Cinta Raina

Cinta Raina
Masak Bersama


__ADS_3

Hampir satu jam Rama, Raina dan orangtua Rama bercengkerama di ruang keluarga. Ngobrol hangat sambil menikmati kue kering dan jus buah yang sudah disiapkan oleh salah satu asisten rumah tangga tadi.


"Andi kemana, Tante?" tanya Raina karena dari tadi dia sama sekali belum melihat batang hidung murid les privatnya itu.


"Tadi pamitnya sih mau ke rumah temen, biasa lah.. hari minggu gini pasti dia manfaatkan waktunya untuk main" jawab Tante Sari sambil tersenyum.


"Alhamdulillah semakin kesini Dia semakin bagus Lo, Tante. Apa Andi sekarang lebih sering belajar??"


"Itulah hebatnya kamu, Sayang.. Sejak Andi belajar sama kamu, nilainya juga semakin bagus" pernyataan Tante Sari penuh syukur.


"Iya.. sepertinya Andi memang lebih nurut kalau belajarnya sama gadis cantik" ucap Papa Rama menciptakan gelak tawa dalam ruang keluarga tersebut.


Raina yang menjadi bahan pujian justru menunduk seketika, mukanya sudah memerah, malu dibalik senyum bibirnya.


"Kamu memang beruntung Rama, dapat kekasih tidak hanya cantik tapi juga berprestasi seperti Raina" tambah Papa Rama.


"Iya Pa" jawab Rama disertai senyum manisnya, tentu saja senyum yang dibuat buat untuk menutupi kebohongannya selama ini.


"Om Budi berlebihan, Raina tidak sesempurna itu juga Om. Raina yang beruntung bisa bertemu dengan anak Om. Rama pria yang tampan dan baik" ucap Raina sopan.


Ahh.. gue sudah bener bener gila, kenapa bisa ngomong seperti ini sih. Gerutu Raina dalam hati. Menepuk nepuk pangkuannya, tidak percaya kata kata itu bisa keluar dari mulutnya.


"Sayaaang, kamu bisa aja bikin aku kepedean. Jadi makin sayang" sambar Rama dengan senyum hangatnya.


Busyet dah.. Gak nyangka gue,, Lo bakalan akting maksimal seperti ini. Rama terbahak bahak dalam hatinya.


Seketika Mata Rama melirik kearah Raina dan Raina pun sebaliknya. Tatapan mereka bertemu. Rama menatap dengan senyum senyum dibibirnya, sedangkan Raina hanya bisa mengernyitkan dahinya menanggapi.


Mendengar kata kata dua pemuda didepannya membuat Papa Rama maupun Mamanya jadi senyum senyum.


"Kalian ini manis sekali" ucap Mama Rama disertai senyum hangatnya.


"Om sama Tante dulu juga seperti kalian Lo.. Iya kan Ma??" tambah Papa Rama sambil menatap istrinya penuh kasih sayang, membuat istrinya tersipu.


Melihat Rama dan Raina seperti itu semakin membuat Mama Rama berharap bahwa anaknya memang berjodoh dengan kekasih barunya itu.

__ADS_1


"Rai, kamu bisa masak??" tanya Mama Rama.


"Sedikit Tante, hanya kadang kadang aja bantu Bunda masak kalau pas lagi di rumah" Raina menjawab jujur.


"Yuk ikut Tante ke dapur, bantu Tante masak untuk makan siang kita" ajak Tante Sari tiba tiba.


Sebelum menjawab, Raina melirik Rama sekilas. Memastikan apa yang harus dilakukan. Rama menganggukkan kepala tanda menyetujui.


"Oh iya Tante" Raina akhirnya menyetujui.


Setelah itu Mama Rama dan Raina berjalan beriringan menuju dapur.


Hari ini sengaja Mama Rama meminta asisten rumah tangganya agar hanya menyiapkan bahan masakan saja. Beliau dan Raina yang akan memasak kali ini.


Mama Rama sengaja mengajak Raina untuk membantunya memasak agar mereka bisa semakin dekat. Bisa ngobrol banyak tanpa diganggu Rama atau suaminya.


"Raina paling suka masakan apa?" tanya Mama Rama.


"Apa saja suka Tante, Alhamdulillah Raina gak milih milih untuk masalah makanan, tapi biasanya kalau makan pakai sambal terus ada lalapan abisnya lebih banyak hehehe"


"Kamu suka pedes?"


"Betul itu Bundamu,, makan pedes sih boleh aja, tapi tetap tidak boleh berlebihan"


Hari ini Mama Rama dan Raina menghabiskan waktu mereka lebih banyak di dapur. Memasak sambil berbagi cerita satu sama lain.


"Raina gak nyangka, ternyata Tante Sari jago masak ya" Raina takjub dengan Mama Rama yang lihai di dapur.


"Kok kamu ngomong gitu? ini kan wajar"


"Maaf, sebelumnya Raina pikir Nyonya besar seperti Tante gak bakalan mau ke dapur" ucap Raina pelan sambil memotong wortel yang ada didepannya.


"Tante tidak heran kamu ngomong gitu. Pasti diluar sana juga banyak yang berpikiran seperti kamu" balas Mama Rama disertai tawa renyahnya.


Raina hanya tersenyum mendengarnya. Memang sudah bukan rahasia bahwa kebanyakan orang terpandang seperti keluarga Hartawijaya ini selalu memanfaatkan jasa asisten rumah tangganya untuk urusan memasak. Tidak jarang Nyonya besar dari mereka bahkan tidak tahu menahu urusan dapur.

__ADS_1


Tapi beda dengan Mama Rama ini, memang beliau memiliki banyak asisten rumah tangga dalam keluarganya. Untuk masak tentunya juga ada bagian khusus yang bertugas. Namun beliau tetaplah seorang istri dan seorang ibu yang sudah semestinya bisa diandalkan untuk urusan dapur. Meskipun jarang memasak, Mama Rama nyatanya tetap jago memasak.


"Tapi kamu tidak berpikiran bahwa Tante ini tipe orang yang suka ngumpul sana ngumpul sini, arisan arisan ala sosialita itu Kan?" tanya Mama Rama tiba tiba.


Raina hanya tersenyum. Melihat itu perempuan paruh baya itu jadi tertawa kembali, kemudian menambahkan kalimatnya.


"Tante bukan tipe orang seperti itu, Sayang. Tante gak suka kegiatan yang sifatnya kurang bermanfaat seperti itu. Alhamdulillah teman teman Tante juga tidak pernah mengadakan acara yang aneh aneh"


"Apa Tante Sari jarang ngumpul dengan teman teman Tante?" Raina memberanikan diri.


"Ya gak juga sih. Kami sering ngumpul. Biasanya ada kegiatan sosial untuk membantu keluarga yang kurang mampu"


"Iya Tante??" Raina mulai tertarik.


"Asal kamu tahu, Tante dulu waktu kuliah, waktu masih seumuran kamu juga termasuk salah satu aktifis kampus Lho. Tante paling suka kalau ada acara bansos. Dan kebiasaan itu ternyata berlanjut sampai sekarang" Jelas Mama Rama.


"Jadi Tante termasuk orang yang suka berorganisasi?"


"Betul sekali,, pokoknya Tante dulu banyak sekali kegiatannya" tawa Mama Rama mulai terdengar, mengingat ingat masa mudanya dulu. "Tapi setelah menikah beda sih, setelah mengenal dan menikah dengan Om Budi, Tante jadi lebih sering di rumah"


"Apa Om Budi tidak mengijinkan?"


"Kalau untuk bekerja memang Om Budi melarang Tante, tapi kalau untuk ngumpul dengan teman teman Tante sebenarnya Om tidak pernah nglarang. Tante aja yang ambil keputusan"


"Ini wortel dan kentangnya sudah, Tan" ditengah tengah pembicaraan Raina menyerahkan wortel dan kentang yang sudah selesai dia potong.


"Makasih.. Jadi gitu Raina, menurut Tante setelah menikah itu memang harus lebih banyak di rumah dari pada kegiatan diluar, dan Tante menikmati semuanya" Tante tersenyum. Bercerita sambil terus melanjutkan memasak.


"Apa Tante dulu tidak berpikiran pengen bekerja?"


"Keinginan bekerja sih dulu pernah. Ketika Om Budi menyampaikan keinginannya sebelum menikah, bahwa setelah menikah Tante tidak boleh bekerja dan harus menjadi ibu rumah tangga, Tante sempet galau waktu itu" kalimatnya berhenti sejenak, Mama Rama mengambil napas dan membuangnya pelan, kemudian melanjutkan " Tapi setelah dipikir pikir, melihat karir Om yang mulai berkembang akhirnya Tante menyetujui permintaan itu"


"Tante hebat"


"Tante mensyukuri semuanya. Memang seharusnya begitu. Om Budi memang sibuk untuk urusan perkembangan usahanya dan sudah seharusnya bagian Tante untuk urusan rumah dan anak anak. InsyaAllah berkah, jangan lupa semua juga diniatkan untuk ibadah" Mama Rama menatap Raina sekilas, tersenyum melihatnya.

__ADS_1


Tak berapa lama semua masakan sudah beres, untuk masalah menghidangkan kini dibantu oleh beberapa asisten rumah tangga.


Raina bersyukur bisa belajar memasak dengan Mama Rama.


__ADS_2