpon tanpa memberi salam.


“Dasarrr” Teriak Raina sambil mengacak acak rambutnya.


Masak iya sih mereka yang menjalin kasih bisa tahan sampai dua hari  tidak berhubungan, apa mungkin Kak Rama hanya ngerjain aku ya. Tapi buat ap?? Ah gak mungkin, tidak ada untungnya juga...kenapa juga aku bisa terlibat dalam situasi seperti ini. Raina


***


Hari ini hari minggu, untuk menemui Amel di kampus pun tidak mungkin. Akhirnya Raina memberanikan diri menelponnya. Amel sedikit menjelaskan bahwa memang beberapa hari kemarin tidak masuk kuliah karena ada urusan keluarga. Setelah memohon dengan ratusan kata meyakinkan, Amel pun menyetujui bahwa  besuk Raina bisa menemui nya di kampus.


Raina merasa sedikit lega karena Amel memberikan kesempatan untuk menjelaskan, meskipun ia tidak menerima penjelasan lewat telepon.


Setelah selesai merapikan diri, Raina keluar kamar kemudian menyusul ayahnya yang sudah menunggu di depan. Kalau hari minggu gini biasanya Raina memang menyempatkan diri ikut ayah ke minimarket, bukan sekedar membantu tapi juga memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar.


Ya.. Raina memang seperti itu, Ia yakin bahwa belajar itu bisa dimana saja, kapan saja bahkan dengan siapa saja. Termasuk dengan ayah dan karyawan ayahnya. Ia selalu menyempatkan diri untuk belajar mengerti tentang pekerjaan dan usaha ayah bundanya, dengan begitu Ia bisa sedikit memahami betapa besar perjuangan orangtuanya selama ini.


***


Sesuai dengan janji ditelpon, Amel dan Raina memang akan bertemu di taman kampus ini.


“Assalamu’alaikum..” Raina sekuat tenaga berusaha menahan percaya dirinya untuk menemui wanita cantik ini.


“Wa’alaikum salam..”Jawab Amel singkat.


“Maaf Kak, Raina telat” Raina merasa berat meskipun hanya untuk tersenyum, merasa bersalah karena ia justru membiarkan Amel menunggunya padahal pertemuan ini Raina sendiri yang sangat mengharapkan.


“Iya tidak apa apa” ucap Amel singkat, wajahnya sungguh ayu, tapi kali ini sama sekali tidak ada raut muka bahagia.


“Jadi waktu itu. . . . . “ setelah duduk, Raina menjelaskan semuanya, menjelaskan bahwa hubungannya dengan Rama sama sekali tidak seperti yang Amel bayangkan. Raina juga menjelaskan bahwa percakapan bertiga dengan Irvan waktu itu pun juga tidak benar, Raina mengaku bersalah karena ini semua terjadi karena sikap cerobohnya.


Raina juga menceritakan alasan pertemuannya dengan Rama di kafe itu. Tanpa terkecuali.

__ADS_1


“Ow, jadi begitu” Ucap Amel menanggapi penjelasan Raina yang panjang lebar tadi.


“Jadi... Apa Kak Amel sudah percaya, dan bisa memaafkan kami.. Eh maksud saya Kak Amel bisa memaafkan Kak Rama dan hubungan kalian bisa kembali membaik??”


Amel tersenyum, “Banyak sekali ya bicaramu”.


Raut wajah Raina berubah seketika, merasa malu. Menyadari bahwa dirinya memang sudah telalu berani tadi. Bahkan ia yang belum kenalan secara resmi dengan Amel , tapi sudah sok akrab dan dengan terlihat santai memberikan penjelasan pada wanita idaman kampus ini.


“Maaf Kak.. Saya cuma sedikit antusias karena semua ini terjadi karena saya. Dan kalau Kak Amel dan Kak Rama bisa kembali baikan tentu rasa bersalah ini bisa berkurang” Raina menundukkan kepala. Merasa bersalah.


“Sudahlah.. Eh nama kamu siapa? Ternyata kamu kuliah disini juga” melirik almamater kampus yang terlipat rapi dipangkuan Raina.


“Raina Kak.. Iya.. Alhamdulillah saya semester enam”


“Jadi kamu pikir pertengkaranku dengan Rama murni karena kesalahanmu?”


“Maksud Kakak?” sahut Raina tidak mengerti dengan pertanyaan Amel.


Amel menarik nafas panjang kemudian menjelaskan. “Sebetulnya sebelum peristiwa di kafe itu aku dan Rama sudah bertengkar cukup hebat, dan ketidaksengajaan di kafe itu sepertinya malah akan membuat keadaan lebih baik.”


Aaaaa.. kenapa aku belum paham juga ya,, kenapa aku tiba-tiba bodoh seperti ini kalau urusan cinta. Mau tanya lebih jelas juga tidak mungkin. Raina


Melihat Raina yang mengkerutkan dahinya Amel tanggap kemudian melanjutkan. “Sudahlah,, kamu tidak perlu merasa bersalah dengan semua ini. Melihat peristiwa di kafe itu sejenak memang membuatku sakit, tapi tak lama aku juga sadar dan yakin kalau Rama bukan seperti itu.”


“Kakak mengenal sekali tentang Kak Rama ya?” Sekilas Raina mengagumi wanita cantik didepannya ini. Tak hanya cantik tapi ia juga terlihat baik.


Amel kembali tersenyum. “Sudahlah, yang perlu kamu ingat.. hubungan kami seperti ini bukan karena kamu Raina. Ini karena yang lain. Nanti aku akan menelpon Rama tentang pertemuan kita ini. Dan jangan merasa bersalah lagi.” Menepuk bahu Raina kemudian berdiri.


“Terima kasih Kak”


“Ok.. aku pergi dulu ya, ini sebentar lagi sudah masuk jam kuliah” Amel melangkah meninggalkan Raina yang duduk di taman itu.


Akhirnya Raina merasa lega, berfikir bahwa masalah yang satu ini bisa dibilang beres. Meskipun segudang tanda tanya masih berputar diotaknya, tapi ia tidak mau ambil pusing. Sekarang tinggal menunggu kabar dari Rama, mungkin setelah Amel benar menelponnya nanti. Mungkin.

__ADS_1


 


 


__ADS_2