
Raina pulang ke rumah untuk mandi, shalat duhur dan makan karena di cafe tadi tidak sempat memesan makanan . Sore ini ada jadwal les privat dengan Andi, seperti biasa Ia selalu berusaha datang tepat waktu.
“Alhamdulillah..”ucap Raina setelah mengisi perutnya yang dari tadi sudah keroncongan.
“Hari ini ada jadwal les?” tanya Bunda yang sedang menemani putrinya makan.
“Iya Bun”
“Ya sudah, habis shalat istirahatlah sebentar.. Jangan terlalu capek Sayang” Bunda merasa tidak tega melihat putrinya yang baru saja pulang dan sebentar lagi harus berangkat kembali. Padahal cuaca diluar sedang sangat panas.
“Bunda tenang saja,, Raina ke kamar dulu ya” Raina mengecup pipi Bunda kemudian berlalu menuju kamarnya.
Kalau aku cerita pasti malah bikin Bunda kuatir,, Jangan dulu lah.. Raina
Masih ada sedikit waktu untuk istirahat sebelum berangkat ke rumah Andi. Raina memanfaatkan waktunya ini untuk menghubungi Gita dan Veris melalui video call gabungan. Berbeda ketika bersama Bunda, Raina justru tidak sabar ingin berbagi cerita dengan kedua sahabatnya itu perihal kejadian memalukan yang Ia alami tadi.
“Buahahaha...” Veris dan Gita serempak terbahak bahak mendengar cerita bahwa Raina dibuat malu semalu-malunya didepan orang seisi cafe oleh Rama.
“Kalian inii.. tega sekali” Raina cemberut
“Habisnya kamu juga lucu Rai.. Eh tapi kalau dipikir-pikir Kak Rama itu hebat Low, bisa ngerjain kamu sampai seperti ini” Ucap Gita memuji Rama karena berhasil mengerjai gadis secerdas Raina.
Raina melotot, membuat Gita dan Veris kembali terpingkal-pingkal dibuatnya.
“Aku jadi penasaran Kak Rama itu orangnya seperti apa..” Veris mengetuk etuk dagu dengan jari telunjuknya. Menduga-duga sosok pria yang telah mengerjai sahabatnya itu.
“Jadi Kak Rama itu minta bantuan apa?” Gita kembali meminta Raina meneruskan ceritanya.
“Kalau kuceritakan pasti kali ini kalian lebih menertawaiku lagi”
“Haa?? Memangnya Ia minta bantuan apa Rai?” Veris tidak sabar.
“Tapi janji ya,, cukup kita bertiga yang tau perihal ini, jangan sampai terdengar oleh yang lain.. apalagi teman-teman kampus” Raina tidak ingin ada yang tau kalau Ia manjadi pacar pura-pura Rama, Rama kan mantan pacar Amel. Raina takut kalau ada yang berfikiran Ia yang merusak hubungan Rama dan Amel selama ini.
“Iya..iya..” Jawab Gita dan Veris kompak.
“Kak Rama minta aku jadi pacar pura-puranya” Raina lesu menjelaskan.
“Haa??... kok bisa” Sahabatnya kaget setengah mati
“Ahh.. sudahlah. Aku menerima ini semua juga terpaksa, demi kartu mahasiswaku yang akan diperlukan besuk..”
“Iya juga sih..” Veris membalas
“Eh sudah dulu ya,, nanti disambung lagi.. Ni aku mau berangkat ngeles dulu” Raina melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu berangkat.
“Yaahhh padahal masih seru. Okelah.. hati-hati yaa” Kata Gita.
“Iya Rai,, kamu hati-hati” Veris menambahkan.
“Ok.. sudah yaa.. Assalamu’alaikum” Raina melambaikan tangan didepan kamera kemudian menutup video callnya.
***
Di rumah keluarga Hartawijaya.
Matahari sudah mulai condong disisi barat, namun sinarnya masih panas terasa. Dedaunan dan bunga bunga indah di taman sedang menari nari diterpa angin.
__ADS_1
Raina meneruskan langkahnya menuju gazebo. Ternyata Andi sudah duduk di gazebo menunggu Raina datang. Raina yang melihatnya pun tersenyum senang, sepertinya Andi sudah banyak peningkatan termasuk lebih rajin dalam belajar.
“Assalamu’alaikum,, Eh apa aku terlambat?” Raina langsung duduk dikursi biasanya.
“Wa’alaikum salam.. tidak, hanya aku saja yang hari ini ingin santai-santai disini.” Jawa Andi santai.
“Okelah.. yuk kita mulai belajarnya” Raina mulai membuka buku Andi.
Hari ini les privat berjalan dengan baik seperti biasa. Satu setengah jam telah berlalu. Pembelajaran hari ini selasai.
“Mbak Raina kenapa??” Tanya Andi menatap Raina yang sedang membereskan alat tulisnya..
“Hem?? Memangnya kenapa?”
“Yaa.. gak papa sih, tapi Mbak nggak segalak biasanya..hehe” Ucap Andi meringis
“Haha.. jadi kamu lebih suka Mbak Raina yang galak?” Raina tertawa
“Bukan begitu, mungkin Andi sudah terbiasa dengan Mbak Raina yang seperti biasanya aja” ucap Andi jujur.
“Apa hari ini kamu tidak nyaman,, maaf ya.. mungkin karena Mbak Raina capek aja, tadi habis dikerjai teman.” Jawab Raina, kemudian menepuk mulutnya ringan merasa keceplosan.
“Cewek apa cowok, siapa yang berani mengerjai gadis galak seperti Mbak Raina?” Andi penasaran.
“Cowok.. sudahlah.. tidak penting” Raina tidak ingin membahasnya.
“Eh bolehkah Andi tanya sesuatu?”
“Apa?? Sejak kapan kamu minta ijin begini sebelum bertanya?” Tanya Raina sambil menatap mata Andi yang terlihat ragu berbicara.
“Apa Mbak Raina sudah punya pacar??”
Andi yang dipukul meringis kemudian malah tertawa.
“Pasti gak punya kan??” Andi bertanya kembali.
Raina geleng-geleng kepala sambil berdecak.
“Sepertinya hari ini kamu yang aneh Andi” Ucap Raina.
“Kenapa?? Siapa yang aneh, kalau dipikir-pikir Mbak Raina yang aneh kan. Umur segitu masih jomblo.. Hahahaha...” Andi menggoda gurunya itu.
Cletaakk.. polpen dalam genggaman Raina kembali terdengar berbenturan dengan kepala Andi. Kali ini lebih keras.
“Aaau.. Sakit tau, kalau aku gagar otak gimana” Andi meringis sambil mengusap usap kepalanya. Entah kenapa sikap Raina yang seperti itu justru membuat Andi betah belajar dengan Raina. Rasanya lebih santai.
Raina memang selalu apa adanya, meskipun Ia tahu Andi anak seorang konglomerat, Ia tidak pernah sungkan. Selalu bersikap seperti Raina biasanya.
“Makanya hati-hati kalau bicara” ucap Raina ketika melihat Andi meringis, mungkin merasakan sedikit sakit.
Semua alat tulis sudah beres, kemudian Raina minum jus jambu yang disediakan oleh asisten rumah tangga Andi tadi. Tidak lama kemudian Raina pamitan.
“Sudah ya, Mbak Raina pulang dulu.. jangan lupa yang sudah kita pelajari tadi nanti kamu pelajari ulang biar lebih jelas.. Eh salam buat tante Sari ya.., Mbak Raina pamit, Assalmau’alaikum” Raina melangkah meninggalkan Andi.
“Wa’alaikum salam”..
Baru beberapa langkah, Raina berhenti dan membalikkan badannya lagi.
__ADS_1
“Ingat yaa,, Jangan seperti tadi, itu tidak sopan!!”
“Iya..iyaa”
Andi terkekeh setelah Raina berlalu. Pasti lucu sekali kalau Mbak Raina bisa dekat dengan Kak Rama.
Sama seperti saat dengan abangnya, Andi merasa begitu puas ketika berhasil menggoda guru lesnya itu.
Di halaman depan, Raina mendengus kesal. Melihat salah satu mobil keluarga Hartawijaya yang terparkir di garasi itu membuat Raina langsung teringat wajah menjengkelkan Rama.
Pelan Raina mengendarai motor maticnya, meninggalkan rumah megah itu.
***
Rama duduk bersandar disalah satu sofa ruang televisi. Masih menggunakan pakaian kerjanya dan hanya melepas jas serta melonggarkan dasinya. Kepalanya tergeletak lemas.
“Kak Rama sudah pulang” Tiba-tiba suara Andi menyadarkan Rama yang hampir saja ketiduran.
“Hemm” Jawab Rama malas.
“Capek sekali ya..” Andi ikut duduk disalah satu sofa.
“Seperti yang kamu lihat.. Baru selesai??” Rama melihat adiknya yang meletakkan beberapa bukunya.
“Iya”
“Mana gurumu?” Rama mengangkat kepalanya dari sandaran, menoleh kanan kiri, mencari sosok guru les Andi yang selama ini belum pernah Ia ketahui.
“Sudah pulang, baruu saja”
“Tapi tadi gak ada mobil asing di luar”
“Dia kan pakek motor, mungkin kak Rama gak lihat motornya tadi yang terparkir didepan”
“Padahal Kakak selama ini masih penasaran sama gurumu itu, Kakak juga mau berterimakasih padanya”
“Kenapa?? Tumben sekali”
“Karena Ia berhasil menjinakkan remaja liar sepertimu.. ahahaha”
“Apa?? Aku sudah mulai dewasa tauu..” Andi sewot.
“Eh.. Apa gurumu itu cantik??” Tanya Rama masih sambil tertawa.
“Mungkin Kak Rama akan terpesona kalau melihatnya”
“Seperti kamu tau selera kakak saja” Rama menimpali gurauan adiknya.
“Gadis galak, tapi cerdas dan cukup cantik sih,, mungkin cocok dengan sifat kakak yang selalu cuek dan sok keren itu” Andi cekikikan membayangkan kalau saja kakaknya punya pacar seperti Mbak Rainanya itu.
Rama melemparkan bantal yang ada didekatnya tepat mengenai muka adiknya.
Kakak beradik ini memang tidak saling mengetahui kalau selama ini mereka sedang berurusan dengan gadis yang sama.
Berbeda dengan Rama yang belum seberapa mengenal Raina, Andi yang sudah berkali-kali menghabiskan waktu belajarnya dengan Raina ternyata sudah mulai merasakan dan mengakui kelebihan dari gadis itu.
__ADS_1