
Mobil sampai di rumah, mama Sari segera turun dan bergegas masuk rumah kemudian pak sopir membawa mobil itu masuk garasi. Perasaan mama Sari masih tidak karuan. Papa Budi yang akan menjadi teman berbagi cerita juga belum pulang, Andi jam segini juga masih santai di kamarnya. Beliau memutuskan untuk langsung mandi, melepas penat.
Setelah mama Sari selesai shalat maghrib, suaminya baru pulang. Menyambut kedatangan suaminya dengan mencium tangan yang kemudian dibalas satu kecupan mesra yang mendarat dikening perempuan ayu itu. Mama Sari kemudian menyiapkan keperluan mandi suaminya seperti biasa.
Sambil menunggu jam makan malam, mama Sari yang sudah tidak sabar untuk berbagi cerita akhirnya menceritakan semua kejadian yang beliau alami di Mall tadi. Mama Sari juga menceritakan apa yang diam-diam beliau dengar dari percakapan antara Raina dengan dua sahabatnya.
Papa Budi meraih tubuh istrinya dalam dekapannya. Mengusap kepala mama Sari dengan lembut, memahami bagaimana perasaan istrinya saat ini.
"Papa paham apa yang mama rasakan. Sama seperti mama, papa juga kecewa." Ucap papa Budi setelah istrinya selesai bercerita. "Tapi kalau dipikir-pikir kasihan Raina juga, ma."
"Mama terlalu kecewa, pa. Setelah melihat Raina menangis mama juga merasa bersalah makanya mama memilih segera meninggalkannya. Mama takut emosi mama jadi tidak terkendali."
Papa Budi mengusap-usap pundak istri yang masih dalam pelukannya. "Tindakan mama sudah tepat." Ucap beliau menenangkan.
"Apa kita salah ya, pa? Apa kita selama ini kurang memperdulikan perasaan Rama? Mungkin kita terlalu egois menuntut dia untuk segera menikah."
"Sudahlah, jangan berpikir macam-macam! Kita tunggu Rama pulang, kita bicarain ini baik-baik." Saran papa Budi takut istrinya kepikiran. Mama Sari mengangguk pelan.
Tok tok tok.. Suara pintu kamar diketok. "Makan malam sudah siap, nyonya." Suara salah satu asisten rumah tangga terdengar dari balik pintu kamar itu.
"Ia, bik. Kami segera keluar." Sahut mama Sari setengah berteriak.
"Mama sakit?" Tanya Andi yang sudah menanti di ruang makan ketika melihat mama dan papanya mendekat. Raut muka mamanya terlihat lesu tidak seperti biasanya.
"Enggak, sayang. Mungkin mama sedikit capek." Mama Sari menarik kursi kemudian duduk.
"Kak Rama belum pulang?" Andi melihat sekeliling, dari tadi belum melihat batang hidung kakaknya.
"Mungkin nanti malam." Jawab papa Budi.
Sudah tiga hari Rama berada diluar kota untuk urusan perusahaan. Jadwalnya sore ini Rama pulang, namun sudah sampai jam makan malam ternyata anak sulung keluarga Hartawijaya itu belum pulang juga.
__ADS_1
Kriing kriing kriing.. Telpon rumah berdering beberapa kali. Bik Yem berlari kecil dari arah dapur dan segera mengangkat gagang telpon yang ada didekat ruang makan.
"Halo.. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam.. Bik, ini Rama. Mama sama papa ada?" Tanya Rama diseberang sana. Rama dari tadi berusaha menghubungi mamanya lewat hp ternyata tidak ada yang mengangkat.
"Oh ada den, nyonya dan tuan sedang makan malam." Suara bik Yem menjelaskan.
"Siapa, bik?" Mama Sari menyahut.
"Den Rama, nyonya."
"Bilang kepada Rama, nanti selesai makan mama akan menelpon!"
"Ia, nyonya." Bik Yem mengangguk sopan.
"Ya sudah bik, mama akan menelpon kan? Assalamu'alaikum." Ucap Rama setelah mendengar mamanya nanti akan menelpon.
"Wa'alaikum salam." Bik Yem meletakkan gagang telpon ke tempat semula kemudian beranjak menuju dapur kembali.
"Assalmu'alaikum." Salam mama Sari seraya meletakkan bantal kursi pada pangkuannya.
"Wa'alaikum salam. Rama tidak jadi pulang malam ini, ma." Ucap Rama langsung menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan. Takut mama dan papanya kuatir menunggu kepulangannya.
"Kenapa?? Tidak biasanya kamu betah diluar kota." Mama sedikit kecewa karena rencananya malam ini beliau dan suaminya akan menanyakan secara langsung perihal hubungan anaknya itu dengan Raina.
"Sini ujan deres, ma. Rama juga sedikit capek. InsyaAllah besuk pagi Rama pulang." Rama yang membawa mobil sendiri memang merasa berat kalau harus memaksa pulang dalam keadaan capek dan hujan lebat seperti sekarang.
"Jangan tidur terlalu malam biar besuk pagi tidak ngantuk kalau nyetir!"
"Siap, ma."
__ADS_1
"Sudah makan belum?" Sikap keibuan mama Sari selalu muncul. Bagaimana pun rasa kecewanya saat ini, mama Sari tetaplah seorang ibu yang selalu menyayangi dan memperhatikan anak-anaknya.
"Sudah, mama sayang." Jawab Rama dengan nada manjanya. Mama Sari tersenyum mendengarnya.
"Ya Sudah.. Hati-hati, sayang. Jaga kesehatan! Assalamu'alaikum." Mama Sari mengakhiri telponnya.
"Wa'alaikum salam."
***
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah duabelas malam. Hujan diluar sudah mulai reda namun Rama belum bisa memejamkan matanya. Berkali-kali dia mencoba tapi tetap saja belum bisa tidur. Saat seperti ini entah kenapa malah wajah Raina yang ada dibenaknya.
Rama mengambil hp yang ada dimeja kecil samping tempat tidurnya. Membuka wa dan mengecek kolom chatnya dengan Raina. Ternyata Raina baru saja online lima menit yang lalu. Melihat itu senyum terkembang dibibir Rama. Dia segera mengetik sebuah pesan untuk Raina.
Lo belum tidur?
Tumben jam segini masih main hp.
Tulis Rama. Dia memutar-mutar hpnya berharap Raina segera membuka pesan darinya.
Mengecek hp, pesan wa kepada Raina menunjukkan dua centang biru yang artinya Raina sudah membuka dan membaca pesan itu. Rama tersenyum senang.
Beberapa menit setelah pesan dibuka ternyata tak kunjung ada balasan. Rama mulai kesal. Kemudian dia mengirim pesan lagi.
Besuk gue jemput ditempat biasa, mama kangen sama lo.
Tulis Rama memancing, biasanya kalau Rama punya permintaan seperti itu Raina langsung menyambar dan menulis panjang lebar untuk menolak dengan seribu alasannya.
Setengah jam telah berlalu, namun pesan balasan dari Raina ternyata tidak muncul juga. Bahkan pesan kedua Rama kali ini juga sudah menunjukkan dua centang biru. Rama mengernyitkan dahinya. Merasa ada yang aneh.
Sudah tiga bulan dia dan Raina menjalin drama percintaan itu, selama itu pula Rama dan Raina secara tidak langsung setiap hari pasti berhubungan entah lewat telpon maupun hanya sekedar pesan wa. Rama juga tahu kebiasaan tidur Raina. Raina tidak pernah terjaga hingga selarut ini. Tiba-tiba muncul rasa kuatir Rama pada pacar pura-puranya itu.
__ADS_1
"Dia kenapa ya? Tumben sekali dia jam segini belum tidur. Terus kenapa pesan gue gak dibales. Tumben banget ni anak. Ada apa ya?" Ucap Rama penuh tanda tanya seraya berbaring menatap langit-langit kamar.
Rama meletakkan hpnya. Hawa dingin mulai terasa. Dia mematikan AC kamarnya kemudian menarik selimut berharap bisa segera tidur.