
Raina kalau di rumah memang dipanggil Na oleh ayah dan bundanya. Dan seingat oma Hartawijaya nama Raina itu Nana.
"Ternyata dunia begitu sempit ya." Mama Sari tersenyum lebar, entah kenapa begitu mendengar bahwa putri pak Tono itu Raina, beliau rasanya sangat senang.
"Iya. Padahal kami sudah sangat dekat dengan putri Bapak, kenapa kami tidak menyadarinya ya?" lanjut papa Budi.
"Maaf sebelumnya, Bu Suci tahu kan kalau selama ini Raina memberikan les privat pada putra bungsu kami?" tanya mama Sari.
"Iya, Bu. Kami memang sengaja pesan pada Na supaya dia tidak pernah menyinggung perihal kejadian dulu itu ketika di rumah Anda." Bunda Suci tersenyum.
"Tapi kenapa,Bu?"
"Ini semua kami lakukan juga demi Na. Na memang ingin berhasil karena usahanya sendiri, Bu. Kami kuatir seandainya Bu Sari tahu kalau dia putri kami, Bu Sari akan banyak membantunya. Itu tentu akan membuat Na tidak nyaman." Pelan bunda Suci menjelaskan.
"Iya, Bu. Kami paham maksud keluarga Bu Suci. Raina memang beda dengan kebanyakan gadis seusianya. Dia sangat dewasa dalam menyikapi keadaan," ucap mama Sari bangga.
"Jadi selama ini Kak Rama menolak dijodohkan dengan Mbak Raina tapi justru mengajak Mbak Raina untuk menjadi pacar pura-pura Kakak? Ahh senjata makan tuan ini, Kak," celoteh Andi menggoda kakaknya, membuat seisi ruang tamu terbahak-bahak.
Muka Rama memerah. Kali ini Rama hanya diam, tidak bisa membalas kata-kata adiknya seperti biasa. Dia juga tidak habis pikir jalan hidupnya bisa rumit seperti ini.
Rama memang tidak pernah cerita pada Raina dengan siapa dia akan dijodohkan. Entah bagaimana jadinya bila waktu itu Raina tahu kalau yang akan dijodohkan dengan Rama itu sebenarnya putri dari keluarga penolong oma Hartawijaya, dirinya sendiri.
"Tunggu, maksud Nak Andi tadi apa ya?" ayah Tono mendengar ada yang janggal dari kata-kata Andi tadi.
Papa Budi dan Mama Sari memperbaiki duduknya. Mempersiapkan pembicaraan serius mereka. Belum papa Budi memulai berbicara tiba-tiba ada yang datang.
"Assalamu'alaikum," salam Raina lirih karena kaget mengetahui siapa yang tengah bertamu di rumahnya.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam."
Pelan Raina melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan mencium tangan mama papanya Rama, juga mencium tangan ayah dan bundanya. Raina permisi masuk ke kamarnya sebentar untuk menaruh tas dan buku-bukunya. Raina memang habis mengerjakan tugas kuliahnya di rumah Veris, banyak buku yang dia bawa.
Apa-apaan ini, kenapa keluarga Hartawijaya bisa datang kesini? Kak Rama, kenapa juga aku harus bertemu dengannya lagi. Gerutu Raina dalam hati ketika sampai di kamarnya.
Tak berapa lama Raina keluar dari kamarnya dan bergabung di ruang tamu. Ternyata papa Budi sengaja menunda bicaranya sampai Raina gabung kembali.
"Mohon maaf sebelumnya, kami sebenarnya sangat menghormati kebijakan keluarga Pak Tono yang tidak ingin membahas kejadian yang lalu itu. Tapi ada hal yang harus kami sampaikan. Ini juga salah satu amanah dari almarhumah mama saya." Papa Budi mulai bicara.
"Tidak apa-apa, Pak. Silahkan disampaikan!"
"Jadi begini, setelah Almarhumah kembali ke rumah, hari-hari beliau selalu diisi dengan cerita mengenai kegiatan waktu disini. Beliau menceritakan bagaimana keluarga Bapak memperlakukan beliau dengan sangat baik. Apalagi mengenai Raina, beliau sangat antusias dengan apa yang sudah Raina lakukan."
"Iya, Pak. Itu kan memang sudah tugas kami sebagai sesama muslim." Ayah Tono masih belum menyadari arah pembicaraan papa Budi ini.
Deg. Raina mendadak pucat pasi. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Jari jemarinya terpaut, telapak tangannya mulai basah.
"Jadi begitu, Pak, Bu. Ini tujuan utama kami berkunjung malam ini." Mama Sari melengkapi.
"Dan mohon maaf sekali lagi, tanpa mengurangi rasa hormat kami meminta jawaban dari keluarga Bapak malam ini juga," kata Papa Budi yang terdengar sedikit egois. Beliau terpaksa mengatakan itu karena memikirkan perasaan Rama. Rama sudah memberanikan diri menerima perjodohan ini, kasihan kalau dia harus diminta menunggu jawaban dari keluarga Raina.
Ayah Tono yang duduk diantara anak dan istrinya masih terdiam. Semuanya terlalu mendadak, beliau bingung mau menjawab apa. Menatap Istri dan anaknya bergantian, seperti mencari bantuan agar jawaban yang beliau sampaikan nanti bisa baik untuk semua.
"Ayah, bisa kita bicara sebentar!" Bunda suci berbisik pada suaminya.
"Mohon maaf, Bu Sari, Pak Budi kami sangat menghormati niat baik Bapak. Tapi ini semua benar-benar terlalu mendadak. Kami minta ijin ke belakang sebentar. Ijinkan kami mendiskusikan ini terlebih dahulu."
__ADS_1
"Iya, Pak. Silahkan!"
Ayah Tono menggandeng istri dan putrinya menuju ruang makan yang agak jauh dari ruang tamu.
Sementara Rama yang duduk di samping mamanya hanya diam sambil terus menatap punggung Raina yang digandeng ayahnya hingga punggung itu tidak terlihat lagi. Lengan bawahnya menempel pada paha menjadi penopang badannya. Kakinya bergerak berirama menunjukkan perasaan pemiliknya yang sedang gelisah. Mama Sari memahami perasaan putranya, beliau mengusap-usap bahu Rama, menenangkan.
Sekitar setengah jam telah berlalu. Tidak hanya Rama, seluruh anggota keluarga Hartawijaya juga mulai gelisah. Minuman yang disuguhkan oleh bunda Suci juga sudah diminum habis menemani kegelisahan mereka.
Pak Tono beserta anak dan istrinya kembali ke ruang tamu. Kini Raina hanya menunduk. Rama menatap Raina lekat, mencoba mencari tahu apa yang sedang Raina pikirkan.
"Maaf sudah membuat menunggu agak lama," ucap bunda Suci tersenyum hangat seraya menyamankan posisi duduknya.
Bu Suci tersenyum? Ya Allah semoga usaha kami malam ini berhasil. Benar kata mama, akan lebih baik kalau Rama berjodoh dengan Raina. Doa mama Sari dalam hati.
"Sebelum kami memberi keputusan, apakah saya boleh bertanya pada Nak Rama terlebih dahulu?" pinta Ayah Tono dengan bijak.
"Iya, Pak. Silahkan!"
"Apa Nak Rama sebelumnya sudah memikirkan ini semua dengan matang?"
"Iya, Pak. InsyaAllah."
"Pak Tono tahu lho, kamu awalnya menolak perjodohan ini kan? kenapa sekarang berubah pikiran?"
Entah mendapat keberanian dari mana, Rama menjawab dengan cukup tegas. "Awalnya Rama memang merasa perjodohan itu sesuatu yang harus dihindari. Karena menurut saya perjodohan secara tidak langsung merampas hak seseorang. Tapi setelah saya pikir-pikir, saya juga shalat tahajud setiap malam untuk meminta petunjuk pada Yang Maha Kuasa terkait ini. Allah memberi petunjuk agar saya menerimanya. Apalagi mama dan papa saya juga sangat mengharapkan ini. Bukankah tidak ada hal yang lebih indah selain membahagiakan orang tua saya. Selagi mereka masih sehat dan bisa menemani saya seperti ini." Rama tersenyum kemudian menggenggam erat tangan mamanya.
Mama Sari mulai bergetar, buliran air bening dari pelupuk mata beliau tidak bisa dibendung. Terharu dengan apa yang terucap tulus dari bibir putranya.
__ADS_1