
Sebulan telah berlalu, Raina kesal ternyata janji Rama yang
ingin menemuinya di cafe Nikmat hanya gurauan saja. Ketika itu, sudah satu jam
Raina menunggu tapi ternyata Rama tidak
menepati janjinya. Bahkan ditelpon berkali-kali juga tidak diangkat. Entah
karena alasan apa KTP Raina sampai sekarang belum dikembalikan.
Sebulan ini Raina memang sibuk sekali dengan kuliahnya, ditambah lagi
dengan memberikan les privat kepada Andi. Dia juga lupa tidak menghubungi Rama
sampai sekarang.
Malam ini setelah shalat isya’ Raina sibuk mengumpulkan
berkas berkas untuk keperluan kuliahnya, berbagai dokumen diri penting juga
sudah disiapkan.
“Lhooh.. mana kartu mahasiswaku??” Raina membuka dompet dan
tasnya mencari-cari kartu penting yang akan diperlukan besuk lusa itu.
“Ini.. KTPnya kok disini??... Aaaaaa....” Raina teriak
kesal, menyadari tenyata kartu yang waktu itu diberikan kepada Rama sebagai
jaminan bukannya KTP tapi Kartu
Mahasiswanya. Kartu yang sangat penting karena sering digunakan untuk keperluan
di kampus.
Bagaimana ini.. Masih
ada waktu besuk, Aku harus bertemu pria itu dan mengambil Kartu Mahasiswaku. Raina
***
“Tok.. tok.. tok...” suara pintu diketok.
“Iya masuk”
Rama memasuki ruangan papanya, ruang presdir di perusahaan
keluarga Hartawijaya.
“Ini berkas yang perlu Papa tandatangani” Rama menyodorkan
dokumen penting perusahaan.
Setelah mengecek lembar demi lembar, Pak Budi membubuhkan
tandatangan pada tempat yang sudah disediakan kemudian memberikan kembali
dokumen itu pada anaknya.
“Ram,, ada yang perlu Papa bicarakan”
“Ada apa Pa??”
“Mengenai keinginan Oma, apa kamu tidak ingin berusaha
memenuhinya?” tiba-tiba Pak Budi menanyakan sesuatu yang diluar dugaan Rama. Tidak biasanya Papa
Rama membahas hal hal pribadi seperti itu pada saat jam sibuk kantor, apalagi
ini masih pagi. Kecuali berkaitan dengan hal yang sangat penting menurut Papa.
“Tapi Pa ...” Rama ragu menjawab.
“Sudahlah Rama, kalau dulu memang Papa Mama bahkan Oma tidak
bisa memaksamu karena kami menghormati pilihanmu. Kamu sudah ada Amel. Tapi
sekarang, bukankah kamu sudah sendiri?”
Rama masih membisu, berfikir bagaimana caranya supaya bisa
menolak tanpa menyinggung papanya. Ia memang anak yang berbakti pada
orangtuanya, tapi untuk urusan cinta, Rama akan berusaha supaya kelak bisa
mendapatkan pendamping hidup yang benar-benar sesuai keinginannya. Pendamping
hidup seperti layaknya suami istri yang saling mencintai dengan tulus, tentunya
bukan perjodohan yang cenderung pemaksaan.
“Mama sebenarnya sangat mengharapkan ini juga Ram, tapi kamu tau
Mamamu kan..Bahkan Ia sangat menjaga perasaanmu, makanya Papa bicara ini
disini”. Papa menjelaskan.
__ADS_1
“Sebenarnya. . .” Rama belum melanjutkan tapi dipotong oleh
Papanya.
“Seandainya kamu memang sudah punya calon sendiri sesuai
kenginanmu, tentu Papa dan Mama tidak berani membahas ini. Tapi kenyataannya
sekarang, diusiamu yang sudah mulai matang kamu justru putus dengan Amel”
“Sebenarnya Rama sedang dekat dengan seorang wanita Pa” Ucap
Rama bohong, bahkan Rama juga bingung dengan kata-katanya sendiri. Bagaimana
bisa dengan santainya Ia bicara seperti itu tadi tanpa memperhitungkan resiko
besar kedepannya.
“Iyakah?? Kamu tidak sedang mengelabuhi Papamu ini kan??”
Papa kaget.
“Benar Pa”
Mati aku. Bagaimana
ini, kalau jujur pasti aku langsung dipertemukan dengan gadis yang bernama Nana
itu, gadis yang samasekali tidak kukenal. Tapi kalau tidak jujur.. Ahhh
sepertinya aku akan dipusingkan dengan jawaban gilaku ini. Maafkan Rama Pa.. Rama
“Sebelum pisah dengan Amel, Rama sudah mengenalnya dan kami
berteman cukup baik. Setelah Rama
putus, kami jadi lebih sering berhubungan, rasanya kami saling nyaman” Rama
menciptakan kebohongan baru untuk meyakinkan Papanya.
“Sejak kapan putra Papa jadi mudah jatuh cinta??” Papa
sepertinya belum percaya.
“Bukan begitu juga Pa, mungkin karena gadis ini terlalu baik” Rama tersenyum
dibuat setulus mungkin padahal itu hanya akting.
“Kamu mulai mencintainya?”
“Sepertinya begitu Pa” jawab Rama, bohong lagi.
***
terkait Kartu Mahasiswa, akhirnya kali ini Rama menyempatkan diri pergi ke cafe
Nikmat pada saat jam makan siang.
“Mana Kak” tanpa basa basi Raina langsung meminta Kartu
Mahasiswanya pada Rama yang sudah duduk didepannya. Karena memang itu tujuan
mereka bertemu siang ini.
“Ini??” Rama menunjukkan kartu mahasiswa Raina dalam
genggamannya.
Raina tersenyum senang, kemudian menggerakkan tangannya
untuk meraih kartu itu. Tapi diluar dugaan secepat kilat Rama menggeser
tangannya dan memasukkan kartu itu ke dalam saku celananya.
“Kak Ramaa... “ Raina sangat kesal merasa dipermainkan.
“Kamu benar-benar butuh kartu ini??”
“Iya.. tadi kan sudah kujelaskan panjang lebar ditelpon”
Raina bicara dengan nada cukup tinggi.
“Heiii.. kamu membentakku, tidak sopan sekali” Rama kemudian
menggelengkan kepala seraya berdecak.
“Bukan begitu, cuaca hari ini sudah sangat panas Kak,,
jangan ditambah lagi dengan kekonyolan Kak Rama.. Itu samasekali tidak lucu”
Raina cemberut kesal.
“Oke,, aku akan memberikan kartu ini tapi aku butuh sedikit
bantuanmu”
“Apalagi?? Jangan seperti anak kecil deh.. Ini sudah
__ADS_1
keterlaluan Kak.. Baiklah, kalau Kak Rama tidak mau memberikannya secara
baik-baik, Raina bisa merebutnya” Raina sudah sangat kesal, kemudian Ia berdiri dari kursinya.
“Apa?? Mau ambil sendiri.. ni ambil!!” Rama menunjuk saku
depan celananya. “Tapi jangan salahkan aku kalau tamu-tamu lain di cafe ini
akan kaget kalau aku teriak kamu akan melakukan pelecehan seksual padaku.” Rama
mulai tersenyum licik.
"Siapa yang peduli.." ucap Raina ketus kemudian membungkuk dan tangannya mulai bergerak mendekat kearah saku celana Rama.
"Heii.. Jangan disini Sayaang" Rama berkata dengan cukup keras sehingga semua mata yang ada pada cafe itu sontak menoleh kearahnya. Lebih tepatnya melirik tangan Raina yang sudah beberapa cm tepat didepan celana Rama.
Raina kaget, masih dalam posisi membungkuk Ia melirik kebeberapa pasang mata tak jauh darinya, semua tampak geleng geleng kepala.
Raina kikuk dibuatnya. Mukanya sudah merah padam, panik membayangkan bagaimana pikiran negatif orang-orang yang sedang menatapnya saat ini. Pelan pelan Ia mengumpulkan tenaganya supaya bisa berdiri tegak kembali. Orang-orang yang menatap mereka pun terlihat kembali menikmati makanannya.
"Sabar dulu Sayang" ucap Rama dengan lembut, senyum kembali terkembang penuh kemenangan.
Raina membisu walau tangannya sudah mengepal geram.
Menarik nafas panjangnya dengan berat kemudian terpaksa Ia duduk kembali.
Teringat bahwa kartu mahasiswa itu akan diperlukan besuk pagi, jadi Ia
mengumpulkan seluruh kesabarannya yang tersisa untuk menghadapi pria didepannya
ini.
“Butuh bantuan apa??” Tanya Raina ketus. Terpaksa mengalah dan tidak mau membuang buang waktu. Kalimat dan senyum
sopan sepertinya sudah tidak diperlukan saat ini.
Rama mengeluarkan selembar kertas dari sebuah map yang Ia
bawa tadi. Kemudian memberikan pada Raina.
“Apa?? Kak Rama sudah gila??” Raina kaget setengah mati
karena lembaran itu ternyata sebuah perjanjian yang isinya Raina harus siap
menjadi pacar pura-pura Rama kemudian Rama secara langsung akan memberikan
kartu mahasiswa Raina, lembar itu juga dilengkapi dengan sebuah materai sehingga
bernilai hukum nantinya.
“Ini tidak sesulit yang kamu bayangkan, kamu nanti hanya
akan ikut aku ke rumahku dan kuperkenalkan sebagai pacarku.. Setelah itu
gampang, aku bisa pura-pura bahwa kita bertengkar kemudian putus” Rama
menjelaskan maksud dari surat perjanjian yang memang sudah Ia buat sebelum
berangkat ke cafe Nikmat tadi. Rama yang sudah tidak bisa berfikir terkait
obrolannya dengan Papanya tadi tiba-tiba mendapatkan ide cantik saat Raina
menelponnya.
Raina menimbang-nimbang antara resiko menandatangani surat
itu kemudian Ia bisa langsung mendapatkan kartu mahasiswanya kembali atau
menolak perjanjian itu dengan resiko Kartu Mahasiswa tidak akan dikembalikan
siang ini.
Setelah berfikir beberapa waktu akhirnya Ia memutuskan untuk
menerima dan menandatangani surat perjanjian itu. Rama melihat itu tertawa
kecil penuh kemenangan. Rama juga tandatangan.
OK deal.. Akhirnya surat perjanjian itu sudah sah dan
disimpan dengan baik oleh Rama . Raina juga sudah menerima kartunya kembali
serta mendapat salinan surat perjanjian tadi. Setelah selesai kemudian mereka
keluar dari cafe Nikmat, meninggalkan cafe itu dengan mengendarai kendaraannya
masing-masing.
Sambil mengemudi Rama tertawa frustasi sendiri,
geleng-geleng kepala mengingat hal gila yang sudah dia lakukan hari ini.
***
Terima kasih Kakak kakak yang sudah meluangkan waktu membaca novel ini, Jangan lupa like dan komen ya. Kalau mau vote Author juga lebih berterimakasih ^_^
Tolong beri saran dan kritiknya dong, supaya Author bisa lebih bagus dalam menulis..
__ADS_1
Terimakasih..