Cinta Raina

Cinta Raina
Surat Perjanjian


__ADS_3

Sebulan telah berlalu, Raina kesal ternyata janji Rama yang


ingin menemuinya di cafe Nikmat hanya gurauan saja. Ketika itu, sudah satu jam


Raina menunggu tapi  ternyata Rama tidak


menepati janjinya. Bahkan ditelpon berkali-kali juga tidak diangkat. Entah


karena alasan apa KTP Raina sampai sekarang belum dikembalikan.


Sebulan ini Raina memang  sibuk sekali dengan kuliahnya, ditambah lagi


dengan memberikan les privat kepada Andi. Dia juga lupa tidak menghubungi Rama


sampai sekarang.


Malam ini setelah shalat isya’ Raina sibuk mengumpulkan


berkas berkas untuk keperluan kuliahnya, berbagai dokumen diri penting juga


sudah disiapkan.


“Lhooh.. mana kartu mahasiswaku??” Raina membuka dompet dan


tasnya mencari-cari kartu penting yang akan diperlukan besuk lusa itu.


“Ini.. KTPnya kok disini??... Aaaaaa....” Raina teriak


kesal, menyadari tenyata kartu yang waktu itu diberikan kepada Rama sebagai


jaminan bukannya  KTP tapi Kartu


Mahasiswanya. Kartu yang sangat penting karena sering digunakan untuk keperluan


di kampus.


Bagaimana ini.. Masih


ada waktu besuk, Aku harus bertemu pria itu dan mengambil Kartu Mahasiswaku. Raina


***


“Tok.. tok.. tok...” suara pintu diketok.


“Iya masuk”


Rama memasuki ruangan papanya, ruang presdir di perusahaan


keluarga Hartawijaya.


“Ini berkas yang perlu Papa tandatangani” Rama menyodorkan


dokumen penting perusahaan.


Setelah mengecek lembar demi lembar, Pak Budi membubuhkan


tandatangan pada tempat yang sudah disediakan kemudian memberikan kembali


dokumen itu pada anaknya.


“Ram,, ada yang perlu Papa bicarakan”


“Ada apa Pa??”


“Mengenai  keinginan  Oma, apa kamu tidak ingin berusaha


memenuhinya?” tiba-tiba Pak Budi menanyakan sesuatu  yang diluar dugaan Rama. Tidak biasanya Papa


Rama membahas hal hal pribadi seperti itu pada saat jam sibuk kantor, apalagi


ini masih pagi. Kecuali berkaitan dengan hal yang sangat penting menurut Papa.


“Tapi Pa ...” Rama ragu menjawab.


“Sudahlah Rama, kalau dulu memang Papa Mama bahkan Oma tidak


bisa memaksamu karena kami menghormati pilihanmu. Kamu sudah ada Amel. Tapi


sekarang, bukankah kamu sudah sendiri?”


Rama masih membisu, berfikir bagaimana caranya supaya bisa


menolak tanpa menyinggung papanya. Ia memang anak yang berbakti pada


orangtuanya, tapi untuk urusan cinta, Rama akan berusaha supaya kelak bisa


mendapatkan pendamping hidup yang benar-benar sesuai keinginannya. Pendamping


hidup seperti layaknya suami istri yang saling mencintai dengan tulus, tentunya


bukan perjodohan yang cenderung pemaksaan.


“Mama sebenarnya sangat mengharapkan ini juga Ram, tapi kamu tau


Mamamu kan..Bahkan Ia sangat menjaga perasaanmu, makanya Papa bicara ini


disini”. Papa menjelaskan.

__ADS_1


“Sebenarnya. . .” Rama belum melanjutkan tapi dipotong oleh


Papanya.


“Seandainya kamu memang sudah punya calon sendiri sesuai


kenginanmu, tentu Papa dan Mama tidak berani membahas ini. Tapi kenyataannya


sekarang, diusiamu yang sudah mulai matang kamu justru putus dengan Amel”


“Sebenarnya Rama sedang dekat dengan seorang wanita Pa” Ucap


Rama bohong, bahkan Rama juga bingung dengan kata-katanya sendiri. Bagaimana


bisa dengan santainya Ia bicara seperti itu tadi tanpa memperhitungkan resiko


besar kedepannya.


“Iyakah?? Kamu tidak sedang mengelabuhi Papamu ini kan??”


Papa kaget.


“Benar Pa”


Mati aku. Bagaimana


ini, kalau jujur pasti aku langsung dipertemukan dengan gadis yang bernama Nana


itu, gadis yang samasekali tidak kukenal. Tapi kalau tidak jujur.. Ahhh


sepertinya aku akan dipusingkan dengan jawaban gilaku ini. Maafkan Rama Pa.. Rama


“Sebelum pisah dengan Amel, Rama sudah mengenalnya dan kami


berteman cukup baik. Setelah Rama


putus, kami jadi lebih sering berhubungan, rasanya kami saling nyaman” Rama


menciptakan kebohongan baru untuk meyakinkan Papanya.


“Sejak kapan putra Papa jadi mudah jatuh cinta??” Papa


sepertinya belum percaya.


“Bukan begitu juga Pa, mungkin karena gadis ini terlalu baik” Rama tersenyum


dibuat setulus mungkin padahal itu hanya akting.


“Kamu mulai mencintainya?”


“Sepertinya begitu Pa” jawab Rama, bohong lagi.


***


terkait Kartu Mahasiswa, akhirnya kali ini Rama menyempatkan diri pergi ke cafe


Nikmat pada saat jam makan siang.


“Mana Kak” tanpa basa basi Raina langsung meminta Kartu


Mahasiswanya pada Rama yang sudah duduk didepannya. Karena memang itu tujuan


mereka bertemu siang ini.


“Ini??” Rama menunjukkan kartu mahasiswa Raina dalam


genggamannya.


Raina tersenyum senang, kemudian menggerakkan tangannya


untuk meraih kartu itu. Tapi diluar dugaan secepat kilat Rama menggeser


tangannya dan memasukkan kartu itu ke dalam saku celananya.


“Kak Ramaa... “ Raina sangat kesal merasa dipermainkan.


“Kamu benar-benar butuh kartu ini??”


“Iya.. tadi kan sudah kujelaskan panjang lebar ditelpon”


Raina bicara dengan nada cukup tinggi.


“Heiii.. kamu membentakku, tidak sopan sekali” Rama kemudian


menggelengkan kepala seraya berdecak.


“Bukan begitu, cuaca hari ini sudah sangat panas Kak,,


jangan ditambah lagi dengan kekonyolan Kak Rama.. Itu samasekali tidak lucu”


Raina cemberut kesal.


“Oke,, aku akan memberikan kartu ini tapi aku butuh sedikit


bantuanmu”


“Apalagi?? Jangan seperti anak kecil deh.. Ini sudah

__ADS_1


keterlaluan Kak.. Baiklah, kalau Kak Rama tidak mau memberikannya secara


baik-baik, Raina bisa merebutnya” Raina sudah sangat kesal, kemudian Ia berdiri dari kursinya.


“Apa?? Mau ambil sendiri.. ni ambil!!” Rama menunjuk saku


depan celananya. “Tapi jangan salahkan aku kalau tamu-tamu lain di cafe ini


akan kaget kalau aku teriak kamu akan melakukan pelecehan seksual padaku.” Rama


mulai tersenyum licik.


"Siapa yang peduli.." ucap Raina ketus kemudian membungkuk dan tangannya mulai bergerak mendekat kearah saku celana Rama.


"Heii.. Jangan disini Sayaang" Rama berkata dengan cukup keras sehingga semua mata yang ada pada cafe itu sontak menoleh kearahnya. Lebih tepatnya melirik tangan Raina yang sudah beberapa cm tepat didepan celana Rama.


Raina kaget, masih dalam posisi membungkuk Ia melirik kebeberapa pasang mata tak jauh darinya, semua tampak geleng geleng kepala.


Raina kikuk dibuatnya. Mukanya sudah merah padam, panik membayangkan bagaimana pikiran negatif orang-orang yang sedang menatapnya saat ini. Pelan pelan Ia mengumpulkan tenaganya supaya bisa berdiri tegak kembali. Orang-orang yang menatap mereka pun terlihat kembali menikmati makanannya.


"Sabar dulu Sayang" ucap Rama dengan lembut, senyum kembali terkembang penuh kemenangan.


Raina membisu walau tangannya sudah mengepal geram.


Menarik nafas panjangnya dengan berat kemudian terpaksa Ia duduk kembali.


Teringat bahwa kartu mahasiswa itu akan diperlukan besuk pagi, jadi Ia


mengumpulkan seluruh kesabarannya yang tersisa untuk menghadapi pria didepannya


ini.


“Butuh bantuan apa??” Tanya Raina ketus. Terpaksa mengalah dan tidak mau membuang buang waktu. Kalimat dan senyum


sopan sepertinya sudah tidak diperlukan saat ini.


Rama mengeluarkan selembar kertas dari sebuah map yang Ia


bawa tadi. Kemudian memberikan pada Raina.


“Apa?? Kak Rama sudah gila??” Raina kaget setengah mati


karena lembaran itu ternyata sebuah perjanjian yang isinya Raina harus siap


menjadi pacar pura-pura Rama kemudian Rama secara langsung akan memberikan


kartu mahasiswa Raina, lembar itu juga dilengkapi dengan sebuah materai sehingga


bernilai hukum nantinya.


“Ini tidak sesulit yang kamu bayangkan, kamu nanti hanya


akan ikut aku ke rumahku dan kuperkenalkan sebagai pacarku.. Setelah itu


gampang, aku bisa pura-pura bahwa kita bertengkar kemudian putus” Rama


menjelaskan maksud dari surat perjanjian yang memang sudah Ia buat sebelum


berangkat ke cafe Nikmat tadi. Rama yang sudah tidak bisa berfikir terkait


obrolannya dengan Papanya tadi tiba-tiba mendapatkan ide cantik saat Raina


menelponnya.


Raina menimbang-nimbang antara resiko menandatangani surat


itu kemudian Ia bisa langsung mendapatkan kartu mahasiswanya kembali atau


menolak perjanjian itu dengan resiko Kartu Mahasiswa tidak akan dikembalikan


siang ini.


Setelah berfikir beberapa waktu akhirnya Ia memutuskan untuk


menerima dan menandatangani surat perjanjian itu. Rama melihat itu tertawa


kecil penuh kemenangan. Rama juga tandatangan.


OK deal.. Akhirnya surat perjanjian itu sudah sah dan


disimpan dengan baik oleh Rama . Raina juga sudah menerima kartunya kembali


serta mendapat salinan surat perjanjian tadi. Setelah selesai kemudian mereka


keluar dari cafe Nikmat, meninggalkan cafe itu dengan mengendarai kendaraannya


masing-masing.


Sambil mengemudi Rama tertawa frustasi sendiri,


geleng-geleng kepala mengingat hal gila yang sudah dia lakukan hari ini.


***


Terima kasih Kakak kakak yang sudah meluangkan waktu membaca novel ini, Jangan lupa like dan komen ya. Kalau mau vote Author juga lebih berterimakasih ^_^


Tolong beri saran dan kritiknya dong, supaya Author bisa lebih bagus dalam menulis..

__ADS_1


Terimakasih..


__ADS_2